
"Kak,aku di pecat sama dia" adunya pada Sisil
"Apa? kakak" aku terkejut mendengar nya.
"Ya sudah kalau di pecat ngapain ke rumahku" jawab Sisil sinis
"Kakak harus ganti rugi,aku di pecat dan sekarang gak punya duit,sini bagi duitnya atau aku aduin sama om" ancamnya
Dia merengek seperti anak kecil yang gak di kasi uang jajan.
"Aduin aja sana,"
"oke,aku juga gak bakal kasi tau apa yang aku dapatkan di rumah istri suami mu ini" ucapnya
Aku yang tadinya diam kini sudah seperti kebakaran jenggot mendengar ucapannya barusan."Hei,apa maksud mu suster !" bentak ku
"Kamu pergi!!" usir Sisil sebelum dia menjelaskan apa maksudnya
"Tunggu dulu,apa maksud perkataan mu tadi" ucap ku menahannya
"Sudah sayang jangan di dengerin ,SUSAN, PERGI GAK" bentak nya pada susan sambil menunjuk susun dengan tangan kiri.
Susan akhirnya mau pergi dari rumah,
"Aku balik lagi besok ya kak" teriaknya
"Dasar anak manja " gumam Sisil kesal.
Kami akhirnya masuk," kallian sudah pulang,kenapa cepat sekali" sapa mama yang baru keluar
"Ma,aku mau makan masakan mama,cucu mama pengen makan masakan omanya" ucap Sisil manja mendekat ke mama dan bergelayut manja di bahunya.
"Eemm...eee ,,ya sudah mama siapkan ya,kamu duduk dulu ya sayang" terlihat dari raut wajah mama seperti nya dia enggan tapi entah kenapa dia mau memasak untuk Sisil,sedangkan di rumah saja dia selalu menyuruh bik Marni buat memasak bahkan dia sangat di layani dengan baik oleh Adita.
selang beberapa lama masakan yang di minta Sisil datang,
"Sayang ini makanannya,ayok di coba" ucap mama senang
"Terima kasih mamaku sayang " ucap Sisil manja menuju ruang makan .
satu suapan masuk ke mulut
Byuuurrr
"Hoek,. masakan apa ini? " teriak Sisil menyemburkan makanan itu tepat di wajah mama.
"Aaark" teriak mama terkejut
__ADS_1
"Astaga.," aku pun sama terkejutnya
aku mendekat ke arah mama yang mulai berdiri " ma sana bersihkan wajah mama" ucapku pelan dan mendekati Sisil
"Sayang kamu kenapa sih," ucapku
"Kamu mending coba,ini masakan gak enak banget" ucap Sisil seolah jijik menatap makanan itu.
aku mengambil sendok dan menyuap ke mulutku." aeemm....enak kok " ucapku mengunyah makanan itu
"enak dari mana, resanya kampungan gitu" kesal Sisil
Aku melihat mama yang baru keluar dari kamar mandi .
"Makanannya gak enak ya?" tanya mama sedikit takut
entahlah,baru kali ini aku melihat mama setakut ini,entah apa penyebabnya.
",jelas gak enak mama,kalau enak mana mungkin aku Semburin" ucap nya .
"Mama minta maaf ya,mama buatkan lagi" ucap mama berbalik ke dapur
"Gak perlu ma,suruh bibik aja,nanti kalau mama yang buat malah tambah gak enak" Ucapnya.
aku Hannya menghela nafas panjang melihat Sisil dan juga mama seperti ini.
setelah dari rumah baru mas Willy tadi aku pulang kerumah, sesampainya di rumah aku langsung menemui Mia yang sedang tertidur pulas di ranjang,aku mematung menatap nanar wajah polos itu,aku berdiri di samping tempat tidurnya.
tik
air mata ini tanpa permisi membasahi pipi,entah apa yang ku rasakan sekarang,sedih? pasti,terluka? sudah jelas,merasa di khianati ? sangat sangat merasa, cemburu? apa aku tidak boleh merasa cemburu?
tubuhku terguncang hebat,ku tutup mulut ku dengan tangan agar isakku tak membangunkan anak ku yang sedang terlelap,perlahan tubuhku merosot ke lantai,seakan kakiku tak lagi mampu menumpu tubuh ,aku sakit mas..!! aku sakiittt!!!!.
Lama dalam posisi ini ,ku usap air mata dengan punggung tanganku,aku beranjak dan mendekati mia,gadis manis itu seakan tersenyum dalam tidur lelapnya,tangannya terlihat sedikit bergerak gerak namun tak mampu membangunkan nya yang masih bermain di alam mimpinya.
"Sayang, , , !! maafin mama nak" ucapku mengelus lembut wajahnya.
Air mataku kembali menetes deras,aku tak bisa membayangkan jika aku terpisah dari mas Willy dan hidup dengan Mia seorang diri,? aku belum siap..! aku sangat mencintainya mas Willy,aku sangat takut kehilangan dia.
setelah puas menatap wajah mungil itu,aku kembali ke kamar,segera ku segarkan tubuhku dengan air dingin di kamar mandi,ku hidupkan shower,ku biarkan air shower membasahi tubuhku,di sana aku kembali menangis tersedu,ku biarkan sengaja suara keran air mengeras ,aku berteriak sekencang kencangnya
"Aaaaaaarrrrkk"
"Aaaaarrrkkkk, , huu...huuu..huuu..."
"brengsek kamu mas, b4j1ngan kamu,b14dap kamu" tangisku semakin menjadi saat ini,tubuhku kembali melemah,aku merosot ke lantai, ku peluk kedua lututku di bawah guyuran shower yang masih berjatuhan layaknya air hujan yang cukup deras,tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis tersedu meratapi nasip di khianati pasangan,pasangan yang selalu ku banggakan dan selalu di cintai sepenuh hati.
__ADS_1
Cukup lama aku menangis,hingga aku merasa sedikit pusing ,pandangan ku memudar dan sekejap terlihat gelap.
ku rasakan sekujur tubuhku menegang,ku mencoba gerakkan kaki dan tanganku tapi gak bisa,yang ku dengar hanya suara bik Marni yang sesegukan .
"Nyonya bangun, ,hik, , ,hik, , gimana ini dokter" ucap nya dengan nada khawatir.
"Nyonya Dita hanya pingsan,dan sedikit demam,mungkin karena kecapekan,nanti juga akan siuman,ini obatnya " ucap seorang dokter.
tak lama Seseorang terasa memegang tanganku, " sayang,mama lagi bobok,yuk kita keluar,kita jangan ganggu ya" ucapnya sambil mengelus tanganku pelan
Dengan susah payah aku ingin menggerakkan tangan dan kaki serta mataku agar terbuka tapi tetap tidak bisa,bahkan mulutku pun rasanya sulit untuk mengeluarkan suara hanya sekedar mengeluh.
"Ya Allah bukakan lah mata ini,dan kuatkan lah hambamu ini, , bismillahirrahmanirrahim....! " do'aku dalam hati dan yakin jika Allah bisa membantuku untuk segera membuka mata.
Allah maha baik,setelah aku membaca "Basmallah " mataku segera terbuka ,tangan dan kakiku juga bisa ku gerakkan.
tatapan mataku langsung mengarak ke wanita paruh baya yang lagi menggendong anakku Mia.
"Bik" lirihku menatap ke samping
"Alhamdulillah Nona sudah sadar" ucap nya mendekat.
ia langsung menaruh Mia di kasur damping tempat ku berbaring dan langsung membantuku untuk duduk menyandar di pinggiran ranjang.
"Aku kenapa bik?" tanyaku
"tadi bibik khawatir liat nyonya gak ada di kamar,padahal mobil sudah di parkiran,bibik cari di kamar Mia tapi gak ada,bibik lanjut ke kamar dan bibik dengan suara keran air terbuka makanya bibik kembali ke dapur.
"Mendengar Mia menangis ,bibik kira nyonya sudah menemuinya,namun Mia semakin histeris dan bibik berlari ke kamar Mia,dan langsung menggendong mia,"
"Bibik bawa Mia ke kamar nyonya,tapi yang ada hanya jeram air yang 30 menit lalu bibik dengar masih terbuka,makanya bibik khawatir Dan langsung masuk,ternyata nyonya pingsan di kamar mandi" jelas bik Marni panjang kalo lebar kali tinggi.
(aduuh bik,kenapa gak bilang bibik menemukan Adita pingsan di kamar mandi,udah gitu aja gak usah panjang panjang,, hmm)
"Bibik panik,dan akhirnya bibik menelpon tuan Willy,dan tuan Willy yang menyuruh dokter untuk periksa ke sini" jelasnya lagi
"Willy, , heh, , apa dia sudah pulang?" tanya ku
bik Marni menggeleng " katanya dokter sebentar lagi sampai dan akan pulang secepatnya" ucap nya
Mendengar penjelasan bik marni membuat air mataku kembali deras..
"Dia pasti gak akan kesini bik,dia gak akan ke sini" ucapku sesegukan menutup wajahku dengan kedua tanganku.
next
lanjut ke part selanjutnya
__ADS_1