
"Zayn... Endarker...."
Suara yg menyeramkan muncul di kepalaku, seakan memanggil namaku terus menerus.
"Siapa disana?!!"
Aku berusaha memanggil, namun tak ada jawaban dari seberang. Sejauh mata memandang, yg kulihat hanya ruang kosong yg gelap gulita. Tak ada makhluk hidup, tak ada cahaya, hanya ada diriku seorang.
"Kau hanya perlu menuruti ku... Zayn Endarker...."
Suara itu kembali muncul. Membuatku berbalik mencari sumber suara misterius tersebut.
Saat ku menoleh, sesosok bayangan hitam muncul melesat dengan sangat cepat kearahku.
"...hanya ikuti apa yg ku mau!!!"
Tepat setelah saat bayangan itu menabrak ku, aku seketika tersadar.
Aku segera melompat duduk diatas kasur, keringat dingin bercucuran, jantungku berdetak cepat, dan kepalaku terasa sakit. Nafasku terengah-engah, seperti orang yg barusan berlari jauh.
Itu tadi benar-benar mimpi yg aneh, dan sedikit mengerikan. Kalau tak salah, duku aku pernah mendengar suara itu. Saat itu, ketika berhadapan dengan Orcholenius. Bayangan aneh yg mengaku bernama Leon itu juga muncul di alam bawah sadarku saat itu. Apa mungkin itu makhluk yg sama dengan yg barusan kulihat dalam mimpiku?
Aku tak pernah mengungkit hal itu semenjak kalah dari Orcholenius, tapi saat ini makhluk yg sama kembali menggangguku. Sebenarnya siapa dia, dan apa yg ia inginkan dariku?
Aku menoleh kesekeliling. Ini sepertinya ada di kemah perawatan ReVoid. Sepertinya aku pingsan dan berhasil diselamatkan.
Disampingku, aku mendapati Aoi sedang tidur pulas dalam posisi duduk, menyandarkan kepalanya diatas kasur. Aku menatapnya sekilas. Tak kusangka ia memiliki wajah seimut ini ketika sedang tertidur. Maksudku, Aoi memang memiliki paras wajah yg cantik, tapi tak kusangka ia bahkan lebih cantik dan imut ketika sedang tertidur seperti ini.
Saat aku hendak bangun dari kasur, Aoi seketika terbangun. Mungkin karena gerakan tiba-tiba ku, atau memang sudah waktunya ia bangun. Aku pun mengurungkan niatku untuk turun dan menyapa Aoi.
"Kau sudah bangun ya Aoi."
"Zayn?...kau sudah baikan?" Tanyanya mengusap matanya sambil menguap.
"Ya, begitulah...." Jawabku. "Apa yg terjadi selama aku pingsan?"
"Ya... sebenarnya banyak yg terjadi." Jawab Aoi.
Aoi kemudian menceritakan semua yg terjadi selama aku pingsan. Mulai dari Liana yg terluka, sampai kematian Vience karena berhadapan dengan Kayn dan Fiera. Semuanya ia ceritakan dengan jelas dan ringkas.
"Aku cukup kaget ketika melihat Kayn dan Fiera bersikap seperti itu. Benar-benar seperti melihat dua orang yg berbeda...." Ucap Aoi.
"Ya, Kayn sudah pasti marah besar kalau Liana sampai terluka parah seperti itu...."kalau Fiera sih...ya, kau tahu sendiri kan bagaimana kelakuan nya. Sepertinya ia jadi seperti itu ketika melihatku terbaring berlumur darah...aku tak terkejut sih."
"Ah...begitu ya...." Gumam Aoi.
"Selain itu, sepertinya semua berjalan lancar ya. Kau hebat sekali."
__ADS_1
"Tidak. Ini tidak selancar yg yg kau pikirkan." Jawab Aoi. Walaupun baru bangun, tapi wajahnya sudah menunjukkan ekspresi sedih. "Karena keterlambatan ku, kau jadi terluka seperti ini...sebagai mentormu, aku telah gagal...."
"Apa yg kau bicarakan Aoi? Bukankah aku juga selamat karena kau tiba membawa bantuan. Kau datang tepat waktu." Sanggah ku.
"Tidak, aku terlambat. Karena itu kau jadi terkena gigitan Vience." Aoi tetap tak terima. "Walaupun kau tak berubah menjadi vampir, dan kau selamat, aku tetap tak berpikir kalau semua baik-baik saja ...aku benar-benar telah gagal sebagai mentormu...."
Aku terdiam sejenak. Sepertinya wibawanya yg tinggi itu sudah membuatnya terpuruk hanya karena sebuah kesalahan kecil. Karena aku terluka, ia jadi menyalahkan dirinya yg tak becus karena ia adalah mentorku. Ia menimpakan semua kesalahan dan penderitaan itu padanya, hanya karena ia adalah mentorku. Dan itu membuatku sedikit kesal.
"Aoi...bisakah kau berhenti mengatakan itu?" Ucapku. Aoi diam dan enggan menatap mataku.
Aku segera menangkap bahunya, membuatnya terpaksa menatap mataku. Ia terdiam, mukanya terlihat lesu, namun sedikit memerah.
"Z-zayn?...apa yg kau lakukan?"
"Berhenti mengatakan kalau kau gagal menjadi mentorku, Aoi!" Ucapku tegas. "Kau menyelamatkan ku saat kita pertama bertemu. Kau mengajarkanku semua tentang vampir. Kau memarahiku saat aku berbuat salah. Kau mempercayai ide ku yg sangat beresiko itu. Aku bisa selamat karena semua yg kau ajarkan padaku, dan semua yg kau percayakan padaku. Dan kau masih mengatakan kalau kau gagal menjadi mentorku? Kalau begitu kau benar-benar membuatku kecewa."
Aoi terdiam, tetap menatap kearahku. Aku juga tetap menatap matanya erat-erat.
"Kau adalah mentorku yg terbaik. Dan kau juga rekanku yg hebat. Kalau kau menyangkalnya, aku tetap akan mengatakan itu. Aku tak peduli apa yg kau pikirkan, tapi inilah yg selama ini kupikirkan. Jadi, jangan lagi mengatakan kalau kau adalah mentor yg gagal."
Setalah mengatakan itu, akupun melepaskan nya. Seketika ia memalingkan mukanya dari. Sekilas, aku menyadari kalau mukanya mulai memerah.
"K-kau... benar-benar berpikir seperti itu...Zayn?" Tanyanya.
"Tentu saja."
Aoi sedikit tersentak, dan kemudian menunduk kebawah. Ia tersenyum. Sepertinya kata-kataku barusan berhasil mempengaruhi nya.
Aku mengangguk, dan membalas dengan menepuk pelan kepalanya. Ia tak melawan, dan membiarkanku mengelus kepalanya sambil menundukkan kepala.
"Selain itu...maaf ya, tadi aku tak sengaja melihat wajahmu ketika tidur...."
Seketika wajah Aoi semakin memerah. Ia langsung memalingkan mukanya.
"T-tak masalah...kau tak sengaja kan?"
"Yah... sebenarnya ada sedikit kesengajaan sih...."
"D-dasar kau ini mesum ya?!". Teriak Aoi. "Benar-benar tak sopan!!"
Aoi memukul lenganku seperti biasa. Sepertinya, ia sudah kembali menjadi dirinya yg biasanya. Itu benar-benar membuatku lega. Seperti ini lah seharusnya, sikap Aoi yg harus terus dipertahankan.
"Wah wah serasi sekali. Tapi maaf, kita perlu membicarakan sesuatu disini...."
Suara seorang wanita muncul didepan pintu tenda. Bersamanya, seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam berdiri disampingnya. Wanita itu adalah Kate Sonya, salah satu Reign yg bertugas di kota ini. Dan pemuda itu, aku tak terlalu ingat namanya. Tapi aku rasa kami pernah pernah bertemu sebelumnya. Ah ya, di rapat sebelumnya ia juga hadir disana. Namanya adalah Zoe Schaligen, Reign Pengguna Sabit besar.
"K-kak Kate?!"
__ADS_1
"Kenapa kaget begitu Aoi? Aku masuk dengan normal bukan?"
"B-bukan begitu. T-tapi, yah...."
"Hehe, apa kau kaget karena aku tiba-tiba muncul dan mengganggu pasangan yg sedang kasmaran ini?"
"H-hah?! A-apa maksudnya kak Kate?! I-ini bukan seperti yg kau pikirkan!!" Bantah Aoi
"Tenang lah Aoi, dia hanya mencoba menggoda mu saja. Kalau kau menanggapinya dengan serius kau bisa-bisa malu sendiri nantinya." Ucap Zoe.
"A-ah...aku mengerti."
"Fufufu, kau masih sangat muda, melihat ekspresi seperti itu dari anak muda memang menyenangkan." Kate terlihat sangat menikmati. Sepertinya ada yg aneh dengan hobi wanita ini.
"Lalu, apa ada masalah?" Tanyaku. "Aku yakin kalian datang kesini bukan hanya untuk menggoda Aoi, atau menjengukku saja kan?"
"Yah, langsung ke intinya saja ya...kau ini pria yg membosankan juga ya...." Gerutu Kate. "Sebenarnya ini bukan masalah besar. Kamu hanya ingin sedikit memberimu pelatihan, Zayn."
"Pelatihan? Untukku?" Tanyaku heran.
"Kami telah mendapatkan laporan tentang jumlah vampir yg menyerang ke kota dalam invasi ini. Setidaknya, akan ada sekitar 500 vampir yg akan datang menyerang kota. Dan dari 500 vampir itu, 20 dari mereka adalah vampir bangsawan. Ditambah lagi mereka termasuk kelas atas. Perkiraannya, mereka berada diatas Vience dan Chase...." Jelas Zoe.
Lima ratus vampir, dan dua puluh ras Vampir bangsawan?! Belum lagi dia bilang mereka diatas Vience dan Chase?! Bukankah ini buruk?! Melawan Vience saja sudah membuatku terluka parah seperti tadi, bagaimana jadinya kalau ada banyak yg lebih kuat dari mereka datang menyerangku? Aku bisa saja mati. Walaupun itu Kayn sekalipun, melawan vampir bangsawan sebanyak itu pastinya akan sangat berbahaya.
"Karena hal itu, kami berniat melatihmu menggunakan senjata." Lanjut Zoe. "Setelah ku amati beberapa hari ini, sepertinya kau tak mahir dalam penggunaan senjata. Selama ini kau hanya menggunakan sihir dan tangan kosong...."
"Aku tak terlalu tertarik dengan senjata." Jawabku.
"Perlu kuingatkan Zayn, lawanmu kali ini bukan seperti iblis yg biasa kau hadapi dengan tangan kosong. Lawanmu adalah vampir, bertarung melawan vampir dengan sihir dan tangan kosong hanya akan mempersulit keadaanmu." Ucap Kate.
"Setelah kau bertarung melawan Vience, kau pasti menyadarinya kan. Seberapa kuat mereka, dan seberapa banyak celah dalam pertahananmu."
Ya, aku tahu itu. Kata-kata Zoe memang benar. Mereka kuat, sangat kuat. Dan aku juga memiliki kelemahan. Celah dalam tiap seranganku sangat banyak, dan vampir itu memanfaatkan tiap-tiap celah itu dengan baik. Mereka kuat, cepat, dan juga pintar.
"Kau cukup beruntung. Karena kau memiliki darah yg unik, racun para vampir itu tak mempan padamu. Karena itu kau tak berubah menjadi vampir walaupun sudah tergigit dan kehilangan banyak darah." Ucap Kate.
"Tunggu... bukankah itu karena penawar yg aku berikan padaku?" Tanyaku. Seingat ku Aoi tadi mengatakan kalau ia menggunakan penawar agar racun itu tak menyebar ke tubuhku.
"Penawar itu hanya dapat memperlambat penyebarannya saja. Ia tak dapat memusnahkan racun-racun itu. Tapi saat kau sampai disini dan diperiksa, semua racun itu sudah lenyap tak tersisa." Jawab Kate.
Yg benar saja. Apa darahku memang sehebat itu. Lalu karena Kayn adalah kembaran ku, apa dia juga punya darah seperti ini?
"Meskipun kau tak mempan pada racun vampir, kau akan tetap mati kalau diserang dan kehabisan darah. Kau tak akan menjadi vampir, tapi kau akan mati." Jelas Zoe. "Karena itu, mulai hari ini kami akan melatih mu menggunakan bermacam senjata."
"Kallen akan mengajarimu cara menggunakan pedang. Aku dan Aoi akan mengajarkanmu cara menggunakan senjata jarak jauh. Zoe akan mengajarimu cara menggunakan sabit besar. Dan Shik akan mengajarimu teknik berpedang asal negeri nya...dengan semua ini, aku yakin kau pasti akan jadi lebih kuat lagi, Zayn."
__ADS_1
Aku berpikir kalau ini akan merepotkan. Tapi aku tak punya pilihan lain. Menggunakan tangan kosong hanya akan membuatku terbunuh. Mau tak mau aku harus mempelajarinya.
"Baiklah...aku ikut." Ucapku. "Mohon bantuannya, Kate, Zoe, dan juga Aoi."