
"Kenapa ngeyel tetap ke butik!" geram Panji pada Anisa.
"Aku sudah sembuh Kak," sanggah Anisa.
"Gadis ingusan! Kalaupun kamu sembuh tapi kandungan kamu kan sudah besar!" kekeh Panji.
"Aku sedang hamil Kak bukan sedang sakit! Sudah ah! Aku berangkat dengan pak Faruk saja," ketus Anisa menghentikan langkahnya ke parkir mobil.
"Eeee...apa yang Kakak lakuin!" seru Anisa karena dirinya di rangkul paksa oleh Panji dan terpaksa kakinya melangkah mengikuti langkah kaki Panji.
"Masuk!" titah Panji setelah membuka pintu mobil.
"Issst!" cibir Anisa dengan memanyunkan bibirnya sebagai bentuk protes.
"Kondisikan bibir kamu! Jangan sampai aku khilaf," ledek Panji dan Anisa langsung membungkam mulut dengan tangannya.
Panji tersenyum menang melihat reaksi Anisa. Dia memutar kakinya untuk duduk di kursi penumpang.
"Arlan ke butik," pinta Panji.
"Ya Tuan," jawab Arlan.
Arlan kemudian melajukan mobilnya. Setelah membelah jalanan kota yang sering macet karena padatnya kendaraan, untungnya mereka pergi dari rumah jam 08.00 waktu yang tidak begitu padat karena harus bebarengan dengan anak sekolah atau pun orang kantoran, cukup 20 menit mereka sudah sampai di butik.
"Terima kasih Kak," ucap Anisa begitu pintu mobil itu dibukakan Panji.
"Masuklah!" titah Panji karena Anisa masih berdiri menunggu mobil jalan.
"Aku masuk dulu Kak, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam."
"Kamu ke SPBU pusat Ar," ucap Panji kemudian keluar dari mobil.
Arlan menatap tajam ke arah tuannya.
"Apa! Kamu mau ulang lagi peristiwa penonjokkan itu!" ledek Panji melihat asistennya malah mengarahkan pandangannya ke butik kemudian ke wajah tuannya.
"Boleh juga Tuan," jawab Arlan terkekeh kemudian langsung tancap gas takut tuannya akan membalas tindakannya waktu itu.
"Dasar asisten kurang ajar! Tapi thanks Arlan, kamu selalu mengingatkan ketika aku dalam salah langkah. Aku memang harus ambil sikap dan akan aku mulai dari sekarang!" gumam batin Panji dengan senyum mengembang di wajahnya. Kakinya pun melangkah masuk ke butik.
Matanya mengedar mencari sesosok Anisa tapi tidak dia dapati kemudian dia melangkah ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Panji berdiri mematung di ambang pintu, menatap lekat gadis yang sedang duduk di kursi kerja. Ada desiran aneh ketika menatap Anisa mengapit pensil di mulutnya, dia langsung teringat dimana bibir dirinya pernah berada di posisi pensil itu. Tangan Anisa mengambil pensil itu kemudian menggerakkannya di atas kertas.
Kaki Panji melangkah dengan pelan mendekat ke arah Anisa, menatap gambar yang dibuat Anisa, "Baju untuk anak kita?" lirih Panji di telinga Anisa.
Anisa yang sangat terkejut dengan bisikan di telinganya langsung menolehkan kepala ke sumber suara tapi...
Anisa dan Panji terbungkam, membeku. Posisi pensil itu tergantikan oleh bib*r Panji. Gerakan refleks Anisa benar-benar membuatnya merasakan kembali benda yang sebenarnya sudah halal untuknya.
"Maaf Kak," ucap Anisa kemudian bersikap seperti semula, pura-pura menggambar. Namun hatinya sudah tidak karuan. Debaran jantung yang tidak normal.
Panji tersenyum kecil. Bersikap sebiasa mungkin walaupun dia merasakan desiran tubuhnya semakin aneh. Ritme jantungnya berdetak tidak normal. Kakinya melangkah ke kursi yang ada di depan meja kerja Anisa.
Anisa sesekali melirik ke arah Panji. Dia tidak tahu harus mengurai kecanggungannya dengan apa. Matanya kembali fokus ke gambar yang dia buat walaupun hati dan pikirannya tentu sudah tidak terfokus ke arah itu.
Panji sengaja diam menyaksikan kecanggungan dari gadis yang ada di depannya. Sesekali tersenyum dan dengan santai menyandarkan kepalanya di kursi, kursinya dia gerakkan mengikuti alunan tubuhnya.
"Kamu tidak ingin buka suara?" pancing Panji.
"Apa yang harus aku katakan!" ketus Anisa.
"Misal kamu kaget, kenapa aku masih di sini?" ucap Panji.
"Sudah kaget! Bahkan sangat kaget karena tadi..." Anisa langsung menghentikan ucapannya.
"Lupakan!" seru Anisa.
Panji hanya tersenyum menanggapi ucapan Anisa.
"Assalamualaikum,"
Suara salam mengalihkan pembicaraan Anisa dan Panji, mereka menoleh ke pintu yang terbuka.
"Tika...!" sorak Anisa langsung menghambur ke sahabatnya.
"Hai Vano," sapa Anisa setelah melepas pelukan Tika dan mendapati Vano di belakang Tika.
"Hai cantik," balas Vano, entah sengaja atau tidak tapi setelah melihat ruang itu ternyata ada sosok laki-laki yang menyebalkan, mulut Vano refleks menyapa Anisa seperti itu.
Panji tersenyum kecut mendengar sapaan dari mulut Vano.
"Bocah tengil itu benar-benar mencari masalah!" geram batin Panji, tangannya mengepal.
"Ayo duduk," ajak Anisa, mereka menurut duduk di sofa.
__ADS_1
Tika baru menyadari ada suami Anisa di ruang itu.
"Om," sapa Tika dengan menampakkan senyum.
Panji tidak membalas sapa maupun senyum Tika.
"Issst! Pantesan Anisa menyebutnya manusia robot!" batin Tika.
Anisa memandang sengit ke arah Panji karena dia tidak membalas sapa dari sahabatnya.
"Maaf om Panji sedang sakit gigi jadi dia sulit buka mulut," sindir Anisa dengan mata melirik ke Panji menunggu reaksi dari laki-laki yang dipanggil om oleh Tika.
"Bukan seperti itu, aku hanya merasa aneh saja, kamu memanggil om pada siapa? Di sini tidak ada om-om," ujar Panji, melangkah lalu mendudukkan pantatnya di samping Anisa.
Anisa terpaksa menggeser pantat karena merasa sesak dengan duduknya Panji di sampingnya, Tika juga ikut geser.
Anisa menatap tajam ke arah Panji merasa kesal dengannya. Apalagi sekarang gayanya yang sok romantis dengan melingkarkan tangannya di bahu Anisa dan sedikit menarik tubuh Anisa agar bersandar di lengannya.
"Aku rasa, kita belum berkenalan secara resmi. Aku Panji Darmawan, suami Anisa," ucap Panji dengan menekankan kata suami Anisa.
"Vano, sahabat dekat Anisa," balas Vano dengan membalas uluran tangan Panji dan tidak lupa menekankan kata 'dekat' dalam kalimat yang dia lontarkan.
Panji tersenyum atau tepatnya berpura-pura senyum mendengar ucapan Vano.
Tika? Ya Tika hanya celingukan karena merasa tidak dianggap ada, tangannya yang akan mengulur dia urungkan karena manusia robot itu nampak tidak ada niatan untuk memperkenalkan diri.
"Aku sudah tahu, nama kamu Tika, sahabat dekat Anisa," ucap Panji dan ucapan itu tertuju pada Tika sekaligus sebagai sindiran ke Vano dengan menekankan kata 'dekat' pula.
Anisa dan Tika menatap bergantian dua lelaki yang ada di di samping mereka, mata mereka seperti mengeluarkan kilatan api dengan masih saling bersitatap tajam.
Anisa menelan salivanya dengan susah.
"Apa akan ada perang dunia ke-4?" bisik Tika di telinga Anisa.
"Perang dunia ke-3 nya apa?" balas Anisa dengan berbisik pula.
"Setiap hari di rumah kamu bukannya terjadi perang dunia ke-3!" celetuk Tika diikuti tawa yang dia bungkam.
"Kita lihat saja perang mereka!" lanjut Tika.
Anisa langsung mencubit paha temannya agar dia diam.
"Auw!" pekik Tika.
__ADS_1
Sore menyapa 🤗like, komen komen vote hadiah. Terima kasih masih setia dengan novel ini. lope lope buat kalian ❤️❤️❤️❤️