
PoV author.
Tak lama setelah bik Marni bercerita seseorang datang memberi salam.
"Assalamualaikum " ucap nya yang ternyata adalah Willy dan Sisil
"waalaikumsalam" jawab semuanya.
"Mas Willy ,Sisil ,mari masuk " sahut Adita
Willy datang bersama Sisil,namun sisil terlihat masih enggan untuk masuk.
"sudah ayok , , " Willy menarik tangan Sisil agar ikut masuk dengannya.
"Dita,mas turut berduka cita atas meninggalnya ayah,maaf kami baru datang karena ada sedikit kendala "
" terimakasih mas,sil kalian sudah datang ke sini ,tidak apa apa yang penting doa kalian yang paling utama ,maafkan bapak ya kalau ada salah sama kamu mas " jawab Adita
Sisil bersembunyi di belakang Willy,dia terlihat malu memperlihatkan batang hidungnya di Depan Adita dan yang lain.
"oh ya sil, kamu apa kabar" tanya Adita yang melirik ke arah Sisil.
Sisil diam,namun Willy menyikut nya agar berbicara
"aku, , , akuu , , Dita maafin aku Dit , , maafin aku , ,huuu , ,huuuu " Sisil tiba tiba menangis dan bersujud di depan Adita
"ya ampun sil,jangan gitu,sudah bangun kamu bangun,jangan kaya gini gak enak di liatin orang " ucap Adita merasa tidak enak dengan yang lain sambil membantu Sisil untuk berdiri.
"Enggak Dit,aku gak akan bangun sebelum kamu maafin aku " dia menangis tersedu-sedu.
"iya aku maafin ,tapi kamu bangun dulu ya, , gak enak sil di liatin Orang " ucap Adita lagi
"hik, , ,hik , , Dita makasi ya kamu sudah membuatku sadar dengan apa yang aku lakukan selama ini memang salah " ungkapnya
"aku, , aku gak lakuin apa apa , kenapa berterimakasih sama aku sil?" tanya Adita.
"Di rumah sakit,saat kamu datang menjengukku aku sebenernya bisa mendengar semua apa yang kalian katakan,aku mendengar tapi tidak bisa membuka mata dan juga menggerakkan tubuhku,awalnya aku marah sama kamu,tapi setelah kamu menyuruh mas Willy mengaji ,pelan pelan aku bisa menggerakkan tangan dan kakiku, entah mengapa aku menangis mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang di bacakan mas Willy,hingga hari ke tiga aku baru bisa membuka mataku dan aku sadar atas apa yang selama ini aku lakukan memang salah,maafkan aku , , maaf " ucapnya bersungguh sungguh.
Adita tersenyum, " aku sudah memaafkan kamu sil,jauh sebelum kamu minta maaf,aku tidak punya dendam pada siapapun, Masalah hidup itu memang sudah menjadi takdir ,aku harus siap menerimanya." jelas Adita membuat Sisil dan Willy sedikit merasa lega.
"aku senang kamu bisa berubah kaya gini ,aku harap kamu cepat sembuh ya ,"
__ADS_1
" terimakasih Dit , ,sekali lagi terimakasih "
" silahkan di minum " ucap bik Marni membawakan makanan dan minuman sebagai jamuan untuk Willy dan Sisil.
"bik, , maafin Willy ya " ucap Willy minta maaf pada bik Marni.
Bik Marni menatap sekilas dan tersenyum," tidak apa apa " jawabnya.
"oh ya mbak,harusnya kamu sudah dua kali kemo ya? gimana perkembangan setelah kemo?" tanya yoga
"oh jadi benar ,semua itu kalian yang bayar,rumah sakit Sisil dan juga biaya perawatan termasuk biaya kemoterapi,itu semua kamu yang bayar Yo.. terimakasih yoga terimakasih Dita,kalian semua terimakasih, nanti kalau aku sudah punya uang aku ganti semuanya.?" ucap Willy berterimakasih,awalnya memang dia curiga kalau mereka yang membayar semua pengobatan sisil.
"Alhamdulillah,setelah kemo,aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya,dan terimakasih atas bantuan kalian semua " ucap Sisil sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"sebenarnya sih aku cuma bayar rumah sakit aja ,tapi ada seseorang yang membatu biaya pengobatan juga kemoterapi untuk Sisil !" ucap yoga..
"siapa? " tanya Willy penasaran.
Adita celingukan mencari keberadaan Sandy.
"loh, sandy kemana? " tanya Adita.
"Sandy orangnya? " tanya Willy
"Sandy, di mana dia" tanya Willy,dia sangat ingin bertemu dengan keponakan nya itu ,pertemuan terakhir mereka saat mereka di kantor polisi.
Didin memberi tahu Willy keberadaan Sandy,Willy segera bangkit dan mencari keberadaan Sandy di teras depan rumah.
Willy menghembuskan nafas berat saat setelah melihat sosok Sandy lagi duduk sendiri entah apa yang dia pikirkan saat ini, pandangannya lurus kedepan seperti sedang melamun.
"Sand, , " panggil Willy
Sandy menoleh sejenak dan kembali menatap ke sembarang arah.
Willy mendekat dan duduk di samping sang keponakan," Sandy, paman minta maaf atas apa yang telah paman lakukan selama ini" ucapnya sambil ikut memandang ke sembarang arah.
"paman tahu paman salah,paman sangat menyesal sand," ucapnya lagi namun Sandy masih diam tak berkata.
melihat ekspresi Sandy yang acuh terhadapnya,Willy merasa sandy belum siap untuk berbicara dengannya, " paman tahu kamu masih belum bisa memaafkan kesalahan paman,tapi paman hanya ingin berterima kasih dengan apa yang kamu sudah lakukan sama Sisil,membatu Sisil dan juga membantu paman, terimakasih" ucap Willy ,dia diam sebentar setelah itu mengangkat tubuhnya dan hendak pergi tapi di hentikan oleh perkataan Sandy.
"apa paman bahagia?" tanya Sandy
__ADS_1
Willy terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sandy " tidak sand, sejak hari itu,paman merasa Dunia ini sedang mengasingkan paman,paman tersiksa" ingin sekali Willy berkata seperti itu di hadapan Sandy,tapi dia tidak ingin Sandy tahu apa yang sebenarnya ia rasakan,cukup baginya dia tanggung sendiri akibat dari kesalahan yang dia perbuat selama ini.
sebelum menjawab,Willy tersenyum. " Sandy,kamu liat sendiri kan paman menikmati hidup ini ,dan paman akan berusaha menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya " ucap Willy,dia kembali melangkah,takut jika air mata yang sejak tadi di tahan jatuh begitu saja.
"Jangan bohong paman?" teriak sandy
Willy kembali terdiam, " Sandy tau,paman sangat tersiksa selama ini,kenapa paman malah pergi dan tidak menemui kakek" teriak Sandy
" papa?" ucap Willy mengulang ucapan sandy,dia baru sadar jika selama dia menikah dengan Sisil,dia tidak pernah mendatangi sang ayah.
"kenapa? paman tidak tahu kan bagaimana keadaan kakek saat ini? kakek sakit paman!" ucap Sandy dengan sedikit emosi
"Apa? papa sakit? sakit apa Sandy,kasi tau paman ! " ucap Willy mendekat ke arah sandy.
" kakek rindu sama anaknya yang pergi meninggalkannya dan lebih memilih tinggal dengan perempuan itu ".
"papa ? " lirihnya
Tik
setetes air mata Willy jatuh ke pipinya yang tirus,tubuhnya yang berisi kini telah hilang ,dia tampak kurus tak terurus.
"pulanglah paman" bujuknya
Willy menggeleng," paman tidak pantas pulang kerumah ,paman malu sandy".
"justru karena paman malu,harusnya paman minta maaf sama kakek ,dan tinggal bersama kakek ,hanya itu yang kakek inginkan selama ini,dia selama ini tersiksa karena paman selalu menuruti keinginan nek lampir,tapi kakek hanya bisa diam ,karena nek lampir tidak akan segan menyakiti kakek dan paman juga mbak dita jika kakek melawan apa yang nek lampir katakan " sandy kini telah membongkar semua yang selama ini dia ketahui.
Willy terkejut mendengar itu ," apa katamu?" tanya Willy.
"iya ,kakek tau semuanya sejak Awal,tapi karena nek lampir selalu mengancam keselamatan paman ,kakek selalu mengalah,karena cuma paman yang kakek punya selama ini,tapi apa balasan paman hah? paman lebih memilih tinggal di kontrakan tanpa menghiraukan kakek,dimana hati nuranimu paman Willy " teriak Sandy meluapkan isi hatinya.
dia begitu kecewa dengan apa yang di lakukan Willy,hanya saja dia ingin memberi pelajaran pada sang paman,tapi melihat apa yang di alami Willy membuat nya tidak tega dan memilih membantu pengobatan Sisil,dan tanpa di duga saat Willy datang ke rumah Adita Sandy begitu sedih melihat kondisi sang paman yang tadinya bersih dan terurus kini terlihat kusam,kurus dan tak terurus.
belum sempat Willy menjawab,ponsel Sandy berdering. " hallo suster" ucapnya
"......."
"Apa,kondisi kakek menurun? baik saya segera pulang?" jawabnya panik.
"Ada apa dengan papa Sandy?"
__ADS_1
****