
"Sudah berapa lama kamu tidak bertegur sapa denganku secara intensif Panji?" tanya batin Tiwi pada dirinya.
"Sebelumnya, walaupun aku sudah memutuskan untuk memilih mengakhiri hubungan denganmu tapi kamu selalu mengobrol dengan ku bahkan kamu selalu mengucapkan kita masih bersama, kita akan baik-baik saja, sabarlah aku akan menyelesaikan semuanya, tunggu aku pastikan kita akan bersama kembali. Hah! Tapi semua hanya omongan belaka dan aku pun akan berusaha mengikhlaskan semua." keluh batin Tiwi.
"Jujur, untuk melupakan mu seutuhnya itu tidak mungkin atau mungkin aku belum bisa," lanjut batin Tiwi.
"Non! Non Tiwi!" seru Arlan dan itu membuat Tiwi terbangun dari lamunannya.
"Pagi hari sudah nglamun!" singgung Arlan.
Tiwi membalas dengan senyum.
"Pasti memikirkan Tuan Panji!" tebak Arlan dan lagi hanya dibalas senyum oleh Tiwi.
"Dia apa kabar Ar?" tanya Tiwi karena sudah 2 bulan lebih dia tidak berkomunikasi dengan Panji dan Tiwi tahu dari Arlan kalau Panji selama 2 bulan ini sibuk menangani kerjaan almarhum oma Sartika.
Sesekali memang Panji ke SPBU pusat. Namun hanya sebentar dan entah kebetulan atau memang sudah jalan dari Sang Kuasa. Setiap Panji berkunjung ke sana tidak bertemu dengan Tiwi.
"Baik! Non merindukannya?"
Tiwi menundukkan kepala dan menampilkan senyum sekilas.
"Kalaupun aku merindukannya, apa artinya!" ucap Tiwi.
"Kalau ternyata tuan juga merindukan Non?"
"Tidak mungkin! Kalau dia rindu, dia pasti akan menemui ku!" elak Tiwi.
"Non tidak tahu, setiap pulang kerja kalau lewat daerah Non Tiwi, pasti tuan Panji akan lewat depan rumah Non," batin Arlan.
"Kalau boleh aku menilai, selama 2 bulan ini tuan Panji memang sibuk dengan pekerjaan tapi dibalik itu, dia juga berusaha untuk menetralkan hatinya. Membiarkan hatinya memilih kemana arah hatinya berlabuh! Itu pendapat ku!" batin Arlan dan tidak berani dia utarakan ke Tiwi takutnya dugaannya ternyata salah.
"Sudahlah! Kamu masuk saja ke ruangan! Aku akan melanjutkan pekerjaan ku!" titah Tiwi.
"Baik Non," jawab Arlan kemudian melangkah ke ruang kerja tuannya. Sudah 2 bulan lebih memang Arlan yang lebih sering memantau di SPBU pusat.
Tok
tok
tok.
"Masuk!" seru Arlan matanya kini beralih ke orang yang baru masuk ke ruangan.
"Ada apa Non?" tanya Arlan melihat Tiwi begitu panik.
"Bapak, bapak tadi jatuh. Aku mau izin pulang," pamit Tiwi.
"Loh, kok bisa jatuh? Pak lek Non tidak di situ?"
"Dia sedang ke toilet, terus bapak mencoba jalan sendiri dari tempat dia berjemur," ucap Tiwi dengan wajah panik.
"Biar aku antar," tawar Arlan.
__ADS_1
"Tidak perlu? Aku bisa pulang sendiri."
"Bagaimana bisa kamu sedang panik seperti ini nyetir sendiri!" sanggah Arlan kemudian jalan keluar ruangan terlebih dahulu dan Tiwi mengekor langkah Arlan.
"Mana kuncinya?" tanya Arlan.
Tiwi memberi kunci mobilnya walau ragu. Mereka pun segera pergi.
Namun, sepersekian detik ketika mereka pergi, Panji datang dan membuat Panji bertanya-tanya karena Panji melihat Arlan dan Tiwi tergesa-gesa pergi.
Panji langsung mengirim pesan ke Arlan.
Ada perlu apa kamu pergi dengan Tiwi di jam kerja
Satu pesan Panji kirim.
Panji segera mengecek kebersihan SPBU hingga pelayanan operator BBM. Setelah selesai dicek satu persatu, Panji kemudian melangkah ke ruang kantor.
"Pak, Mbak Tiwi nya tidak ada?" tanya seorang OB.
Langkah Panji dia pelankan mendengar interaksi OB dengan supervisor BBM.
"Oh... Tadi mbak Tiwi pesan, makanan itu kasihkan ke saya saja karena mbak Tiwi izin pulang."
"Izin pulang? Emang kenapa Pak?" tanya OB penasaran.
"Kamu kepo!" tukas supervisor BBM.
Panji melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga dia sampai di rumah Tiwi lebih cepat dari waktu yang biasa menjadi waktu tempuh.
Dia memarkir mobilnya dan segera masuk ke rumah Tiwi.
"Tuan?" heran Arlan melihat tuannya tiba-tiba ada di rumah Tiwi.
Panji menatap Tiwi yang sedang membalur kaki bapak Rozak dengan minyak urut. Ada luka memar di kaki itu.
"Nak Panji!" panggil bapak Rozak begitu melihat lelaki yang tengah berdiri di belakang Tiwi.
Tiwi langsung menoleh ke arah belakang dan benar lelaki yang dipanggil oleh bapaknya adalah Panji lelaki yang tadi pagi sempat menjadi bahan pembicaraannya.
"Duduklah di sini," bapak Rozak menunjuk kursi yang ada di samping ranjang.
Panji menuruti titah bapak Rozak. Pantatnya segera dia dudukkan di kursi itu.
"Lama kamu tidak main kesini Nak," ujar bapak Rozak.
"Maaf Pak," jawab Panji.
"Bapak kenapa?" tanya Panji kemudian.
"Tidak apa-apa, cuma tadi Bapak ingin jalan sendiri tapi ternyata Bapak malah jatuh. Kamu kok bisa ke sini? Pasti ingin bertemu dengan Tiwi?"
Panji hanya mengulas senyum.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya bawa ke rumah sakit saja Wi?" tawar Panji pada Tiwi.
"Tidak apa-apa, Bapak sangat bosen kalau harus masuk rumah sakit lagi!" sela bapak Rozak.
"Ke rumah sakit lagi? Bapak masuk rumah sakit?" penasaran Panji. "Kapan Pak? terakhir kita bertemu sepertinya Bapak baik-baik saja?" cecar Panji.
"Tidak lama setelah Pak Panji menemui Bapak," jawab Tiwi.
"Bapak setelah itu masuk rumah sakit sampai 2x dan terakhir Bapak harus memakai kursi roda karena kaki bapak mati sebelah." ucap bapak Rozak.
"Ini sudah mending, tadinya mas Rozak tubuhnya mati sebelah. Dari mulut sampai kaki tapi ini sudah Alhamdulillah, mulut dan tangan sudah membaik tapi kakinya yang masih kaku." terang Pak Lek.
"Bapak siapa?" tanya Panji pada lelaki paruh baya yang ikut menjawab pertanyaannya.
"Saya pak lek nya Tiwi, saya yang selama ini diminta tolong Tiwi untuk merawat bapaknya karena Tiwi harus kerja."
"Sebegitu parahkah keadaan bapak Rozak?" batin Panji.
"Bagaimana dengan kamu Wi? Bagaimana kamu menghadapi semua ini?" lanjut batin Panji dengan menatap lekat ke arah Tiwi.
"Boleh aku bicara berdua dengan kamu?" pinta Panji dengan mata tetap memandang ke arah Tiwi.
Tanpa menjawab pinta Panji Tiwi langsung keluar kamar.
"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Tiwi pada lelaki yang kini duduk di depannya.
"Mengapa tidak memberitahukan keadaan bapak Rozak?"
"Untuk apa aku beritahukan Anda!" ketus Tiwi.
"Apa untuk menambah luka pada bapak?"
"Sudah 2x bapak menghubungi anda untuk menemuinya tapi anda selalu menolak dengan alasan sibuk! Memang anda sibuk tapi setidaknya beri sedikit saja waktu karena bagaimanapun bapak pernah dekat dengan Anda!" ucap Tiwi dengan nada yang semakin meninggi karena emosi.
"Aku tahu! Aku dan bapak sekarang bukan apa-apa bagi Anda!" lanjut Tiwi dan kini terlihat air mata mengalir di pipinya.
Panji terdiam ditatap lekat wanita yang dengan cepat menghapus jejak air matanya kemudian mengempaskan napasnya dengan kasar dan dia bangkit dari duduknya.
"Aku minta Anda...,"
Belum selesai Tiwi bicara mulutnya tercekat membisu karena ada tubuh Panji memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku," lirih Panji sontak membuat Tiwi kembali mengalirkan air matanya dan suara sesenggukan terdengar oleh Panji dari wanita yang sekarang dalam dekapannya.
Sementara, di butik, Anisa sedang memoto hasil jahitannya. Sebuah jas yang khusus dia jahit untuk lelaki yang mendapat kiriman foto itu.
Bagaimana Kak, bagus kan?!
Pesan itu telah Anisa kirim ke 'ayang beb'.
malam menyapa🤗 sialhkan hujat saja Panji 🤭🙄 author juga pingin plitak tuh palanya🤣.
like, komen, komen, vote, hadiah juga mau 😍🙏
__ADS_1