
"Arlan, kita ke kantor PT Perkasa Bintang. Aku harus bertemu dengan ceo nya."
"Baik Tuan," jawab Arlan dan segera memutar arah tidak jadi chek SPBU cabang. Arlan langsung mengiyakan permintaan dari tuannya karena kalau dia bertanya mengapa tidak jadi ke SPBU cabang, pastilah muka yang sudah terlihat tanpa semangat itu akan memarahinya.
Setalah turun dari mobil, Panji dan Arlan segera menuju ke resepsionis.
"Selamat siang Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau menemui bapak Andra Aksara Barata, apa beliaunya ada?" tanya Arlan.
"Apa Bapak sudah membuat janji dengan beliau?"
"Kami ada hal mendesak jadi belum sempat membuat janjian."
"Kalau begitu, saya minta maaf Pak, Bapak tidak bisa menemui beliau tanpa membuat janji terlebih dahulu," ucap resepsionis dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Sambungkan saja padanya, bilang ada tamu dari PT Darmawan Jaya," ujar Panji.
"Baiklah akan saya coba." Resepsionis segera memencet nomor berbicara dengan atasannya.
"Silahkan Bapak tunggu di kursi tunggu, nanti asisten Pak Andra segera ke bawah untuk mengantar Bapak ke ruangan beliau." terang resepsionis setelah berbincang dengan sang ceo.
Panji dan Arlan melangkah duduk di ruang tunggu. Tidak selang lama datang seorang berpawakan sedang, tegap, berpenampilan rapi dengan jas ko yang dia kenakan. Dia melangkah menghampiri Panji dan Arlan.
"Assalamualaikum. Perkenalkan, saya Ikbal, asisten pribadi Bapak Andra," sapa Ikbal dengan mengulurkan tangan.
"Waalaikum salam, saya Arlan asisten Tuan Panji, dan ini Tuan Panji," balas Arlan tentunya dengan membalas uluran tangan Ikbal dan Ikbal pun setelah itu bertegur sapa dengan Panji. Namun, Panji tidak seantusias memperkenalkan diri seperti yang Arlan tunjukkan.
"Issst! Apa tampang bos itu memang semuanya datar ya?" batin Ikbal.
"Silahkan masuk," ujar Ikbal begitu mereka sampai di ambang pintu yang sudah terbuka pintunya.
"Terima kasih," jawab Arlan.
"Lurus datar kan, bilang terima kasih atau sekedar menganggukkan kepala," monolog batin Ikbal menyaksikan Panji menerobos masuk setelah dipersilahkan masuk.
"Assalamualaikum Tuan Panji," sapa lelaki yang bangkit dari sofa ketika tamunya bertandang. Dia mengulurkan tangan dan menampakkan senyum pada Panji.
"Waalaikum salam Tuan Andra," jawab Panji.
"Silahkan duduk," ucap lelaki yang disebut sebagai Tuan Andra pada Panji dan juga asistennya.
"Akhirnya saya bertemu langsung dengan pemilik PT Darmawan Jaya, Tuan Panji Alam Darmawan," ucap Andra.
"Kami sangat berterima kasih, tanpa adanya tender Tuan Panji langsung mempercayai perusahaan kami untuk menangani pembangunan SPBU barunya," lanjut Andra.
"Saya ingin membuktikan desas-desus yang beredar, kalau perusahaan Tuan Andra selalu menangani proyek secara profesional,"
"Insya Allah kami selalu amanah dengan tanggung jawab yang diberikan oleh semua kolega," ucap Andra meyakinkan lawan bicaranya.
"Kami sedang menggarap beberapa desain yang nantinya akan kami ajukan ke Tuan, 2 hari ini insya Allah sudah masuk ke e-mail Tuan,"
"Saya harap begitu karena lebih cepat lebih baik, waktu yang ada tidak akan terbuang sia-sia."
__ADS_1
"Desain ruang anda cukup bagus," puji Panji yang dari awal sudah memperhatikan ruangan itu dan sedikit mengalihkan pembicaraan.
Andra memperlihatkan senyum kecil, " Terima kasih atas pujiannya, asisten saya yang membantu mengerjakan desain ini," jawab Andra.
"Kaligrafi yang indah, dan banyak tulisan motifasi maupun islami di dinding ruangan." ucap Panji memperhatikan tiap detail ruangan karena merasa unik desain interior seorang ceo seperti itu.
"Selain terampil di desain dia juga terampil di mulut," ujar Andra.
"Maksudnya?" bingung Panji.
"Kata motivasi, nasihat, maupun peringatan yang tertempel di dinding itu yang buat Asisten ku semua. Dia tidak hanya terampil mengingatkan tuannya untuk selalu ingat Allah lewat lisan juga tulisan," ucap Andra dengan senyum kecut menatap sang asisten.
Ikbal tersenyum menang mendengar penuturan sang tuannya.
"Oh...," Panji hanya mengiyakan ucapan Andra.
"Aku tunggu kabar baik selanjutnya dari anda, saya permisi dulu, pamit Panji kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Ok, terima kasih atas kunjungan anda," ucap Andra dengan mengulurkan tangannya.
Panji membalas uluran tangan itu.
"Assalamualaikum...," ucap Andra kemudian.
"Waalaikum salam," jawab Panji kemudian keluar dari ruangan dan Arlan mengekor di belakangnya.
"Kita lanjut ke SPBU cabang Arlan," titah Panji setelah masuk ke mobil.
Tiga puluh menit mereka dalam perjalanan dan sampai lah mereka di tempat tujuan. Seperti biasanya, Panji melakukan pengecekan di bagian luar terlebih dahulu. Dari pelayanan operator BBM hingga kebersihan di SPBU dari spot yang biasa ditandangi konsumen sampai spot yang jarang terjamah. Kemudian dia baru memasuki kantor SPBU untuk mengecek kinerja pegawai bagian dalam, dengan teliti pula dia melakukan pengecekan.
"Beberapa kali aku mendapatkan operator pelayanan BBM tidak mengucapkan terima kasih pada konsumen," tegur Panji pada pengawas BBM.
"Kamu digaji di sini, selain mengawasi mereka juga harus selalu memperingati karyawan terutama pada operator pelayanan BBM untuk selalu disiplin dalam menaati peraturan yang sudah ditetapkan," sambung Panji.
Pengawas BBM hanya menunduk dan mengangguk.
"Kamu dengar!"
Lagi karyawan itu mengangguk.
"Mulut kamu bisa bicarakan?" kesal Panji hanya mendapati anggukan dari karyawannya.
"Ya Pak," jawab pengawas BBM dengan gemetar.
"Kalau aku jawab dengan omongan, katanya jangan banyak omong! Giliran aku hanya mengangguk eh tetep saja salah! Nasib jadi bawahan," gerutu batin karyawan itu.
Arlan tersenyum menyaksikan semua. Dia merasakan ada hal lucu saja. Akhirnya meledak juga tu emosi dan kali ini emosinya tidak menimpa padanya. Namun, senyum itu hanya sekilas karena setelah itu ada tatapan elang yang siap menerkam ke arahnya.
Arlan langsung menunduk merasa takut mendapat tumpahan emosi juga.
"Jangan merasa senang! Nanti kamu juga dapat giliran!" seru Panji dengan melangkahkan kaki keluar dari kantor.
Arlan menelan ludahnya dengan susah mendengar ancaman dari tuannya. Kakinya buru-buru mengekor sang tuan keluar ruangan.
__ADS_1
"Mampir ke rumah Tiwi!" titah Panji setelah memasang seat-belt.
"Ya Tuan," jawab Arlan.
Panji turun melangkah ke rumah sederhana yang sekarang jarang dia datangi. Dulu ketika cintanya masih terjalin indah dengan Tiwi, hampir setiap hari dia mengantar jemput Tiwi. Di teras rumah, ada seorang paruh baya sedang duduk sendiri. Pandangannya menengadah ke langit.
"Selamat malam Pak," sapa Panji langsung mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.
"Malam Nak Panji," jawab bapak Rozak.
"Duduklah," titahnya pada Panji.
"Asistenmu tidak kamu suruh ke sini sekalian?" tawar bapak Rozak.
"Dia akan keluar sebentar Pak, katanya mau cari makan," jawab Panji.
"Jadi kamu juga belum makan?"
"Belum Pak."
"Apa makan di sini saja?"
"Tidak Pak, terima kasih," tolak Panji secara halus.
"Tiwi...Wi, buatkan minum untuk kami," seru bapak Rozak.
Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Namun, tidak selang berapa lama Tiwi keluar membawa dua gelas air putih.
"Loh... kenapa cuma air putih Wi?"
"Bapak sedang stop dengan yang namanya gula dan temannya Bapak yang ini, bukankah tadi dia bilang belum makan, jadi sebaiknya minum air putih juga," ujar Tiwi kemudian melangkah masuk ke dalam.
"Tung...," belum selesai Bapak Rozak berucap pintu masuk ditutup Tiwi.
"Itu anak," lirih bapak Rozak sambil menggelengkan kepalanya.
"Minum Nak," pinta bapak Rozak dan dirinya sedikit meneguk air putih hangat yang dibawakan Tiwi.
Panji mengangguk dan segera ikut meneguk sedikit air putih hangat itu.
"Belum baikkan dengan Tiwi?" tanya bapak Rozak.
Panji tersenyum kecut dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau kalian tidak bisa memecahkan masalah, apa boleh Bapak membantu memecahkan masalah kalian?"
"Semua memang kesalahan ku Pak," ucap Panji.
Wajah bapak Rozak mulai menegang mendengar ucapan Panji.
like, komen, komen,🙏vote, hadiah, juga mau😍🥰
ada Andra tuh...adakah yang kangen dengannya? Dia tampil berbeda lebih apa ya?🤭 asistennya juga baru, ingatkan siapa itu Ikbal 🤭yang penasaran dengan mereka buka profilku dan baca novel KARENA USTADZ AKU CACAT 🥰
__ADS_1