Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 101


__ADS_3

"Statistik bulan ini pengunjung naik, kenapa aku masih diomeli!" gerutu Tika sambil menatap tajam ke Arlan.


"Dan adiknya itu yang selalu membuatku susah kenapa dia malah dipekerjakan di sini!" lanjut Tika dan pandangannya beralih ke Nesya adik perempuan Arlan.


"Mbak Tik, nanti ikut aku chek barang di gudang ya," pinta Nesya mendekat ke arah Tika.


"Itu bukan bagianku, minta bantuan sama Mas kamu itu loh," tolak Tika dan mengalihkan ajakan Tika ke Arlan.


"Kamu hari ini tidak terlalu banyak kerjaan, temani saja Nesya. Dia kan pegawai baru," sahut Arlan duduk mengoperasikan laptop di depannya.


Tika mencibirkan bibirnya.


"Punggung mendadak pegel ya," keluh Tika sambil memukul pelan punggungnya.


"Perlu aku pijat?" tawar Arlan sengaja menjahili Tika.


"Nggak! Terima kasih, ini sudah sembuh," sahut Tika tangannya bergerak kembali di atas keyboard.


Arlan tersenyum, kejahilannya sangat tepat membuat gadis itu salah tingkah.


Nesya kegirangan, "berarti kamu mau Mbak?" ujar Nesya, menggelayut manja di bahu Tika.


"Kita seumuran tidak usah panggil mbak, aku berasa jadi tua!" protes Tika.


"Ye... mbak kan mau jadi mbak iparku," ucap Nesya dengan enteng.


Tika hanya mendengus kesal.


"Ayo Mbak," ajak Nesya.


"Siapa juga yang mau jadi kakak ipar kamu!"


"Memang kamu saja yang tidak mau?! Aku juga ogah?" sela Arlan matanya kini beralih pandang ke arah Tika dan Nesya.


Nesya tersenyum menatap penuh pada mata Tika dan Arlan.


"Mulut boleh berbohong tapi mata dan hati akan berkata yang sesungguhnya," ledek Nesya berbisik di telinga Tika kemudian menatap Arlan agar Tika juga ikut menatapnya.


Plok.


"Aduh sakit Mbak!" keluh Nesya mengelus kepalanya karena baru saja mendapatkan timpukkan lembar kertas oleh Tika.


"Itu tindakan kekerasan! Ada pasalnya, kamu bisa dipidanakan," sela Arlan yang masih betah duduk di kursi kerja Nesya.


"Pidana cinta," ledek Nesya.


"Apa sih Nes?! Nggak jelas banget!" ucap Tika dan Arlan bersamaan.


"Cieee...kompak loh! Bener-bener kalian berjodoh," ledek Nesya.


...****************...


"Aku minta Kakak tidak mempersulitku!" sahut Anisa memotong kalimat Panji.


Anisa berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Ayah...," panggil Nevan antusias.

__ADS_1


Panji menoleh ke arah anaknya dan melempar sebuah senyum.


"Nevan mau ikut Bunda jalan-jalan, tapi nanti Ayah cepat nyusul ya," seru Nevan.


Panji mengangguk, jongkok menyejajarkan tubuhnya dengan Nevan.


"Nevan mau jalan-jalan kemana?"


"Ke rumah eyang, nanti eyang juga ikut pergi jalan-jalan jauh," jawab Nevan dengan polos.


Panji nampak menyeka pelupuk matanya yang sudah tergenang cairan bening.


Tubuh bocah itu di raih Panji masuk dalam dekapannya, air mata yang sedari tadi hanya menggenang di pelupuknya kini mengalir.


Panji buru-buru menyeka air mata yang sudah menetes di pipi. Rasanya begitu perih harus berpisah dengan bocah yang sedari bayi bersamanya dan sudah dia anggap sebagai anak kandung. Panji melepas pelukannya kemudian menatap Nevan dengan seksama.


"Anak Ayah, nurut sama Bunda ya. Nanti Ayah akan menyusul kamu dan bunda," ucap Panji.


Nevan mengangguk, "janji!" ujar Nevan menyodorkan kelingkingnya.


Panji menautkan kelingking bocah itu dengan kelingkingnya, lalu kembali meraih tubuh Nevan dalam pelukan.


"Yang penting Nevan nurut dengan bunda," sahut Panji.


Nevan mengangguk.


"Nevan," panggil Anisa.


Nevan melepas pelukan Panji.


"Pak Rohim tolong bawa semua barang ini ke mobil yang ada di depan," titah Anisa pada pak Rohim yang kebetulan lewat.


"Sus, tolong temani Nevan masuk ke dalam mobil," ujar Anisa menyerahkan Nevan pada suster Tia.


Panji masih terdiam. Menyaksikan semua. Namun siapa tahu dengan hatinya yang begitu pilu dan lara.


"Nanti, pengacaraku yang akan mengurus perceraian kita," ucap Anisa pandangannya kemudian menunduk karena tidak berani bersitatap dengan mata Panji yang tanpa lepas menatapnya.


"Kamu tenangkan pikiranmu, nanti aku susul kamu dan Nevan," jawab Panji.


Anisa mengempaskan napasnya kasar, "aku mohon Kak, jangan persulit semuanya. Biarkan aku bahagia tanpa bayang-bayangmu," ucap Anisa.


Panji mendekat ke arah Anisa. Tangan Panji mengelus pucuk kepala Anisa dan entah kenapa Anisa diam terpaku tidak dapat menolak apa yang dilakukan Panji.


"Aku antar ke depan," ujar Panji melangkah terlebih dahulu.


Anisa ikut melangkah mengekor Panji.


"Ayah jangan sibuk kerja, Ayah cepat susul Nevan dan bunda ya," pesan Nevan ketika Panji datang mendekat, bocah itu sudah duduk di jok belakang kemudi.


Panji mengangguk, mencium dahi, kedua pipi, dan pucuk kepala anaknya.


Nevan tanpa perintah langsung memeluk Panji.


"Hei, jagoan Ayah kenapa menangis?" tanya Panji merasa dadanya basah.


"Ayah janji akan susul Nevan dan bunda kan?" ulang Nevan dengan sesenggukan. Nevan seakan merasa ada trauma ditinggal begitu lama, tangannya memegang erat Panji.

__ADS_1


Panji mengangguk kemudian dengan lirih berucap, "Ayah janji," ucap Panji sedikit parau. Dia menahan tangis agar Nevan tidak terlihat semakin sedih.


"Kita harus pergi sayang, lepaskan tangan ayah," ujar Anisa melihat tangan Nevan memegang erat tangan Panji.


Pelan Nevan melepas tangannya. Setelah lepas penuh Panji mengusap air mata Nevan lalu menutup pintu mobil.


"Beri salam Nevan," tuntun Panji.


"Assalamualaikum Yah," lirih Nevan.


"Waalaikum salam," jawab Panji.


Mobil itu bergulir meninggalkan Panji yang berdiri mematung. Seakan kakinya lemas seketika melihat mobil itu hilang dari pandangan matanya.


"Nisa, maafkan aku," gumam Panji.


'Aku tidak mungkin menceraikan kamu Nis, kalau aku menceraikan kamu nanti jatuh talak 3. Aku harap kita saling introspeksi diri, kamu bisa merasakan kalau aku tulus cinta denganmu,' batin Panji tanpa terasa kedua pipinya sudah basah. Tubuhnya bergetar hebat Panji jatuh bersimpuh masih dengan derai air mata.


"Apakah sesakit ini Nis dulu yang kamu rasakan?"lirih Panji.


"Tapi maaf Nis, terserah kamu mau menganggapku lelaki egois! Lelaki tidak berperasaan! lelaki brengs*k! Aku tidak akan menceraikan kamu karena aku akan selalu memperjuangkan cinta kita Nis. Aku akan buktikan kalau aku tulus mencintai kamu." Panji bangkit dari simpuhnya, melangkah masuk ke rumah.


"Perlu aku bantu papah Tuan?" tawar pak Rohim melihat Panji jalan dengan gontai.


Panji mengangkat telapak tangan isyarat tidak perlu pak Rohim membantunya.


Sementara di mobil yang membawa dua penumpang Ibu dan anak, terus melaju memasuki jalanan tol.


"Bunda, kenapa Bunda menangis?" tanya Nevan.


"Bunda hanya kelilipan. Lihat, mana Bunda menangis?" elak Anisa.


"Nevan juga tidak menangis lagi. Ayah kan janji akan susul Nevan dan Bunda," ucap Nevan.


"Nevan, Bunda kan sudah bilang sama Nevan, ayah sibuk jadi lama susul Nevan," ujar Anisa dan jauh hari sudah mendikte hal tersebut pada Nevan.


"Nevan mengerti? Nevan sayang Bunda kan?"


Nevan mengangguk.


"Nevan juga sayang ayah kan?"


Nevan lagi mengangguk.


"Makanya, mulai sekarang Nevan jangan pinta ayah susul Nevan karena ayah masih sibuk kerja," bujuk Anisa.


"Besok kalau Nevan sudah tinggi kayak ayah, Nevan tidak akan sibuk kerja! Nevan akan bersama dengan Bunda dan ayah saja!" sahut bocah itu dengan pemikirannya.


Anisa menarik tubuh bocah itu dalam pelukannya.


'Maafkan bunda sayang, bunda harus egois. Bunda juga punya perasaan yang harus bunda jaga. Terlalu banyak kesalahan yang dilakukan ayah kamu. Bunda tidak bisa kembali pada ayahmu tapi bunda janji, bundar akan buat kamu bahagia walau tanpa ayah,' monolog batin Anisa, suara pekik tangis tercekat di tenggorokan.


malam menyapa 🤗 like hadiah vote komen komen komen komen loh...


Apapun komen kalian itu interpretasi kalian dalam novel yang Kak Mel suguhkan yg terpenting saling menjaga perasaan baik dg author atau dg pembaca lain🙏tapi sejauh ini kalian sungguh hebat👍👍👍selalu dukung dg vote hadiah dan komen. Maaf terkadang kalau mau balas, kak Mel bingung harus balas apa🤭tapi kak Mel baca semua kok komen kalian dan kak Mel usahakan untuk balas maupun kasih tap love.


kalau novel ini up lama, mampir dulu di janda daster bolong, insyaallah setiap hari up dan maaf juga bab sebelumnya si nur nyempil, kagak ngerasa apa ya, badannya yg gempal itu kok nyempil2 dimari, yuk pulang Nur 🤭

__ADS_1


__ADS_2