Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 83


__ADS_3

'Inikah suratan Allah yang harus kutempuh?' monolog batin Panji dengan wajah yang masih menampakkan senyum dan tatapan mata yang masih terarah pada wanita yang ada di depannya.


"Mau nambah?" tawar Panji melihat makanan dan minuman Anisa sudah habis dan tentu punya dirinya pun sudah habis.


"Nambah kesal kalau lama-lama dengan kamu!" umpat Anisa semakin memanyunkan bibirnya. Berbanding terbalik, Panji semakin melebarkan senyumnya melihat reaksi Anisa.


"Aku antar kamu pulang, hampir Magrib," ucap Panji.


"Aku bisa pulang sendiri!" sahut Anisa melangkah keluar cafe dan segera membuka aplikasi pemesanan taksi on line.


'Apa-apaan ini! Mengapa aku lupa ngisi baterai?!' gerutu batin Anisa, menatap tidak percaya ponsel yang dipegangnya tidak dapat dibuka.


"Masuklah," tawar Panji menghentikan mobil dan membuka kaca jendela.


Terpaksa Anisa masuk ke dalam mobil. Panji menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman singkat.


Anisa sesekali melirik ke arah lelaki yang memegang kemudi. Ada hal yang terlihat berbeda darinya. Tubuhnya terlihat mengurus ada bulu-bulu halus yang dibiarkan tumbuh di rahang hingga dagunya.


"Ke arah mana?"


"Hotel XXX."


"Diantara hotel yang lain, hotel itulah yang paling dekat dengan rumahku, benarkah itu?"


"Mungkin!" sahut Anisa dengan singkat dan tanpa menolehkan pandangannya ke arah Panji.


Panji tersenyum kembali. Mengarahkan pandangan ke depan, fokusnya ke jalan.


Dua puluh menit mereka sampai di hotel XXX, Anisa segera turun dari mobil tanpa menunggu Panji membukakan pintu mobil itu.


"Sudah Kakak pulang, ngapain juga ikut turun?!" protes Anisa melihat Panji mengekor di belakangnya.


"Memastikan calon istriku selamat sampai tempat," celetuk Panji diikuti senyum.


"Issst!" Anisa terlihat kesal sudah mengepalkan tangan dan membalikkan tubuh akan melayangkan kepalan itu tapi hanya sebatas akan.


Panji tidak hanya tersenyum dengan tingkah Anisa tapi kali ini terkekeh hingga tanpa dia sadari setelah menuntaskan tawa, tangannya akan mengusap pucuk kepala Anisa. Namun, segera Panji urungkan, ingat status.


Anisa segera membalikkan tubuh melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam lift.


Ting.


Lift terbuka, Anisa keluar dan melangkah menuju kamarnya.


"Tidak usah ikut masuk!" cekat Anisa setelah membuka pintu kamar, dia masuk dan segera menutup pintu kamar itu.


Panji tersenyum, masih mematung di depan pintu kamar.


"Assalamualaikum Anisa," lirih Panji, dia tidak menunggu Anisa membalas salam itu karena dia tahu Anisa tidak mungkin mendengarnya. Kaki Panji memutar lalu melangkah pergi.


Sepuluh menit keluar dari hotel. Panji masih di tengah perjalanan, dia mengarahkan mobilnya menuju masjid karena matahari sudah terbenam dan senja terlihat menghias di langit sana. Tidak selang beberapa lama setelah senja itu berganti gelap menyelimuti langit, suara azan Maghrib sautan berkumandang dari masing-masing toa masjid maupun musola.

__ADS_1


"Alhamdulillah," lirih Panji begitu mendengar bedug masjid di tabuh sebagai pertanda telah masuk waktu salat. Dia sudah duduk di teras masjid. Matanya menengadah ke langit, mengempaskan napasnya perlahan. telinganya khusuk mendengar azan berkumandang dan hatinya menyahuti setiap lafal azan yang dikumandangkan muazin. Sebuah doa Panji panjatkan setelah azan itu berakhir, dan ada doa yang menggetarkan hati.


'Ya Allah, aku yang banyak dosa dan salah ini memohon pada-Mu, jika Engkan yang memberi jalan untukku sehingga dipertemukan kembali dengannya, maka mudahkanlah langkahku, beri kami jalan yang Engkau ridhoi, Tumbuhkanlah rasa yang sempat aku pendam,' batin Panji lalu kakinya melangkah ke tempat wudu.


Orang-orang mulai memenuhi sof dalam salat. Berjajar dengan rapi setelah mendengar iqomah. Panji yang sudah mengambil air wudu dan duduk di sof 2 juga bangun dan merapikan barisannya. Tiga rakaat dijalankan, dua salam mengakhiri kewajiban mereka. Panji bangkit dari barisan setelah zikir berakhir.


Dia mengemudikan kembali mobilnya, berjalan menuju rumah seorang guru sekaligus sahabat.


Sampailah dia di rumah yang setiap minggu dia kunjungi untuk menghadiri kajian Islam.


Dia disambut seorang lelaki paruh baya yang bekerja di rumah itu, kemudian tidak lama setelah itu muncullah sesosok orang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Panji, membalas tos dari ustadz Mirza.


"Sehat Ji?"


"Alhamdulillah sehat Ustadz, maaf nih magrib-magrib bertamu."


"Kebetulan sudah selesai mengaji dengan anak-anak dan istri, ada apa ini, sepertinya ada hal penting?" tanya ustadz Mirza melihat wajah Panji yang terlihat tegang.


"Apa terlihat Ustadz?" tanya balik Panji.


Ustadz Mirza tersenyum mengangguk.


"Ustadz itu loh tahu aja. Emmm...begini Ustadz, aku mau sedikit curhat."


"Curhat masalah wanita?" tebak ustadz Mirza.


"Menarik ini, sepertinya ada seorang wanita yang berhasil merobohkan tembok hati sang bos," ledek ustadz Mirza.


"Bagus itu, menyambung tali silaturahmi dengan rujuk sama istri, apalagi ada Nevan di antara kalian," sambung ustadz Mirza.


"Masalahnya tidak semudah itu ustadz. Aku dan Anisa belum cerai secara negara hanya melalui lisan."


"Lebih mudah itu, besok langsung aku nikahkan, tinggal panggil walinya Anisa saja," cekat ustadz Mirza.


"Aku dan Anisa tidak pernah bilang ke orang tua Anisa, kalau kita sudah bercerai. Satu hal lagi, lebih dari penting yang akan aku tanyakan ke ustadz. Kalau menikah sebatas tujuan untuk mengambil hak anak bolehkah?"


"Apapun alasannya, menikah adalah hal sakral yang disaksikan Allah, jadi jalankan sesuai dengan syariat Allah."


"Jujur Ustadz, dulu ketika menikah dengan Anisa aku hanya ada niatan untuk memenuhi keinginan bunda karena waktu itu ada insiden yang mengakibatkan Anisa dan almarhum adik aku melakukan hubungan suami istri. Mereka akan menikah tapi takdir berkata lain, adikku meninggal dunia dan Anisa diketahui tengah hamil. Aku jalani semuanya, tapi di sisi lain aku juga masih menjalin hubungan dengan kekasihku." Panji mengempaskan napasnya.


"Bulan demi bulan kita menjalin ikatan pernikahan, hingga 6 bulan lebih. Aku mulai menyadari ada yang beda pada perasaanku, aku mulai merindukan dia kalau dia tidak di sisiku, aku mulai merasakan cemburu kalau dia bersama laki-laki lain, dan ada candu dalam tawa maupun tingkahnya. Semua yang ada pada dia berbeda, tapi di sisi lain, aku juga ada rasa bahkan meninggalkan bekas luka pada orang yang mengisi hatiku sebelumnya." Panji menjeda kalimatnya, menatap ke arah ustadz Mirza.


"Lanjutkan," ustadz Mirza.


"Mungkin saat itu aku dilema dengan perasaanku tapi ketika kumantapkan untuk mengikuti kata hatiku, tiba-tiba Tiwi sakit kanker bahkan keadaannya semakin memburuk, diagnosa stadium 3 saat itu mungkin salah, karena dengan cepat kanker menyebar ke anggota tubuh yang lain. Aku lebih memilih Tiwi dan menceraikan Anisa." Panji meraup wajahnya.


"Kamu menyesal dengan langkah kamu?"

__ADS_1


Panji terdiam mendengar tanya ustadz Mirza lalu menggeleng pelan.


"Semua sudah terjadi Ustadz. Aku dapat menemani, merawat Tiwi hingga ajal menjemputnya, dan Anisa... sekarang dia menyandang gelar sarjana dan karirnya semakin bagus."


"Itu artinya kamu mengabaikan perasaan kamu yang sebenarnya dan lebih memilih wanita yang bukan apa-apanya kamu?"


"Dulu aku belum mengenal agama Ustadz. Jadi, saat itu Tiwi tetap kupandang sebagai kekasih."


Ustadz Mirza mengangguk, "Apa kamu tahu perasaan Anisa?"


Panji menggeleng diikuti sebuah senyum.


"Kamu pernah menanyakan secara langsung perasaannya?" ustadz Mirza menekankan kalimatnya.


"Maksud Ustadz?" Panji terkejut.


Ustadz Mirza terkekeh melihat ekspresi Panji.


"Dulu istriku ketika menikah denganku juga tidak mencintaiku."


"Benar itu Ustadz?"


Ustadz Mirza mengangguk.


"Bagaimana cinta, yang menyebabkan dia cacat itu aku, dan dia ditolak calon mertuanya karena cacat. Dia pasti sangat benci aku. Namun perlahan-lahan benci itu berganti cinta. Hati manusia tidak ada yang tahu, hari ini benci besok jadi cinta juga bisa karena semua kehendak Allah. La Haula wala Quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan kecuali karena Allah."


"Jadi aku harus bagaimana Ustadz?"


"Bagiamana apa?" pancing ustadz Mirza.


"Menikahi dia tapi_"


"Jangan ada tapi. Tetaplah nikahi dia karena Allah. Insyaallah semuanya dilancarkan. Kejar cinta kamu itu, yakin dia akan menerima kamu?" cekat ustadz Mirza.


"Walaupun kesalahanku tidak pantas dimaafkan?"


"Siapa bilang tidak pantas?" Manusia tempat salah. Asal hati kamu bisa menjamahnya dan merubahnya jadi rasa cinta, yakinlah! Anisa akan memaafkanmu."


Panji tersenyum, "Doakan Ustadz,"


"Aku selalu berdoa untuk kamu Ji."


"Aku pamit pulang. Seharian ini belum bertemu dengan Nevan."


Ustadz Mirza ikut berdiri membalas rangkulan sahabatnya.


"Bravo brother!" seru ustadz Mirza menepuk punggung Panji.


"Terima kasih Ustadz, assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab ustadz Mirza mengiring kepergian Panji.

__ADS_1


'Anisa tunggu aku, aku janji, kali ini tidak akan membuat kamu menangis kecewa.' monolog batin Panji, sepanjang perjalanan senyum menghias wajahnya bahkan sesekali Panji mendendangkan lagu karena ada gairah asmara yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.


Siang menyapa 🤗 like komen komen, vote hadiah🙏maaf baru bisa up karena bener2 sakit itu menyakitkan 😞🤕 mau paksa up date otak gag konek😣terpaksa deh libur.


__ADS_2