
PoV Willy
"Hei mas,tanggung jawab kamu" teriak seseorang di pinggir jalan
Aku terpaksa membuka pintu mobil melihat keadaan bocah itu,yang hampir aku tabrak .
huuu.
huuu.
Anak perempuan itu menangis hingga beberapa orang laki laki bertubuh kekar menghampiriku.
"Ada apa ini?" tanyanya sangar
"Ini Bon orang ini hampir menabrak si cinta" ucap salah seorang wanita yang bertubuh kurus,pakaian lusuh dan juga kotor.
"Benar begitu?" tanya laki laki yang di panggil "Bon"
Aku hanya terdiam memastikan anak bocah yang masih menangis itu.
"Jawab kenapa loe diam saja" ucapnya membentak
suaranya yang garam membuatku merinding,menjawab pertanyaan nya pun sampai aku tergagap.
"Eeh,,pak bukan gitu ceritanya,tadi adek ini mau nyebrang tapi gak lihat jalan" ucapku membela diri
"Bohong" teriak wanita berpakaian lusuh itu.
"emang kenyataan kok kalau ___"
"Hei,ini daerah kekuasaan gue,kalau loe Mau pergi dari sini,serahkan uang loe sebagai bentuk tanggung jawab loe sama ini anak,"
"Tapi saya tidak bersalah "
"Banyak bacot loe,loe mau gue laporin ke polisi ?" teriaknya
"Oke oke ,saya akan tanggung jawab," akhirnya aku menyerah dari pada aku di gebukin para brandal dan juga para pengemis di sini.
"Nih uang ganti rugi aku," ucapku menyerahkan beberapa lembar uang pecahan merah.
Bocah kecil itu mengambilnya,dan aku langsung ke mobil meneruskan perjalanan ku pulang.
***
PoV Adita
keesokan harinya,aku dan bik Marni duduk di ruang makan,kami sarapan seperti biasanya,
"Bik,hari ini gak usah masak ya," ucapku menatap bik Marni iba,
bik Marni sudah tau apa yang semalam membuatku bertengkar hebat dengan willy,dia juga geram dengan mas Willy bersikap seperti ini,
"Nak,bibik sudah anggap kamu anak sendiri,meskipun bibik gak kamu gaji juga gak apa apa,asal bisa bersama kalian,bibik sudah terlanjur sayang sama Mia," jelasnya memahami tatapanku.
Aku tersenyum, sepertinya bik Marni salah menangkap ucapan ku "hehe, ,aku bukan mau memecat bik Marni kok,gaji bik Marni pun aku sanggup bik ,yang aku maksud tadi,bibik gak usah masak ,karena aku mau ajak kalian keluar" jelasku
"Keluar?"
"iya,kita jalan jalan ,rasanya aku butuh refreshing dan mau fokus sama kerjaan aku di novel online " jelasku
__ADS_1
"Oalah,bibik kira kamu mau pecat bibik,bibik sudah sedih lho"
"siapa juga yang mau pecat bibik, orang aku udah nyambung sama bibik,Mia juga kayaknya udah nyaman di asuh bibik"
"ya sudah apapun yang akan kamu putuskan bibik ikut" jawabnya
aku senang ada bik Marni yang selalu ada buat aku,ada bik Marni yang selalu membantu aku merawat Mia,jujur memang aku belum sepenuhnya bisa merawat bayi,tapi karena bik Marni orangnya cekatan,dia bersedia membimbing aku merawat Mia sepenuh hati .
"Ya sudah bibik siap siap ya,mau mandiin Mia juga" ucapnya berbalik setelah selesai sarapan.
"Bik" aku memanggilnya lagi
"iya kenapa?"
"aku janji nanti kalau semuanya sudah teratasi ,aku mau cari pembantu lagi ,biar bibik fokus sama Mia aja,aku gak mau bibik terlalu capek" jelasku
bik Marni tersenyum" tidak apa apa, bibik ikhlas kok" jelasnya kemudian berjalan ke arah kamar .
aku menghela nafas sambil menatap langit,yang aku inginkan saat ini menyelesaikan masalahku dengan mas Willy,aku ingin bebas dari laki laki pengecut yang selalu melindungi diri di ketiak induknya itu.
Ting
suara ponselku berbunyi.
(Selamat pagi bidadari akoh) isi pesan yoga
(masih pagi Yo,ngapain kamu rayu istri orang,gak ada kerjaan apa) balasku
( Mia apa kabar? )
duh,dia yang hanya penggemar novel ku begitu peduli sama Mia.
( pelit amat balasnya)
( terserah aku lah,emang kamu maunya yang panjang balasnya )
( iya lah,biar panjang sepanjang hidup bersamamu)
(dasar modus)
(bukan modus embak..usaha )
(udah ah )
(belum bentar lagi mbak,nanggung )
(astagfirullah yogaaaa)
aku kesal mendengar celotehan yoga melalui pesan WhatsApp..
"Ayok bibik sama Mia sudah siap jalan jalan" ucap bik Marni menghampiri ku
"Ayok bik" ajakku
di mobil
"Kita mau ke mana Dit?" tanya bik Marni
"aku kayaknya mau cairkan sebagian hasil dari novel deh bik,orang kita gak punya uang kan sekarang"
__ADS_1
"Emang di novel itu bisa mendapatkan uang ya Dit?" tanya bik Marni
aku tersenyum sambil fokus ke jalan .
"Alhamdulillah ada bik,uang yang aku dapat dari novel itu aku sengaja gak kasi tahu siapapun, rencananya aku mau simpen buat nanti suatu saat kepepet ,eeh taunya sekarang memang berguna" jelasku membuat bik Marni manggut-manggut.
bik Marni tidak tanya banyak,di jalan dia hanya diam sesekali bermain dengan Mia,arah ku saat ini membawa bik Marni setelah dari ATM lanjut ke taman,di taman aku rasa tempat yang cocok buatku untuk berdiam sejenak sambil memikirkan skenario cerita yang akan ku jadikan kelanjutan dari kisah novel ku.
Di taman
ku biarkan bik Marni jalan jalan dan bermain dengan Mia,aku duduk di sebuah bangku kecil sambil memangku laptop ku,sesekali ku pandangi ke arah mereka bermain,
aku tersenyum dan bersyukur ada bik Marni yang selalu memahami ku,aku bersyukur dia bisa menjadi ibu kedua bagiku,
"Hai mbak,apa kabar kamu?" tanya seseorang memecahkan lamunan ku
"Sandy" ucapku terkejut melihat adik tengil yang selalu menggangguku semasih SMA.
"Boleh hamba duduk?" ucapnya
Aku berdiri dan mempersilahkan nya layaknya dayang mempersilahkan raja untuk duduk di singgasana "Silahkan pangeran,singgahsana telah nganggur untuk di duduki" ucapku mengikuti alur tengil nya,ku ulurkan tanganku lalu sedikit membungkuk membuatnya tertawa keras melihat kelakuan ku.
"Sejak kapan loe jadi lembek gini kak" tanya Sandy tiba tiba membuat keningku berkerut.
"Maksud loe lembek apa?" tanyaku
"Jangan loe fikir gue gak tahu apa yang terjadi sama rumah tangga loe kak,gue masih keluarga dari paman Willy" ucapnya
Huh,aku sampai lupa sandy memang keluarga jauh dari mas Willy,tapi dia selama ini menghilang karena di lempar emaknya ke luar kota untuk menyelesaikan studinya,namun saat ini dia mengambil cuti karena ada urusan sesuatu dan lain hal.
"Loe kapan balik?" tanyaku
"jangan mengalihkan pembicaraan kak,! " ucapnya menatap lurus ke depan sambil tersenyum kecut
"Nyesel gue ngenalin loe sama dia" ucapnya tiba tiba
"jangan nyalahin diri sendiri,san. itu kan pilihan gue,lagian bukan cuma elo yang ngenalin gue ke Willy kan,Arkan juga" ucapku mengingat kejadian saat mereka berdua tiba tiba menjodohkan ku dengan orang yang sama di saat yang bersamaan pula.aku tersenyum masam mengingat semuanya,bagiku dulu hanya pemanis saja,yang sekaranglah yang sebenarnya.
"Tapi gue nyesel Kak,makanya gue bela belain pulang buat elo" ucapnya membuatku semakin terkejut.
"Loe bela belain pulang demi ngurus masalah gue? "
Dia mengangguk" sandy,masalah gue bukan berawal dari loe,tapi emang ini ujian pernikahan gue,jadi loe jangan merasa bersalah gini?" terangku
"Tapi gue gak mau loe di sakitin sama paman gue Dit,gue kenal loe dari dulu,gue gak mau persahabatan kita pecah karena masalah loe sama paman Willy,gue gak terima " jelasnya
Aku tidak habis fikir dengan jalan pikiran anak bocah ini,namun satu kalimat yang membuat ku berpikir ulang untuk tidak menerima uluran tangannya.
"Gue bantu loe balas dendam," ucapnya
"Dan loe ikut gue,gue akan kasi tahu apa yang selama ini loe cari " ucap Sandy.
**
Apakah yang di maksud Sandy?
yuk ikuti cerita nya di bab selanjutnya
next.
__ADS_1