
Hari keempat setelah latihan ku dimulai, saatnya berlatih menggunakan senjata jarak jauh. Pertama, Kate akan mengajariku cara menggunakan panah dan belati. Setelah itu, Aoi akan mengajarkan cara menggunakan senjata api, walaupun sebenarnya aku hanya butuh sedikit pembiasaan karena aku sudah lama menguasai senjata itu.
Kate mengatakan kalau tumpuan utama dalam penggunaan busur adalah penglihatan dan pengamatan kondisi yg tajam. Penglihatan tajam sangat diperlukan ketika sedang menggunakan busur. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan tentang kondisi sekitar ketika sedang menargetkan musuh. Arah dan kecepatan angin, pergerakan target, serta titik vital sangat berpengaruh didalamnya. Jika salah mengira arah dan kecepatan arah angin, anak panah bisa melenceng dari jalurnya dan meleset. Jika kita tak bisa membaca pergerakan target, anak panah juga bisa meleset dan terbuang percuma. Jika kita tak mampu memastikan titik vital target, maka itu tak akan menumbangkan target. Semua hal inilah yg membuat busur sangat susah dikuasai.
Pada dasarnya, pemanah sama dengan sniper versi kerajaan kuno.
Cara memegang busur juga dapat mempengaruhi arah serta kecepatan anak panah. Salah memegang busur dapat membuat anak panah meleset, atau bahkan tak mencapai target. Memperkirakan jarak antara pemanah dan target juga tak kalah penting. Intinya, banyak hal yg perlu diperhatikan untuk menjadi pemanah ulung. Dan karena hal itu membutuhkan keterampilan dan pembiasaan fisik, aku tak mampu menguasainya dengan sempurna. Kalau saja dulu aku seorang sniper, aku pasti dapat menguasai ini dengan mudah.
Sebagai seorang penyerang jarak jauh, pemanah sangat rentan dengan serangan dadakan jarak dekat. Jika ada musuh yg menyergap pemanah yg sedang mengintai tergetnya, pemanah itu akan berada dalam masalah serius. Karena hal itu untuk menutupi kekurangan ini seorang pemanah mesti membawa belati sebagai alat pertahan dadakan.
Belati tak seperti pedang yg panjang dan berat. Ia adalah senjata pertahanan yg sempurna bagi seorang pemanah. Meskipun begitu, menggunakannya tak semudah menggunakan pedang. Itu karena belati memiliki jangkauan yg jauh lebih kecil dari pedang. Pengguna belati memerlukan reflek serta kelincahan dalam bergerak. Karena itulah, Kate melatih kelenturan tubuh ku agar aku mampu menggunakan senjata ini dengan lebih fleksibel.
"Ini cukup sulit bahkan untukku...." Ucapku sambil duduk dan meneguk sebotol air.
"Meskipun begitu kau berhasil melaluinya sampai sejauh ini. Itu sudah lebih dari cukup untukmu." Ucap Kate.
"Begitu ya...."
"Yah, sisanya kau hanya perlu pembiasaan. Mustahil juga kau bisa menguasainya dalam waktu sehari. Inti-intinya sudah kusampaikan, jadi latihanmu denganku juga selesai." Ucap Kate.
"Eh, begitu saja?" Aoi yg juga ikut menemaniku berlatih sedikit terkejut.
"Ya, sisanya kuserahkan padamu Aoi." Ucap Kate. "Aku lelah jadi mau istirahat dulu."
"A-ah ya, terimakasih atas kerja kerasnya."
Setelah mengatakan itu, Kate pergi meninggalkan kami berdua di lapangan ini. Sepertinya untuk mengakhiri latihan hari ini Aoi yg akan mengurusnya.
__ADS_1
"Ya...karena kau ini mantan tentara seharusnya kau lebih profesional dariku kan Zayn? Kalau begitu tak ada yg perlu kuajarkan." Ucap Aoi.
"Ya, tapi aku butuh sedikit pembiasaan." Ucapku. "Soalnya sudah 16 tahun aku tak menyentuh benda itu...."
"Haha, kau benar. Senjata api tak ada di zaman ini. Tak ada, sampai kami yg memperkenalkan nya ke kerajaan Silverstone."
Aku berdiri dan memegang Handgun milik Aoi. Berusaha membidik sasaran yg sebelumnya kugunakan untuk memanah. Sementara itu, Aoi tetap duduk dan menatapku.
"Zayn...maaf kalau aku sedikit lancang...." Ucapnya. "...sebagai tentara, kau pasti sudah pernah ikut perang bukan?"
"Ya, lagipula aku mati ketika perang." Ucapku ."kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Sebenarnya... seperti apa rasanya membunuh manusia?"
Pertanyaan itu terdengar begitu dalam dalam kelam. Aku terdiam dan menatap Aoi. Matanya terlihat gelap, dan kosong.
"Aoi...apa kau pernah membunuh manusia sebelumnya?" Tanyaku balik.
"Ya... seperti itulah...." Jawabnya. "...itu bukan pembunuhan, tapi hanya pembelaan diri...saat itu terjadi perampokan dan orang itu menodongkan handgun nya kearah seorang wanita dan mengancam akan membunuhnya. Tapi ia membuat kesalahan dan menjatuhkan senjatanya. Sepertinya ada sesuatu yg membuatnya ragu dan takut untuk melakukan itu, dan ia selalu gemetaran. Seakan ia terpaksa melakukannya. Aku yg saat itu berumur 10 tahun meraih handgun itu dan menodongkannya kembali ke orang tersebut. Tapi siapa sangka aku menarik pelatuknya tanpa sengaja dan menembak tepat di kepalanya."
Aku tetap mendengarkan cerita Aoi. Ia bercerita panjang lebar dengan nada datar. Saking datarnya aku sampai tahu kalau suaranya penuh dengan penyesalan dan rasa takut.
"Aku memang terbebas dari kesalahan itu dan dianggap sebagai korban perampokan oleh polisi. Sebagai anak berumur 10 tahun, itu menjadi pengalaman yg mengerikan. Namun orang tua kami tak memikirkan itu, dan malah menganggap kalau aku memiliki potensi untuk menggunakan senjata api." Lanjutnya.
Dalam hati, aku bertanya-tanya orang tua macam apa yg berani melakukan itu pada buah hatinya? Benar-benar sulit dipercaya.
"Aku dilatih agar menjadi penerus keluarga Mikoto bersama dengan kakak. Aku dilatih untuk menguasai senjata api. Dilatih agar dapat menarik pelatuk untuk menembak target. Itu semua agar aku dapat terbiasa dengan ini semua...tapi tetap saja, aku tak mampu melupakan wajah dan suara orang yg kubunuh pertama kali itu. Wajah dan suaranya selalu menghantuiku... seakan-akan aku telah dikutuk olehnya...."
__ADS_1
"Jadi untuk apa kau bertanya padaku?"
"Aku...ingin tahu apa orang lain akan merasakan hal yg sama jika berada dalam kondisi seperti itu...." Jawabnya. "Sebagai mantan tentara yg pernah ikut berperang, kau pasti tahu kan seperti apa rasanya?"
Aku menghela nafas.
"Kalau kau bertanya padaku bagaimana rasanya, jawabku adalah sangat buruk. Membunuh manusia tak terasa menyenangkan sama sekali. Walaupun aku membenci mereka, aku tak pernah berniat untuk mengakhiri hidup mereka...." Jawabku. "Yah, intinya membunuh orang lain tak akan membuatmu merasa lebih baik, sebanyak apapun kau melakukannya. Dan kalau kau merasa kalau kau telah melakukan kesalahan yg besar saat kau membunuh orang itu, kau tak salah. Itu naluri manusia untuk takut terhadap kesalahan yg pernah mereka alami...."
Aoi masih diam mendengarkan.
"Meskipun begitu, kau juga harus melihat sisi lain dari perbuatmu. Kau memang membunuh satu orang, tapi bisa jadi ada orang lain yg kau selamatkan karena perbuatanmu. Contohnya wanita yg di todong oleh perampok itu. Didalam hatinya, pasti ia bersyukur dan berterima kasih padamu. Meskipun kau tidak menganggap seperti itu...."
"Jadi maksudmu...aku mengorbankan satu orang dan menyelamatkan satu orang?" Tanya Aoi.
"Kalau dibilang mengorbankan tak salah, tapi itu bukan penggambaran yg tepat." Ucapku
"Kalau begitu?"
"Kau melakukan apa yg harus kau lakukan, dan menyelamatkan satu nyawa." Ucapku. "Menurut ku itu lebih baik dari yg sebelumnya."
"Melakukan apa yg harus kulakukan?"
"Kalau kau tak menembaknya, kau akan terbunuh. Kalau kau tak mengambil senjatanya, wanita itu mungkin bisa terbunuh. Kalau kau lari dengan senjata itu, kau juga bisa terbunuh. Menembaknya adalah pilihan terbaik. Dan kau melakukannya dengan baik." Jawabku ."itu yg kumaksud dengan apa yg harus kau lakukan."
Aoi terdiam. Aku tak tahu apa ia menerima pendapat ku atau tidak, tapi aku sudah mengatakan apa yg ingin kukatakan.
"Terimakasih Zayn...aku sudah mengerti sekarang." Ucap Aoi. "Untuk melindungi nyawa orang lain, aku harus berani mengambil tindakan. Kalau aku tak melakukannya, aku tak akan bisa melindungi nyawa orang lain."
__ADS_1
Aku terkejut mendengar ia dapat menyimpulkannya seperti itu.
"Yah, kurang lebih seperti itu." Ucapku.