Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 114


__ADS_3

"Anisa!?" teriak Nadira dan langsung memeluk tubuh sahabatnya.


"Kamu ke KL tidak memberi kabar dulu," ucap Nadira lalu melepas pelukannya. Raut Nadira penuh dengan kebahagiaan.


Tiba-tiba Nadira terdiam, dia baru menyadari kedatangan sahabatnya pasti karena terbongkarnya rahasia kecelakaan yang menimpa Vano.


"Kamu, ke sini karena_"


"Mengunjungi sahabatku yang tega tidak memberi kabar padaku tentang_" cekat Anisa dan mulutnya juga berhenti melanjutkan kalimatnya.


Vano tersenyum mendengar Anisa berhenti bicara malah memandang ke arahnya dengan tatapan iba. "Sudahlah, kalian tidak usah sungkan bicara soal kecelakaan dan kaki yang diamputasi ini," sahut Vano.


Nadira dan Anisa mengangguk pelan.


Nadira menatap bocah yang duduk menggelayut di samping Vano.


"Masya Allah...Tante baru nyadar, kamu juga ikut ya jagoan?" seru Nadira kemudian duduk di samping Vano.


Vano terkekeh karena pinggangnya digelitik oleh Nadira.


"Ih... gantengnya, mau tidak jadi pacar Tante?" tawar Nadira membuat mereka yang mendengarkan melempar sebuah senyum.


"Woi anak kecil jangan jadi korban jomblo kamu," ledek Anisa.


"Ya siapa tahu dia mau," jawab Nadira dengan senyuman.


"Makanya, kalau ada yang naksir kamu buruan tuh diterima cintanya, keburu dia ilfill sama kamu karena menunggu terlalu lama jawaban cinta kamu," canda Anisa.


"Terus saja ledekin aku!"


"Kak Panji, kenalkan sama teman bisnis Kakak yang tajir, soleh, baik hati, siapa tahu nanti kepincut dengan aku," ucap Nadira.


"Bener mau? Aku ada loh beberapa stok model begitu," sambung Panji.


"Noh, ada stok Nad, gercep!" sela Anisa.


"Nadira sepertinya sudah kepincut dengan orang KL," sela Vano.


"Oya, siapa Van?" antusias Anisa.


Vano hanya tersenyum sambil melirik ke arah Nadira yang tampak menundukkan kepalanya.


Anisa menatap ke arah Vano dan Nadira dengan curiga, pasalnya mereka terlihat menyembunyikan sesuatu.


"Bunda, ayo main!" rengek Nevan.


"Mulai tidak betah ini bocah, merasa dikacangin," ucap Anisa melihat Nevan turun dari kursi samping Vano dan menarik tangan Anisa.


"Kita ajak main di taman saja Nis," ajak Nadira lalu bangkit melangkah ke arah Nevan.


"Ayuk, biar Vano yang menemani Kak Panji," sahut Anisa lalu mengekor Nadira dan Nevan yang sudah jalan terlebih dahulu.


Dua lelaki duduk bersama. Sama-sama menaruh hati pada seorang wanita. Satu sekarang menjadi suaminya dan satunya sedang berjuang melupakan wanita tersebut.


Lama mereka diam, sesekali sambil menyesap teh buatan Mbok Darmi.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin pulang ke Indonesia?" tanya Panji mengurai kebekuan di antara mereka.


Vano tampak menarik sudut bibirnya, "Aku rasa aku tidak akan kembali ke Indonesia."


Sejenak mereka terdiam kembali.


"Meskipun orang tua kamu yang meminta?" lontar Panji.


Vano terdiam. Mengambil gelas lalu menyesap tehnya kembali.


"Mungkin," jawab Vano membentuk sebuah jawaban yang ambigu.


"Jujur, aku tidak ingin kembali ke Indonesia karena aku tidak ingin mendapat iba dari Anisa setelah melihat kondisiku seperti ini, aku hanya ingin terlihat sempurna di matanya. Selain itu, aku juga tidak ingin mengingat siapa Anisa, sampai aku benar-benar melupakannya, mungkin aku baru berkunjung ke Indonesia," terang Vano.


"Kamu begitu cinta dengan Anisa, apa kamu tidak takut kalau cinta kamu yang terlalu over ini mengakibatkan hal buruk pada Anisa?"


"Maksud kamu?"


"Semisal sebuah teror untuk Anisa?" jawab Panji.


"Teror_"


"Apa kamu tahu tentang teror itu?" cekat Panji.


"Anisa mendapat teror?" tanya Vano dengan penasaran.


"Setelah menikah denganku, beberapa kali dia mendapat teror."


'Jangan-jangan... itu_' batin Vano berkata namun tercekat mendengar Panji melayangkan tanya.


"Kamu mencurigai siapa?" Vano melempar balik dengan tanya.


Panji menarik sudut bibirnya, "keluarga kamu," jawab Panji lalu melirik menatap reaksi Vano.


"Keluarga di Indonesia baru tahu aku kecelakaan setelah satu bulan kecelakaan," ucap Vano lalu mengempaskan napasnya dengan kasar.


"Mbak Sella memang sempat mengumpat kekesalannya pada Anisa yang lebih memilih kamu padahal kata Mbak Sella aku sudah berjuang terlalu banyak untuknya tapi aku rasa Mbak Sella tidak mungkin berbuat nekat," sambung Vano.


Panji terdiam mencerna apa yang dilontarkan oleh Vano.


"Sella masih menetap di Indonesia?"


Vano mengangguk.


'Itu artinya, kecurigaanku yang mengarah pada Sella kakak Vano kemungkinan benar,' batin panji.


"Ayah, Om Vano, ayo main bareng di taman," ajak Nevan menarik tangan Panji.


"Kan sudah ada bunda dan Tante Nadira," elak Panji.


"Bunda dan Tante Nadira tidak menyenangkan, mereka malah ngobrol sendiri," ujar Nevan.


"Kebiasaan! Kalau bertemu teman lama sampai lupa waktu dan sekarang lupa anak," ujar Vano.


"Ayo Om temani ke taman," seru Vano, mengambil kruknya lalu melangkah jalan dengan satu kaki yang tersisa.

__ADS_1


Panji yang tadi sigap akan membantu Vano untuk berdiri ditolak oleh Vano.


Mereka akhirnya duduk di taman rumah. Menikmati semilir angin siang hari di bawah pohon yang rindang. Kemudian menikmati makan siang di luar ruangan dengan view taman rumah yang asri.


Selesai itu mereka salat berjamaah.


"Waktunya Nevan istirakhat, kita ke hotel dulu ya," ucap Panji.


"Kenapa tidak nginap di sini saja?" tawar Vano.


"Aku sudah pesan hotel, lain waktu kalau ke KL aku ambil yang gratisan saja," canda Panji membuat Vano tersenyum.


Seusai pamit Panji, Anisa, dan Vano segera pergi ke hotel yang sudah Panji pesan.


Nevan terlihat tertidur hingga Panji harus menggendongnya ke kamar hotel.


Anisa melepas sepatu yang dikenakan Nevan lalu menatap pada Panji yang sedang berdiri mematung memandang view taman dari balik jendela besar kamar.


Anisa mendekat, tangannya dilingkarkan pada pinggang Panji lalu tubuhnya menghambur melekat di punggung Panji.


Panji diam membelai tangan istri yang nampak di perutnya.


"Kakak memikirkan apa?" tanya Anisa.


Panji tersenyum, "memikirkan seorang yang ada di belakangku," jawab Panji.


Anisa langsung melepas pelukannya dan berpindah berdiri di depan Panji.


"Tidak ada yang dibelakang kamu sayang," ucap Anisa sedikit berjinjit menyentuh rahang sang suami.


Panji tersenyum dengan tingkah Anisa dan tangannya segera mengangkat tubuh mungil sang istri hingga dua kaki Anisa melingkar di pinggangnya.


Anisa tersenyum, dia semakin mudah membelai rahang sang suami, "kalau aku digendong depan seperti ini, aku suka usil loh Kak," bisik Anisa.


"Itu tujuanku, memberi akses untuk keusilan kamu," jawab Panji dengan senyum yang terlihat di wajahnya.


Anisa langsung membungkam senyum itu dengan bib*rnya lalu lekas melepas pagutan itu.


Anisa tersenyum menatap wajah suaminya, kembali mengusap rahang Panji. Namun, kali ini tanpa ampun Panji mengakses benda yang tadi membungkamnya hingga perlawanan demi perlawanan mereka lakukan dan berakhir di sofa dekat jendela dengan peluh yang mengucur dari tubuh mereka.


"Terima kasih sayang," ucap Panji melihat Anisa yang terlihat kelelahan setelah pergulatan panjang dan berakhir dengan kemenangan yang sama.


"Hmmm," dengung Anisa tetap tidak bergeming dari pelukan Panji.


Desiran napas teratur terdengar dari wanita yang menyandarkan kepala di dadanya.


Panji mengambil ponselnya yang ada di meja dekat sofa.


Nomor kontak yang dia hubungi berhasil terhubung.


"Malam ini ajak Tika ke KL. Tiket langsung kamu pesan," ucap Panji.


"Tidak ada penolakan, segera beritahu Tika dan suruh dia pulang untuk berkemas-kemas. Satu minggu kita stay di KL!" titah Panji, "assalamualaikum," pamitnya lalu menutup sambungan itu.


malam menyapa 🤗 like komen komen vote hadiah rate juga 🙏😍🥰 yuk nyusul mereka ke KL. readers di sini ada yg sedang di Malaysia, tolong samperin mereka🤭kalau gag salah kak Nur 🙏

__ADS_1


setiap hari insya Allah aku up date Anisa Sang Pendosa dan janda daster bolong. Jadi yang belum mampir di novel janda daster bolong yuk mampir 🙏 ceritanya dijamin seru😍🥰


__ADS_2