Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 24


__ADS_3

Aku merasa kepalaku sedikit berat mungkin karena jatuh. Walaupun kepalaku akhirnya bersandar di tangan mas Faisal tetap saja itu jatuh pasti sakit dan mungkin ini efeknya, sedikit berkunang dan pandangan mulai sedikit kabur.


Aku mencoba bangkit tapi mas Faisal tetap tak bergeming, malah tubuhnya terhuyung semakin mendekat ke aku. Aku jadi mengurungkan niat. Ku sandarkan kepalaku di atas tangan mas Faisal, aku menelan ludah mendapati tubuh mas Faisal yang semakin dekat. Dia nampak menggelengkan kepala menahan matanya agar terbuka. Hal itu juga sama kulakukan. Namun, tanpa jarak tiba-tiba saja tubuh mas Faisal menimpaku. Aku ingin menolak, ingin mendorong tubuhnya tapi kenapa begitu berat. Hingga terasa tak terasa benda kenyal yang belum halal itu menyapu bib*rku.


Sekali lagi aku ingin mengelak itu. Namun, kepalaku semakin berat kuangkat dan pandangan ku semakin mengabur.


Entah berapa menit, atau jam. Tiba-tiba aku sudah mendapati diri polos tanpa celana dan mas Faisal terbaring di sampingku juga dalam keadaan yang sama.


"Astaghfirullah haladhim," ucapku dengan derai air mata yang mengalir di pipi.


Mas Faisal langsung terbangun mendengar tangis ku dan kulihat dia juga sangat shock mendapati diri dan aku dalam keadaan yang sama.


Aku pungut celana ku dan langsung kupakai. Setelah itu aku lari keluar menerjang hujan dengan mengendarai motor matic ku.


Flashback of


back to (POV 3)


Anisa menghentikan ceritanya. Menatap lelaki yang dengan seksama mendengarkan cerita pahit itu.


"Kamu, terlalu nikmat sampai tidak merasakan apapun?" tanya Panji walau dia melontarkan kalimat itu dengan ragu. Bagaimana tidak ragu, dia sendiri tidak paham nikmat yang dia maksud. Selama berpacaran dengan Tiwi mereka berpacaran sehat tidak sampai terjerumus ke pacaran bebas apalagi sampai melakukan se*s bebas. Ciuman saja hanya sebatas di pipi itu pun tidak mereka lakukan tiap hari. Tiwi selalu melarang kalau Panji melakukan itu terlebih lagi ciuman bibir, hanya pernah sekali karena terharu suasana.


"Tahu betul nikmat apa, sepertinya sudah terbiasa," gumam Anisa.


"Anisa!" Panji menatap geram mendengar ucapan Anisa.


Anisa nyengir, merasa ngeri melihat lelaki di depannya melotot.


"Kamu mau mengulang nikmat itu?" goda Panji dengan mengangkat dua alisnya.


"Issst! Apa sih Kak," elak Anisa langsung lari ke kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Panji hanya tersenyum menyaksikan kegugupan Anisa.


"Memang perlu ku selidiki semuanya," gumam hati Panji kakinya kemudian melangkah ke kasur membaringkan di samping gadis yang tertutup rapat oleh selimut.


"Kamu tidak takut aku menyelinap masuk," canda Panji.


"Awas saja kalau kakak berani!" ancam Anisa dengan suara terpekik karena tertutup selimut.


Panji hanya tersenyum menang dapat mengerjai Anisa.


"Jangan lupa berdoa Kak, nanti setan ikut tidur bersama Kakak," saran Anisa selimut itu dia buka sebatas wajah.


"Bukankah setan-nya memang setiap hari tidur dengan ku?"


Anisa menatap tajam ke arah Panji," Maksud Kakak aku?!" sewot Anisa dan langsung mendudukkan pantatnya.

__ADS_1


"Tepat," jawab Panji dengan singkat dan langsung memposisikan tubuhnya membelakangi Anisa.


"Isst! Menyebalkan!" seru Anisa dengan mencibirkan bibirnya.


"Bismillahirrahmanirrahim, Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut, amin." Anisa membasuh muka dengan tangannya setelah doa itu dipanjatkan.


Panji juga menyelipkan kata amin setelah doa itu selesai diucapkan Anisa.


Perlahan-lahan mereka berdua masuk ke dunia mimpi masing-masing.


"Astaga nih bocah! Tidurnya ngebo!" gerutu Panji dan tangannya memindahkan kaki Anisa yang sudah dua kali ini menimpa pahanya.


Bugh


"Auw!" pekik Panji karena kali ini lebih parah, peluru rudalnya kehantam kaki Anisa. Panji nyeringis menahan sakit.


Sudah beberapa kali Anisa tetap tidur dengan posisi kaki dan tangan berpindah tempat bahkan sampai ke tubuh lelaki yang di sampingnya. Panji terlalu lelah untuk memindahkan tubuh itu pada tempatnya. Dia terlihat pasrah untuk yang terakhir kali karena kantuk juga sudah menggelayut.


Anisa menggeliatkan tubuh, mengucek matanya untuk bangun dari tidur.


"Kakak!!!" Histeris Anisa mendapati tubuhnya tidur memeluk lelaki yang tidur di sampingnya.


Anisa langsung turun dari ranjang dan lari ke toilet kamar.


"Auw!" Jerit Anisa di toilet kamar.


"Kenapa?" Panik Panji menelisik dari atas hingga bawah.


Anisa nyengir sambil menunjuk dahinya yang terasa sakit.


"Kebentur dinding," lirih Anisa.


Panji mengempas napas kasar, "Lain kali hati-hati jangan pecicilan seperti tadi," ketus Panji dan memapah Anisa untuk duduk di tepi ranjang.


"Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan keponakanku, kalau sampai terjadi sesuatu ada bunda yang siap-siap mengadili," gerutu Panji dan tangannya membuka kotak obat yang dia ambil di dalam nakas.


Kemudian melumuri minyak gosok di dahi Anisa yang terlihat memar.


"Aku mau wudu Kak, buat apa dioles begini?" protes Anisa.


"Salat malamnya absen dulu," saran Panji.


"Issst! Bener-bener deh setan yang nyata," celetuk Anisa dengan memanyunkan bibirnya.


"Ya sudah sana salat setelah itu kamu oles lagi."


"Emmm," dengung Anisa mengiyakan perintah Panji. Kakinya kemudian turun dari ranjang dan melangkah ke toilet kamar.

__ADS_1


...****************...


"Sudah lama nak Panji tidak mengantar kamu Wi?" tanya bapak Rozak ketika Tiwi mengunyah makanannya.


Tiwi sampai tersedak mendengar tanya sang bapak.


"Mas Panji sibuk Pak," jawab Tiwi kemudian.


Bapak Rozak hanya mengangguk pelan.


"Omanya Panji tidak jadi ke sini? Padahal bapak sudah menunggu loh,"


Tiwi hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan bapaknya.


"Apa kita yang main ke sana saja?"


"Ja-jangan Pak," ucap Tiwi dengan cepat.


"Kenapa?" bingung bapak Rozak.


"Ya, ya...oma dan aku kan baru dekat, takutnya oma berpikiran gimana gitu Pak."


"Maksudnya gimana apa?"


"Ya...gimana itu loh Pak, maksud Tiwi takutnya oma jadi ilfeel pada Tiwi gara-gara terlalu mendesak Panji untuk menikahi Tiwi," terang Tiwi.


"Ya bagus itu. Bapak kan memang menginginkan kamu segera menikah dengan Panji. Bapak sudah tua Nak, Bapak juga penyakitan takutnya Bapak tidak kesampaian menjadi wali nikahmu," keluh bapak Rozak.


"Astaghfirullah haladhim...Bapak, pamali atuh Pak bilang seperti itu,"


"Kalau begitu jangan lama-lama, segera menikah."


"Ya Bapak, nanti juga Tiwi nikah."


"Anak Bapak sudah besar seperti ini, nanti Bapak siap-siap ditinggal kamu dan pada akhirnya Bapak akan sendiri. Namun, Bapak akan lebih tenang kalau kamu sudah ada yang menanggung jawab. Bapak yakin Ibu yang di surga juga akan senang menyaksikan ini semua." Bapak Rozak menyeka matanya agar air mata itu tidak jatuh di pipi.


"Bapak," lirih Tiwi dan tubuhnya memeluk tubuh lelaki yang sudah nampak garis keriputnya dan semakin kurus karena penyakit yang dideritanya.


"Bapak minta maaf, belum bisa membahagiakan kamu malah sering menyusahkan kamu," ucap bapak Rozak dengan parau.


"Bapak sudah banyak berkorban untukku. Seharusnya aku yang minta maaf pada Bapak karena belum bisa mengabulkan permintaan Bapak."


"Kalau begitu kabulkan satu permintaan Bapak. Segeralah nikah dengan Nak Panji."


Malam menyapa🤗


like, komen, komen, komen,vote hadiah juga ya🙏🥰😍❤️🌹😘

__ADS_1


__ADS_2