
"Tiwi," lirihnya dengan ekspresi terkejut luar biasa.
Tiwi juga tak kalah terkejut karena Panji pamit dengannya akan menemui kontraktor untuk proyek pembangunan SPBU yang baru tapi sekarang, Panji malah di rumah.
"Tunggu, dan siapa gadis yang ada di belakang Panji," tanya Tiwi dalam hati.
"Duduklah Ji," pinta oma.
Panji menatap penuh telisik apa yang dilakukan omanya. Niatnya tidak menuruti apa yang dipinta oma Sartika. Namun, pergi saja meninggalkan Tiwi, Anisa, dan oma pastilah lebih beresiko.
Panji mendudukkan pantatnya di kursi. Bersikap setenang mungkin walupun hatinya kini resah.
Anisa berdiri mematung, Mau ikut duduk tidak ada yang menawari, mau pergi nanti kelihatan canggungnya tapi kini kakinya lebih mengikuti seruan otak untuk memundurkan langkah dan menghilang dari mereka.
"Anisa,"
deg.
Tubuh yang sudah memutar ambil langkah pergi dari ruang tamu terpaksa dia hentikan.
"Kesini Nisa," titah oma Sartika.
Anisa terpaksa memutar kembali tubuhnya dan kini melangkah ke arah mereka duduk.
"Perkenalkan, ini Tiwi, kekasih Panji Alam Darmawan," ucap oma.
Tiwi terkejut, pasalnya baru pertama kali ini Oma Sartika memperkenalkan dirinya kepada orang lain sebagai kekasih Panji.
"Apakah ini nyata? Benarkah oma sudah mau membuka hati untuk menerimaku sebagai cucu menantu?" monolog batin Tiwi. Tangannya mengulur ke Anisa.
"Anisa," ucap Anisa sambil membalas uluran tangan dari Tiwi.
"Pratiwi, kamu boleh panggil Tiwi," ucap Tiwi.
"Anisa, kamu ambilkan minuman untuk kita," pinta oma.
"Ya Oma," jawab Anisa kemudian melangkah pergi.
"Siapa dia Oma?" tanya Tiwi mengarah ke Anisa.
"Tidak penting, tidak usah kita bahas atau...nanti kamu bolehlah tanya langsung ke Panji," jawab oma Sartika dengan entengnya.
Anisa hanya menahan sakit, mendengar ucapan oma Sartika, dia juga tahu dari nada oma bicara yang agak ditinggikan suaranya, ada unsur kesengajaan dari oma agar Anisa mendengar semua itu.
"Kamu semakin cantik Nak," ucap oma mengalihkan pembicaraan dengan memegang tangan Tiwi.
Tiwi tersenyum malu, bagaimanapun ini pertama kali Tiwi mendengar pujian dari sang oma.
"Oma...sangat menyesal, kenapa tidak dari dulu menerima kamu. Padahal kamu itu wanita yang baik dan oma yakin kamu bisa membahagiakan cucu oma dengan segala kebaikan yang kamu miliki," ucap oma dengan nada penuh penyesalan, tangannya masih menggenggam tangan Tiwi.
"Oma...itu kan sudah berlalu, kita lupakan saja," ujar Tiwi.
"Tetap saja, walaupun itu sudah berlalu pasti masih mengenang di hati kamu. Kalau oma orang yang terlalu kejam karena tidak kunjung memberi restu pada hubungan kalian," terang oma.
__ADS_1
Tiwi tersenyum, terkesan mendadak apa yang terlontar dari mulut oma Sartika tapi apapun itu, Tiwi tidak ingin berburuk sangka, mudah-mudahan ini jawaban atas segala doa yang selalu dia panjatkan.
"Oya Nak, katanya bapak kamu kemarin masuk rumah sakit?"
"Ya oma, bapak menderita diabetes terpaksa jari kelingking kaki harus diamputasi karena mengalami pembusukan."
"Ya ampun, kasihan sekali kamu. Oma doakan semoga bapak kamu cepat diberi kesehatan."
"Amin ya Allah," sahut Tiwi.
"Maaf juga sayang, oma belum berani bertemu dengan bapak kamu. Oma terlalu malu bertemu dengannya karena Oma merasa banyak salah dengan beliau," sesal oma dengan menghapus linangan air mata.
"Ya Oma, tidak apa-apa. Orang itu pasti punya kesalahan dalam hidup."
"Silahkan diminum Mbak," tawar mbok Asih menaruh 3 gelas minuman di meja.
"Aku ke belakang dulu," pamit Panji.
"Ya Mas," jawab Tiwi. Namun lain dengan Oma yang menunjukkan ekspresi penuh curiga.
Panji mengedarkan pandangan setelah masuk ke ruang tengah, ruang makan, dan ruang dapur. Namun sesosok yang dia cari tidak ada.
"Mencariku Kak?"
Suara itu sangat mengejutkan Panji sampai dia mengelus dadanya.
"Kamu hobi mengagetkan orang!" seru Panji.
Anisa hanya tersenyum kecil menanggapi itu.
Panji mendengus mendengar penuturan Anisa yang memang benar adanya.
"Ngapain juga aku yang bawa minum, takutnya seperti di drama-drama, nanti minuman yang aku taruh pura-pura disenggol oma, terus aku dimarahi oma di depan kekasih Kakak."
pletak
"Aduh! Sakit Kak!" seru Anisa dengan memegang dahi yang disentil oleh Panji.
"Pikiran kamu terlalu jauh," ucap Panji.
"Barangkali seperti itu," jawab Anisa dengan memanyunkan bibir.
Panji melangkah ke ruang tamu kembali.
Dia melihat oma Sartika tertawa kecil disusul Tiwi.
"Aku tidak akan tertipu dengan semua ini oma," batin Panji dan kini dia sudah berdiri di dekat kursi tamu.
"Kita ke kantor sayang," ajak Panji.
"Cucu oma itu begitu, kayak kerja dengan orang lain saja, harus tepat ke kantor selesai istirakhat siang," protes oma.
"Ya Oma, kita sudah lama di sini. Lagian tidak enak dengan karyawan lain. Menyuruh untuk disiplin waktu kitanya sendiri malah tidak menerapkan itu," terang Tiwi sambil mengulurkan tangan untuk berpamitan.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian hati-hati ya."
Tiwi mengangguk, "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab oma Sartika dengan melambai tangan menatap kepergian Panji dan Tiwi.
Huft
Oma mengempaskan napas dengan kasar.
"Kalau bisa bermain cantik kenapa harus repot-repot mengotori tanganku," gumam oma Sartika.
"Kita tunggu tanggal mainnya. Dimana kamu yang akan meminta sendiri untuk memutuskan hubungan dengan cucuku," seringai licik nampak dari raut wajah oma.
"Setelah itu baru kubereskan Anisa si gadis tengil."
Oma membalikkan badan untuk melangkah masuk ke kamar.
"Ka-ka-kamu," terkejut oma mendapati Anisa berdiri mematung di belakang dinding pembatas ruang tamu dan ruang tengah.
Anisa hanya tersenyum mengangguk.
"Kamu! Seperti setan saja! Tiba-tiba datang!" geram oma.
"Kenapa Oma selalu marah-marah kalau melihatku?" lirih Anisa.
"Itu kenapa aku ingin kamu segera pergi dari rumah ini!" sewot oma Sartika.
"Nunggu mas Panji beli rumah baru Oma. Katanya sih tidak lama lagi akan membelikan aku rumah baru," jawab Anisa sengaja menambah panas oma.
"Kamu!" Murka oma.
Anisa melenggang pergi menaiki anak tangga menuju kamar. Setelah sampai lantai 2 dia masuk ke kamar, menutup pintu kamar dan menyandarkan tubuh di belakang pintu. Tangannya bergerak mengelus dada
Huft
Satu empasan napas panjang Anisa keluar dan tarik untuk menstabilkan ritme jantungnya.
"Haruskah selalu bermain peran menghadapi oma Sartika? Astaghfirullah haladhim...nenek lampir semacam dia ternyata benar-benar ada di dunia nyata bukan hanya rekayasa cerita dalam romansa drama Korea."
Anisa kemudian bangkit dan melangkah ke ranjang tidur, badannya terasa lelah. Matanya merasakan kantuk.
"Tidur ah...," gumam Anisa dan selang berapa menit matanya terpejam penuh.
...****************...
"Ada hal yang ingin kamu tanyakan Mas?" tanya Tiwi melihat raut wajah Panji yang tegang.
"Tidak," jawab Panji menggelengkan kepala dan tangannya mengelus singkat rambut sang kekasih.
"Tapi ada hal yang ingin kutanyakan padamu Mas," ucap Tiwi.
"Apa?" tanya Panji dengan mata tetap fokus ke jalan dan kedua tangan yang memegang kemudi.
__ADS_1
"Siapa Anisa?"