
Kami akhirnya memasuki kota dengan aman tanpa diketahui siapapun. Ini semua berkat sihir Alkimia yg luar biasa milik Hughess.
Setelah memutuskan apa yg harus kami lakukan, Hughess membawa kami kembali ke daratan. Kami muncul dari bawah tanah di sela-sela gang kota setelah melalui terowongan panjang yg Hughess buat. Sepertinya, Hughess bisa menemukan tempat yg sepi bahkan dari dalam tanah sekalipun. Benar-benar seorang Alkimia dan penyihir yg berbakat. Berkat itu kami tak perlu khawatir akan terlihat oleh orang lain.
"Kita akan berpencar mulai dari sini. Kita akan kembali berkumpul di pusat kota dua jam kemudian," ucap Hughess memberi arahan.
"Baiklah."
Sesuai dengan apa yg kami bicarakan sebelumnya, kami semua akan bergerak secara terpisah, dengan kelompok kecil beranggotakan dua orang. Kayn dan Liana akan bertugas mencari tumpangan sekaligus informasi mengenai kota yg akan kami tuju. Sedangkan sisanya akan mencari informasi mengenai kejadian yang terjadi di kerajaan baru-baru ini.
Tapi meskipun begitu, sepertinya mustahil kalau kami tak terbawa suasana dengan kota ini. Bagaimana tidak, ini adalah kunjungan pertama kami ke kerajaan Voracity. Meskipun ini adalah misi, ini masih terasa seperti kunjungan wisata. Yah, setidaknya Fiera saat ini dijaga ketat oleh Hughess. Mustahil mereka akan bermain-main.
Kota tempat kami berada saat ini adalah kota Vestille, kota kecil yg menjadi persinggahan para pendatang yg baru saja tiba di kerajaan ini. Sebagaimana kota persinggahan, di kota ini banyak sekali penginapan yg berdiri di tepi jalan. Mulai dari yg paling berkelas, sampai yg paling murah.
Dan seperti kota-kota lainnya, penduduk disini didominasi oleh manusia, meskipun ada beberapa ras lain seperti Demi-Human yg lalu lalang. Kebanyakan dari mereka adalah para petualang yg berasal dari kerajaan lain, dan sisanya adalah budak. Sepertinya, memiliki budak Demi-Human adalah hal yg biasa disini. Tak seperti di kota Bluelagoon yg hanya sedikit dari para bangsawan saja yg memiliki budak Demi-Human. Di kota ini, bahkan pedagang biasa saja bisa memiliki budak.
Sesuai pengetahuan di dunia ini, ada banyak ras yg hidup berdampingan setelah deklarasi perdamaian antar kerajaan. Di benua ini, diketahui ada 3 ras besar yg menghuni berbagai kerajaan. Mereka adalah Manusia, Manusia setengah hewan atau yg biasa disebut Demi-Human, dan juga vampir. Manusia tersebar di setiap kerajaan, sedangkan Demi-Human lebih mendominasi di kerajaan Wisteria yg berada di pulau Wisteria, tepatnya Utara benua Fitzgerald.
Dan untuk vampir, seperti yg diketahui mereka memiliki kerajaan sendiri yg didominasi oleh para monster seperti Lizardman, Harpy, Lamia, dan semacamnya. Kerajaan itu sering disebut dengan kerajaan Monster Archarke, yg dipimpin oleh seorang raja vampir.
Tapi terkhusus untuk iblis, mereka tak dianggap sebagai ras penghuni benua ini. Itu karena pada asalnya mereka bukanlah ras asli benua ini. Tak ada satupun yg tahu dari mana asal mereka, namun yg pasti mereka adalah ancaman seluruh ras. Bukan hanya di benua ini saja, bahkan seluruh dunia menganggap mereka sebagai ancaman.
Sepertinya kebanyakan penduduk kota ini berprofesi sebagai pedagang dan juga pengrajin. Sebagai kerajaan dengan sumber daya hutan yg melimpah, sudah pasti akan ada banyak hasil kerajinan tangan yg terbuat dari kayu dan semacamnya. Selain kerajinan, ada banyak buah-buahan yg belum pernah kulihat sebelumnya di kota Bluelagoon, meskipun aku pernah melihat yg sejenisnya di kehidupanku yg dulu.
Dan bukan hanya kerajinan dan buah-buahan, kuliner yg berada di kota ini sungguh menggugah selera. Kebanyakan makanan disini terdiri dari buah-buahan. Sepertinya, banyak penduduk kota yg merupakan vegetarian. Wajar saja bagi kerajaan yg mengandalkan hutan dan pertanian.
Berjalan di kota ini dengan berbagai keanekaragaman nya membuat kami hampir lupa tujuan utama kami disini. Tapi ya setidaknya, dengan melihat-lihat kami bisa tahu kerajaan seperti apa Voracity ini. Tapi ini belum cukup, karena kota kecil ini hanyalah kota pinggiran kerajaan Voracity. Kalau kami perlu informasi lebih, kami masih perlu mengunjungi ibukota kerajaan ini, yaitu kota Voracity.
Berkat kemampuan komunikasi bangsawan milik Elie, kami bisa mendapatkan setidaknya beberapa informasi dari setiap pedagang yg kami temui. Meskipun ia masih malu-malu untuk bertanya, setidaknya Elie sudah berjuang.
Dari yg kami dengar, serbuan ras iblis belum mencapai kota ini. Itu karena hampir semua iblis yg datang muncul dari arah pantai tenggara dan bergerak ke kota Voracity yg berjarak kurang lebih sekitar 800 kilometer dari pesisir pantai. Dan karena kemunculan mereka yg tak terkendali, semua desa yg ada di daerah pesisir terpaksa mengungsi ke kota terdekat. Yg berarti daerah pantai itu sudah berubah menjadi daerah tak berpenghuni. Serbuan ini pun sudah terjadi selama dua bulan lebih. Dan pihak kerajaan masih berusaha sekeras mungkin untuk menahan pergerakan para iblis.
Dan dari informasi yg kami dapat, nampaknya ras yg menyerang adalah ras iblis kuning yg unggul dalam kekuatan dan pertahanan fisik. Ditambah lagi, mereka selalu bergerak dalam kelompok.
__ADS_1
Meskipun begitu, kami belum mendapatkan informasi yg jelas mengenai pergerakan mereka. Tentang apa yg mereka incar dan bagaimana mereka bisa sampai ke kerajaan ini. Nampaknya, Kayn dan Fiera memang harus menyelidiki daerah itu.
"Ini melebihi perkiraan ku. Siapa sangka kalau penyerbuan ini sudah berjalan selama dua bulan lebih??" Ucapku.
"Aku jadi kasihan dengan warga desa yg tinggal di sekitar pantai ...." Ucap Elie.
"Yah, setidaknya para Paladin itu sudah berjuang sekuat tenaga demi melindungi rakyat mereka. Nampaknya Imperial Paladin itu bukan cuma sekedar ksatria yg penuh dengan omong kosong," gumamku. "Tapi meskipun begitu, dari mana sebenarnya para iblis ini muncul??"
"Apa mungkin melalui semacam teleportasi? Seperti Zero," tebak Elie.
"Itu mungkin, tapi jika itu benar pasti ada tempat asal mereka menggunakan teleportasi. Masalahnya ada dimana sebenarnya tempat itu?"
"Ugh, ini sangat rumit."
"Ya, memang seperti itu sejak awal."
Perkara iblis ini memang bukan sesuatu yg mudah untuk diatasi. Mereka bukan hanya muncul di benua Fitzgerald, tapi kabarnya bahkan mereka juga muncul di benua tetangga yaitu benua Britania. Dan kemungkinan besar mereka juga muncul di benua-benua lain. Pertanyaan terbesarnya, sebenarnya apa tujuan mereka? Apa yg ingin mereka lakukan dengan menimbulkan kekacauan di dunia? Dan juga, siapa dalang dibalik penyerangan mereka? Apa mungkin ada raja iblis yg mengendalikan ke empat raja iblis warna? Semakin lama pertanyaan yg tak terjawab semakin banyak.
selama dua jam, kami terus mencari informasi sebisa kami. Pedagang, petualang, dan bahkan rakyat biasa kami tanya satu persatu. Beberapa dari mereka nampaknya tak ingin membicarakan tentang penyerbuan iblis itu, seakan mereka tak ingin mengingat tragedi tersebut. Dan para petualang pun nampaknya menghindari daerah pantai tenggara itu, mengingat tak banyak dari mereka yg bisa menghadapi para iblis. Hanya para Imperial Paladin lah yg berani turun tangan. Masalahnya, mau sampai kapan mereka menolak untuk meminta tolong pada kami? Jika terus seperti ini, bisa-bisa mereka dimusnahkan oleh para iblis itu.
Setelah waktu yg ditetapkan habis, aku dan Elie bergegas menuju ke alun-alun kota. Daerah itu sangat mencolok karena ada sebuah kolam air mancur yg menghiasinya. Disana, nampaknya Hughess dan yg lain sudah menunggu kami. Dan Kayn nampaknya sudah selesai dengan urusannya.
"Bagaimana? Apa kau mendapat tumpangan?" Tanyaku menghampiri mereka.
"Ya, aku berhasil menyewa jasa tumpangan milik salah seorang pedagang yg hendak pergi ke kota di dekat pantai tenggara. Nampaknya ia membawa makanan dan beberapa barang untuk para pengungsi," jelas Kayn. "Karena untuk kesana dia akan melewati kota Voracity, kupikir ini kesempatan yg bagus."
"Tapi sebagai gantinya kita harus menjadi penjaganya selama di perjalanan," ucap Liana.
"Itu bukan penawaran yg buruk."
"Yah, aku juga berpikir begitu," jawab Kayn. "Pedagang itu akan berangkat sekitar setengah jam lagi. Perjalanan ke Voracity akan memakan waktu sekitar dua hari perjalanan. Karena itu kita perlu mempersiapkan bekal makanan."
"Bekal yg Fiera bawa tidak cukup ya?" Tanya Fiera.
__ADS_1
"Itu bekal untuk 1 malam saja. Kita perlu lebih banyak lagi. Ditambah perbekalan untuk kita ke pantai tenggara. Setidaknya kota butuh tiga kali lipat dari yg sekarang," ucap Kayn.
"Kalau itu bisa disiapkan ketika di Voracity kan?" Tanya Elie.
"Takutnya itu tak akan sempat, karena pedagang tadi nampaknya sedikit terburu-buru. Ia sepertinya tak bisa mampir hanya untuk membiarkan kami membeli makanan," ucap Kayn.
"Hmmm, begitu ya. Jadi kita akan berpisah ketika sampai di kota Voracity ...." Gumam Hughess.
"Masalahnya adalah identitas kita. Apa yg akan kita lakukan jika pemeriksaan di Voracity cukup ketat?" Bisik Kayn.
"Yah nampaknya kita memang perlu memalsukan identitas," ucap Hughess. "Karena Kayn dan Fiera belum dikenal oleh publik, sepertinya masuk ke kota bukan masalah selama kalian tak melakukan sesuatu yg mencurigakan."
"Tapi, bagaimana dengan kita?" Tanya ku.
"Kita akan berhenti di tengah-tengah perjalanan dan masuk seperti sebelumnya," ucap Hughess.
"Yah, sepertinya itu lebih aman," ucap Elie.
"ya, aku setuju," timpal Liana.
"Kalau begitu, kita beli bekal terlebih dahulu,"
"Yup, soal itu kuserahkan pada Liana dan Kayn," ucapku. "Soalnya, kau tahu kan kalau aku kurang pandai jika menyangkut persiapan?"
"Huh, baiklah baiklah, akan ku usahakan," ucap Kayn. "Ayo, Liana."
"Baik."
Setelah mengatakan itu, Kayn dan Liana pergi membawa uang yg telah kami persiapkan untuk membeli bekal kami selama perjalanan. Dan sisanya akan menunggu waktu keberangkatan kami.
"Huh,aku jadi pengen kencan ...." Gumamku.
"Eh, kau bilang apa barusan Zayn???" Tanya Elie.
__ADS_1
"Bukan apa-apa."
Yah, lagipula ini bukan waktu yg tepat untuk kencan. Sepertinya aku harus menahan diri lebih lama lagi.