
Pagi itu, tepat setelah kedatangan Hughess dan Zero yg sangat mendadak, aku dan Kayn bergegas berangkat ke kediaman Bathory. Tujuannya tentu saja untuk menjemput Elie dan Liana, sekaligus memberitahu mereka tentang batalnya rencana pagi ini.
Seperti biasa, suasana kota masih cukup sepi. Wajar saja, ini baru jam 6. Kebanyakan orang masih bersiap untuk memulai kesibukan mereka dirumah masing-masing. Hanya beberapa orang saja yg terlihat lalu-lalang di jalan kota.
Beberapa menit berjalan, kami pun sampai di depan kediaman Bathory yg cukup megah itu. Berapa kali pun aku melihatnya, aku selalu saja terpukau. Tempat ini benar-benar besar.
Aku dan Kayn masuk, dan segera bergegas untuk mengetuk pintu depan. Penjaga gerbang sudah terbiasa dengan kami dan membiarkan kami masuk dengan mudah. Dan tanpa halangan, kami sudah tiba di pintu depan kediaman Bathory ini.
[Tok tok tok]
Pintu diketuk. Sesaat kemudian, salah seorang pelayan yg bekerja saat itu muncul dan membuka pintu. Sesaat, ia terlihat kaget dengan kedatangan kami. Dan sekali lagi, karena sudah terbiasa dengan kedatangan kami, ia segera mengetahui maksud kedatangan kami.
"Ah, tuan Kayn dan tuan Zayn. Apa hari ini anda ingin bertemu nona muda lagi?" Tanyanya dengan ramah.
"Y-ya, begitu lah," jawab Kayn. "Maaf merepotkan."
"Tidak tidak, kami justru senang orang sebaik dan seramah anda mau berteman dengan nona muda kami yg pemalu."
Sekilas aku sedikit tertawa. Pemalu katanya? Apa dia bercanda?? Ya, mungkin di mata mereka yg telah lama mengenal Elie, ia adalah sosok gadis yg pemalu. Tapi di mata kami, dia adalah gadis cerewet yg cukup menyebalkan.
"Kalau begitu silahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Saya akan segera memanggilkan nona muda untuk anda, tuan."
"Ya, terimakasih banyak."
Sesuai arahan dari sang pelayan, kami masuk dan duduk diatas sofa yg disediakan di ruang tamu. Pagi ini, sepertinya para pelayan yg melayani kediaman Bathory sudah kembali memulai kesibukan harian mereka. Dari tadi kami sering melihat beberapa pelayan yg mondar-mandir melewati ruang tamu, lengkap dengan peralatan mereka masing-masing.
Sekitar satu menit setelah kami tiba, suara langkah kaki yg cukup keras terdengar dari balik lorong tempat pelayan tadi pergi memanggil Elie. Suara langkah kaki itu terdengar dihentakkan, layaknya seseorang yg sedang kesal akan sesuatu.
Aku yakin kalau itu Elie, dan nampaknya ia kesal karena telah membangunkan nya di hari libur seperti ini. Mau bagaimana lagi, ini misi.
"Ugh, siapa sih yg bertamu pagi-pagi begini?! Padahal aku sedang sangat sibuk—
"Pagi, Elie," sapaku.
Sesaat, ia berhenti dan menatap kearah kami. Benar saja, itu Elie yg sedang kesal. Sepertinya ia benar-benar kesal kedatangan tamu pagi-pagi begini. Tapi dari ekspresi nya, nampaknya dia tak tahu kalau yg datang itu kami. Tidak, lebih tepatnya ia tak diberitahu kalau yg datang itu kami.
"E-eh, Zayn?"
"Maaf mengganggu pagimu yg sibuk ini ...."
"T-tunggu apa yg kau lakukan disini Zayn?!"
"Hey, aku juga disini. Setidaknya sapa aku juga," tegur Kayn.
"A-ah , benar juga."
Tak kusangka saking kagetnya ia sampai melupakan Kayn.
"T-tidak tunggu sebentar, Zayn, Kayn, kenapa kalian datang pagi-pagi begini?!! Bukankah kalian ada kencan?!"
"Tenanglah, Elie. Ada kabar mendadak yg perlu kami sampaikan. Tapi sepertinya, lebih baik kalau Liana juga disini," ucapku.
"Ah benar juga, Liana masih di kamar," ucap Elie.
Mendengar hal itu, pelayan yg tadinya memanggil Elie paham dan segera bergegas pergi memanggil Liliana. Sementara itu, Elie ikut duduk bersama kami, berusaha menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Tak kusangka kalian sampai datang sepagi ini."
"Aku juga tak menyangka kalau kau juga bangun pagi-pagi bahkan dihari libur," ucap Kayn.
"A-ah, ya ... Sebenarnya ada sesuatu yg harus kulakukan hari ini jadi ...."
Jawaban Elie berkesan seakan sedang menyembunyikan sesuatu. Aku jadi penasaran.
"Sesuatu? Dilihat dari manapun, kau terlihat seperti seorang gadis yg bersiap-siap untuk pergi kencan," ucapku.
"E-eh?! Siapa? Aku?"
"Siapa lagi kalau bukan kau."
"A-apa yg kau maksudkan? Aku terlihat seperti biasa kok."
"Dengan pakaian mewah dan dandanan di mukamu? Apa memang kau selalu seperti itu dirumah?" Tanyaku. Elie tersentak.
"Benar juga, kau memang terlihat seperti itu ...." Kayn juga menyadarinya.
"T-tidak, yah, sebenarnya, bagaimana aku menjelaskan nya ya ...."
"Cukup jelaskan saja, apa susahnya?"
Elie terdiam. Nampaknya, itu merupakan sesuatu yg memalukan, yg tak ingin ia umbarkan pada kami berdua. Tapi tetap saja, rasa penasaran kami membuat kami berdua terus mendesaknya.
Ia akhirnya menyerah dan menjelaskan nya.
"Sebenarnya ... Aku ingin pergi kekota tempat Zayn dan Fiera akan kencan. Rencananya, aku akan pura-pura kebetulan bertemu dengan kalian dan ikut jalan bersama kalian ...." Ucapnya.
"E-eh? Yg benar saja."
"Ternyata begitu. Yah tenang saja, rencana itu dibatalkan kok," ucapku.
Seketika Elie mengangkat kepalanya dan mendekat kearahku. Tentu saja aku terkejut dengan reaksinya.
"Benarkah?! Apa itu berarti kau mau kencan denganku hari ini Zayn?!"
"Tenanglah, aku belum selesai bicara," ucapku menjauhkan mukanya dari wajahku. "Sebenarnya bukan hanya itu saja. Semua rencana kami untuk hari Minggu ini dibatalkan, termasuk kencan Kayn dengan Liana."
"Eh?! Kenapa begitu?! Apa yg terjadi?!" Tanya Elie.
Tanpa kami sadari, Liana sudah muncul. Dan nampaknya, ia juga mendengar pembicaraan kami barusan. Itu terlihat dari wajahnya yg terlihat sangat sedih. Seakan-akan semua harapan nya telah menghilang. Yah wajar saja, soalnya Kayn dan Liana sangat menantikan hari ini.
"Bagaimana ... Bisa?" Tanya Liana lirih. Tapi ia bersikeras untuk menahan nya, dan bersikap teguh.
"Sebelum itu, duduklah dulu, Liana," ucap Kayn.
Berusaha menahan emosinya, Liana duduk di samping Elie sambil menundukkan kepala. Nampaknya ia benar-benar sedih.
Ketika kami semua sudah berkumpul, Elie aku meminta Elie untuk memastikan tidak ada pelayanan yg mendengar semua pembicaraan kami. Karena itu, ia mengaktifkan Infinity Chamber untuk berjaga-jaga.
Tak ada basa-basi lagi. Mulai dari sini, pembicaraan kami mulai serius. Dari sini, Kayn menjelaskan semuanya.
"Elie, Liana, ada misi untuk kita hari ini. Karena itu, dengan berat hati kami terpaksa menunda rencana kita. Kalian ingat bukan, persyaratan yg kami terima dari paman Oliver?"
__ADS_1
"Itu ... Jika kalian ingin terus disini, kalian tak boleh menolak ataupun menunda tugas apapun yg diberikan dari markas pada kalian. Benar yg itu?" Tanya Elie. Kayn mengangguk.
"Benar. Karena itu, kami tak bisa menolaknya meskipun kami ingin. Dan tadi pagi, Zero dan Hughess datang kerumah kami dan mengabarkan perihal tugas tersebut."
"Jadi begitu ... kalian tidak membatalkan nya bukan karena masalah yg sepele kan?" Tany Liana. Nampaknya, ia sudah mulai menerima kenyataan itu, meskipun masih nampak bersedih.
"Tenang saja, ini bukan dibatalkan, tapi ditunda. Kita msih bisa melakukannya setelah misi ini selesai," jawab Kayn.
"B-baiklah ... Aku akan menunggu hari itu," jawab Liana.
Setelah Liana benar-benar tenang, Kayn pun menjelaskan rincian misinya pada Elie dan Liana. Tentu berita serangan iblis kuning di kerajaan Voracity, sampai dengan misi penyusupan ke ibukota Voracity. Ia menjelaskan semuanya dengan detail seperti biasanya. Dan mereka berdua menangkapnya dengan cepat.
"Itu ... Bukankah itu cukup berat?" Tanya Elie. Yah, aku juga menyadari kalau misi kali ini akan sangat berat.
"Asalkan semuanya berjalan sesuai rencana, ini akan baik-baik. Yah, aku juga berharap kalau raja iblis kuning tak turun tangan kali ini," ucap Kayn.
"Tapi, apa kau baik-baik saja dengan itu, Kayn? Bukankah misi mu jauh lebih berbahaya?" Tanya Liana khawatir.
"Tenang saja, aku tahu batasanku dan aku juga bukan orang yg gegabah seperti Zayn. Selama kami bergerak dengan hati-hati, kami pasti akan baik-baik saja," jawabnya percaya diri.
"Yah, kuharap begitu. Tapi tunggu dulu, apa-apaan perkataan mu tadi Kayn? Kau bilang kalau aku ini gegabah?!"
"Bukankah memang benar begitu?" Tanya Kayn seakan tak bersalah sama sekali.
"Ya, Zayn memang seperti itu." Tunggu, Kenapa kau malah mendukungnya Elie?!
"Hahaha ... Tak bisa disangkal ya." Bahkan Liana juga berpikiran begitu?!
Huh, sepertinya tak ada yg benar-benar berpikir padaku.
"Kalau begitu, kita akan berangkat pagi ini juga. Kalian berdua cepat bereskan semua bawaan kalian. Jangan membawa sesuatu yg tak perlu, oke?"
"Tenang saja, kami tahu kok," jawab Elie.
"Sebaiknya kalian bergegas, karena yg akan mengantar kita ke perbatasan adalah Zero," ucapku. "Kalian tahu kan apa yg akan Zero lakukan kalau kita terlambat?"
"Ugh, aku tak ingin mendengar apa yg akan ia katakan ...."
Elie dan Liana bergegas menuju kamar mereka dan mempersiapkan semua barang bawaan mereka. Misi ini kemungkinan akan menjadi misi jangka panjang, karena itu persiapan yg matang sangat diperlukan. Dan tentunya, mereka juga perlu menjelaskan situasi mereka ke orang tua Elie. Yah, kalau masalah itu kami serahkan kepada Elie.
Sekarang, tinggal kami berdua di ruang tamu. Tanpa Elie, tanpa Liana, dan tanpa para pelayan. Kami benar-benar hanya berdua.
"Kau tegar juga, Kayn."
"Yah, mau bagaimana lagi. Ini sudah kesepakatan yg kita buat diawal. Kita tak bisa melanggarnya," jawab Kayn. Tapi, tetap saja ia terlihat tak menerimanya.
Kayn menundukkan kepalanya kelantai, menggenggam erat kedua tangannya sambil mengeratkan gigi.
"Meskipun aku mengatakan seperti, aku masihlah manusia biasa. Melihat Liana merasa begitu sedih ketika mendengar kabar ini saja membuatku begitu sesak. Dan entah kenapa, aku merasa ingin sekali memusnahkan semua iblis yg menyebabkan kejadian ini. Memusnahkan mereka tak cukup, mereka juga perlu merasakan semua penderitaan yg mereka sebabkan akibat ulah mereka ...."
Aku diam mendengar semua perkataan nya. Ini lah sisi asli Kayn yg tak ingin ia tunjukkan pada siapapun kecuali padaku.
Kebenciannya pada iblis sudah benar-benar melampaui siapapun di dunia ini. Dan itu tentu saja bukan sesuatu yg baik. Semaydalam ia berada dalam kebencian ini, ia akan tertekan olehnya dan tak bisa tertolong lagi.
Kebencian yg terlalu berlebihan hanya akan menyakiti diri sendiri. Dan sebaliknya, kecintaan yg berlebihan akan menyakiti nya perlahan-lahan.
__ADS_1
Meskipun berkata seperti itu, kondisiku saat ini kurang lebih sama seperti Kayn.
"Aku pasti akan membunuh semua iblis di dunia ini."