
PoV willy
Setelah pulang dari rumah Adita,aku kembali pulang ke rumah,rasanya berat meninggalkan nya dalam kondisi sakit seperti tadi,wajahnya yang pucat dengan kondisi lemah begitu membuatku tak tega meninggalkan nya,aku merasa dia butuh aku,tapi apalah daya jika sisil sudah menelpon ku untuk segera pulang,karena dia tiba tiba merasa keram di perutnya.
Empat puluh menit dalam perjalanan,aku telah sampai di rumah,segera ku langkahkan kaki untuk menemui Sisil.
"Ma, Sisil mana" tanyaku sama mama yang baru keluar dari dapur dengan wajah cemberut.
"Di kamar" jawabnya ketus.
aku segera melangkah ke kamar dan. mendapati Sisil sedang tidur,
"Sayang," panggilku pelan sambil mengusap pundaknya yang sedang posisi memunggungi ku.
"Sayang, , " panggilnya langsung terbangun dan memelukku .
"Iya, aku di sini,ada apa?" tanya ku melepas pelukannya
"Perutku sakit" adunya
"kamu salah makan atau gimana?" tanyaku
"Gara gara mama kamu tuh" adunya lagi
"Hah,mama? memang mama kenapa?" tanyaku
"mama gak bisa mijit yang benar, makanya perut ku sakit"
"Astaga, kamu kan tahu sendiri mama bukan tukang urut,lagian kamu aneh aneh aja deh,masa ia minta mama yang urut,kan bisa kamu panggil tukang urut yang ahli " ucapku
"jadi kamu nyalahin aku,?" ucapnya
"Bukan gitu, kamu ___ " belum sempat aku melanjutkan ucapanku dia sudah mendahului ku
"Kamu sama saja sama mama, gak becus ngurus aku,kamu cinta gak sih sama aku mas,anak di dalam kandungan aku ini anak kamu lho?" ucapnya menangis
aaarh jika sudah seperti ini aku tidak bisa lagi marah padanya,
"Ia sudah aku minta maaf ya,nanti aku panggil kan tukang urus yang ahli buat urut kamu" ucapku
"gak perlu,ke dokter aja langsung" ucapnya
"Kenapa gak dari tadi minta ke dokter sih,kan gak gini jadinya" kesalku dalam hati melihat kelakuan Sisil yang kaya anak kecil
Aku lebih merasa Sisil seenaknya menyuruh mama yang sekarang menjadi Mamanya juga,apa apa mama yang di suruh,apa yang tidak pernah di kerjakan di rumah saat bersama Adita dia kerjakan di rumah sisil,tapi aku tak menghiraukan itu Karena aku lihat mama dengan senang hati melakukan itu,tapi tadi sepeti ada yang membuat mama kesal,akan aku tanyakan nanti
"Ya sudah ayok kita ke dokter" ajakku.
**
setelah dari dokter kandungan, aku dan Sisil pulang kerumah,aku mendapati mama yang lagi menerima telepon di halaman samping sambil terdengar berbisik.
Aku membiarkan Sisil masih duluan,dan aku mendekat ke arah mama yang lagi menerima telepon.
"sama siapa mama menelpon sembunyi sembunyi kaya gini?" gumamku sambil mendekatinya.
"Maa" panggilku
mama terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Jenk , ,nanti aku telepon lagi ya,ini anakku yang ganteng ini sudah kembali" ucapnya langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Will, , ada ap-pa?" tanya nya dengan sedikit gematar
"Mama teleponan sama siapa?" tanyaku
"Eeh, , itu , ,eee tadi , , teman mama , ,ya teman Arisan mama" ucapnya
"tapi kenapa berbisik bisik kaya gitu ma" tanyaku melihat ada yang mama sembunyikan.
"eeh,,"
mama terlihat celingukan dan menarik tanganku sedikit menjauh.
"Ada apa ma"
"Mama , , mama minta uang! " ucapnya
"Hah,uang lagi? kan Kemarin sudah ma"
"Itu gak cukup Willy,mama kan Arisan perhiasan mahal,mana cukup uang itu"
"Tadi juga minta ke Sisil dia gak mau ,makanya mama kesal" jawabnya
"Jadi tadi wajah kesal mama karena gak di kasi uang sama Sisil.? ya ampun ma,gak malu apa minta uang sama menantu? di kasi numpang pula,"
"Jadi kamu gak ikhlas mama tinggal di sini?"
"bukan gitu ma,coba mama pikirkan kita ini menumpang di sini,jadi mama gak perlu meminta uang lagi sama Sisil,kan Willy tetap kasi mama uang,uang mama selama ini di kemanain hah?"
"mama kan sudah bilang,mama Arisan"
"Kalau gini terus mending mama pulang kerumah aki,papa di sana gak ada yang rawat ma" ucapku.
aku mengusap kasar wajahku mendengar ucapan mama,
"Ma,papa pulang untuk menikmati masa masa tuanya di sana ,ingin hidup tenang ,di kampung suasananya lebih adem,lebih damai ketimbang di kota,uang juga mama gak pernah kekurangan uang kan dari Willy,"
"Kamu usir mama? tega kamu..mending mama pulang saja kerumah Adita," kesalnya langsung berjalan masuk kerumah.
Aduh, ,masalah lagi, pasti nanti kalau mama pulang kerumah Adita pasti Adita akan di perlakukan kaya pembantu lagi,aku gak mau itu terulang lagi,aku gak mau,aku capek melihat mama selalu berantem dengan menantunya yang satu itu,
ku ikuti mama ke kamarnya " ma jangan gini dong?" ucapnya
"Mama mau kemana?" tanya Sisil yang mengikuti ku dari belakang
"Mau pulang" jelasnya ketus
"mau di antar supir?" tanya Sisil
mama sedikit kesal mendengar Sisil menawarkan supir,
"Mama bisa naik taksi" ucap mama Ketus
"baiklah" jawabnya meninggalkan ku dan mama
mama segera keluar dan aku kembali menghentikan langkahnya "ma, , " panggil ku
"Sudahlah willy,kamu gak dengar apa kata istri kamu?"
aku hanya diam menatap kepergian mama,
"Mama kamu ngambek ya? " ucap Sisil lagi di belakang ku dengan segelas susu ibu hamilnya
__ADS_1
"Kamu kenapa bicara seperti itu sama mama tadi?" tanyaku
"Kamu ini kaya tidak tahu mama kamu aja,mana bisa dia lama lama di luar sana,sedangkan dia butuh uang,bentar lagi juga kembali " ucapnya santai.
Selang beberapa saat,benar saja apa yang di katakan Sisil, mama kembali kerumah dengan wajah di tekuk.
"Ma,gak jadi pulang? " ucap Sisil menyindir masih duduk santai di sampingku.
"Gak jadi" jawab mama langsung ke kamarnya dan mambanting keras pintu kamar.
Aku hanya mengelus dada melihat kelakuan mama,Sisil tersenyum kecil .
***
Malam hari nya.
"Sayang aku___"
"aaaw , , awww...saahh"
"Kamu kenapa?" tanyaku khawatir
"perut Ku sakit mas" ucapnya
aku membantunya duduk dan bersandar di kasur.
"kamu sudah minum obat? "
"Sudah,"
"ya sudah istirahat gih"
aku ingin keluar
"mas"
"ya"
"bisa gak temani aku malam ini,aku takut jika nanti sakit perutku datang lagi"
"Tapi kan aku harus pulang,kalau tidak pulang apa kata Adita nanti?"
"kamu lebih pentingin dia dari pada anak kita? anak kita pengen tidur di peluk papanya malam ini " ucapnya
cukup lama dramanya membuatku mengiayakannya.
"Ya sudah mas kasi tahu Adita dulu" ucapku
segera ku ambil ponselku dan langsung mendail nomer Adita,tak la dia menjawab.
"hallo mas"
"Dit,maafin mas ya gak bisa pulang malam ini,mas harus mengurus beberapa urusan penting di luar kota,ini mas sudah di jalan ,gak apa apa ya mas gak pulang?"
"Oh ya" hanya itu yang di jawab Adita.
Aku paham dia pasti kecewa,tapi apalah daya aku tak bisa apa apa.
Next.
ketemu di bab selanjutnya
__ADS_1