Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 47


__ADS_3

'Harusnya aku mendiamkanmu! Mengacuhkanmu tapi apa yang kulakukan tadi dan selepas pulang kantor?! Dasar kamu Panji! Tidak punya pendirian!' gejolak batin Panji dengan mengumpat diri.


"Dasar orang aneh!" gumam Anisa melihat gelagat sikap Panji yang tadi baru saja baik sekarang terlihat cuek.


Anisa menyisir rambut yang sudah kering, mengikatnya menjulang tinggi. Kemudian masuk ke toilet kamar untuk wudu. Anisa beranjak, mengambil mukenanya yang ada di dalam nakas, membuka sajadah, kemudian menunaikan salat magrib. Seperti biasanya setelah menunaikan salat fardu Anisa sempatkan untuk membaca Al-Qur'an.


Panji terdiam di ambang pintu, niatnya memanggil Anisa untuk menyuapi Oma Sartika. Namun sekarang, Panji dengan seksama mendengar ayat demi ayat bacaan itu dilantunkan dengan suara merdu milik gadis yang selalu dia katakan ingusan. Ada getar ketika Panji mendengar itu, rasanya dia begitu rindu dengan masa lalunya ketika kumpul dengan bunda, bapak Syamsuddin, dan Faisal.


Rindu ketika bapak Syamsuddin dengan telaten mengajarinya dia mengaji hingga dia bisa membaca huruf hijaiyah. Rindu ketika harus ngantri dengan teman sesama ngaji untuk mendapat giliran diajar bapak Syamsuddin.


"Nisa, apa benar-benar kamu sengaja dikirim bunda untuk ku? Ataukah Tuhan langsung yang mengirim mu padaku? batin Panji bergejolak.


"Shodaqallahul Adzim."


Kalimat itu mengakhiri Anisa dalam membaca Alquran. Dia melepas mukena, menggantinya dengan jilbab.


Panji masih tertegun menatap itu, menyaksikan kembali Anisa tanpa penutup kepala. Entah bagi Panji itu sisi yang menggodanya untuk tetap menyaksikan semua hingga Anisa menutup kembali kepalanya dengan jilbab.


"Ehem!" Panji sengaja membuat suara dehem agar Anisa menoleh.


Benar apa yang diperkirakan Panji, Anisa langsung menoleh.


"Ada apa Kak?" tanya Anisa tangannya tetap melipat mukena kemudian memasukkan kembali ke dalam nakas.


"Oma dari siang belum makan," ucap Panji.


"Terus?" tanya Anisa karena Panji seakan menyekat ucapannya.


"Bukankah tadi pagi kamu berhasil membujuk oma untuk makan, sekarang coba bujuk kamu lagi."


"Dari mana Kakak tahu tadi pagi aku yang nyuapin oma makan?"


"Apa itu penting? Yang terpenting sekarang kamu suapin oma!" jawab Panji sedikit menekan.


"Santai dong Kak, tidak pakai ngegas gitu," keluh Anisa.


"Kamu minta aku harus seperti apa? Sambil sujud di depan kamu?!"


"Kenapa nada bicara Kak Panji makin tidak enak?" protes Anisa juga dengan nada naik satu oktaf.


"Ok! Aku minta maaf," ucap Panji dengan mengempaskan napasnya perlahan mencoba mendinginkan keadaan diri.


Anisa menatap kesal ke arah Panji. Napasnya terlihat tersengal-sengal.


Panji balas menatap ke arah Anisa.


"Aku minta maaf," lirih Panji.

__ADS_1


"Kalau Kak Panji minta bantuan itu harusnya dengan kata 'tolong' dan gunakan nada yang rendah jangan ngegas gitu!" ucap Anisa mempertegas kesalahan Panji. Dia kemudian berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga dan berjalan ke bilik dimana oma Sartika ada.


Anisa mengetuk pintu kamar itu kemudian mengucap salam, tanpa mendengar jawaban salam dari empunya kamar, Anisa masuk, berjalan menghampiri oma yang sedang berbaring di ranjang.


Wanita tua itu tidak tidur, matanya terbuka menatap kosong ke samping arah karena posisi dia sedang tidur miring.


"Assalamualaikum Oma," sapa Anisa.


Wanita itu tidak menjawab maupun menoleh ke sumber suara.


"Dari siang Oma tidak makan? Apa tidak lapar?"


Wanita tua itu masih diam, tidak menyahuti ucapan Anisa.


"Sayang loh Oma, nasinya dibuang percuma.," lanjut Anisa.


"Setahu aku, Oma sering ada kegiatan dengan teman-teman Oma untuk memberi santunan pada anak yatim piatu? Mereka hidup serba kekurangan, Oma yang diberi kelebihan, kalau sampai membuang makanan apa tidak sayang?"


Oma masih diam belum menyahuti ucapan Anisa. Namun, dia langsung teringat ketika menyambangi secara langsung anak-anak yatim-piatu yang ada di panti asuhan. mereka serba hidup kekurangan, berbagi dengan teman yatim piatu lainnya dan tidak dengan orang tua mereka. Itu kejadian dulu sekali hingga sampai sekarang masih teringat dalam benak Oma Sartika dan kejadian itu pula yang membuatnya tidak mau berkunjung ke panti asuhan walaupun setiap bulannya dia tetap aktif memberi donasi santunan anak yatim piatu.


Oma sebenarnya terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja bahkan nyaris bisa dibilang dari keluarga yang ekonominya di garis kemiskinan. Berkat kerja keras dari orang tuanya ekonomi nya perlahan bangkit, bangkit hingga sukses menjadi salah satu pengusaha yang sukses walaupun kesuksesan orang tuanya dulu jauh dari sukses yang diraih suami maupun anak terlebih lagi cucunya.


"Kamu disuruh Panji untuk merayu agar aku mau makan!?" tanya oma Sartika atau tepatnya sebuah intimidasi dari oma Sartika.


Anisa tersenyum kecil, aku hanya mau menjenguk Oma, siang tadi aku tidak sempat ke kamar Oma," elak Anisa.


"Oma berpikiran terlalu jauh." jawab Anisa kemudian menatap nasi dan lauk yang ada di atas nakas.


"Makanannya aku buang saja Oma?" tanya Anisa dan tangannya mulai mengambil makanan yang ada di atas nakas.


"Biar di situ! Nanti ku makan!" lantang Oma.


"Kalau nanti, makanannya jadi tidak Oma, atau Anisa suapin?" tawar Anisa.


Oma Sartika diam. Nyatanya perlakuan Anisa tadi pagi ketika dia menyuapinya makan membuatnya rindu masa dulu, rindu dengan kedua orang tuanya yang telah tiada.


"Kalau Oma diam berarti setuju," ucap Anisa dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Anisa segera membantu oma untuk bangun dari rebahan. Setelah Oma Sartika disandarkan pada kepala ranjang, Anisa segera mengambil nasi yang disiram sayur sop jagung manis.


"Bismillahirrahmanirrahim Allahumma bariklana fima razaqtana wa kina adza bannar," ucap Anisa mengarahkan agar Oma ikut membaca apa yang dia ucapkan.


Oma terlihat diam tidak mengeluarkan suara untuk ikut menirukan apa yang Anisa ucapkan.


Anisa memasukkan satu suap ke mulut oma Sartika dan si oma membuka lebar mulutnya mengunyah makanan itu perlahan. Setelah hampir habis makanan yang ada di mulut nya, Oma Sartika tiba-tiba mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat Anisa ikut terharu.


"Oma rindu dengan kedua orang tua Oma," lirih Oma.

__ADS_1


Anisa berhenti menyendok makanan menatap wajah sayu pada wanita tua yang biasanya terlihat menakutkan bak nenek lampir.


"Aku juga rindu dengan ibu bapak," sahut Anisa hanya dalam hatinya.


"Ceritakan tentang mereka Oma," ucap Anisa sambil memasukkan makanan ke mulut oma kembali. Oma mengunyah makanan itu dan ketika sudah menelannya Oma baru lanjut bicara.


"Ibu Oma sangat menyayangi Oma," ujar Oma Sartika dan mata yang terlihat sudah berkerut itu langsung berkaca-kaca.


"Pasti ibunya Oma sangat cantik karena Oma juga cantik," ujar Anisa sambil menyuapkan kembali makanan ke mulut oma Sartika.


Oma mengunyah dan menelan makanan yang sudah masuk ke mulutnya.


"Banyak yang bilang seperti itu," lanjut Oma Sartika kali ini tangan Oma Sartika langsung bergerak menyapu kedua matanya dia tidak ingin Anisa melihatnya meneteskan air mata di pipi.


"Oma bahkan merasa akhir-akhir ini selalu teringat masa-masa dulu bersama kedua orang tua Oma."


"Itu tandanya oma kangen dengan mereka dan mereka juga ingin sekali mendapat hadiah kangen dari Oma."


"Hadiah kangen?" bingung Oma.


"Ya Oma," jawab Anisa kemudian menyuapi Oma kembali.


"Kalau Oma kangen harusnya beri mereka hadiah," lanjut Anisa.


"Memang sudah hampir satu bulan Oma tidak berkunjung ke makam mereka," jawab Oma setelah menelan makannya.


Anisa memasukkan lagi makanan.


"Tidak harus berkunjung ke makam mereka Oma, cukup dari rumah hadiah itu Oma berikan.


"Nanti Nak Panji aku suruh bawa bunga ke mereka," sahut oma dengan cepat dengan makanan yang belum sempat dia telan hingga oma tersedak karena itu.


"Hati-hati Oma," ucap Anisa dengan menepuk punggung Oma kemudian mengambil air minum yang ada di atas nakas.


Perlahan Oma meminumnya. Setengah gelas air itu Oma minum.


"Bukan bunga yang mereka minta Oma, tapi doa dari Oma, setidaknya surah fatikha Oma khususkan untuk mereka," terang Anisa dan jawaban dari Anisa membuat oma Sartika terperangah. Diam mencerna apa yang diucapkan Anisa.


Satu sendok nasi dan lauk Anisa suapkan ke oma Sartika namun kali ini Oma Sartika tidak membuka mulut dan tangannya mengisyaratkan agar berhenti. Anisa menurut karena sudah mending Oma mau makan. Tangan Anisa meraih obat yang ada di atas nakas.


"Minumlah Oma, setelah itu istirakhat lah," ucap Anisa dan dituruti Oma Sartika.


Anisa segera membereskan bekakas yang ada di atas nakas, "Aku keluar Oma," pamit Anisa.


Anisa menatap ada lelaki yang berdiri mematung di ambang pintu lalu lelaki itu segera keluar terlebih dahulu sebelum Anisa melangkahkan kaki.


Malam menyapa🤗like, Komen, vote, hadiahnya juga mau🥰🌹❤️😍.

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian masih setia menunggu cerita ini🙏 support kalian sungguh berarti buatku🥰😍


__ADS_2