
Anisa terdiam, pikirannya kini mulai menerawang mengingat masa kelam itu hingga membuat dirinya menjadi wanita penuh dosa. Namun, ada sedikit keraguan untuk menceritakan kejadian itu. Pasalnya, dia tidak pernah membicarakan kronologis perbuatan laknat itu pada siapapun. Anisa menatap wajah Panji hingga mata itu bersitatap karena Panji juga sedang menatap Anisa dengan tatapan tajamnya. Anisa langsung menundukkan kembali tatapannya.
"Saat itu..." Anisa mulai bersuara dan menceritakan kejadiannya.
Flashback on
(POV Anisa)
Aku masih sibuk dengan order jahitan punya ibu. Sudah lama aku bisa dalam dunia jahit menjahit. pekerjaan ini biasa aku lakukan selepas sekolah. Membantu ibu menjahit menjadikan aku mau tidak mau harus belajar tentang itu. Seiringnya berjalannya waktu berdasarkan pengalaman dan belajar akhirnya aku bisa menjahit. Banyak yang suka dengan model yang aku desain katanya model kekinian. Namun, banyak juga yang lebih memilih di jahitkan ibu karena jahitannya lebih rapi. Terserah merekalah yang penting setiap hari kami menerima order agar dapur bisa ngepul.
Ibu Maesaroh adalah ibu ter the best di dunia. Beruntung aku dilahirkan dari rahim beliau. Single parent yang selalu ada untuk ku. Bisa jadi ibu sekaligus bapak untukku. Bapak sudah meninggal dunia sejak aku duduk di bangku SD, dan sejak itu, peran double disandang ibu, berperan sebagai ibu sekaligus bapak untukku. Wajah ibu yang cantik dan masih muda tidak memudar dari wajahnya yang tiap hari harus bekerja keras menginjak pedal dinamo mesin jahit maka tak heran banyak lelaki yang sudah berusia matang, dewasa, bahkan, jejaka banyak yang melamar beliau. Namun, ibu menolak mereka dan lebih memilih sendiri. Pernah ku tanya sekali apa yang menyebabkan beliau tidak menikah lagi? Beliau hanya mengembangkan senyum dan mengelus pucuk kepalaku.
"Ibu, pak Damar itu orang yang baik, kenapa tidak diterima saja lamarannya?" usul ku waktu itu.
Namun ibu hanya menjawab ucapan ku dengan senyuman.
Kembali ke aku yang sibuk dengan order jahitan.
Suara ibu memanggilku dari bilik dapur membuatku melenggang melangkah ke dapur.
"Makanan Nak Faisal sana kirim," pinta ibu dengan menyodorkan rantang. Aku menerima rantang itu.
Sebenarnya aku sebal dengan mas Faisal, kenapa dia meminta ibu untuk membuatkan makan siang, sarapan, dan makan malam? Beli kan bisa! Alasannya sih klasik, dia suka dengan masakan ibu. Apalagi menu tumis kangkung, tempe goreng tanpa tepung, ikan asin, dan sambal lalap. Ulala...katanya menu itu belum bisa terlupakan.
"Wajahmu jangan besengut seperti itu! Yang ikhlas, ibu yang masak ya ikhlas, malah seneng bisa masakin calon mantu biar nanti kalau dia sudah nikah denganmu nantinya tidak kaget dengan masakan ibu." ucap ibu.
Kudengar ibu berceramah panjang kali lebar dan aku hanya mendengarkan tanpa membalas ucapan beliau sepatah katapun. Percuma saja kalau ucapan beliau kubantah toh pada akhirnya akulah yang disalahkan, dan yang pasti mas Faisal lah yang dibela ibu.
Aku pun mengambil kontak motor matic, mengendarainya melewati beberapa jalan yang kadang turun dan naik. Rumah aku dan mas Faisal tidaklah terlalu jauh bertetangga desa. Aku hanya menempuh jarak 3 km untuk mencapai rumah mas Faisal.
Pertemuanku dengan mas Faisal cukuplah unik. Aku yang sering ada kegiatan sekolah harus pulang sampai sore.
Suatu ketika, aku berhenti di SPBU, aku mengisi bensin yang hampir tandas di motorku. Setelah mengisi bensin aku parkirkan motorku di tempat parkir SPBU kemudian ku melangkah mengambil air wudu. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah menunaikan salat Asar, mataku sulit sekali kubuka dan rasa kantuk tiba-tiba menggelayut, tanpa sadar aku tertidur di Musala SPBU.
Lama aku tertidur, hingga satu tangan menepuk pundak ku dengan pelan. Lamat kubuka mataku. Kulihat sesosok lelaki tampan yang sering dibicarakan gadis-gadis desa. Aku pikir ini hanya mimpi. Aku hanya tersenyum berharap lelaki tampan itu tidak pergi dalam mimpiku kemudian mataku kupejamkan kembali. Namun, tepukkan itu semakin kencang mana kala aku akan masuk ke labirin dengan membawa lelaki tampan yang tersenyum di depanku. Aku sontak kaget dan terbangun.
__ADS_1
"Maaf dek, kamu menghalangi jalan orang," ucap lelaki yang tadi masuk dalam mimpiku tepatnya bukan mimpi tapi kenyataan yang memalukan. Dia menampilkan senyum yang melelehkan.
"Jadi ini bukan mimpi?" Aku meraba dadaku yang berdetak kencang dan melihat sekeliling. Berangsur tubuhku beringsut ku geser menepi dari pintu masuk.
Lelaki tampan itu pergi dan sekilas aku lihat dia masih menahan senyum walaupun tangannya mencoba menutup senyumnya.
Aku malu, jelas malu lah. Di tempat umum tertidur hingga mengigau dan tak terasa tubuhku bergerak dalam tidur hingga ke pintu masuk Musala. Padahal pintu itu satu-satunya akses untuk bisa masuk ke Musala SPBU.
Aku nyengir, menundukkan pandangan berjalan mengambil air wudu untuk menunaikan salat magrib karena nampak senja telah tenggelam dalam peraduan dan suara dari salah satu pegawai SPBU mengumandangkan azan.
Hingga suatu saat kami saling menyapa karena kartu siswaku terjatuh saat aku membuka dompet setelah salat asar di Musala SPBU itu. Mas Faisal sempat membaca kartu siswaku dan memanggil namaku hingga dia memperkenalkan diri. Aku menanggapi perkenalan itu dengan senang hati. Siapa yang tidak senang kenal dengan bunga desa, eh tapi kalau laki-laki apakah tetap namanya bunga desa? Haha.
Singkat cerita kami saling bertukar nomor. Empat bulan kami dekat dan 2 bulan kemudian dia melamar ku. Orang desa seperti ku yang tidak bisa berangan jauh untuk menggapai cita-cita karena terbentur biaya, patutlah senang bahagia setelah lulus dilamar orang, oleh orang yang dicinta pula, siapa yang tidak mau? Mau banget lah. Akhirnya aku pun menerima lamaran itu dan kami menjalin hubungan ketahap serius.
Salah satu bentuk keseriusan hubungan itu ya ini. Mencoba perhatian pada mas Faisal di saat ke dua orang tuannya sedang pergi. Ya, mengirim makan siang.
Aku jalan santai karena kebetulan cuaca tidak begitu panas. Belum juga sampai di rumah mas Faisal, di tengah perjalanan aku di hadang oleh mahluk yang menyebalkan. Dia lelaki yang mengejar cintaku. Issst!!! Sebenarnya malas sekali harus menghentikan motorku tapi bagaimana lagi, aku tidak ingin berurusan lebih ribet kalau tidak menghentikan motorku.
"Ada perlu Her!" tanyaku dengan ketus.
Aku lihat Heri hanya tersenyum. Tobat deh, mau senyum model apapun dia tetaplah Heri yang selalu bikin dongkol nih ulu hati. Sudah ku tolak terang-terangan, tolak halus, tolak kasar tetap saja sikekeh ngejar cintaku. Apa dia punya prinsip sebelum janur kuning melengkung dia tetap akan mengejar ku? Amit-amit deh!
"Terima kasih," jawabku langsung menyerobot bungkusan itu dan langsung ku jalankan kembali motor matic ku.
Sampailah di rumah mas Faisal, kulihat dia memasukkan jemuran baju yang di pajang di teras rumah karena cuaca makin mendung. Dia tersenyum melihatku, aku pun membalas senyuman itu.
"Assalamualaikum Mas," sapaku.
"Waalaikum salam," jawab mas Faisal tanpa menghentikan aktifitasnya membawa masuk jemuran itu.
"Masuk Nis," sambungnya.
Aku pun melangkah masuk, bahkan langkah kaki juga masuk hingga ke ruang makan. Aku meletakkan rantang yang kubawa kemudian ku melangkah ke dapur mengambil piring dan peralatan makan lainnya.
"Cepat mas di makan nanti keburu dingin masakannya," tawarku.
__ADS_1
"Ya," jawab mas Faisal dengan melangkahkan kaki ke wastafel.
"Memang enak masakan ibu," ucap mas Faisal melihat menu yang ada di rantang.
"Memang enak tapi kayaknya ini hanya modus mas Faisal?" ucapku penuh selidik menatap mas Faisal.
Mas Faisal malah terkekeh mendengar ucapan ku.
"Ada yang lucu Mas?"
"Kamu tahu saja, ini sebagian modusku," jawab mas Faisal masih dengan tawanya.
"Issst! Mas begitu ya! Modus biar temu aku ya?!" tanya ku dengan polos dan lagi mas Faisal terkekeh.
"Kamu cerdas Nis. Kalau kamu nganter makanan, aku kan bisa melihat kamu."
"Emmm," sahutku merasa eneg saja mendengar alasan mas Faisal yang benar-benar tidak logis.
"Aku pulang ya Mas," pamitku. Namun, tiba-tiba petir bergemuruh kencang dan hujan turun dengan derasnya.
"Duh, alam mendukung untuk kamu tetap di sini," ucap mas Faisal.
"Itu mah... maunya mas Faisal," celetukku dan di tanggapi dengan tawa mas Faisal.
"Oya, bungkusan itu masih di motor," seruku dan langsung lari keluar mengambil bungkusan yang diberikan Heri. Aku masuk kembali dan membuka bungkusan itu di meja makan. Ternyata sosis kentang.
"Ya Allah menggoda sekali makanan ini," batinku dan tanpa ba bi bu setelah baca basmallah aku langsung melahapnya.
"Beli dimana Nis?" tanya mas Faisal.
"Diberi orang," jawabku tetap mengunyah makanan itu.
Tangan mas Faisal mengambil sosis satunya dan ikut memakan sosis itu. Kami berdua menikmati sosis kentang yang memang enak tiada tara, lelehan mayonaise, sambal tomat dan sambal pedas menambah nikmat sosis itu.
Tidak butuh waktu lama sosis itupun habis. Sementara hujan masih deras-derasnya. Aku berjalan akan ke dapur. Namun, aku terpeleset genangan air karena plafon atas bocor. Beruntung mas Faisal dengan gesit menahan tubuhku. Tangan kanan mas Faisal menjadi bantalan kepalaku, mata kita beradu, tubuh mas Faisal tepat di atas tubuhku. Jantungku langsung berdetak tidak normal dan mataku masih tanpa kedip menatap wajah tampan milik calon suamiku. Aku merasa kepalaku sedikit berat, mungkin karena jatuh walaupun kepalaku akhirnya bersandar di tangan mas Faisal tetap saja itu jatuh pasti sakit dan mungkin ini efeknya, sedikit berkunang dan pandangan mulai sedikit kabur.
__ADS_1
malam hari menyapa 🤗,
jangan lupa tinggalkan like, komen, komen, komen, vote dan hadiah juga mau🤗😍🥰❤️🌹