
Dua Orario bergerak meliuk-liuk bagaikan ular yg siap menerjang mangsa. Ukuran mereka jadi semakin besar, dan juga semakin kuat. Kali ini kami tak bisa memotongnya hanya dengan pedang murni.
Selain Orario, kemampuan pelindung milik Rozalia itu jauh lebih merepotkan. Kemampuan pelindung itu sama persis dengan yg dimiliki Osamu, Encounter. Menahan serangan lawan dan membalikkannya ke penggunanya. Jika kami tak berhati-hati, kami bisa mati karena kekuatan kami sendiri.
Kedua Orario itu mulai melesat maju. Seperti sebelumnya, mereka mengincar tubuh kami tanpa ampun. Semua yg ia lalui hancur begitu saja. Benar-benar kekuatan penghancur yg luar biasa. Aku bisa saja menghancurkannya dengan sihir skala besar, tapi itu terlalu berbahaya. Lagipula ada Shiki disini, dan juga terlalu banyak bangunan penduduk. Aku harus menahan diri sebisa mungkin.
Tapi sepertinya itu mustahil bisa kulakukan, soalnya yg kulawan kali ini adalah ratu Vampire, kelas tertinggi dalam ras vampir setelah sang raja.
Kami terus bertahan selama beberapa menit. Saking seriusnya aku sampai tak sempat menghitung waktu.
Disela-sela pertarungan, seorang vampir muncul dari atas bangunan, meluncur dan menghantam tanah. Kekuatan hantaman itu sangat kuat sampai membuatku dan Shiki terhempas.
"Yg mulia, saya sudah menyelesaikannya ...." Vampir yg baru saja muncul itu menunduk hormat pada Rozalia, sambil mengatakan sesuatu yg terdengar mencurigakan.
"Oh ya, kalau begitu aku tak punya apa-apa lagi untuk kulakukan." Rozalia kemudian menarik mundur dua Orario itu kembali ke dalam tubuhnya setelah mendengar kata-kata itu.
"Yg disini biar saya yg selesaikan, yg mulia."
Rozalia tersenyum dan menatapku penuh nafsu membunuh. Tapi tiba-tiba hawa membunuhnya menghilangkan seketika.
"Jangan bunuh anak berambut abu-abu itu. Aku masih punya urusan dengannya."
"Baiklah yg mulai, akan saya usahakan."
"Kalau begitu bocah dengan rambut abu-abu, sepertinya namamu Zayn ya?" Ucapnya sambil menunjukku. "Aku akan menemuimu lagi kapan-kapan. Sampai saat itu, jangan mati. Soalnya hanya aku yg boleh meminum darah unikmu itu ...."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Rozalia berjalan memasuki gerbang sihir yg belum tertutup itu. Meninggalkan vampir yg baru saja tiba ini.
Setelah sosok Rozalia menghilang, gerbang sihir itu juga ikut lenyap.
"Mengesankan, kau sampai membuat yg mulia menginginkanmu. Kalau boleh tahu siapa namamu?"
"Zayn Endarker ... Ada masalah dengan itu Vampir?"
"Hmm, kalau begitu giliranku memperkenalkan diri. Namaku Kuvra Antonuette, pelayan paling setia yg mulia Rozalia."
__ADS_1
Dilihat dari aura yg ia pancarkan, sepertinya kekuatannya jauh diatas Vience dan Chase. Meskipun begitu, ia berada dibawah Rozalia. Sepertinya lawan kami kali ini cukup merepotkan.
"Aku tak peduli siapa kalian. Sebenarnya apa yg kalian inginkan di kota ini?!"
"Bukan hal yg penting. Kami hanya ingin mengambil kembali apa yg telah kalian curi dari kami."
"Mengambil apa yg kami curi? Kalian pikir dengan alasan itu kalian bisa membunuh manusia sesuka kalian?!"
"Membunuh? Kami tak membunuh mereka," ucapnya. "Kami hanya mengambil darah mereka saja. Kalau mereka sampai mati karenanya, itu karena mereka lemah. Itu sama sekali bukan kesalahan kami."
Jawabannya benar-benar membuatku muak. Sampai seberapa jauh mereka mau merendahkan manusia?!
"Berhenti merendahkan manusia kau sialan!! Kau pikir dari mana kalian para vampir itu muncul?! Bukankah kalian dulunya adalah manusia?!"
"Dulu dan sekarang adalah dua hal yg berbeda. Kau tak bisa seenaknya menyamarkan dua hal yg bertentangan." Ia menjawab sambil menatap tajam kearah kami. "Jangan berbicara seakan-akan kalian mengetahui semuanya, manusia."
Vampir bernama Kuvra itu mengangkat tangan kanannya. Seketika sebuah aura dan asap berwarna hitam kemerahan muncul menyelimuti tangan kanannya. Sekarang hawa membunuhnya semakin pekat.
Asap dan aura hitam kemerahan itu menyatu dengan tangannya, dan seketika membentuk sebuah sarung tangan yg terlihat abnormal. Aku dapat merasakan kekuatan yg begitu besar dari sarung tangan itu, seakan-akan ia mampu menghancurkan segalanya hanya dengan sarung tangan itu saja.
"Zayn, menghindar!!"
Tepat setelah Shiki berteriak, Kuvra sudah muncul didepan ku. Ia melesatkan sebuah pukulan keras dengan tangan kanannya. Seketika aku sadar dan bersiap-siap mengambil langkah perlindungan.
"Absorb!!"
Sihir Absorb ku membentuk sebuah pelindung yg menghalangi jalur serangan Kuvra. Tak hanya itu, aku juga berhasil menyerap sebagian besar tenaga yg ia keluarkan untuk serangan barusan.
Menyadari kalau serangannya diserap, Kuvra segera melompat mundur. Tapi Shiki dengan cekatan menyerangnya tanpa membiarkannya memberi perlawanan. Sarung tangan itu memang sepertinya berbahaya, tapi itu percuma kalau ia tak punya kesempatan untuk menggunakannya.
"Clone!"
Sambil mempersiapkan serangan, aku memunculkan sebuah clone diriku untuk membantu serangan Shiki. Dan seperti yg kuduga, vampir bangsawan ini mampu menghindari dan menangkis semua serangan yg kami lancarkan.
__ADS_1
"Tranmutation."
Kali ini aku memunculkan tangan monsterku, dalam wujud yg jauh lebih kecil dari sebelumnya. Ini sangat berguna untuk menambah daya serangku tanpa menghambat pergerakanku. Meskipun wujud ini lebih kecil dari sebelumnya, tapi daya serangnya sedikit lebih kuat dari yg sebelumnya.
Aku maju menyerangnya, dengan mengandalkan kedua tanganku ini. Tentu saja aku menggunakan sihir percepatan untuk melipatgandakan kecepatan gerakku. Pukulan demi pukulan kulontarkan, dan ia menahan semua itu dengan tangan anehnya. Saat dua pukulan itu saling beradu, mengakibatkan gelombang ledakan sihir yg cukup besar. Sepertinya, kekuatan tangannya setara dengan kekuatan tangan monsterku.
Sekuat apapun vampir ini, jika kami terus mendesaknya ia pasti akan kewalahan. Apalagi kali ini kami melawannya bertiga dengan clone milikku. Meskipun kekuatan clone ku hanya setengah dari kekuatan asliku, tapi itu seharusnya tetap membuatnya kesulitan.
"Merepotkan sekali ... Yah lagipula aku tak punya kewajiban untuk membunuh kalian."
Sebuah gerbang sihir lain muncul dibelakangnya. Itu gerbang sihir yg sedikit berbeda dengan yg sebelumnya, tapi yg pasti itu sihir teleportasi. Dia berniat melarikan diri!
"Aku pamit dulu. Kita akan segera bertemu lagi, itupun kalau kalian masih bisa bertahan hidup."
"Jangan pergi kau sialan!!"
Sosok Kuvra sepenuhnya masuk kedalam gerbang sihir itu. Seketika, gerbang itu menyusut perlahan.
"Zayn jangan dikejar!" Teriak Shiki. "Bisa berbahaya nantinya kalau ada musuh lain dibalik gerbang itu."
"Tapi ...."
"Selain itu masih ada kemungkinan kalau ada vampir lain disekitar sini. Kita tak bisa membiarkan distrik ini kosong tanpa penjagaan."
" ... Ya, kau benar juga." Aku menghilangkan tangan monsterku dan menyimpan. Clone milikku juga segera lenyap. "Sepertinya mereka jadi semakin mencurigakan ...."
"Selain itu, vampir bernama Kuvra itu juga ancaman yg berbahaya ...."
"Ya, kau benar. Dan juga aku kepikiran dengan perkataannya tadi ...."
"Perkataan?"
"Dia bilang kalau dia telah menyelesaikan urusannya. Sebenarnya urusan apa yg dia maksud?"
__ADS_1
"Yah, aku juga penasaran apa itu ...."