Air Mata ADITA

Air Mata ADITA
Episode 88 curhatan willy


__ADS_3

PoV author


"Din,kamu antar Adita pulang ya,aku masih ada satu adegan lagi" ucapnya


"Siap bos " balas Didin


"tidak perlu,aku naik taksi saja" ucap Adita menolak


"Dita ,kamu lagi sakit ,lihat saja dirimu pucat begitu " ucap yoga.


"Tapi aku bisa pulang sendiri,gak usah SOK perhatian " ucapan Adita meninggi


"Dita jangan melawan" ucap yoga lagi


"Serah " jawabnya handak pergi mencari taksi,tapi saat melewati yoga ,yoga menarik tangannya dan langsung


Cup


Didin langsung menutup mata melihat pemandangan di depannya.


"alamak mataku ternodai" ucapnya


Yoga mengecup bibir Adita sambil memegang kedua bahunya, membiarkannya beberapa detik,lalu melepaskannya.


Adita hanya mematung,dia terkejut dengan kecupan tiba tiba dari yoga,bahkan dia pun tidak menghindar.


"Dengarkan aku mi,tunggu aku di rumah dan aku akan menjelaskan semuanya,oke !" ucapnya sambil mengusap pelan wajah Adita lalu mengusap kepala dan meninggal mereka.


"Din,lakukan tugas mu dengan benar " perintahnya dengan nada dingin.


Degh


Adita kembali terkejut melihat sisi lain dari yoga,yoga yang biasanya bersikap santai,humoris dan bicara "elo,gue " ke Didin kini berubah 180°,Dia begitu dingin dan tegas.


"Siapa sebenarnya kalian " ucap Adita dalam hati sambil menatap punggung yoga yang mulai menjauh .


"mari saya antar " sikap didin juga berubah membuat Adita tidak nyaman.


"sekali lagi loe bicara formal,gue gak mau di antar sama loe " ancam Adita


"Hehe,baik baik,ya sudah ayok gue anter pulang , nanti pingsan gue yang repot " jawab Didin cengengesan


Adita pun pasrah,dan langsung naik ke dalam mobil.


Di jalan


"Din,apa ada yang perlu loe bicarakan?" tanya Adita membuka suara.


Didin sekilas menatap Adita yang duduk di sampingnya.


"gak mbak,gak ada,nanti saja kalau yoga sudah di rumah ,sabar aja ya " ucapnya kembali fokus pada jalan

__ADS_1


"Kalian ini ada apa sih sebenarnya!" kesal Adita.


Didin hanya diam tak bersuara.


ddrrtt


ddrrrtt


tak lama ponsel Didin berdering,melihat siapa yang menelpon dia menatap sejenak Adita,kemudian mengangkatnya.


"iya hallo " ucap didin


Adita hanya menjadi pendengar.


" bos,mereka kekeh tidak mau memberikan hasil potonya " jelas seseorang di seberang sana.


"kasi mereka bayaran yang setimpal,lalu hancurkan Camera nya " perintah Didin


"baik bos" jawabnya


"Dan pastikan tidak ada foto apapun dapat mereka sebarkan besok " ucapnya lagi


"foto? foto apa" pikir Adita.


setalah berbicara Didin mematikan ponselnya,dan menatap sekilas ke arah Adita yang mulai buang muka.


" Ada paparazi yang berhasil mengambil beberapa Poto kalian saat berciuman tadi " jelas Didin yang langsung paham dengan apa yang Adita pikirkan


"tapi loe tidak usah khawatir,orang orang kita sudah mengurus semuanya" ucapnya lagi


"orang orang kita ?" tanya Adita lagi


"huuuuh" Adita menghembuskan nafas berat sambil bersandar pada jok mobil


"berapa banyak hal yang tidak gue tahu dari kalian " lirihnya


Didin tidak mau banyak berkomentar,setelah sampai di rumah dia langsung kembali ke lokasi shooting.


"ingat mbak jangan kemana mana,dan jangan mudah terpengaruh ucapan orang,percaya sama aku dan yoga " ucapnya kemudian menancap gas berlalu pergi.


***


" astaghfirullah Willy,kamu dari mana saja?" tanya mang udin saat melihat Willy yang baru kembali


"maaf mang aku tadi ada urusan sebentar" ucap nya dengan nada lemah.


"kamu ada apa? kelihatannya kamu ada masalah sama mbak dita" ucap mang Udin


Willy menatap mang Udin "mang Udin liat ?" tanya nya


"bukan cuma liat,juga dengar dia memanggil nama kamu dengan mas Willy dan mengejar kamu " jawabnya.

__ADS_1


"ooh " Willy hanya ber ooh ria saja.


mang Udin memperbaiki duduknya dan kini mengarah ke Willy," cerita sama mang ,kalau kamu butuh teman buat cerita,masalah itu jangan di pendam sendiri Willy,nanti jadi penyakit " ucap mang Udin.


Willy diam sejenak mencerna apa yang di katakan mang Udin.


"Adita mantan istriku mang" ucap Willy


"Apa? mbak dita mantan istrimu?" tanya mang Udin lagi


Willy mengangguk " kisah ku hampir sama dengan kisah hidup mang Udin " ucapnya lagi.


" aku menikahinya saat usia dia 19 tahun ,aku pikir kehidupan rumah tanggaku baik baik saja dan dia bahagia,apalgi sejak kehadiran anak kami Mia aku merasa orang yang paling bahagia ,nyatanya aku salah mang"


"Aku membiarkan mama ku mengatur semua keuangan kami,aku juga memberi jatah Adita lewat mama,aku pikir mama melakukan apa yang aku minta ,nyatanya enggak,dia tidak pernah memberikan Adita uang seperti yang aku jatahkan ,bahkan aku selalu mengiyakan apa kata mama,termasuk menemani wanita yang dia sukai,wanita yang dia anggap sebagai orang yang pantas untuk ku,aku mengacuhkan istriku demi rasa hormat ku sama mama,aku meninggalkan istriku demi keinginan mama yang menyuruhku kesana kemari bersama wanita itu,sampai suatu ketika aku terjebak dengan sebuah pernikahan yang memang sudah di rencanakan " Willy sebentar menjeda ceritanya,mang Udin masih siap mendengarkan apa yang Willy katakan.


sebelum kembali bercerita dia menghembuskan nafas beratnya.


"huuuuuh "


"Aku selalu menuruti apa kata mama,hingga aku bercerai sama Adita,dan tinggal bersama Sisil,istri kedua ku" jelasnya


"dan di sana hari hari ku lewati berbanding terbalik dengan apa yang aku alami saat tinggal bersama Adita "


"di tempat baruku,meski jabatan ku sebagai manager,tapi di rumah aku bagaikan babu,di suruh ini di suruh itu,dan itu semua karena mama,mama yang gila akan uang rela membuat anaknya menjadi pembantu di rumah menantunya."


"sampai suatu ketika aku mendapat kabar bahwa mertuaku dan Sisil tertangkap sedang melakukan transaksi ilegal ,dan terkena kasus pembunuhan membuat semua harta yang kami punya di sita bank ,bahkan yang lebih mengejutkan lagi anak yang ada di kandungan sisil bukanlah anakku, " jelas Willy


"sungguh malang nasibmu Willy " ucap mang Udin


"kenapa kamu masih bertahan dengan istri kamu yang sekarang?" tanya mang Udin.


"Dia sakit mang,aku tidak tega,dia bahkan tidak tahu kalau dia lagi sakit ,kangker serviks " ucap Willy


"Astaghfirullah, , berat skali perjalanan hidupmu " ucapnya menepuk pundak Willy .


"Mungkin ini balasan atas apa yang telah aku perbuat sam istri pertama ku dan anakku mang " ucap Willy lirih


"kamu yang sabar ya,anggap semua itu pelajaran hidup ,berbakti kepada orang tua memang harus,tapi kamu juga harus pintar pintar menilai,jangan karena kamu terlalu menuruti keinginan orang tua kamu,hidup kamu jadi hancur,sama seperti yang aku rasakan saat ini,aku dulu juga terlalu menuruti keinginan orang tua aku sampai aku hidup seperti sekarang ini"


"Aku tidak bahagia,terlebih saat aku sudah kehilangan istri pertama ku atas kebodohan ku "


"Dan kini aku mencoba menilai sesuatu dari banyak sisi,dan kamu juga harusnya melakukan hal yang sama " ucap mang Udin memperingati Willy.


"iya mang,mang Udin benar,aku menyesal mang,bahkan ingin melihat anakku saja aku malu,aku malu saat bertatap muka dengan adita ,aku malu " ucapnya lagi


"kamu tidak perlu malu,jalani hidup kamu ke arah yang lebih baik ,maka hidup kamu akan tenang Willy " ucapnya lagi


"tumben mang Udin dewasa, biasanya banyak bermain " ucap Willy mulai menggoda mang Udin


"aah kamu ini, baru saja mau jadi orang besar dengan memberi arahan malah kamu goda,sudahkan ayok kita kerja lagi " .

__ADS_1


**


__ADS_2