Absolute Twin Magician

Absolute Twin Magician
Voracity


__ADS_3

Kereta kuda milik pedagang itu melaju kencang menuju gerbang masuk kota Voracity. Didalamnya, Kayn dan Fiera bersikap netral seakan kedatangan mereka berdua bukan masalah besar. Dan di sisi lain, aku, Elie, dan Liana berjalan masuk ke dalam hutan mengikuti jejak Hughess.


Seperti yg direncanakan sebelumnya, kami berempat akan memisahkan diri dari Kayn dan Fiera. Kami tak bisa memasuki kota dengan normal seperti halnya mereka berdua, itu karena ada kemungkinan para pengawal gerbang menyadari identitas Hughess. Saat ini ia memang sedang mengenakan topeng dan jubah bertudung yg menutupi kepalanya, tapi untuk berjaga-jaga kami akan menghindari kontak mata dengan para pengawal sebisa mungkin. Karena itulah, satu-satunya jalan masuk kami adalah dengan jalan rahasia. Atau lebih tepatnya, jalan yg kami buat sendiri.


Seperti disaat kami memasuki kota Vestille, kami juga akan memasuki kota Voracity melalui lorong bawah tanah yg dibuat Hughess menggunakan sihir Alkimianya. Karena itulah kami bersembunyi di dalam hutan yg berada di dekat dinding dan membuat jalannya dari sana. Jaraknya memang lumayan jauh dari dinding, sekitar 50 meter. Tapi keamanannya jauh lebih biak dibandingkan membuatnya di dekat dinding.


"Setelah kita masuk pastikan agar kalian tak terpencar. Ini pertama kalinya kalian memasuki kota Voracity, jadi bisa bahaya kalau kalian sampai terpisah dan tersesat," ucap Hughess.


"Ya, kami tahu itu."


"Dan Zayn, aku paham perasaan mu yg sedang kasmaran, tapi jangan berpikir untuk pergi kencan di sela-sela misi," ucap Hughess.


"A-apa yg kau katakan?! Mana mungkin aku melakukan itu kan?! Benarkan, Elie?!"


"I-iya ... Aku akan berusaha menahan diri."


Eh? Sebenarnya peringatan tadi untuk ku atau untuk Elie?


"Baguslah kalau kalian paham," lanjut Hughess tersenyum.


Tak kusangka kalau Hughess yg selalu santai ini bisa jadi menyebalkan seperti Zero. Ini tak baik untuk ku.


"Anu, kak Hughess ... Mengenai orang yg akan kita temui, orang seperti apa dia?" Tanya Liana.


Dari percakapan kita dengan pedagang itu, seharusnya kau sudah membayangkan nya kan?" Tanya Hughess.


"Eh? Jadi orang yg kalian bicarakan itu yg akan kita temui?" Tanya Liana lagi.


"Aku terkejut, kau baru menyadari nya sekarang?"


"A-aku kira itu tadi hanya basa-basi saja."


"Itu memang basa-basi, lagi pula tak semua yg kukatakan tadi benar," ucap Hughess.


"Seberapa banyak kebohongan nya?" Tanyaku.


"Satu per tiganya."


Setelah mengatakan hal itu, kami pun segera bergegas memasuki lorong yg telah Hughess buat. Seperti sebelumnya, ia segera menutup lubang tempat kami masuk agar tak ada yg menyadari keberadaan lorong ini. Bisa gawat nanti kalau tiba-tiba ada orang yg masuk sementara kami sedang berjalan didalamnya.


Hanya perlu waktu 10 menit agar kami benar-benar berada di bawah kota Voracity. Dengan ini, kami benar-benar telah memasuki kota Voracity. Tapi, aku takut jika kabar tentang adanya kelompok penyihir khusus raja di kota ini benar-benar nyata. Kemungkinan mereka bisa saja menyadari kedatangan kami dengan menggunakan sihir. Karena itu, untuk berjaga-jaga aku menggunakan sihir penghilang aura pada masing-masing dari kami. Setidaknya, dengan ini kami bisa lolos dari sihir pendeteksi kelas menengah. Tapi ini akan percuma jika mereka menggunakan sihir tingkat atas.


Getaran dan suara yg menggema di tanah terasa semakin kuat. Itu menandakan kalau diatas kami ada keramaian, yg berarti kami sudah berada di dalam kota. Berkat indera pendengaranku yg dipertajam, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Dan sihir pendeteksi milik Hughess juga cukup berguna untuk mencari informasi seperti itu.


Kami berhenti di salah satu sudut kota. Aku tak tahu ini dimana, tapi suara dan getaran ditanah diatas kami sudah menghilang. Hughess juga segera menggunakan sihir Alkimianya sekali lagi untuk membuat tangga menuju ke permukaan.


Sekali lagi, kami muncul di gang sepi di salah satu sudut kota. Hughess benar-benar mendapatkan tempat sepi seperti ini dengan mudah.


Kami segera keluar dari lorong bawah tanah dan menutup jalan masuk kami kembali seperti sedia kala. Suara orang-orang terdengar semakin jelas disini. Dan dari salah satu jalan di gang itu, kami keluar menuju keramaian.


"Nah, selamat datang di kota Voracity," ucap Hughess.


Sesat setelah mendapat cahaya kembali, pemandangan kota yg ramai dan sangat hidup terpampang di depan mata kami. Banyak orang yg saling berinteraksi. Beberapa petualang berjalan di antara para penduduk. Dan beberapa orang yg berpakaian seperti ksatria berjalan santai ditengah keramaian.


Bangunan yg kebanyakan berlantai tiga, kios-kios pedagang yg menjual berbagai macam barang, dan beberapa restoran yg menyediakan berbagai makanan khas daerah ini. Sejauh yg kulihat, kota ini benar-benar indah. Suasana hati penduduknya juga tampak cerah, seakan-akan mereka tak tahu apa-apa tentang penyerangan para iblis di pantai tenggara.


Yg bisa kukatakan, kota ini seperti kota pada umumnya. Tapi ketenangan mereka ditengah-tengah krisis adalah satu hal yg perlu dipertanyakan.

__ADS_1


"Kota ini mengagumkan! Karena aku belum pernah ke kota lain sebelumnya, ini jadi pengalaman pertamaku!" Ucap Elie antusias. "Andai saja ini bukan misi ...."


"T-tenang lah Elie, kau bisa melakukan hal itu di lain waktu kan?" Tanya Liana sambil berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Ah, itu benar. Setelah semua ini selesai ada waktu untuk melakukan hal itu!"


"A-ah, y-ya ... Itu yg kumaksud tadi," sambung Liana.


Selagi mereka berdua menikmati keindahan kota Voracity, aku hanya bisa berdiri dibelakang mereka dengan banyak pikiran.


"Kota ini tak terlihat seperti dalam masa kritis, benarkan Hughess?" Tanyaku.


"Seperti yg kau pikirkan, nampaknya warga sipil tak pernah diberitahu mengenai penyerangan itu. Atau mungkin saja, mereka bersikap seolah-olah tak tahu dan mengabaikan mereka yg menjadi korban di tempat itu," ucap Hughess setengah berbisik.


"Kalau benar begitu, apa mereka sangat percaya dengan kemampuan para Imperial Paladin yg sudah melindungi kota ini selama dua bulan lebih?"


"Sepertinya begitu. Di kerajaan manapun, warga sipil kebanyakan hanya melihat para prajurit yg melindungi mereka sari satu sisi saja. Di mata mereka, melindungi warga dari musuh adalah kewajiban para prajurit. Karena itu tak peduli apa yg terjadi pada mereka, warga sipil hanya akan mengabaikannya. Itu karena sudah menjadi kewajiban mereka untuk mengorbankan nyawa demi kerajaan."


"Para Imperial Paladin berkorban demi mereka, tapi mereka hanya bersenang-senang dengan apa yg mereka miliki. Kepribadian mereka benar-benar buruk ...."


"Tapi itu hanya anggapan sementara. Karena itu, tugas kita adalah menyelidiki keanehan ini."


"Begitu ya ...."


Ini cukup menjengkelkan, karena harus berjuang demi orang-orang seperti mereka.


Setelah puas menikmati keindahan kota, Hughess membawa kami menemui si mata-mata itu. Karena sudah lama sejak Hughess pergi ke kota Voracity, ia tak tahu lokasi orang itu. Karenanya, kami perlu bertanya pada beberapa pedagang dan warga yg lewat.


Setelah setengah jam mencari, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Sebuah bengkel yg cukup sederhana. Tidak ramai, lebih tepatnya tempat ini sangat sepi. Salah satu alasan nya mungkin karena tempat ini berada di pinggiran kota dan tersembunyi di balik bangunan-bangunan bertingkat. Tapi untuk seorang mata-mata, tempat seperti ini sangat cocok.


"Bengkel Aleesha si pengrajin?" Ucap Elie membaca papan tanda di atas bangunan itu.


"Ya, ini tempatnya. Meskipun aku tak tahu, tapi aku rasa memang ini tempatnya," ucap Hughess.


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu huh?"


"Percuma kalau berpikir disini, kita akan masuk," ucap Hughess.


Dengan langkah pasti, Hughess memimpin kami masuk ke dalam bangunan sederhana itu. Seketika saat masuk, bau asap dan hawa panas bara api merebak keluar. Seperti yg diharapkan dari bengkel di dunia lain, suasana menempa nya begitu terasa.


"Ah, selamat datang!"


Suara seorang gadis muncul dari balik ruangan, seperti seorang pegawai yg menyapa pelanggan nya. Beberapa saat kemudian, seorang gadis yg sepertinya seumuran dengan Hughess muncul dari balik pintu ruangan. Ia memiliki rambut panjang di kuncir belakang dengan sebuah kacamata besar di dahinya. Untuk seorang gadis, dia memiliki otot yg lumayan. Itu bisa terlihat dari balik bajunya.


"Selamat datang di bengkel Aleesha! Apa ada yg bisa saya bantu??"


Mendengar salam dari gadis itu, Hughess menghampiri nya dan menjawab dengan ramah. Seperti ketika bertemu dengan kenalan lama.


"Lama tak jumpa, Aleesha" Ucap Hughess.


"Eh? Apa aku mengenal mu tuan petualang—


Disaat Hughess membuka topengnya, seketika itulah gadis tadi menyadari siapa tamu yg ia temui saat ini. Dengan ekspresi terkejut dan sedikit terharu, ia melompat kegirangan.


"Hughess, itu kau?!! Itu benar-benar kau?!! Yg benar saja, benar-benar Hughess?!!"


Diluar dugaan ku, saat menyadari kalau yg datang itu adalah Hughess, ia seketika melompat dan berteriak tak terkendali. Aku sedikit panik, tapi Hughess hanya tertawa kecil melihat kelakuanku gadis tersebut.

__ADS_1


"Ya, ini aku Aleesha. Kau sudah banyak berubah ya, terutama tinggi badanmu."


"Haha tentu saja, kau pikir siapa aku ini? Lagian, bukankah tinggimu tidak berubah jauh setelah beberapa tahun ini?"


"I-itu tidak sopan, aku sudah tumbuh setidaknya beberapa centimeter," jawab Hughess tersenyum kesal.


"Ya ya terserah padamu," ucapnya. Ia lalu menatap ke belakang Hughess, tepatnya kearah kami bertiga. "Lalu, apa mereka bertiga juga anggota?"


"Ya, mereka ini junior mu," ucap Hughess sambil memberi kami isyarat untuk perkenalan.


Dengan cepat aku menyadarinya dan memulai perkenalkan seperti biasa.


"Magic knight no 13 The Monster, Zayn Endarker. Senang bertemu denganmu."


"A-ah, Magic knight no 15 The Stalwart, Elizabeth Bathory. Salam kenal."


"Magic Knight No 14 The Diablo, Liliana Rosweiss, salam kenal."


Mendengar perkenalan kami, gadis itu menatap heran.


"Kenapa kalian berkenalan seperti itu, kaku sekali," ucapnya. "Lagipula nama itu, Endarker? Apa mungkin kau anaknya ketua besar?"


"Ya, itu benar."


Nampaknya, dia juga mengenal ayahku. Entah kenapa itu cukup membuatku lega.


"Dan dua gadis ini, apa mungkin kalian berdua bangsawan?" Tanyanya lagi.


"Ya, bagaimana anda bisa tahu?" Tanya Elie.


"Tak perlu formal begitu, bicaralah seperti biasa. Di kerajaan ini kebanyakan orang yg memiliki nama belakang adalah bangsawan," ucapnya. "Kalau kalian tanya kenapa aku tahu kalau kalian bangsawan, jawabannya adalah karena cara kalian berbicara dan memperkenalkan diri. Itu sangat sopan dan sedikit membosankan. Lain kali bersikap lah seperti warga biasa kalau ingin menyembunyikan status kebangsawanan kalian."


"B-baiklah ...."


"Selain itu ada masalah apa dengan master sih, sampai mengirim Endarker ke kerajaan Voracity. Padahal dia sudah tahu tentang rumor itu."


"Yah, aku masih belum mengerti jalan pikir master ...." Ucap Hughess.


Rumor? Apa yg dia maksud dengan rumor itu? Apa mungkin tentang hubungan klan Endarker dengan kerajaan Voracity?


Yah, itu bisa di tanya lain waktu.


"Kerja bagus karena bisa sampai kesini dengan selamat. Untuk sekarang, kalian masuklah ke tempatku," ucapnya sambil membawa kami masuk. "Ah benar juga, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Aleesha Makrovic, si pengrajin Alkimia."



"Pengrajin Alkimia?"


"Lebih tepatnya, Seorang Blacksmith atau seorang pandai besi yg menggunakan sihir Alkimia dalam pembuatan barang-barang."


Jadi, dia sama seperti Hughess? Seorang pengguna sihir Alkimia?


Sepertinya dia tak sekuat Hughess, juga tidak lemah. Meskipun banyak pengguna Alkimia tergolong lemah, dia sepertinya punya kemampuan untuk bertarung.


Sambil memperkenalkan diri, Aleesha membawa kami ke sebuah ruangan rahasia. Dan sekali lagi, ini menggunakan sihir Alkimia untuk membuat jalannya. Dan di balik pintu rahasia itu, sebuah lorong bawah tanah terlihat. Dan setelah kami masuk didalamnya, kami melihat ruangan yg cukup luas berada di bawah tanah bangunan tadi.


"Selamat datang di ruang pribadiku, junior-juniorku tersayang."

__ADS_1


__ADS_2