
"Tidak ada yang ingin Tuan katakan?" singgung Arlan.
"Selama 5 hari di kampung? Bukan hanya acara selamatan 40 hari meninggalnya Faisal?" cecar Arlan.
"Dia Anisa, istriku." ucap Panji mengerti arah pembicaraan sang asisten.
Mulut Arlan ternganga bahkan sulit untuk dia katupkan.
"Tu-tuan...," gagap Arlan bingung harus melanjutkan kalimat apa.
"Dia calon istrinya Faisal."
"Terus Tuan menikahinya karena Faisal meninggal," tebak Arlan.
Panji mengangguk kecil.
"Bagaimana dengan Non Tiwi?"
Panji terdiam, dia sendiri bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya ke Tiwi.
"Lagian apa tidak terlalu gegabah mengambil tindakan? Menikahi gadis gara-gara gadis itu batal nikah dengan adik Tuan?"
"Dia sedang mengandung."
Arlan membulatkan mata, bahkan minuman yang baru dia sesap langsung dia semprotkan karena terlalu terkejut.
"Bagaimana bisa? Adik Tuan tidak ada tampang tengil sedikitpun. Kelihatannya dia juga rajin ibadah," sanggah Arlan.
"Fokusku sekarang, bagaimana menjelaskan semua ini ke Tiwi dan bagaimana melindungi Anisa dari hal buruk yang akan oma lakukan padanya."
"Oma Sartika? Maksud Tuan, hal buruk apa?"
"Kamu tahu sendiri watak oma seperti apa. ."
"Ya aku paham. Tiwi yang mendekati sempurna, sudah cantik, cerdas, berbakti pada orang tua, ramah, santun, pekerja keras, dan kelebihan lainnya masih oma tolak gara-gara status yang berbeda." rangkum Arlan.
"Sebenarnya ada sih jalan pintas masalah Non Tiwi. Dia yang hampir sempurna itu bolehlah serahkan padaku. Bereskan masalahnya," sambungnya.
Panji menatap tajam ke arah Arlan.
"Sekalian selamanya kubereskan kamu dari pekerjaan ini !" geram Panji.
"Aku bercanda Tuan, Isst apa tidak bisa bercanda sedikit," rayu Arlan melihat Tuan-nya menampilkan wajah masam.
Panji berdiri dari tempat duduknya, langsung melangkah ke luar.
"Tunggu Tuan, belum habis ni makananku," pinta Arlan yang mulutnya langsung dimasukki makanan yang terhidang di hadapannya.
Jalanan nampak terang karena lampu. Padatnya jalanan kota metropolitan seakan tidak lekang ditelan sang malam, tetap saja lalu lalang kendaran mengisi kepadatan jalan.
Panji menatap keluar jendela mobil. Melihat gerimis yang tetap setia menemani perjalanan pulang dari dia keluar resto hingga mobil itu sampai di rumah.
Arlan membawa payung untuk Panji. Setelah masuk ke teras rumah Arlan segera pamit pulang.
"Besok berangkatnya agak siangan lagi Tuan?"
"Pagi,"
"Yakin pengantin baru tidak kesiangan lagi?" ledek Arlan.
__ADS_1
"Arlan!" Panji menatap tajam ke arah Arlan.
"Aku pulang," pamit Arlan dengan sedikit berlari masuk ke mobil karena merasa ngeri dengan tatapan sang tuan.
Panji melangkahkan kaki langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Panji membuka pelan pintu kamar. Matanya mengedarkan pandangan terlebih dahulu sebelum kakinya melangkah masuk. Dilihatnya Anisa sedang melantunkan ayat Al Quran. Panji melangkah dengan pelan takut mengganggu Anisa.
Dia langsung masuk dalam toilet kamar. Berdiri mematung di balik pintu karena tangannnya tiba-tiba berat untuk menutup pintu dengan rapat. Ada rona rindu yang terlalu berat mendengar suara Anisa dalam melantunkan ayat suci Al Qur'an.
"Bunda," keluh Panji dan tubuhnya kini meringsut ke lantai.
"Aku rindu kamu, rindu bermain dengan Faisal kecil, rindu ngaji dengan bapak, rindu semua. Bodohnya aku menutup mata batinku dengan kebencian karena lebih percaya hasutan yang oma ciptakan," gumam Panji.
"Kak... ."
"Ya," jawab Panji dan punggungnya langsung menutup sempurna pintu toilet.
"Aku kira siapa," ucap Anisa mengecek suara gesekan pintu toilet kamar.
Lima belas menit kemudian Panji keluar. Panji melirik ke arah Anisa yang sudah melepas mukenanya.
"Sudah makan?" tanya Panji kemudian.
Anisa menggelengkan kepala namun mulai kebiasaan baru, memejamkan mata dengan menyesap aroma wangi tubuh Panji dari kejauhan.
"Kamu kenapa?" tanya Panji kembali melihat Anisa bertingkah aneh.
Anisa mencoba menahan diri. "Lapar," jawab Anisa seceplosnya.
Panji mendengus mendapati jawaban Anisa.
"Dari siang apa kamu tidak makan?" tanya Panji dengan mengenakan kaos pendek setelah memakai boxernya.
"Oma tidak memanggilmu untuk makan siang?"
Anisa menggeleng.
"Mbok Asih juga tidak menyuruhmu makan?" cecar Panji karena dia secara langsung menyuruh mbok Asih menyediakan makan siang untuk Anisa.
Anisa lagi menggeleng.
Panji tersenyum kecut. Dia bisa menebak sendiri kenapa mbok Asih sampai tidak menyediakan makan siang untuk Anisa.
"Satu hal lagi, besok ke dokter saraf. Takutnya mulut kamu yang hanya diam saja dan kepala kamu yang lagi-lagi menggeleng dan mengangguk sarafnya ternyata bermasalah."
"Kak Panji bisa juga bercanda," senyum Anisa dengan mengekor langkah Panji menuju meja makan.
"Mbok Asih...," panggil Panji.
"Ya Tuan," sahut Mbok Asih mendekat ke arah Panji.
"Tolong siapkan makanan untuk Anisa."
"E...maaf Tuan, stok makanan habis." jawab Mbok Asih.
"Jangan buat alasan," kesal Panji.
"Kenapa ribut?" sela oma Sartika yang tiba-tiba datang di antara mereka.
__ADS_1
"Stok makanan habis Oma?" retoris Panji yang tahu ini hanya akal-akalan oma.
"Ya, Mbok Asih tadi siang sakit kepala jadi tidak bisa belanja." ucap Oma.
Panji mendengus kesal. "Terserah kalian beralasan apa, aku hanya minta istriku dilayani sebagaimana mestinya," tegas Panji dan tangannya menggenggam tangan Anisa untuk pergi dari mereka.
"Pak Salam... siapkan mobil, aku mau keluar," pinta Panji dan kakinya melangkah ke garasi mobil.
"Tidak usah emosi Kak," ucap Anisa setelah mobil menembus jalanan kota.
Panji diam tanpa menyahuti ucapan Anisa.
"Mungkin oma kesal denganku," lirih Anisa.
"Dari siang tidak makan kenapa tidak telepon aku!" Kesal Panji tanpa menjawab ocehan Anisa.
"Aku ambil cemilan dan buah di kulkas," ucap Anisa.
"Oma kayaknya sengaja nyuruh mbok Asih tidak masak tapi aku kan lapar kebangetan. Ya sudah cemilan dan buah di kulkas aku ambil semua," jujur Anisa.
Panji tersenyum kilas, "Berani juga nih bocah," batin Panji.
"Kenapa Kakak diam?" tanya Anisa melirik ke arah lelaki yang sedang memutar kemudi mobil.
"Turun," titah Panji.
"Kakak tidak apa-apa hanya pakai boxer dan kaos?" tanya Anisa melihat tampilan Panji.
Panji mengempaskan napasnya kasar. Dia baru sadar keluar rumah hanya dengan boxer dan kaos.
Anisa langsung turun mobil mengekor Panji masuk ke resto seafood.
"Mengapa ke sini?" protes Anisa begitu duduk di kursi resto.
Panji menerima buku menu dari pelayan.
"Aku kan ingin makan bakso," lirih Anisa.
Panji menatap kesal ke arah Anisa. Menutup menu buku yang dia baca.
"Tidak bilang dari tadi!"
Anisa menunduk diam.
"Maaf mbak, tidak jadi pesan," ucap Panji pada pelayan dan pantatnya dia angkat dari tempat duduk kemudian melangkahkan kakinya.
"Kakak mau kemana?" tanya Anisa mengekor Panji.
"Ke toko material,"
"Mau beli apa ke toko material?" tanya Anisa dengan polos.
Panji menatap tajam ke arah Anisa, amarahnya memuncak di ubun-ubun.
"Beli bakso barangkali toko materialnya jualan bakso paku!" geram Panji menghentikan langkah dan menatap tajam ke arah Anisa.
Anisa terkekeh, "Kak Panji lucu deh," ucap Anisa dengan menepuk lengan Panji.
Panji jalan kembali dan membenarkan kaos yang merosot karena pukulan kecil Anisa.
__ADS_1
"Bisa gila aku lama-lama dengan kamu!" gerutu Panji.
Like komen komen komen, hadiah, vote juga mau 🤗😍😘🙏