Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 49


__ADS_3

"Tidak usah repot-repot Kak, lagian brownies ini gratis kok, ini dari mommy nya Vano,"


Panji langsung lari ke toilet kamar.


Uek


uek


uek.


terdengar suara muntahan dari toilet kamar.


Panji keluar dengan wajah memerah. Terlihat mendengus kesal menatap Anisa.


"Kakak tidak apa-apa kan?" tanya Anisa dengan tatapan khawatir sekaligus bingung.


Panji mengempaskan napasnya kasar. "Kamu mau meracuniku!" ketus Panji.


Anisa memicingkan dua alisnya. "Maksud Kak Panji?"


"Pikir sendiri!" geram Panji.


"Perasaan sebelum aku bilang brownies itu dari mommy Vano Kak Panji memakan dengan lahap, kenapa setelah kubilang dari mommy Vano langsung Kakak muntahkan?" selidik Anisa.


"Itu perasaan kamu saja!"


"Kak Panji lihat sendiri, l am fine!"


"Aku alergi!"


"Ya ya, alergi sama yang ngasih brownies," celetuk Anisa.


"Anisa!" tekan Panji dengan mata membulat.


Anisa menunduk mendapati tatapan mengerikan itu, bibirnya masih manyun karena merasa disalahkan oleh Panji.


"Satu hal yang perlu kamu ingat! Kalau kamu ingin brownies atau makanan apapun jangan sampaikan ke medsos tapi sampaikan ke aku! Suami kamu!" seru Panji dengan menekankan kata suami kamu.


"Lagaknya sampaikan ke Kakak, buktinya kemarin pas aku minta martabak, Kakak jadinya diemin aku! Ngambek sama aku!" protes Anisa.


Panji malah tertawa lepas mendengar protes yang dilayangkan Anisa. Dia sangat tidak menyangka Anisa mengira kemarin dirinya mendiamkan Anisa karena masalah martabak padahal diamnya dia untuk menjaga hati agar tidak melampaui batas. Batas hanya seorang kakak yang membantu adiknya, atau sebut saja batas seorang paman yang menjaga ponakan. Kaki Panji melenggang, melangkah keluar kamar dengan tawa yang masih dia tampilkan.


"Robot gila! Bisa-bisanya dia malah tertawa terus!" gerutu Anisa.


"Aku mendengar itu Anisa!" seru Panji dengan membuka pintu kamar dan memasang wajah garangnya.


Anisa hanya nyeringis kemudian ambil langkah seribu alias lari masuk ke toilet kamar.


"Anisa! Sudah aku peringatkan jangan lari!" teriak Panji dengan muka yang berubah kesal kemudian melangkahkan kakinya kembali untuk menuruni anak tangga.


Anisa menunaikan rutinitas salat magrib, ngaji, setelah itu baru turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama.


Bumi terus berputar pada porosnya, mengelilingi matahari, detik, menit, jam bergeser tanpa terasa. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Anisa masih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.

__ADS_1


Mata Anisa tertuju pada lelaki yang baru keluar dari toilet kamar. Dia terlihat segar dengan wajah yang sedikit basah, mungkin baru cuci muka, dan pemandangan itu membuat Anisa menelan salivanya dengan susah.


"Duh! Sadar Anisa! Kamu gampang sekali terperangah dengan kegantengan yang Kak Panji miliki! Tidak tahu dirinya kamu mengejar aroma tubuh Kak Panji, belum lagi terperangah menatap roti sobek, dan ini lagi...ya Allah...sadarkanlah aku," batin Anisa bermonolog.


"Apa mulut kamu tidak capek, lama tidak kamu katupkan?" ledek Panji melihat mulut Anisa masih melongo.


Anisa menggeleng namun dengan cepat mengangguk kemudian segera mengatupkan mulutnya.


Panji tersenyum kecil medapati tingkah konyol Anisa.


"Kakak jangan besar hati dulu, aku cuma itu...cuma...,"


"Ya sudah lupakan," cekat Panji.


"Kak..." panggil Anisa.


"Hmmm," dengung Panji tubuhnya sudah naik ke ranjang tidur dan sekarang tidur membelakangi Anisa.


"Aku...aku...,"


"Aku kenapa? Kalau kamu tidak siap menyampaikan ke aku tunggu sampai kamu siap!" ketus Panji memotong ucapan Anisa.


"Aku ingin Kakak janji satu hal dengan aku," ucap Anisa yang merasa lega akhirnya dapat mengutarakan kalimat lebih panjang.


"Jangan aneh-aneh!" celetuk Panji.


"Tidak aneh kok Kak. Aku hanya ingin Kak Panji berjanji satu hal," Anisa berhenti bicara sengaja menjeda kalimat.


"Berjanji apa?!" tanya Panji karena merasa penasaran apa yang akan diucapkan oleh Anisa.


Panji terdiam.


"Kak...," panggil Anisa karena Panji hanya terdiam.


"Ok!" jawab Panji singkat.


"Terima kasih Kak," girang Anisa.


"Aku ber...,"


"Sudah tidur, aku mau istirakhat. Kamu juga harus istirakhat!" potong Panji karena tidak ingin mendengar ucapan Anisa yang mungkin akan semakin memojokkan dirinya atau lebih tepatnya memojokkan hatinya.


...****************...


Tiwi sudah menyiapkan sarapan pagi. Bapak Rozak terlihat berjalan ke arah dapur dengan langkah pelan.


"Sudah matang Wi," retoris bapak Rozak kemudian duduk di kursi makan.


Tiwi tersenyum.


"Bapak makanlah, setelah itu obatnya diminum. Nanti baru Tiwi berangkat," ujar Tiwi.


"Sepertinya anak Bapak sedang bahagia?" ledek bapak Rozak karena wajah Tiwi memang memancarkan rona bahagia.

__ADS_1


Tiwi tersenyum, "Bapak bisa aja," jawab Tiwi.


"Bapak tahu Wi, hari ini adalah tanggal dan bulan pertama kamu bertemu dengan Panji," tebak bapak Rozak.


Tiwi langsung menarik senyumnya. Dia tidak menyangka bapaknya tahu bahagia dirinya karena hal tersebut.


"Bapak tahu hari ini tanggal dan bulan pertama aku bertemu dengan mas Panji?"


"Apa yang bapak tidak tahu tentang kamu Nak," seloroh bapak Rozak.


"Sambil makan Nak," ajak bapak Rozak melihat Tiwi yang tiba-tiba menghentikan makannya.


Tiwi mengangguk.


Berakhir sarapan itu, Tiwi pamit untuk berangkat ke kantor.


Bapak Rozak membalas lambaian tangan Tiwi. Mobil itu melaju dengan pengemudi yang mulai lebih mawas diri karena sudah memasuki jalan yang ramai kendaraan.


Bapak Rozak menarik senyumnya. Sebenarnya ada rasa yang sangat menyesakkan dada. Dia sangat tidak rela anaknya terluka karena gagal dalam cinta.


"Bapak tahu Nak, kamu masih sangat mencintai Panji dan aku juga yakin Panji juga masih mencintai kamu!" gumam bapak Rozak. Dia mengambil segelas air putih yang ada di meja kemudian dia minum perlahan hingga tandas.


"Bapak akan lakukan apapun asal kamu bahagia Nak!" batin bapak Rozak dengan mengepalkan tangan.


Sementara, dua puluh lima menit kemudian Tiwi sampai di kantor. Tadi di jalan dia sempatkan beli jajan untuk dibagikan teman-teman kantor. Setelah semua dibagi Tiwi melangkah ke meja kerjanya.


Banyak pekerjaan yang menantinya untuk dia kerjakan. Tiwi membuka satu persatu file yang perlu dia isi dan kerjakan.


Entah hari ini dia begitu semangat kerja. Terlepas dari permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Panji. Namun, tetap saja hari ini adalah momen yang indah dalam hidup Tiwi. Jalan yang menghubungkan hingga dia menjalin asmara yang lebih serius dengan Panji. Walaupun tidak dipungkiri akhir-akhir ini masalah begitu berat dalam hubungan mereka hingga kata pisah memutuskan ikatan yang terjalin sudah lama.


Tiwi mengempaskan napasnya perlahan. Satu pekerjaan telah dia selesaikan, yaitu laporan mingguan. Tiwi bangun dari duduknya, matanya kini menatap pintu ruang lelaki yang masih ada dalam hatinya.


Laporan yang telah dia cetak akan dibawa ke ruangan itu.


Tok


tok


tok


"Permisi Pak," pamit Tiwi.


"Masuklah," Titah Panji.


"Laporan mingguan Pak," ucap Tiwi kemudian menyodorkan satu map.


Tiwi memutar kakinya lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Mengapa hati aku begitu sakit? Apa aku sudah gila! Mas Panji melupakan hari awal kita berjumpa bukankah itu hal yang wajar? Sadar Tiwi! Dia sudah beristri! Sadar! Sadar!" batin Tiwi bermonolog mengumpat diri karena saat di ruangan Panji terlihat cuek tidak seperti waktu dulu, dia akan selalu mengingat hal bersejarah ini.


"Selamat hari pertama bertemu."


Tiwi menoleh ke sumber suara yang sangat tak asing. Dia memberi seikat mawar merah. Ada ragu untuk menerima mawar itu. Namun tangannnya bergerak cepat atas perintah otak yang tidak tahu diri. Senyum di wajah Tiwi pun mengembang begitu saja tanpa komando diri dan matanya kini terlihat berkaca.

__ADS_1


malam menyapa🤗like, komen, komen 🙏vote, like juga ya...mumpung hari Senin😍🙏


__ADS_2