
Hari keenam latihan, aku melanjutkan latihan dengan Zoe. Di hari ini, kemampuan ku menggunakan sabit semakin meningkat. Tentunya dengan bantuan pelajaran tambahan menggunakan sihir ruang Osamu, ditambah dimalam harinya aku mencoba menghadapi vampir dengan menggunakan sabit. Sekarang aku sudah cukup percaya diri dengan kemampuan sabitku. Walaupun hanya ada sedikit vampir yg muncul malam itu, aku sudah cukup bersenang-senang.
Selama seharian ini aku terus menajamkan kemampuan penggunaan sabitku. Ditemani dengan Zoe dan juga Shiki, aku terus berlatih dengan serius. Tentunya bukan tanpa alasan. Aku berlatih lebih serius hari ini karena ada kabar buruk dari pihak ReVoid.
Kabar tentang para vampir kelas bangsawan yg mulai muncul akhir-akhir ini. Sepertinya bukan hanya kelas bangsawan biasa yg mereka kirim. Laporan mengatakan kalau yg muncul akhir-akhir ini adalah seorang vampir bernama Kuvra Antonuette, vampir bangsawan rank atas. Yg berarti, ia bukan Vampir bangsawan biasa. Sebelumnya ia pernah muncul di kerajaan Silverstone. Ia berada di tingkatan yg berbeda dari Chase dan juga Vience.
Karena kabar ini, aku berniat untuk berlatih sedikit lebih serius lagi. Jika saja melawan Vience sudah membuatku terluka seperti waktu itu, aku tak akan mungkin bisa bertahan melawan mereka yg bahkan jauh lebih kuat dari Vience.
Latihan hari ini selesai setelah pertengahan hari. Selama seminggu ini aku terus berlatih menggunakan senjata. Aku juga perlu meningkatkan kekuatan sihirku untuk mengimbangi kemampuan senjataku. Wajar saja, aku seorang penyihir. Penyihir dengan kemampuan sihir yg tumpul tak cocok terjun ke medan pertempuran.
"Hah? Lagi? Kau pikir aku ini tak punya kegiatan lain?!"
"Selama berada di ruang itu waktu tak akan berjalan kan? Bukankah sama saja kalau aku memintamu menggunakannya?"
"Ugh, kau benar juga. Tapi kau pikir melakukannya itu mudah?"
"Bukankah kau dapat menggunakannya tanpa kesulitan selama ini Ryunosuke?"
"Kelihatannya saja begitu, tapi sebenarnya aku juga punya batasan. Kau pikir menggunakan sihir skala besar seperti itu tak menguras tenaga?"
"Hmmm...kau benar juga, sihir seperti itu juga pasti menyerap banyak Manna."
"Karena itu carilah orang lain! Bukankah pacarmu itu itu juga bisa menggunakannya Zayn?"
"Pacar? Kau punya pacar Zayn?"
"Si Elie itu! Elizabeth Bathory! Dia juga bisa menggunakan sihir itu walaupun masih belum sehebat ku. Tapi jika kau menyuruhnya aku yakin dia pasti tak akan menolaknya kan? Lagipula itu juga bagus untuk melatihnya menggunakan sihir jangka panjang."
"Hmm... sepertinya yg dikatakan Ryunosuke ada benarnya Zayn."
"Huuh...."
Rencanaku untuk memanfaatkan sihir ruang Osamu gagal. Ia menolaknya mentah-mentah. Bahkan kehadiran Shiki untuk membujuknya saja tak cukup.
__ADS_1
"Ayolah, biarkan aku menggunakan kekuatan mu itu lagi." Ucapku.
"Tidak! Gunakan saja Elie milikmu itu!"
"Jangan perlakukan Elie seakan-akan dia itu barang!"
"Kau baru saja ingin memperlakukan ku seperti barang dan sekarang kau melarangku melakukan hal yg sama?! Yg benar saja! Seberapa egoisnya kau ini hah?!"
"Hey hey sudahlah, sepertinya percuma saja kalau kita memaksanya seperti ini Zayn." Ucap Shiki.
"Lihat, bahkan Shiki juga memikirkan hal yg sama. Menyerahlah dan pergi sana."
"Cih, dasar otaku pelit...."
"Jaga mulutmu! Siapa yg kau panggil otaku?!"
Aku menyerah. Pada akhirnya aku benar-benar tak bisa membujuknya. Tak ada pilihan lain selain meminta tolong ke Elie.
Hari ini sepertinya pelajaran berakhir cukup cepat. Aku memang tak masuk kelas, tapi aku masih bisa menunggunya di depan gerbang masuk akademi. Semoga saja dia mau mendengarkan permintaan egoisku ini. Soalnya dia itu Elie. Sebagai orang yg cukup sibuk, dan juga cerewet aku tak yakin kalau dia mau menerima permintaanku.
"Baiklah, aku akan membantu mu Zayn."
Eh? Semudah itu? Aku belum menjelaskan kenapa aku meminta hal ini padanya, dan dia menerimanya begitu saja tepat setelah aku memintanya? Kalau begitu percuma saja aku memikirkan banyak alasan untuk membujuknya!
"Eh? Apa kau yakin? Bukankah kau belum terlalu menguasainya?" Tanyaku.
"Kalau kau yg memintaku seperti ini sudah pasti akan kuterima kan? Lagipula aku ini pacarmu. Bukan begitu Zayn?" Ucapnya sambil menyombongkan diri. "Selain itu, aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk melatih sihirku. Dan tenang saja, aku juga akan menggunakan kesempatan ini untuk berduaan denganmu selama mungkin."
"Tidak kumohon jangan. Aku tak yakin apa yg akan terjadi nantinya. Lagipula itu juga akan membebani tubuhmu jika kau menggunakan nya terlalu lama." Ucapku.
"K-kalau begitu apa aku boleh bergabung dengan kalian?" Aoi yg mendengar pembicaraan kami mencoba untuk mengambil kesempatan.
"Pergi sana dan jangan dekat-dekat dengan Zayn."
__ADS_1
Dan seperti yg kuduga Elie memberikan jawaban yg begitu dingin.
"Jangan dingin begitu Elie, lagipula aku juga sedikit tertarik dengan latihan ini." Ucap Kayn menepuk pundak Elie.
"Laki-laki dan gadis berduaan di ruangan itu berbahaya. Karena itu aku berpikir lebih baik kalau kami juga ikut." Liana juga datang bersama Kayn.
"Fiera setuju itu." Tentunya Fiera juga hadir untuk membuat suasana makin runyam.
"Hahaha, sepertinya kesempatan emas mu sudah lenyap ya Zayn."
"Hentikan itu Shiki, lagipula aku juga tak berniat melakukan nya."
"Hah?! Kenapa?! Apa kau begitu membenciku sampai-sampai tak mau berduaan denganku?! Apa kau benar-benar membenciku Zayn?!"
"Aku tak bilang seperti itu. Seperti yg Liana katakan tadi, itu bukan ide yg bagus. Kalau kau sampai segitunya ingin berduaan denganku kau bisa melakukannya lain kali." Ucapku meredakan amarah Elie.
"Kalau begitu janji ya? Aku tak ingin dengar penolakan mu lain kali." Ucap Elie tersenyum puas. Aku tak bisa menjawab lagi. Perempuan itu benar-benar menyeramkan.
"Baiklah...." Ucapku.
"Kalau begitu ayo kita berangkat! Saatnya latihan!" Teriak Elie girang. Sepertinya suasana hatinya sedang baik.
Elie yg mengatur tempat latihannya. Ia berniat melakukan latihan di sebuah tanah lapang luas milik akademi. Itu tempat yg cukup luas dan juga sepi. Tempat yg cocok untuk berlatih menggunakan sihir.
Setelah Elie memunculkan sihir Infinity Chamber nya, kami bertujuh pun memulai latihan gabungan kami. Seperti yg Elie katakan tadi, ia benar-benar berniat menggunakan kesempatan ini untuk melatih kemampuan sihirnya. Ia sekarang bahkan dapat menggunakan sihir lain sambil mempertahankan sihir Infinity Chamber nya. Kelihatannya kemampuan sihirnya sudah sangat berkembang.
Aku berencana untuk melatih sihir perubahan monster ku, Tranmutation. Tak banyak yg bisa ku latih, tapi setidaknya ada sedikit perkembangan. Sebelumnya aku memiliki wujud dengan tangan dan kaki monster dengan ukuran besar. Jujur saja, walaupun daya serangnya sangat kuat, wujud ini benar-benar membuatku sulit untuk bergerak. Ukurannya yg besar itu menghambat pergerakan ku dan itu sangat mengganggu. Karena itu aku berpikir untuk membuatnya sedikit lebih kecil, tapi dengan daya serang yg sama kuat dengan sebelumnya. Aku juga sedikit mengubah penggunaan dan bentuk sayap monsterku menjadi lebih pipih dan keras.
Kayn sibuk dengan latihan pedangnya dengan Shiki. Perbedaan teknik berpedang yg dimiliki Shiki membuat Kayn sangat tertarik untuk mempelajari nya. Karena itu ia terlihat sangat bersemangat.
Aoi dan Shiki memiliki jumlah Manna yg tak sedikit. Mereka juga bisa menggunakan beberapa sihir sederhana. Kemampuan Void milik mereka juga luar biasa. Dengan itu mereka mampu memperkuat tubuh mereka, dan meningkatkan kemampuan tempur mereka.
Liana sudah mulai menguasai kemampuan setengah iblis miliknya. Ia sekarang mampu mempertahankan wujud iblisnya selama dua jam lebih. Itu sangat membantunya dalam pertarungan jangka panjang. Wujud iblisnya memliki kemampuan bertarung yg tinggi dengan ketahanan terhadap sihir element. Selain itu, kemampuan sihir serangan jarak jauh Liana sudah semakin berkembang. Berkat pelatihan dari Kayn, dan juga kak Chezie selama pelatihan di markas, Liana sudah dapat diandalkan sebagai penyerang jarak jauh dan juga jarak dekat. Meskipun sebenarnya kemampuan bertarungnya masih harus terus diasah setajam mungkin.
__ADS_1
Sedangkan Fiera, ia kelihatannya sudah cukup akrab dengan Liana, Hanya Liana. Ia sepertinya masih menganggap Elie sebagai musuh bebuyutan. Tapi kelihatannya ia sudah menganggap Liana sebagai teman satu tim. Itu bisa dilihat dari latihan gabungan mereka berdua. Selama di ruang Infinity Chamber ini, Fiera dan Liana melakukan adu tanding. Itu cara yg tepat untuk melatih kemampuan bertarung serta untuk membiasakan diri mereka di pertarungan. Pengalaman adalah guru terbaik, itu yg bisa orang-orang katakan.
Dan selama 2 jam itulah, kami berusaha sekuat mungkin melampaui batasan kami masing-masing