
"Zayn Endarker. Sepertinya kau sudah berhasil menjalani latihan-latihan itu dengan lancar, aku cukup kagum padamu."
Seorang pemuda yg sepertinya sedikit lebih tua dariku menepuk tangannya pelan, seakan memberikan penghargaan kecil atas usahaku selama ini.
"Jadi, hari ini kau yg melatihku ya, Reign of Scythe Zoe Schaligen?"
"Seperti yg kau duga, itu memang benar."
Ini adalah hari kelima latihanku. Dan hari ini ditemani oleh Zoe, aku akan berlatih menggunakan sabit besar sebagai senjata. Tak seperti senjata yg lainnya, sabit sangat jarang digunakan dalam peperangan. Itu karena ukurannya yg besar dan beratnya yg lumayan. Sabit cocok digunakan untuk duel, tapi kurang efektif di peperangan.
Meskipun begitu, kelihatannya Zoe sudah terbiasa menggunakan senjata ini bahkan di medan perang sekalipun. Tentunya, dengan skill dan penguasaan yg profesional.
"Ingat, tumpuan utama dalam penggunaan sabit adalah kedua telapak tangan dan kedua kaki. Sabit ini memiliki ukuran yg besar, dan juga berat. Tapi jika kau mampu mengatur kuda-kuda serta pernapasan dengan baik, kau dapat mengabaikan dua kekurangan ini dan menggunakan kekuatan penghancur yg dahsyat dari senjata ini." Jelas Zoe. Ia menjelaskannya sambil memutar-mutar sabitnya, unjuk kebolehan sepertinya.
"Ada beberapa teknik dalam penggunaan sabit. Menebas, menarik, mengoyak, dan menahan. Untuk dasarnya, kau perlu menguasai keempat teknik ini agar dapat menggunakannya dalam pertarungan sungguhan." Jelasnya.
"Kau dapat menggunakan bagian runcing diujung sabit untuk menusuk dan menebas lawan. Untuk menarik lawan, kau dapat memanfaatkan bentuk sabit yg melengkung dan ukuran gagangnya yg panjang. Bagian paling tajam biasanya berada di tiap sisi sabit. Manfaatkan itu untuk mengoyak dan menyerang lawan. Sementara untuk pertahanan, kau dapat memanfaatkan inti sabit yg besar dan kuat untuk menahan dan menangkis serangan musuh."
"Ketika menggunakan sabit, berfokuslah untuk mengatur gerakan jari jemariku. Dan jangan lupa untuk selalu mengatur keseimbangan antara berat sabit dan tubuhmu. Sebentar saja kau kehilangan keseimbangan, saat itulah kau akan kehilangan harapan hidupmu. Karena itu berhati-hatilah."
Zoe terus menerus melontarkan nasihat demi nasihat padaku selama sesi latihan. Ia mengajariku dengan cukup baik, walaupun ada beberapa hal yg tak bisa kumengerti.
Hari pertama latihan berjalan cukup lancar. Ini pertama kalinya aku menggunakan sabit, karena itu kupikir ini sudah lumayan bagus untuk pemula yg baru beberapa jam mempelajarinya. Meskipun aku hanya mampu menggunakan teknik menarik dan mengoyak, aku cukup bangga dengan itu. Menggunakan sabit sebagai alat pertahanan cukup sulit mengingat berat sabit itu sendiri. Dan juga sepertinya aku tak mampu menyesuaikan kekuatan fisik tubuku secara otomatis seperti latihan yg sebelum-sebelumnya. Aku tak tahu apa ini karena memang diluar kemampuanku atau kemampuan aneh milikku ini juga memiliki batas. Yg penting, aku senang bisa menguasai teknik itu hanya dengan kekuatan fisikku saja.
Sambil menunggu waktu sore, aku beristirahat sejenak di lapangan tempat kami berlatih tadi. Dari siang tadi aku terus saja berlatih memutar-mutar dan mengayunkan sabit ku seorang diri. Zoe sepertinya cukup sibuk dengan pekerjaannya. Itu tak masalah bagiku, lagipula hal semacam ini hanya memerlukan sedikit latihan dan pembiasaan. Aku bisa berlatih sendirian asalkan sudah paham teknik-teknik dasarnya.
"Sepertinya kau cukup bersemangat ya Zayn...."
Dari belakang, Zoe berjalan menghampiriku yg masih duduk diatas rerumputan. Ia menghampiriku sambil membawa dua cangkir kopi. Sebagai seorang pengajar, ia cukup perhatian juga ya.
"Ya begitulah. Akhir-akhir ini latihan yg kujalani sangat mudah. Baru kali ini aku merasa cukup kesulitan mempelajari sesuatu. Apalagi teknik milikmu ini terbilang asing disini." Jawabku.
"Hahaha tidak juga. Selain aku masih ada beberapa orang yg lebih ahli dariku. Walaupun memang di cabang kota Bluelagoon aku yg paling lihai menggunakannya."
"Masih ada lagi? Di markas pusat ya?" Tanyaku.
"Ya. Disana ada sepasang kakak beradik yg sudah menguasai penggunaan senjata ini bahkan sejak mereka masih kecil...tidak, mereka bahkan saat ini sama sekali belum dewasa."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Seperti yg kukatakan barusan, mereka sama sekali belum dewasa. Dalam artian yg sebenarnya."
Aku berpikir sejenak. Menebak apa maksud dibalik perkataannya itu.
"Eh? Dalam artian yg sebenarnya? Itu berarti mereka benar-benar belum dewasa? Maksudnya mereka masih anak-anak?!"
"Benar sekali." Jawab Zoe sedikit tertawa. "Walaupun masih anak-anak, kemampuan mereka tak bisa diremehkan. Bahkan kabarnya mereka sampai membuat guru yg mengajari mereka angkat tangan dan berhenti mengajar. Katanya ia tak punya apa-apa lagi untuk diajarkan pada mereka."
Eeh, yg benar saja. Anak-anak mampu menggunakan senjata sebesar dan seberat ini? Belum lagi katanya mereka lebih hebat dari Zoe dan bahkan gurunya sendiri?
"Ditambah lagi mereka berdua kembar. Dua gadis kembar."
Gadis?! Yg benar saja! Aku merasa cukup tenang kalau mereka adalah laki-laki karena kapasitas tenaga milik laki-laki jauh lebih besar. Tapi ia bilang dua orang itu adalah gadis kembar?! Itu benar-benar tak terpikirkan olehku.
"Wah... sepertinya mereka benar-benar mengerikan ya...."
"Asalkan kau tak membuat mereka kesal, mereka tak akan seberbahaya itu." Jawab Zoe.
"Bukan itu maksudku. Apa orang-orang ReVoid terutama para Reign ini seperti itu?"
"Ya setidaknya masing-masing punya keahlian tersendiri."
"Bagaimana dengan sihir? Apa ada yg bisa menggunakan sihir disana?" Tanyaku.
Orang tua itu punya julukan seperti itu? Aku terkejut.
"...dan juga wakil ketua ReVoid pusat, Hallen Nachetanya, Reign of Fire. Dia adalah penggunaan sihir api dengan kemampuan serangan yg sangat hebat. Dia juga punya julukan Ksatria Phoenix...."
Aku tak kenal siapa itu, tapi jika sampai dijuluki sang Ksatria Phoenix sudah pasti dia bukan sembarang orang kan? Dan dari namanya, sepertinya ia seorang wanita.
"Yah, meskipun begitu Magic Assosiation pastinya lebih hebat dari kelompok lemah kami ini...."
"Aku tak berpikir seperti itu Zoe."
Zoe yg tadi berniat merendahkan ReVoid itu sendiri diam dan kemudian menatapku. Aku tak bisa menyangkal pernyataan kalau kami jauh lebih hebat dari mereka dalam hal sihir. Tapi mengatakan diri sendiri sebagai orang yg lemah itu sangat kubenci. Apalagi kalau mereka adalah sekutu kami yg sangat berharga.
"Apa maksudmu Zayn?"
"Kau mungkin berpikir kalau kalian lebih lemah dari kami dalam penguasaan sihir. Aku tak bisa menolaknya karena memang itu kenyataan. Tapi meskipun begitu aku tak suka kalau kau mengatakan bahwa kalian itu kelompok yg lemah. Aku sangat benci dengan orang yg suka menghina diri mereka sendiri...." Ucapku panjang lebar.
"Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Semua kelebihan itu selaras dengan semua hal yg mereka perjuangkan. Kami kuat dalam sihir bukan karena kami berbakat. Kami kuat karena kami selalu merasa kalau ada orang yg lebih kuat dari kami, dan kami merasa harus sesegera mungkin mencapai atau melampaui tingkatan itu. Begitu juga dengan kalian ReVoid....
__ADS_1
"Kalian mungkin tak ahli dalam sihir, namun kalian ahli dalam persenjataan dan peralatan. Pengetahuan kalian dalam mengelola dan menciptakan senjata dan barang-barang hebat lainnya adalah nilai plus untuk kalian. Kalian dapat menutupi kekurangan-kekurangan kalian dalam hal sihir dengan kemampuan berpikir dan bertarung kalian. Dengan semua hal itu, seharusnya kau tidak menganggap dirimu sendiri atau bahkan kelompokmu itu lemah.
"Walaupun begitu, kau juga tak boleh menganggap kalau kalian itu lebih kuat dari segalanya. Karena keangkuhan hanya akan membawa dirimu kedalam kehancuran.
"Didunia ini banyak yg belum kita ketahui. Karena itu kita mesti membuka mata kita lebar-lebar untuk dapat memahami semua hal. Jangan angkuh, dan jangan terlalu merendah. Anggap saja kalau kau adalah orang yg berada di pertengahan. Lihat keatas untuk memotivasi dirimu, dan lihatlah kebawah untuk mengingatkan mu bahwa kau pernah berada di tingkatan itu sebelumnya....
Aku berbicara panjang lebar setelah mendengar kata-kata Zoe tadi. Entah kenapa, kata-katanya membuatku sedikit emosi dan kemudian mengucapkan kata-kata itu dengan spontan.
Beberapa saat kemudian, aku menyadari kalau Zoe menyimak kata-kata ku dengan serius.
"A-ah, maaf. Sepertinya aku sedikit keterlaluan ya."
"Tidak juga. Tadi itu kata-kata yg bagus Zayn. Tak kusangka kau juga pandai bicara bijak begitu."
"Eh? Benarkah? Kata-kata itu tadi keluar sendiri dari mulutku. Yah, aku terkadang melakukan hal seperti itu juga jadi sepertinya aku tak punya hak mengatakan hal seperti itu."
"Hahaha itu tak masalah kan? Setiap orang pasti punya kesalahan." Jawab Zoe sedikit tertawa kecil.
Setelah mengatakan itu, Zoe kemudian tersenyum puas dengan wajah yg cerah. Seakan pikiran yg membebaninya hilang seketika.
"Aku senang mengatakan ini padamu Zayn. Tak kusangka kau bisa menjadi teman bicara yg menyenangkan." Ucap Zoe. "Sebelumnya kupikir para Magic Knight itu semua maniak sihir. Setelah menyaksikan secara langsung, sepertinya penilaianku terhadap kalian sedikit berubah."
"Penilaian? Memangnya seperti apa kami di mata kalian?"
"Sebenarnya kalian cukup populer di kerajaan kami. Tapi ya tentu saja ada beberapa kelompok yg menganggap kalian seperti kelompok pembunuh yg kejam."
"Yah, aku sudah terbiasa dengan itu...."
"Dan begitu juga denganku. sebelumnya aku juga menganggap kalian seperti itu, jadi aku kurang bisa mempercayai kalian." Ucap Zoe. "Tapi sekarang, aku benar-benar percaya pada kalian. Karena itu mulai dari sekarang mohon bantuannya sebagai sekutu."
Aku yg agak kaget dengan pernyataan ini hanya dapat tersenyum tipis.
"Hanya sebagai sekutu? Aku tak terima itu." Ucapku. Zoe kemudian menatapku heran, melihatku mengulurkan tangan padanya. "Kalau begitu bagaimana kalau sebagai seorang teman?"
Mendengar jawabanku, Zoe tersenyum dan menyambut tanganku.
"Baiklah, dengan senang hati Zayn."
"Baguslah."
Yeah, ini dia pertama kalinya aku mengajak seseorang untuk berteman. Sepertinya aku sudah membuat sedikit kemajuan pada diriku. Tapi bukan berarti aku mengajaknya berteman hanya untuk hal seperti ini.
__ADS_1
Jika dengan berteman aku dapat menjadi lebih kuat, maka aku akan membuat lebih banyak teman.