Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 40


__ADS_3

Siang telah menyapa.


Tadi pagi, bunda Rosmawati, bapak Syamsuddin, dan ibu Maesaroh pamit pulang. Ada tangis haru dari Anisa karena ibunya harus pulang. Maesaroh malah pulang dengan perasaan yang lega karena anaknya diperlakukan dengan baik oleh sang suami. Maesaroh dapat melihat ketulusan sang menantu untuk menyayangi anaknya.


"Bimbing Anisa, ingatkan dia kalau dia dalam jalan yang salah, Anisa anaknya sering ceroboh ingatkan untuk selalu berhati-hati bertindak, dia sebagian nyawa ibu, tolong jaga dia," pesan ibu Maesaroh pada Panji pagi tadi.


Hingga siang ini ucapan ibu Maesaroh masih saja terngiang di otak Panji.


"Dia memang ceroboh," gumam Panji diikuti sebuah senyuman karena otaknya mengingat kecerobohan-kecerobohan yang selama ini Anisa lakukan.


tok


tok


tok


Ketokan pintu terpaksa membuyarkan lamunan Panji.


"Masuk!" seru Panji.


Mata Panji beralih pada wanita yang muncul dari balik pintu. Dia berjalan tanpa senyum menuju meja kerja Panji. Pemandangan yang sudah hampir begitu setelah pernikahannya dengan Anisa terkuak oleh Tiwi.


"Laporan bulan ini Pak," ucap Tiwi kemudian melangkah keluar.


"Wi, duduklah. Berkasnya sekalian aku periksa," pinta Panji.


Tiwi menurut dia duduk di depan meja kerja Panji walaupun dia agak ragu karena sudah merasa cukup sesak hatinya mengingat apa yang menimpanya akhir ini.


"Bagaimana kabar bapak?"


"Pak Panji silahkan periksa dulu laporan itu," protes Tiwi.


Panji tersenyum kecut mendengar Tiwi menyebut namanya dengan sapaan 'Pak' karena biasanya dengan sapaan 'Mas'.


"Aku bukan bapak kamu, jadi jangan panggil aku dengan sapaan itu," sanggah Panji.


"Sekarang saya lebih nyaman dengan sapaan itu," jawab itu.


Panji mengusap kasar rambutnya kemudian menatap lekat wanita yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Apa aku sudah tidak berarti lagi di hatimu?" tanya Panji karena jujur hatinya begitu sakit dengan sikap Tiwi yang semakin cuek dengannya.


"Tanya kan itu pada hati kamu!" balas Tiwi tidak kalah tajam tatapannya dengan suara yang begetar menahan perih yang lama dia pendam.


"Hatiku selalu ada kamu Tiwi," jawab Panji dengan mantap.


"Dan gadis itu? Apa sekarang juga di hati kamu?!"


Deg.


Jantung Panji terpompa secara tidak normal, ritmenya langsung cepat. Pertanyaan yang dilontarkan Tiwi begitu menusuk ke hatinya. Sampai dia mengalihkan pandangannya dan otaknya bekerja keras mencari kebenaran hatinya.


"Apakah benar hatiku sekarang juga ada Anisa?" batin Panji.


"Kenapa diam! Apa pertanyaan ku terlalu memojokkan kamu!" cecar Tiwi.


"Ya, kenapa sulit sekali menjawab itu!" lanjut Tiwi.


"Dia sekarang menjadi tanggung jawab ku karena dia istriku. Aku tidak mungkin mengabaikan dia karena dia juga sedang mengandung. Namun, aku tekankan sekali lagi, aku hanya menjaga amanat dari bunda. Selebihnya tidak ada apa-apa." terang Panji.


Tiwi tersenyum kecut.


"Aku mohon Wi, beri sedikit waktu. Kita sudah menjalin hubungan lama. Dua tahun lebih kita bersama Wi, apa semudah itu kamu melupakannya?"


"Apa Mas? Kamu bilang apa? Semudah itu aku melupakanmu? Pertanyaan macam apa yang Mas lontarkan hah! Seharusnya itu aku lontarkan ke kamu! Kita menjalin hubungan 2 tahun lebih tapi dengan mudahnya kamu melupakanku dengan kedatangan wanita itu yang hanya hadir dalam 2 bulan ini! Itu kenyataanya Mas!" teriak Tiwi dia sudah tidak peduli kalau dia masih di kantor dan bisa di dengar pegawai lain karena emosi Tiwi sudah tidak terbendung lagi.


Tangan Tiwi langsung menyeka air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Dia tidak rela pipinya selalu basah air mata karena masalah ini. Dia mencoba tegar kan diri, menjadi wanita kuat apalagi di depan bapaknya yang sakit-sakitan.


"Itu hanya perkiraan kamu sayang, rasa cintaku padamu tetap sama."


Tiwi mengempaskan napasnya pelan berusaha menetralkan emosinya.


"Aku hanya minta ke kamu Mas, tolong yakinkan bapak bahwa kita benar-benar berpisah." ucap Tiwi tanpa merespon ucapan Panji sebelumnya.


"Pertemuanku terakhir dengan bapak, aku bilang ke bapak kalau aku dengan kamu sedang sedikit masalah dan kamu meminta kita break dulu tapi bapak tetap menyemangati ku untuk memperbaiki hubungan kita," terang Panji.


"Nanti malam silahkan Mas ke rumahku, katakan yang sejujurnya kalau Mas sudah menikah. Insya Allah kesehatan bapak tidak akan berpengaruh karena sebelumnya bapak sudah tahu kita sedang ada masalah," ucap Tiwi dengan mantap.


"Aku ingin semua ini jelas Mas. Waktu terus berjalan, biarlah aku melangkah ke depan , menata masa depan kembali, tentunya tanpa kamu," sambung Tiwi.

__ADS_1


Tiwi mengangkat pantatnya dari kursi. Membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki untuk keluar ruangan. Namun, lingkaran tangan di pinggangnya membuat dia menghentikan langkah itu.


"Jangan pernah katakan itu Wi," lirih Panji dengan suara parau karena memang hatinya begitu sakit mendengar ucapan Tiwi. Hatinya sangat tidak rela untuk berpisah dengan wanita yang telah menghiasi hari-harinya dengan cinta selama dua tahun lebih.


Cairan yang terbendung di pelupuk mata Tiwi akhirnya lolos membasahi pipi tanpa tahu diri. Tangan Tiwi tidak langsung menyeka karena rasanya ketika air itu berhasil lolos ke pipi rasanya beban yang dia tanggung sedikit berkurang walaupun setelah itu tetaplah akan sama.


"Maafkan aku sayang," lirih Panji satu kecupan mendarat di bahu Tiwi.


Tiwi diam mematung. Otaknya terus berdebat antara menolak perlakuan Panji dan menerimanya. Namun kali ini otaknya berfungsi secara tidak normal. Pendirian untuk teguh menolak Panji seperti goyah hanya mendengar maaf dari mulut Panji dengan suara parau dan pelukan ini, kecupan ini, sungguh membuat goyah pendirian yang mencoba dia bangun. Ada rasa nyaman ketika pelukan itu makin erat dan beberapa kali kecupan mendarat di bahu.


"Tunggu sebentar saja, aku hanya akan menjaganya sampai dia melahirkan," sambung Panji.


Tangan Tiwi melepas pelukan Panji.


"Aku butuh waktu untuk merenungkan semua ini Mas," lirih Tiwi.


"Terima kasih sayang," ucap Panji.


Tiwi melangkah keluar, tangannya menyapu pipinya agar sisa linangan air mata tidak terlihat membasahi pipinya.


Sekali lagi Tiwi mengempaskan napasnya dengan pelan, menetralkan emosi dan otaknya mengulang apa yang tadi dia ucapkan ke Panji sampai Panji menjawab dengan ucapan terima kasih.


"Dasar wanita tidak berpendirian! Lemah! Mau dibodohi cinta! Mudahnya kamu memaafkan dia hanya karena hatimu memang masih mencintainya! Tidak tahu diri!" batin Tiwi mengolok diri karena terlalu bodoh dan mudah terhanyut perasaannya. Kedua tangannya dia lipat dia tas meja dan wajahnya segera dia tenggelamkan di atas tangan itu.


Tiwi masih menenggelamkan wajah hingga suara yang tak asing dari teman kerja, membuatnya mengangkatkan wajah.


"Kita salat yuk," ajak foreman BBM.


Tiwi mengangguk dan segera bangkit dari kursi duduk.


"Pasrahkan pada Yang Maha Kuasa, meminta jalan yang terbaik," batin Tiwi.


Sementara Panji yang sedang duduk di kursi kerja nampak mengerutkan dahinya membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


Pulangnya tolong belikan aku martabak telor Kak 🙏, awas loh jangan sampai lupa.


Malam menyapa 🤗, like komen loh...vote hadiah juga mau. hari ini double up loh...


nb: semoga besok bisa up🤭 penyakitnya biasa kambuh, kalau hari ini bisa double up besoknya tidak bisa up🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2