
"Jangan ngaco deh Rohmi" kesalku mendengar ucapan ngelantur dari Rohmi.
"ya mau gimana lagi" ucapnya mulai terdengar emosi
"iitu kan baru kata yanna,gue harus pastikan kebenarannya,Gue pulang " ucapku menyambar tasku kemudian meninggalkan Rohmi sendiri di taman.
"Gue perlu anter gak" tawarnya
"gue pake taksi " ucapku langsung pulang
"gue harus cari tahu" gumamku saat di perjalanan pulang.
sesampainya di rumah aku samar samar mendengar mama berbicara dengan seseorang di taman samping,
"Terimakasih lho jeng,kamu mau menemani Willy kemarin "
"Tante harap kamu bisa memikat hati anak Tante ya"
DEG
jantungku seperti di tusuk untuk kedua kalinya saat mengetahui jika itu semua benar adanya,dan mama mertuaku lah yang mengatur pertemuan mas Willy dengan wanita itu, " aku harus bicara sama mas Willy" gumamku.
BRAK
Ku tutup pintu kamar dengan membantingnya keras,ku lempar tubuhku ke kasur dan tutup wajahku dengan bantal,di sanalah tangis ku semua ku keluarkan.
"Aaaaaaaaa, , "teriakku kencang
"Jahat kalian" Isak ku dengan keras .
Lelah menangis aku pun terlelap sampai tak sadar mas Willy pulang,saat ku buka mata semua perlengkapan kerja mas Willy berserakan di mana mana.
"Astaga jam 5, gue belum sholat" kagetku .
segera ku ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan juga mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajiban ku.
setelah sholat prasaan ku rasanya sedikit tenang, ku rapihkan pakaian sholat ku dan juga perlengkapan kerja mas Willy, kemudian aku berniat untuk ke dapur menyiapkan makan malam.
Di ruang tengah ,aku melihat mas Willy sedikit berbicara dengan berbisik sama mama entah apa yang di bicarakan nya sama mama aku tak tahu,tapi yang jelas melihat aku datang mereka diam dan tak berbicara lagi.
"Dit,kamu sudah bangun?" tanya mas Willy terdengar sedikit gugup.
Bukannya menjawab pertanyaan mas Willy aku malah meminta maaf " maaf mas tidak menyambut kamu" ucapku dengan menunduk dan juga memang merasa bersalah dengan suamiku.
"tidak apa," ucapnya
Aku melewati nya begitu saja ke dapur dan membantu bik Marni untuk memasak makan malam.
"Nyonya kurang sehat?" tanya bik Marni
"Enggak kok bik,emang kenapa?" tanyaku tanpa melihat bik Marni aku hanya fokus pada sayur yang ku potong
"bibik melihat nyonya sedikit kurang sehat aja" ujarnya.
"Gak apa apa bik" ucapku
memang setelah bangun tadi aku merasa sedikit pusing ,mungkin karena kecapekan menangis ,tapi biarlah aku tak menghiraukan nya.
kenyataan mas Willy jalan sama wanita lain tak pernah lepas dari pikiran ku,selalu terbayang kemesraan mas Willy dengan wanita itu di tempat keramaian membuatku semakin sesak,aku sebagai istrinya selama beberapa bulan ini belum pernah di ajak pergi berbelanja ke Mall,dan sungguh menyakitkan bukan jika pada kenyataannya mas Willy lebih dulu mengajak wanita selingkuhan nya ketimbang istri sahnya ,Heh konyol memang.
__ADS_1
"Aaaw" ringisku saat mata pisau itu tak sengaja menyenggol jariku.
"Adduh hati hati nyonya" ucap bik Marni
"Aaaarhh, , " ringisku lagi berjalan ke wastafel mencuci tanganku yang berdarah,
tiba tiba aku terkejut,tangan besar mengambil alih tanganku yang luka,ia menariknya dan menghisap darahnya kemudian mengeluarkan darahnya, seketika melihat perlakuan manisnya membuatku tak percaya dengan apa yang telah di lakukannya di belakang ku.
"hanya luka kecil,manja banget kamu " ucap mama terdengar tak suka
"bik ambilkan plester" ucap mas Willy
aku hanya diam tak menghiraukan ucapan mama,yang lebih aku fokus kan saat ini manisnya sikap mas Willy ke aku.
"Ini tuan" ucap bik Marni
mas Willy segera menempel kan plester itu pada tanganku,
"Sayang ,lain kali hati hati ya" ucapnya manis
sedetik kemudian aku teringat dengan mas Willy yang jalan sama wanita lain " beginikah manisnya sikapmu sama dia di luaran sana mas?" ucap ku dalam hati
Huh, sungguh tak bisa ku bayangkan jika itu benar terjadi,entah apa yang akan terjadi dalam hidup ku,
"Maaf mas" lirihku akhirnya.
"ya sudah kamu ikut mas yuk" ucapnya
"Bik gak apa apa aku tinggal?" tanyaku pada bik Marni
"gak apa apa nyonya" ucapnya melanjutkan masak.
"Gak apa apa aku hanya ingin berdua saja " ucapnya manja dan menidurkan kepalanya di bahuku.
Aku membelai wajahnya dengan tangan kanan ku,wajah tegas miliknya bisa ku pastikan jika aku sangat mengenalinya meski aku tak melihat nya,dengan merasakan wajah itu aku bisa tahu jika itu dia.
"apa ini waktu yang tepat untuk aku bicara tentang wanita itu sama dia?" ucap ku dalam hati.
"Mas" panggilku
"iya" jawabnya tanpa menoleh ataupun merubah posisinya.
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanyaku.
mas Willy terdiam,namun sedetik kemudian dia mengangkat wajahnya dan duduk menghadap ku " maksudmu apa?" tanya mas Willy.
Entah datang dari mana rasa gugup bahkan takut serta degup jantung seakan baru selesai berlari,aku takut mas Willy marah
"Eeh, , gak jadi mas" ucap ku .
Terdengar dia menghela nafas panjang,dan meraih tanganku dan bermata " sayang,jangan berfikir macam macam ya,aku tidak ada menyembunyikan sesuatu sama kamu" ucap nya.
Aku mengangguk" maaf" lirihku
dan mas Willy kembali memeluk ku,suasana kami di hancurkan oleh suara mama yang memperingatkan mas Willy tentang sesuatu yang tak aku ketahui
"Willy,ingat pesan mama besok" ucapnya membuat mas Willy melepaskan pelukannya dan mendengus mengiyakan
"iya mah" jawabnya.
__ADS_1
lagi lagi mas Willy tidak langsung menjelaskan padaku apa yang di bicarakan nya sama mama," jangan di fikirkan ini hanya mama nitip beli sesuatu" ucapanya.
Entah mengapa aku tak percaya begitu saja ucapan mas Willy,aku yakin ada sesuatu yang di sembunyikan nya dariku,
Ting
ponselku berdering
"Siapa?" tanya mas Willy
"Mey" jawabku senang
"Sudah lama aku gak tahu kabar dia" ucapnya
"Hallo Mey" jawabku
"oh ya bentar mas Willy juga mau ketemu sama loe,kita video call ya" ucapku mengalihkan panggilan suara itu ke panggilan video
"Hai ditaaaa,Willy" ucap girang Mey sahabat ku
"hai Mey" sapa kamu berdua
"Jahat ya kalian ,menikah sekarang lupa sama gue" ucapnya merajuk.
"Bukan begitu,hanya kami sibuk belum bisa ke sana " ucap mas Willy.
"ciyeee pengantin baru,gimana Rasanya" ucap ya
"Mending loe nikah sama si Arkan,biar tahu rasanya kaya gimana" ucap ku
"Apaan sih, , " ucapnya sedikit terlihat malu
"eh,apa kabar tu si Arkan,semenjak nikah gue gak pernah di hubungi saama dia" ucap mas Willy
"Dia juga sibuk Will, sama kaya elo" ucapnya
"Oh ya Dit,wajah loe kenapa?" tanya Dita
mas Willy juga menoleh " emang kenapa dengan gue" ucapku memegang wajahku.
"beda aja,loe Dateng bulan ya,kusen gitu kaya gak pernah poles make up,biasanya loe paling heboh soal make up" ucap Mey membuatku tak bisa menjawab.
Mas Willy mendengar ucapan Mey dan juga memperhatikan wajahku,entah apa yang dia pikirkan saat ini.
"pikiran loe aja kali,gue juga tadi habis masak belum cuci muka " ucap ku
"ya udah deh,kapan kapan kita ketemu ya," ucapnya
"oke, , bye" ucapku memutuskan panggilan.
"Dita" ucap mas Willy
"iya mas!" balas ku.
"benar kata Mey,mas gak pernah liat kamu beli make up ,kenapa?" ucapanya.
Aku menghela nafas berat.
"Apa aku minta uang buat beli make up,mama akan kasi,? enggak kan!" jawabku singkat kemudian meninggalkan mas Willy yang terlihat mematung.
__ADS_1
Deg