Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 61


__ADS_3

"Apa?" tanya Panji dengan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Arlan. Namun, apa yang dilakukan Arlan secara tiba-tiba.


Bugh.


Satu pukulan mendarat di wajah tuannya.


Panji mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Tersenyum kecut dengan tingkah dari bawahannya. Panji mencoba menahan amarahnya dengan tidak membalas tindakan dari Arlan.


"Satu pukulan untuk menyadarkan otak Tuan!"


Bugh.


Kembali Arlan mendaratkan pukulannya.


"Ini hadiah dari sahabat Non Tiwi!"


Panji bangkit dengan terhuyung karena pukulan yang ke-dua lebih keras dari yang pertama.


"Aku kira Tuan akan merelakan Non Tiwi karena selama 2 bulan lebih Tuan tidak peduli dengan dia! Namun, apa yang tadi Tuan lakukan di rumah Non Tiwi?! Tuan secara tidak langsung memberi dia harapan! Dan di sini, di ruang ini! Aku juga menyaksikan Tuan juga memberi harapan pada Non Anisa!"


"Aku tidak suka kamu ikut campur urusanku!" gertak Panji.


Arlan mencibirkan bibirnya, "Aku hanya meluruskan pikiran Tuan! Takutnya Tuan akan menyesal dengan sikap Tuan yang plin-plan seperti ini! Saat dengan Non Tiwi mau, saat dengan Non Anisa juga mau!" terang Arlan dengan geram.


"Kamu mencintai Tiwi?" tanya Panji dengan santai.


"Aku bersikap seperti ini bukan karena cinta dengan Non Tiwi atau pun istri Tuan tapi karena aku juga punya adik perempuan jadi aku sedikit tahu bagaimana perasaan mereka kalau dipermainkan oleh orang semacam Tuan!" jawab Arlan.


Lagi, Panji tersenyum kecut.


"Aku harap Tuan renungi apa yang aku ucapkan ke Tuan!"


"Kak Panji!" terkejut Anisa mendapati Panji berantakan dengan sudut bibir yang terlihat berdarah.


"Apa yang terjadi Kak?!" heran Anisa karena saat dia keluar Panji terlihat baik-baik saja.


Anisa menatap ke Arlan mengisyaratkan agar Arlan menjelaskan apa yang menimpa pada Panji.


"Ada insiden kecil, aku jatuh terbentur siku meja," ucap Panji.


Anisa kemudian menatap Panji, berjinjit memegang rahang lelaki dengan melihat kanan kiri sisi wajah Panji.


"Terbentur siku, kenapa yang keluar darah sudut bibir Kakak?"


"Apa perlu aku ulang agar kamu lihat sendiri?"


Anisa segera menggelengkan kepalanya, "Aku ambilkan obat," ucap Anisa akan melangkah keluar.


"Biar aku yang ambilkan. Non Anisa jaga tuan Panji saja biar tidak sampai terbentur siku meja lagi," ucap Arlan pandangannya berpindah ke arah Panji sebagai bentuk sindiran.


...****************...

__ADS_1


Panji naik ke ranjang tidur setelah bebersih diri dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Sudah 2 hari ini dia kembali pulang malam. Pikirannya begitu kacau setelah kejadian di butik dengan Arlan. Panji memang sengaja menjaga jarak dengan Anisa. Dia sendiri merasa takut apa yang dikatakan Arlan benar adanya. Benar kalau nantinya dia akan menyakiti Anisa atau pun Tiwi.


"Apa benar yang dikatakan Arlan?" batin Panji mengucap tanya, pandangannya masih tertuju pada sesosok gadis yang tengah tertidur.


Tangan Panji akan mengusap pucuk kepala Anisa. Namun, segera dia urungkan melihat pergerakan dari gadis yang selalu dia katakan ingusan. Anisa terlihat gusar kadang miring kanan, kadang miring kiri.


"Anisa," panggil Panji.


"Kak Panji," lirih Anisa dengan mata sedikit terbuka.


"Kamu baik-baik saja?" khawatir Panji mendengar suara Anisa sedikit serak.


Anisa mengangguk.


Panji menempelkan punggung tangannya di dahi Anisa, "Kamu panas Nis," gumam Panji kemudian langsung mengambil ponsel yang ada di nakas. Menyentuh 12 digit kemudian menghubungi nomor tersebut.


"Dokter Maya! Ayo angkat!" seru Panji. Namun beberapa panggilan dia lakukan tapi tetap tidak dapat tersambung. Panji terlihat pasrah dan meletakkan ponselnya di atas nakas


"Kenapa sakit tidak menghubungi ku!" protes Panji pada Anisa.


"Kamu sudah minum obat?!"


Anisa menggeleng pelan.


Panji turun dari ranjang berjalan mengambil air putih kemudian membuka nakas. Dia ingat dokter Maya pernah memberi obat panas untuk ibu hamil sebagai bentuk siaga kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.


Anisa kembali menggeleng kepala pelan.


"Kalau tidak kamu minum, panas kamu tidak akan turun! Atau kita ke ruang sakit saja!"


Anisa menggeleng lagi.


"Ya sudah diminum obatnya."


"Aku tidak bisa minum obat! Apa Kak Panji lupa!" kesal Anisa.


Panji baru teringat kalau gadis itu tidak bisa minum obat tanpa makanan perantara.


"Aku ambilkan roti di bawah," ucap Panji kemudian melangkah keluar kamar.


"Makanlah!" titah Panji setelah mengambil roti dan menyodorkan roti yang dalamnya terselip obat penurun panas.


Anisa mencoba duduk dibantu Panji lalu memakan roti itu.


"Tidurlah biar panasnya cepat turun!" titah Panji.


Anisa mengangguk. Matanya mencoba dia pejamkan tapi tidak juga terpejam.


"Kenapa belum tidur?" tanya Panji melihat Anisa bergerak miring kanan kiri.

__ADS_1


"Badannya pegel semua Kak, apalagi kakinya," keluh Anisa.


Panji bangun dari tidurnya lalu duduk dan memijit tubuh Anisa dari atas sampai ujung kaki, lama Panji lakukan hingga 30 menit tangan itu tidak berhenti memijat.


"Kenapa tidak tidur juga Nisa?" keluh Panji merasa dirinya yang malah ngantuk.


Anisa terdiam.


"Apa pijitan ku kurang keras?" tanya Panji karena dia memang memijit dengan hati-hati.


Anisa menggeleng.


"Sudah Kakak tidur saja," pinta Anisa.


Panji menurutinya karena memang dia sudah capek dan mengantuk tapi matanya tetap dia tahan untuk terbuka demi menjaga Anisa.


Panji mengambil termometer yang dia taruh di mulut Anisa.


"Sudah mulai turun," gumam Panji melihat angka yang tertera di layar termometer.


Panji merebahkan tubuhnya setelah menaruh termometer di atas nakas. Tidak seperti biasanya dia selalu membelakangi posisi Anisa, kali ini Panji tidur sengaja menghadap ke Anisa.


Panji tersenyum menatap punggung gadis di depannya. Namun tidak lama karena Anisa kini membalikkan posisinya menghadap ke arah Panji hingga dua mata itu saling bersitatap.


"Tadi sore sudah makan?" tanya Panji karena dia sedikit tahu, katanya ibu hamil itu cepat lapar. Terkadang malam hari juga makan walaupun selama ini dia tidak pernah lihat Anisa bangun tengah malam untuk makan terkecuali saat sepertiga malam Anisa akan makan apapun yang bisa dimakan sebelum dia salat sunah. Itu yang terkadang Panji lihat.


Anisa mengangguk.


"Lalu kenapa belum tidur? Obat tadi menyebabkan kantuk loh, apa kamu kebal dengan obat kantuk?"


Anisa sedikit tersenyum mendengar ucapan Panji.


"Tidurlah," ulang Panji.


"Atau...begini, katakanlah apa yang biasanya membuat kamu tertidur? dongeng? atau kuputarkan lagu? atau ku nyanyikan lagu nina bobo?"


Anisa lagi sedikit tersenyum.


"Aku tidak mungkin mengatakan pada kamu Kak. Kalau aku sakit, ibu akan memeluk ku, mengelus kepalaku, menepuk-nepuk pelan bahuku, hingga aku tertidur," batin Anisa.


"Apa seperti ini bisa membuat kamu tertidur?" tanya Panji setelah menjulurkan tangannya di tengkuk Anisa kemudian meraih tubuh Anisa untuk masuk ke dalam pelukannya.


Anisa merasa kurang nyaman karena perutnya yang besar. Kemudian dia membalikkan posisinya tapi tetap tidur bersandar di tangan Panji.


Panji memeluk tubuh Anisa dari belakang. Pelukannya semakin dieratkan seperti ada rasa takut kehilangan gadis itu.


Satu kecupan mendarat di kepala Anisa. Bukan menolak, Anisa malah tersenyum menikmati perlakuan Panji dan tiba-tiba ada air mata menetes di pipinya. Namun segera Anisa seka takutnya membasahi tangan Panji.


"Ada apa dengan aku? Harusnya aku menolak ini! Tapi pelukan kamu Kak, kenapa aku merasa nyaman dalam pelukanmu?" gumam batin Anisa.


Lamat-lamat mata Anisa mulai terpejam dan Anisa pun masuk dalam dunia mimpi.

__ADS_1


subuh menyapa🤗 assalamualaikum...semoga kita selalu sehat. Terima kasih untuk semua dukungan kalian yang masih setia dg novel ini. Terharu aku dg dukungan kalian. pokokna lope lope buat kalian ❤️😘🥰.


__ADS_2