Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 98


__ADS_3

'Anisa, rudalku makin sesak di sana,' batin Panji.


Panji melihat ada pergerakan pada Anisa, mata Panji langsung dia pejamkan. Anisa menggeliatkan tubuhnya dan kini tersadar kalau dia tidur memeluk Panji bahkan kakinya mengerat di kaki Panji satunya. Perlahan Anisa menurunkan kakinya. Matanya melihat lelaki itu terpejam pulas, Anisa menggeser tubuhnya agak ke atas. Entah ada dorongan yang tiba-tiba menggerakkan tangannya untuk meraba rahang Panji yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Ada senyum di wajah Anisa. Tangannya kemudian berpindah ke bib*r, telunjuknya dan ibu jari menyentuhnya dengan halus.


"Tadi sore kamu yang menodaiku," gerutu Anisa dengan suara khas orang bangun tidur.


"Apa ingin diulang?"


Anisa langsung terkejut mendengar suara dari Panji. Dia menggeser tubuhnya jauh dari Panji dan tidur membelakanginya.


Panji tersenyum dengan gerak refleks Anisa, tangan Panji melingkar di pinggang Anisa dan mendekap erat tubuh yang membelakanginya. Jujur saja, Panji merasa sudah sangat sesak desakan yang di bawah. Dia lelaki normal yang masih bisa merasakan hasr*t.


Mata Anisa membulat, gerakkan tangan yang melingkar di pinggang tak dipungkiri juga membuat hasr*tnya bangkit. Dia juga wanita normal, disentuh lelaki dengan halus dan laki-laki itu pernah singgah di hatinya bahkan cinta itu terus dipupuk oleh sang lelaki bagaimana bisa Anisa mengelaknya.


"Kak, aku...mau ke belakang," ucap Anisa dan Panji tahu itu hanya alasan Anisa agar lepas dari pelukannya.


Tangan Panji melepas pelukan, 'Aku akan menunggumu Nis, dimana kamu dengan ikhlas membalas cintaku lahir batin,' monolog batin Panji.


...****************...


Sudah satu minggu ini, keadaan aman tidak ada pergerakan dari orang yang mener*r Anisa. Penyidikan dari orang kepercayaan Panji berhasil menyimpulkan kalau paku yang menancap di ban mobil Anisa salah satu bentuk ter*r. Akan tetapi, yang sampai sekarang membuat Panji gusar, pener*r itu belum juga diketahui identitasnya.


"Mereka menunggu kita lengah," ucap Panji membalas tanya Arlan mengenai pener*r Anisa.


"Apa tidak ada satupun jejak yang mengarah ke salah satu orang Tuan?" tanya Arlan.


Panji menggeleng pelan.


"Mereka bermain rapi. Bahkan paku saja tidak ada jejak sidik jari dan mereka bisa memilih posisi ban yang akan dikempeskan karena dilihat dari cctv, posisi ban mobil Anisa yang kempes tidak terjangkau cctv dan mereka tahu itu," terang Panji.


"Kamu tetap perintahkan orang kepercayaan kita untuk siaga," sambung Panji.


"Non Anisa tadi pagi jadi pergi sendiri atau diantar sopir?" tanya Arlan karena tadi pagi dia menjemput Panji untuk bertemu dengan klien yang buru-buru akan terbang ke luar negeri. Sedangkan klien itu sangat penting untuk perkembangan departemen store yang akan dibangun di kota Malang.


"Aku belum menghubunginya," jawab Panji dan segera melangkah keluar dari ruang kerja.


"Tuan mau kemana?" Arlan mengekor Panji.


"Ke butik Anisa."


"Jatuh cinta itu mengalahkan logika, baru dibahas inginnya langsung jumpa," ledek Arlan.


Mobil dengan 2 penumpang itu melaju menembus jalanan kota hingga tiba di tempat tujuan.


Panji segera masuk ke ruang kerja Anisa.


"Jangan lari Nevan," teriak Anisa melihat Nevan dengan senang ria berlari-lari diantara maniken.

__ADS_1


"Ayah...!" seru Nevan dan langsung menghambur memeluk tubuh ayahnya.


Mimik Panji nampak berubah melihat Nevan ada di butik. Bocah itu dia turunkan dari gendongan, dia berlari-lari kembali memutari maniken.


Anisa menatap Panji yang terlihat menahan amarah.


"Apa yang kamu lakukan Nis! Keadaan sedang tidak baik! Kenapa kamu bawa Nevan ke butik!" teriak Panji.


Anisa tersentak kaget walupun dapat diprediksi dari raut wajah Panji yang terlihat akan marah tapi tidak sekeras ini bentakan yang diterima olehnya.


"A-aku_"


"Kalau terjadi apa-apa dengan Nevan bagaimana?!" lanjut Panji memotong ucapan Anisa.


Mata Anisa yang masih menatap tajam ke arah Panji kini menggulirkan air mata.


"A-aku minta maaf," lirih Anisa menundukkan kepala dan tangannya menyeka air mata itu. Hatinya sangat sakit mendapat bentakan dari Panji. Bukan dia mendengar penjelasannya malah semakin menyalahkannya.


Arlan hanya terdiam menyaksikan itu.


"Ayah jahat! Ayah kenapa marah dengan bunda!" protes Nevan tubuhnya memeluk sang bunda.


Panji meraup mukanya dengan kasar, sesekali terdengar mengempaskan napasnya. "Astaghfirullah haladhim," lirih Panji


"Nevan ikut Om yuk beli es krim," ajak Arlan, tidak ingin anak itu melihat pertengkaran orang tuanya.


Nevan menggeleng.


Bocah itu meraih tangan Arlan.


"Ayo kita beli es krim!" seru Nevan yang sudah dalam gendongan Arlan dan mereka segera keluar.


Kaki Panji melangkah dimana Anisa sedang berdiri menunduk. Anisa memundurkan tubuhnya melihat kaki Panji mendekat.


"Tetap di situ Kak!" seru Anisa.


Panji tidak peduli dia semakin mendekat dan meraih tubuh Anisa.


"Maafkan aku," lirih Panji.


Anisa terdiam tidak membalas pelukan dari lelaki yang telah memeluknya dengan erat.


"Memang aku yang salah," sahut Anisa dengan suara parau dan berusaha melepas tangan yang melingkar di pinggangnya tapi Panji malah semakin mengeratkan pelukannya.


Ada rasa bersalah dan takut wanita yang dipeluknya benar-benar marah dan pergi dari dirinya.


"Aku mohon, tetap berdampingan denganku untuk menghadapi semua ini," pinta Panji.

__ADS_1


"Maaf, aku terlalu mengkhawatirkan Nevan hingga aku tidak dapat mengontrol emosi," lanjut Panji dan pelupuknya kini dipenuhi cairan bening.


"Ayah... Bunda...," teriak Nevan dari ambang pintu.


Panji perlahan melepaskan pelukannya, membalikkan tubuh dan tersenyum menyambut Nevan, begitu juga Anisa.


...****************...


Anisa dan Panji sudah saling memaafkan. Bahkan hari ini, entah dorongan apa, Anisa begitu antusias untuk memasak.


Panji tidak mungkin membawa Nevan ke pasar tradisional karena dipastikan di sana weekend seperti ini akan ramai. Akhirnya dia mengantar Anisa ke pasar tanpa Nevan.


"Kenapa tidak ke mall saja Nis, semuanya kan ada di mall," protes Panji.


"Kalau di mall nanti nambah kekayaan si pemilik mall," canda Anisa.


Panji menimpali dengan senyum.


Dia berjalan sejajar dengan Anisa di setiap kelontong yang Anisa datangi.


Setelah semuanya masuk tas belanja, Anisa menyudahi belanjanya.


"Tidak ada lagi yang ingin kamu beli Nis?" tanya Panji sambil mengangkat tas jinjing yang sudah penuh barang belanjaan.


Anisa tersenyum melihat mimik Panji yang terlihat pasi dengan setumpuk belanjaan bahkan sebagian wajahnya tertutup karena barang yang terlalu bahaya.


Panji mengempaskan napasnya ketika semua barang belanja masuk bagasi.


"Ya Allah, lupa Kak, beli ikan asin!" seru Anisa karena ikan asin sebenarnya barang utama yang harus dibeli. Namun, menjadi lupa karena malah belanja barang yang tidak direncanakan untuk dibeli.


"Biar aku yang belikan," seloroh Panji. "kamu tetap di dalam mobil," sambung Panji dan diangguki Anisa.


Anisa menatap ponselnya, sudah hampir 10 menit Panji belum juga menampakkan batang hidungnya, Anisa keluar mobil untuk memastikan. Namun, naas tiba-tiba ada jambret yang menarik ponsel Anisa.


Anisa sempat menarik jambret itu tapi terlepas kembali karena tangan Anisa tergores bilah tajam.


Anisa tidak putus asa dia teriak 'jambret' dan segera mengejar si jambret yang sudah membonceng sebuah motor.


Panji melihat Anisa yang masih berlari dengan berteriak mengatakan jambret. Panji kemudian mengirim voice note ke seorang.


"Gerak cepat!" kode Panji.


Panji segera menyusul Anisa berlari dan terus berlari hingga kakinya berhenti sudah ada segerombol orang yang menyerang dua orang pejambret. Perhelatan sengit mampu melumpuhkan 2 jambret itu.


Setelah 2 jambret itu dibekuk, Anisa baru menatap segerombolan orang yang membantunya menangkap jambret itu.


"Heri!" lirih Anisa terkejut menatap laki-laki yang pernah mengejar cintanya.

__ADS_1


malam menyapa, 🤗 like komen hadiah vote, maaf baru sempat up🙏


jangan lupa mampir juga novel terbaru 'janda daster bolong', ceritanya makin seru dan selalu bikin kocak perut 🙏


__ADS_2