Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 93


__ADS_3

Wajah Anisa langsung menampakkan ekspresi yang berbeda. Bukan kejutan dari Panji melainkan sebuah boneka yang dilumuri darah dan secarik kertas yang menurut Anisa sebuah ancaman.


Selamat menempuh hidup baru.


Anisa mere mas karton dan isinya kemudian melangkah keluar dan membuangnya di tempat sampah.


"Pe ngecut! Kalian pikir aku takut!" umpat Anisa.


Anisa segera masuk ke dalam. Dilihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 14.45, Anisa segera berkemas-kemas untuk pulang.


Butik sebenarnya ditutup hingga 21.00. Namun, ketika pulang Anisa akan menyerahkan tanggung jawab butik pada pegawainya.


Anisa masuk ke dalam mobilnya. Minggu lalu dia meminta izin untuk memakai salah satu mobil milik Panji karena dia tidak mungkin bergantung terus dengan taksi on line. Jika ada kepentingan mendadak dia harus bergerak cepat.


Sesampai di rumah, Anisa sempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu, salat, setelah itu menemui Nevan.


Anisa berjalan menuruni anak tangga masuk ke kamar Nevan yang di bawah karena kalau siang hingga sore hari Nevan seringnya di kamar itu.


Dilihatlah bocah kecil itu sedang bermain mobil-mobilan. Dia sudah terlihat fresh dan bedak bayi menyelimuti sebagian wajahnya. Anisa mendekat, memberi salam.


"Waalaikum salam, Bunda...!" seru Nevan memeluk Anisa.


Anisa tersenyum mendapati sambutan yang antusias dari anaknya.


"Sudah makan belum?"


"Belum, nunggu Bunda," jawab Nevan dan sontak membuat Anisa tersenyum bahagia.


"Sama Suster Tia juga bisa kenapa nunggu Bunda?" pancing Anisa.


"Pengennya sama Bunda," sahut Nevan.


Anisa tersenyum kembali.


"Sama Ayah juga bisa," lanjut Anisa.


"Kata Ayah, kalau Ayah belum pulang harus nurut dengan Bunda," eja Nevan.


Kali ini Anisa langsung menarik senyum bahagianya.


"Makannya juga disuapi Bunda," sambung Nevan setelah menjeda kalimat dan menarik napas untuk melanjutkannya.


'Ternyata Nevan mau disuapi aku karena perintah Kak Panji,' keluh batin Anisa.


Anisa kemudian membawa Nevan ke taman rumah, dia makan sore sambil bermain. Lama mereka di sana hingga matahari makin masuk ke Barat.


"Ayah kok belum pulang?" tanya Nevan dan sebenarnya pertanyaan itu juga sedang melintas dalam pikiran Anisa.


"Sebentar lagi juga pulang," sahut Anisa.


'Tidak biasanya Kak Panji hampir Magrib belum pulang? Apa mungkin dia lembur pekerjaan? Pasti iya! Apa sebaiknya aku telepon? Ah tidak! Kenapa juga aku harus telepon?! Toh nanti dia juga pulang!' monolog batin Anisa.


Anisa membawa Nevan masuk ke dalam rumah.


Waktu terus berjalan, malam telah menyapa. Anisa menidurkan Nevan di kamarnya.

__ADS_1


"Sus, jaga Nevan ya," titah Anisa setelah mengecup dua pipi Nevan yang menggemaskan.


"Ya Non," jawab suster Tia.


Mata Anisa menatap lekat Nevan yang tertidur pulas. Ada senyum yang tercetak di wajah Anisa ketika menatapi setiap inci wajah anaknya.


'Kenapa kamu semakin mirip dengan Kak Panji?' batin Anisa.


Tubuh Anisa memutar lalu melangkah keluar menuju kamar tidurnya.


Anisa kemudian duduk di sofa kamar setelah salat isya. Dia mengusap layar ponsel dan membaca beberapa pesan masuk, ada beberapa orderan baju hingga membuka grup chat yang ada di aplikasi hijaunya.


Setelah membalas pesan masuk, Anisa mengarahkan jarinya menyentuh aplikasi sosmed Instagram.


Kali ini jari Anisa memencet nama selebgram yang diketahui anak seorang aktris kondang. Anisa merasa penasaran dengan kehidupan aktris itu.


"Cantik juga dia, tampilan glamor, berkelas, dan semua barang yang dipakai barang branded," gumam Anisa.


Anisa kemudian menghentikan jarinya yang sebelumnya telah menye-croll postingan selebgram itu.


Dengan pebisnis muda.


Anisa mengeja kalimat yang tertera dalam postingan itu dan terdapat foto Panji dengan wanita selebgram bernama Alyra.


Walaupun foto itu bertiga Panji, Alyra, dan Arlan. Namun, mata Anisa hanya fokus pada dua orang.


"Tengil banget sih posenya!" umpat Anisa melihat Panji tersenyum di foto itu.


Dalam rangka amal bhakti, dan pertama kali bertemu dengannya.


Anisa mengeja postingan lain.


Jari Anisa melihat komentar para netizen yang kebanyakan menebak 'nya' itu adalah Panji Alam Darmawan.


Anisa menutup Instagramnya kemudian beranjak ke toilet karena mau buang air kecil.


Setelah buang air kecil, Anisa mencuci muka lalu keluar dari toilet kamar dan duduk di kursi rias. Alat tempurnya dia tempelkan ke wajah agar wajahnya terlihat cantik dan bersinar.


"Kenapa Kak Panji belum pulang?" gumam Anisa setelah kakinya melangkah dan pantatnya dia dudukkan kembali di sofa.


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Anisa mulai menguap, entah rasanya dia begitu mengantuk padahal niatnya akan menunggu hingga Panji pulang untuk membicarakan mengenai te ror yang diterimanya tadi siang di butik. Memang Anisa tidak takut dengan te ror itu hanya dirinya khawatir barangkali te ror itu akan berimbas pada Nevan.


Lama Anisa menunggu hingga matanya yang sudah sulit dibuka terpejam sempurna.


Suara pintu kamar dibuka, lelaki yang baru masuk kamar langsung tersenyum menatap sang istri tertidur di sofa. Matanya bergerak menatap jam yang dipakai di pergelangan tangan.


"Jam Setengah sebelas malam," gumam Panji.


Jas dia lepas, sepatu dan tas dia taruh di tempatnya lalu kaki Panji melangkah ke toilet kamar untuk bebersih diri.


Dia keluar toilet kamar kemudian memakai piyama tidur.


Kaki Panji kini melangkah mendekat ke arah Anisa, satu kecupan mendarat di dahi Anisa. Netra Panji menatap lekat wajah sang istri. Panji terlihat mengembangkan bibirnya menatap setiap inci dari lukisan Sang Maha Pencipta.


Anisa menggeliatkan tubuhnya dengan mata masih tertutup.

__ADS_1


"Kamu begitu cantik kalau terlelap seperti ini Nis," gumam Panji.


'Enak saja! Jadi aku hanya cantik ketika tidur!' gerutu batin Anisa. Tadi ketika dia menggeliat kan tubuh, kesadarannya kembali. Dia sekarang pura-pura tidur.


"Eh eh Kak! Aku mau dibawa kemana!?" histeris Anisa mendapati diri dibopong ala bridal style oleh Panji.


Panji tersenyum tidak menyahuti protes Anisa, tangan kokohnya tetap menggendong tubuh mungil itu hingga ke ranjang tidur.


Anisa merasa ada yang aneh ketika wajah Panji mendekat ke wajahnya karena akan menurunkan tubuh Anisa.


Anisa menatap lekat Panji yang sudah berdiri tegak.


"Kenapa menatapku seperti itu? Tidak takut kalau nantinya bakal naksir," ledek Panji.


Anisa hanya mencibirkan bibirnya dan matanya memutar searah Panji yang memutar langkah kaki untuk ikut merebahkan tubuh di sampingnya.


"Kakak terlihat pucat, apa Kakak sakit?" tanya Anisa, tangan Anisa menempel di dahi Panji karena lelaki itu tak menyahuti ucapannya.


"Kakak panas sekali," ujar Anisa lalu tangannya turun ke leher Panji.


"Di sini juga panas, Kakak sakit?" Wajah Anisa terlihat panik.


"Mungkin tangan kamu yang terlalu dingin? Tangan itu bukan termometer," elak Panji tidak ingin melihat wajah Anisa semakin panik.


Siang tadi, Panji sempat diinfus oleh dokter Maya. Tiba-tiba saja Panji merasakan kepalanya begitu berat dan tubuhnya sangat lemas. Panji bahkan hampir terjatuh kalau Arlan tidak sigap mendudukkan Panji di kursi.


"Tuan sepertinya sedang tidak enak badan," simpul Arlan siang itu.


Panji terdiam. Dia segera meneguk air dalam gelas yang diambilkan oleh Arlan.


"Aku panggilkan dokter Maya untuk memeriksa Tuan," ucap Arlan dan jarinya sudah bergerak di layar ponsel.


Arlan memutus pembicarannya dan 20 menit setelah itu dokter Maya datang.


"Gejala tipus, sebaiknya rawat di rumah sakit," ucap dokter Maya.


Panji hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter pribadinya.


"Kamu tinggal infus aku saja di sini, jangan bikin repot orang," seloroh Panji.


"Kebiasaan! Kenapa tidak menomor satukan kesehatan sih!" protes dokter Maya.


"Kalau aku tidak mementingkan kesehatan, tidak mungkin aku mau diperiksa," sahut Panji.


Dokter Maya hanya pasrah lalu memasang infus.


"Nanti sore aku cek kembali," ucap dokter Maya kemudian melangkah keluar dari ruang kerja Panji.


Namun, ketika sore hari dicek, panasnya belum juga turun, akhirnya dokter Maya meminta sampai malam baru mencabut infus itu.


Panji mengunci netra Anisa, menatap dalam netra itu, "Apa kamu mengkhawatirkan aku?" telisik Panji semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Anisa.


"Siapa juga yang khawatir!" elak Anisa dan langsung merebahkan tubuhnya membelakangi posisi Panji. Ada desiran aneh yang menghinggapinya.


Panji tersenyum, tubuhnya dia rebahkan namun tangannya melingkar di pinggang Anisa.

__ADS_1


"Boleh seperti ini? Rasa sakitnya biar berkurang," bisik Panji, tubuhnya sudah memeluk tubuh Anisa dari arah belakang.


tengah malam menyapa🤗🥱🥱🥱like komen komen vote hadiah, tidur saja bacanya besok ya😴😴😴😴😴


__ADS_2