Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 60


__ADS_3

Panji melepas pelukannya, mendorong sedikit tubuh Tiwi hingga mata mereka saling bersitatap. "Maafkan aku, selama ini tidak memperhatikan keadaan kamu dan bapak," ucap Panji.


Tiwi membisu. Entah harus menjawab apa atau harus berbuat apa. Sisi hatinya menolak dengan perlakuan lembut Panji bahkan menolak maaf Panji. Namun, sisi hati satunya terlalu bahagia dengan perlakuan dari Panji karena ini yang benar-benar dia rindukan dari sosok mantan kekasihnya.


"Berjanjilah untuk selalu memberitahukan apapun keadaan kamu padaku," lirih Panji dengan menggenggam tangan Tiwi.


Tiwi menarik tangan dari genggaman Panji. Tiba-tiba ada kekuatan untuk menolak perlakuan Panji.


"Stop Pak! Aku dan Bapak hanya sebatas partner kerja. Bapak atasanku dan aku bawahan Bapak!" jawab Tiwi dengan suara tegas.


Panji mengempaskan napas pelan mencoba menerima sikap yang ditunjukkan Tiwi. Dia memang harus menunggu sabar atas kesalahan yang telah dibuatnya. Kesalahan karena diam-diam menikahi wanita lain, kesalahan karena tidak mengerti isi hati Tiwi.


"Sebaiknya Bapak pergi!" Titah Tiwi.


"Cepat pergi!" ulang Tiwi karena Panji hanya terdiam mematung.


"Jaga diri kamu dan bapak," pamit Panji, pasrah melangkah pergi tidak ingin berdebat dan memperkeruh keadaan.


Arlan mengekor Panji. Hatinya sebenarnya sudah mendidih melihat sikap tuannya. Bagaimana tidak. Akhir-akhir ini sudah sangat dekat dengan Anisa bahkan tanpa sepengetahuan Anisa 2 butik oma Sartika tidak hanya ditangani Anisa tapi hak kepemilikan sudah dibalik nama untuk Anisa.


Mereka terlihat bak sepasang suami istri sungguhan hingga karyawan butik yang menyaksikan kedekatan mereka selalu memuji dengan kata 'sungguh pasangan romantis, pasangan ideal, pasangan yang didambakan' dan kata memuji yang lainnya. Entah mereka sudah sepakat untuk bersikap bak suami istri sungguhan atau itu murni mereka lakukan tanpa settingan.


Ada satu kejadian di butik yang belum lama ini Arlan lihat dan benar-benar Arlan dapat menyimpulkan perasaan tuannya yaitu ketika tuannya diukur badan untuk membuat jas.


Flashback on.


"Tangan Kakak rentangkan!" pinta Anisa.


Anisa melingkarkan dua tangan kebelakang untuk meraih pita ukur yang dipegang tangan kanannya. Dia agak kesulitan meraih karena tubuh Panji yang besar dan posisi Anisa yang memang agak menjauh.


Panji menurunkan tangan dan menarik tubuh Anisa agar lebih dekat bahkan posisinya menjadi terlalu dekat. Hingga Anisa sulit untuk menelan salivanya merasa tidak ada jarak antara dirinya dengan Panji. Anisa mendongakkan wajahnya menatap Panji hingga dua mata itu bersitatap, lama mereka memandang satu sama lain. Panji semakin mendekatkan wajahnya, Anisa masih terdiam terpaku geraknya. Gejolak rasa yang tiba-tiba menggetarkan hati membuat Panji tanpa pikir panjang menempelkan bib*rnya tepat di sana. Bagian yang selama ini Anisa jaga dan tak ada yang berani menyentuh kecuali lelaki yang ada di depannya.


Ada rasa yang aneh ketika Panji melakukan pendaratan dengan lembut. Anisa merasa tubuhnya melayang hingga ujung angkasa. Tidak ada penolakan atau pun kekuatan untuk membalas apa yang dilakukan lelaki di depannya. Tetap saja mematung hingga suara benda jatuh membuat Panji melepas pungutannya.


Anisa langsung duduk di sofa mengambil pulpen dan buku. Menulis apapun asal dapat mengurai rasa gugupnya.


Panji tersenyum melihat tingkah Anisa. Kemudian memandang orang yang ada di ambang pintu. Dia membereskan berkas yang jatuh tercecer di lantai.


"Aku ke belakang dulu," pamit Anisa bangkit dari duduknya ketika Arlan melangkah ke arah Panji.


"Apa yang aku lihat bukan halusinasi ku kan tuan?!" tanya Arlan memberanikan diri bertanya pada atasan sekaligus sahabatnya itu.


Panji tidak menjawab apa yang ditanyakan Arlan. Dia tetap membaca tiap lembar berkas yang diberikan Arlan.


"Tuan jatuh cinta dengan Non Anisa?!"


Panji masih diam, pura-pura tidak mendengar pertanyaan atau mungkin itu intimidasi dari Arlan.


"Roman wajah tuan mengatakan iya. Aku ikut senang. Akhirnya tuan membuka hati untuk wanita yang memang sudah sah untuk dicintai tuan." lanjut Arlan.

__ADS_1


"Kamu jangan mengada-ada!" elak Panji.


"Kalau tadi aku tidak melihat secara langsung, aku tidak mungkin menyimpulkan seperti ini!" sanggah Arlan.


Panji mengempas napasnya kasar.


"Kalau mau masuk ruangan jangan main terobos!" ujar Panji menekan kalimatnya mengalihkan intimidasi dari Arlan.


Arlan terkekeh mendengar ucapan tuannya. "Tuan saja yang lupa menutup pintu untuk melakukan hal yang lebih dari yang aku lihat tadi." lanjutnya.


Panji dan Arlan menatap suara langkah kaki yang mendekat ke sofa.


"Sudah ke belakangnya?" singgung Panji pada Anisa yang duduk di kursi kerja.


Anisa memanyunkan bibirnya seperti mendengar ejekan dari Panji.


"Kalian lanjutkan kembali ukur mengukurnya," sindir Arlan sambil berdiri dari duduknya.


"Tuan! Jangan lupa kunci pintunya!" ledek Arlan dengan tersenyum menarik dua alisnya kemudian menarik pintu ruangan hingga tertutup.


Panji mengulas senyum, "Asisten kurang ajar!" umpat Panji melempar benda apapun yang ada di sampingnya. Namun percuma karena yang terkena hanya pintu ruangan.


Flashback of.


"Kenapa ke SPBU pusat lagi Arlan!?" protes Panji begitu Arlan memarkirkan mobilnya di SPBU pusat.


"Memangnya kita mau kemana Tuan?"


"Ke_ ke butik," titah Panji dengan lirih dan terbata.


Arlan menurut, menancapkan gas nya kembali menuju butik.


"Tuan tidak serakah membagi hati untuk 2 wanitakan?!" tanya Arlan memecah keheningan. Pertanyaan yang harusnya dia lontarkan dari awal.


Panji menyunggingkan bibirnya mendengar tanya dari Arlan. Matanya tetap memandang ke luar jendela mobil.


Ciiiiiiittttttt.


Suara gecitan rem mendadak. Arlan memukul kemudi. Hampir saja dia menabrak orang yang menyeberang jalan.


"Kamu tepikan mobilnya," pinta Panji dan Arlan menuruti perintah dari tuannya.


Setelah menepi, Panji keluar dari mobil dan membuka pintu kemudi.


"Pindah ke samping!" titah Panji agar Arlan pindah duduk dari kursi kemudi.


Panji mendudukan diri di jok kemudi dan Arlan pindah di sampingnya.


"Sepertinya kamu sedang banyak pikiran!" ejek Panji kemudian melajukan mobilnya.

__ADS_1


Sampailah mereka di butik. Panji melangkah ke ruang kerja Anisa dan Arlan mengekor.


"Kakak!" terkejut Anisa dengan kedatangan Panji.


"Kenapa Kakak tidak baca pesanku?" keluh Anisa karena pesan yang dikirim centang dua tapi tidak berwarna biru.


Panji merogoh ponselnya, segera membuka pesan yang dikirim Anisa. Dia tersenyum begitu membuka pesan itu.


"Jadi sekarang boleh kucoba?" tanya Panji sambil membuka jas yang dia kenakan.


Anisa mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan mengambil jas yang ada di lemari pakaian.


"Aku pakaikan," tawar Anisa dan dijawab dengan senyum dari Panji.


Dibalik manisnya sikap Panji dan Anisa, ada hati yang benar-benar penuh amarah menyaksikan semua itu. Lelaki yang tetap setia berdiri di ruangan.


Anisa meraih kursi kecil dan naik ke kursi itu. Panji menatap kursi kecil yang dipakai Anisa.


"Apa kursinya sengaja kamu siapkan agar kamu bisa memakaikan jas ini?" singgung Panji.


Anisa tersenyum, kenyataannya apa yang diucapkan Panji itu benar.


"Jas ini aku yang buat, jadi harus aku yang pakaikan ke Kakak," kilah Anisa, entah mengapa mulut Anisa sudah seberani itu mengucapkan kalimat tersebut.


Panji mengulas senyum dengan mata tanpa kedip menatap Anisa.


"Bagus kan?" retoris Anisa setelah memakaikan jas dan membalikkan posisi Panji menatap ke kaca panjang.


Panji tersenyum menatap dirinya mengenakan jas yang sederhana tapi terlihat istimewa.


"Jas nya memang tidak semewah seperti koleksi jas Kakak tapi aku rasa lumayanlah," ucap Anisa.


"Maaf Non, ada yang ingin bertemu dengan Non," ucap pegawai butik menyela di antara mereka.


"Ya," jawab Anisa kemudian melangkah keluar.


Panji terus menatap dirinya di pantulan cermin.


"Sangat bagus Tuan," ujar Arlan.


Panji hanya tersenyum.


"Apa boleh aku melakukan yang lebih bagus dan lebih pantas?!" tekan Arlan dan Panji menatap pantulan Arlan terlihat penuh amarah.


"Apa?" tanya Panji dengan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Arlan. Namun, apa yang dilakukan Arlan secara tiba-tiba.


Bugh.


Satu pukulan mendarat di wajah tuannya.

__ADS_1


pagi menyapa 🤗 terima kasih yang masih setia dengan ceritaku. Apapun itu lope lope buat kalian😍😘❤️🥰


tolong jangan ikut nonjok Panji🙏🤭


__ADS_2