Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 103


__ADS_3

Nesya tersenyum menang. Rencananya berhasil untuk mempertemukan kakaknya dengan Tika.


"Mbak, Mas Arlan sukanya masakan pedas, jadi mau Mbak kasih cabai 1 kilogram pun pasti dilahap Mas Arlan," ujar Nesya.


"Oh... ya sudah, aku tambah cabainya," sahut Tika yang sedang memasak sop bakso.


"Ikan guramenya digoreng saja," pinta Nesya.


Mereka berdua sedang memasak untuk makan malam. Makan sederhana ala Tika dan Nesya.


"Buat sambalnya juga yang pedas Nes?" tanya Tika.


"Iyalah, mas Arlan suka yang pedas," jawab Nesya mengulang pernyataan sebelumnya.


Tika mengangguk.


Setalah bergelut selama satu jam makanan itu akhirnya selesai dan tersaji di meja makan.


"Kita salat Magrib dulu Nes," ajak Tika.


"Salat?" retoris Nesya karena dia sendiri tergolong orang yang jarang melaksanakan kewajiban 5 waktu. Arlan juga sebenarnya sama, tergolong bukan umat yang taat. Namun semenjak tuannya hijrah, hal baik menular pada sosok Arlan. Lain hal dengan Nesya yang belum juga terbuka pintu hidayah untuknya.


"A...ayo," sahut Nesya walaupun dirinya ragu.


Selesai mereka melaksanakan salat Magrib, Arlan pulang.


Nesya memang meminta kakaknya pulang awal untuk makan malam bersama.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," sahut Tika dan Nesya.


"Akhirnya, yang ditunggu datang juga," seru Nesya.


"Buruan Mas Arlan mandi dan salat terus gabung makan dengan kita," titah Nesya dan diangguki Arlan.


Sekilas Arlan menatap gadis di samping Nesya. Wajahnya tampak sedikit basah dan itu dipastikan sisa air wudu. Entah kenapa terlihat sangat sejuk wajah itu dipandang.


Arlan nampak tersenyum mengarah ke Tika.


"Sudah cepetan, nanti keburu dingin masakannya," ucap Nesya mendorong tubuh Arlan.


Waktu makan tiba, Arlan terlihat beda dengan tampilan kaos dan celana rumahan. Dia keluar dari kamarnya, tentunya setelah menunaikan salat dan bebersih diri. Arlan duduk berseberangan dengan Nesya dan Tika.


"Karena hari ini ulang tahun Nesya, aku minta Mas Arlan menghabiskan semua masakan yang Mbak Tika hidangkan. Tidak boleh ada sisa," pinta Nesya.


"Ralat pertama, ini yang masak Nesya dan aku, bukan hanya aku saja," sahut Tika.


"Ralat kedua, aku ikut masak makan malam karena undangan dari Nesya," lanjut Tika.


Nesya tersenyum, "terserah alasan Mbak Tika yang jelas Mbak bisa datang makan malam bersama dan aku merasa kita benar-benar satu keluarga utuh," terang Nesya.


"Kalau kalian terus berdebat kapan makannya?" protes Arlan.


"Oh ya, ayo makan," ajak Nesya.


Mereka mengisi piring dengan nasi dan lauk. Setelah berdoa, masing-masing menyuapkan makanannya ke mulut.

__ADS_1


Wajah Arlan nampak merah, Nesya memandang dengan senyum penuh kemenangan.


'Sepertinya aku dikerjai nih anak,' batin Arlan mulutnya terus mengeluarkan napas menahan pedas yang mulutnya rasakan.


"Habiskan ya Mas, ini masakan Mbak Tika," ujar Nesya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


Tika memandang aneh ke arah dua orang di samping dan hadapannya.


'Ada apa dengan mereka? Kenapa Arlan menatap sengit ke arah Nesya dan Adiknya itu terlihat tersenyum-senyum?' batin Tika penuh tanya.


Keringat banyak mulai keluar dari pori-pori kulit Arlan, yang jelas terlihat dari kulit kepala maupun wajah hingga peluh itu menetes.


"Pak Arlan baik-baik saja?" tanya Tika merasa khawatir orang yang di depannya sudah merah pucat dengan peluh mengucur.


Arlan mengangguk pelan kepalanya. mulutnya terlihat meniup-niup.


"Bapak kepedasan?" tanya Tika karena mencurigai Nesya yang malah menahan senyum.


Tangan Arlan bergerak mengambil gelas yang berisi air mineral lalu menegak habis.


"Habisin Kak, ini kan hari ulang tahun Nesya, tidak seru loh kalau sampai tidak habis," ledek Nesya.


Arlan menatap tajam ke arah Nesya.


Tika mengambil piring milik Arlan.


"Hei! Kenapa diambil!" protes Arlan.


"Aku habiskan," ucap Tika tanpa persetujuan Arlan menghabiskan setengah porsi milik Arlan.


Nesya yang sedari tadi senyam-senyum kini menatap takut pada Tika yang terlihat diam menahan amarah.


"Jelaskan Nesya, maksud kamu apa?" tanya Tika dengan mode serius.


"Tadinya aku... aku cuma bercanda, mau ngerjain mas Arlan," jawab Nesya lirih.


Tika mengempaskan napasnya kasar.


"Aku rasa kamu berhasil. Lihat, mas kamu kepedesan!" greget Tika menahan amarah.


Nesya menoleh ke arah Tika. "Maaf kak, aku salah," sesal Nesya.


"Minta maaf ke mas kamu bukan aku, dia korbannya!" tegas Tika.


Nesya menatap Arlan yang terlihat duduk diam, wajahnya sudah tidak basah karena peluh, mulutnya juga sudah tidak kempang kempis mengeluarkan napas.


"Aku... aku minta maaf Mas," ucap Nesya mendekat ke arah Arlan yang duduk di sofa single, Nesya sampai duduk bersimpuh.


"Hei, apa yang kamu lakukan, jangan duduk di lantai seperti ini, bangunlah, Mas sudah maafin kamu kok," ujar Arlan mengangkat tubuh Nesya dan tubuh itu langsung menghambur memeluk Arlan.


"Maaf kan Nesya yang sudah kelewatan bercandanya Mas," ucap Nesya sambil sesenggukan.


"Yang penting jangan diulang lagi, kalau Mas sampai sakit perut gara-gara ini bagaimana?"


Nesya mengerucutkan bibirnya, "Mas Arlan jangan bilang gitu."


Arlan tersenyum menarik tubuh Nesya masuk dalam pelukannya kembali.

__ADS_1


"Tapi rencanaku sepertinya berhasil," lirih Nesya.


"Rencana apa?!" penasaran Arlan hingga melepas pelukannya.


"Itu, membuat Mbak Tika khawatir," celetuk Nesya.


Tika yang merasa terpojok dengan ucapan Nesya menelan salivanya dengan susah.


"Dia menampakkan wajah menakutkan hanya untuk membela mas Arlan," ujar Nesya dengan menahan senyum.


"Siapapun orangnya pasti akan melakukan itu Nesya," elak Tika.


"Kenapa sih kalian berdua jaim dengan perasaan kalian. Kalau kalian seperti ini terus, mau kalau Mbak Tika digondol lelaki lain dan Mas Arlan digondol wanita lain?" retoris Nesya yang tentunya dia tahu apa yang akan dijawab dua manusia jaim di depan dan sampingnya.


"Mau!" jawab kompak Tika dan Arlan.


Nesya terkekeh melihat kekompakan Arlan dan Tika.


"Sungguh luar biasa kalian, sangat kompak. Ok, aku yang ulang tahun mau istirakhat dulu, ba bay...," ucap Tika kemudian berlari ke kamarnya.


"Hei adik tengil! Dasar kamu_"


Arlan tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap Tika yang berteriak memanggil nama Nesya.


"Kenapa menatapku seperti itu?!" protes Tika dengan pandangan sengit.


"Teriakan kamu mengalihkan duniaku," sahut Arlan.


"Aku antar kamu pulang," ucap Arlan.


"Tidak terima kasih!" ketus Tika.


"Tidak ada penolakan," sanggah Arlan melangkah ke nakas samping televisi lalu mengambil kunci mobil.


"Ayo!" titah Arlan.


Namun Tika masih berdiam diri di kursi.


"Atau...kamu menginap saja di kamar_," iseng Arlan.


"Tidak! Aku pulang!" jawab Tika dengan cepat memotong kalimat yang sengaja tidak dilanjutkan Arlan.


"Motor aku?" keluh Tika setelah berada di halaman rumah.


"Sudah tinggal saja, besok biar Nesya yang pakai ke kantor," terang Arlan.


Arlan membukakan pintu mobil samping kemudi.


"Aku sopir tuan Panji, bukan sopir kamu. Jadi, duduklah di depan!" titah Arlan dan mau tidak mau Tika turun dari jok belakang dan masuk ke jok depan.


Ada senyum di wajah Arlan ketika pintu mobil samping kemudi dia tutup setelah Tika duduk di dalam.


Minta lanjut cerita Arlan dan Tika?


malam menyapa🤗 jangan lupa like hadiah vote komen komen komen komen loh 😁😁


jangan khawatir insyaallah Panji dan Anisa akan menyapa nanti sore atau siang hari ya...?

__ADS_1


__ADS_2