Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 75


__ADS_3

Namum, dari awal acara hingga akhir acara, mereka tidak menyadari ada sesosok orang yang sesekali menyeka air matanya menatap lekat ke arah bocah yang sedang merayakan ulang tahun.


Semua teman PAUD dan wali murid satu persatu mulai pulang dari panti asuhan itu. Suasana panti asuhan juga mulai terlihat sepi. Panji dan Nevan pamit pada ibu panti. Terlihat ibu panti akan mengantar hingga parkir mobil tapi Panji menolaknya.


"Nevan."


Nevan yang sedang jalan menuju mobil langsung menolehkan tubuhnya ke sumber suara, Panji juga sama. Namun, saat itu Panji sudah merasa suara itu sangat tak asing baginya suara itu juga suara yang tiap waktu dia ingat.


Panji berdiri mematung menyaksikan wajah wanita yang 4 tahun ini baru dia jumpai. Ada debaran yang tidak normal melihat wanita itu berdiri di depannya.


Andai saja wanita itu tidak mengeluarkan suara pasti Panji tidak akan mengenali wanita itu. Wanita cantik yang semakin cantik paripurna. Make-up tipis, pakaian fashionable sungguh menambah kecantikannya.


Nevan yang berdiri di samping Panji langsung menyembunyikan tubuhnya di belakang Panji.


"Selamat ulang tahun," ucap Anisa dengan suara yang gemetar. Sebuah bag paper Anisa sodorkan untuk Nevan. Anisa menjongkokan tubuhnya agar sejajar dengan bocah kecil itu.


Panji menatap lekat wajah Anisa. Dia dapat melihat pelupuk mata itu sudah penuh menahan cairan bening.


"Nevan, terima kado itu," bujuk Panji, ikut jongkok dan menggeser tubuhnya agar bersitatap dengan Nevan.


Nevan membalas tatapan ayahnya, Panji kemudian menganggukkan kepala, isyarat mengiyakan ucapan yang baru dia lontarkan.


Selama ini Nevan memang selalu diajari agar hati-hati terhadap orang asing karena pernah ada kejadian yang tidak menyenangkan dan membuat Nevan trauma. Dulu sewaktu Nevan berumur 3 tahun dia pernah diculik orang sampai melibatkan polisi untuk menemukaannya. Kejadian tidak enak berikutnya bahkan belum lama ini terjadi. Di sebuah mall, mungkin melihat tingkah Nevan yang menggemaskan, ada orang asing yang tiba-tiba mencubit dua pipi Nevan dengan kuat. Nevan saat itu tidak menangis tapi bekas cubitan di pipi menyebabkan infeksi.


"Terima kasih," ucap Nevan menerima kado itu.


Anisa langsung meraih tubuh Nevan, memeluknya dengan kuat dan menangis sejadi-jadinya.


Nevan merasakan susah bernapas karena pelukan itu, "Lepaskan! Lepaskan Nevan!" teriak Nevan, meronta mendorong tubuh Anisa, Namun, sekuat apapun dorongan itu karena Nevan anak kecil tetaplah tidak dapat mengalahkan kekuatan pelukan Anisa.


Anisa tetap memeluk Nevan dan tidak menghiraukan rengekan ketakutan Nevan.


"Anisa, please lepaskan Nevan," ucap Panji mencoba mengambil Nevan.


Anisa tersadar dari tindakannya. Dia langsung melepas Nevan. Bocah kecil itu segera meraih tubuh ayahnya dan memeluknya dengan erat.


"Ayah, Nevan takut, ayo kita pulang," rengek Nevan. Tubuhnya miringkan ke kanan mengharap ayahnya berjalan ke kanan arah dimana mobilnya terparkir.


"Ya sayang, kita pulang," ucap Panji segera melangkah ke parkir mobil takut trauma dulu muncul kembali dan berakibat buruk pada bocah itu.


"Nevan tarik napas, keluarkan perlahan, ayo lakukan lagi, ya lakukan lagi," tuntun Panji dan Nevan melakukan itu hingga 3 kali.

__ADS_1


"It's Ok Nevan?"


Nevan mengangguk.


"No! Can you say it?"


"Yes, I am Ok." ucap Nevan.


"Good Nevan!" Panji mengacungkan 2 jempolnya.


"Arlan, dampingi Nevan!" titah Panji pada Arlan yang sedari tadi hanya menyaksikan semuanya tanpa sedikit pun ikut campur atau mungkin tepatnya ingin memberikan keleluasaan pada mereka.


"Ya Tuan," jawab Arlan, pindah posisi duduk ke kursi penumpang.


Panji keluar akan menghampiri Anisa tapi wanita itu sudah tidak di tempat tadi. Panji berlari keluar panti mencari Anisa. Namun tidak juga dia temukan kemudian dia berlari ke dalam panti barangkali masuk ke panti tapi juga sama, tidak ada Anisa di dalam sana.


Panji pasrah, melangkah dengan lesu menuju mobilnya.


"Tidak ada Tuan?" tanya Arlan.


Panji mengangguk.


"Ayo pulang Yah," rengek Nevan.


"Ya kita pulang," jawab Panji lembut, menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum dan tangannya mengelus halus kepala Nevan.


"Arlan jalankan mobilnya!" titah Panji.


...****************...


Panji duduk di kursi kerjanya.


Arlan terlihat menundukkan kepala. Dia siap-siap mendapat teguran keras atas perbuatan yang sudah dilakukan.


"Kamu sudah tahu kesalahan kamu!" tanya Panji melayangkan tatapannya ke arah Arlan. Sekejapun matanya tak ingin berkedip sebelum mendengar jawaban Arlan.


"Sekali lagi pertanyaannya aku ulang. Kamu sudah tahu kesalahan kamu?" kali ini suara Panji dilemahkan. Namun bagi Arlan, suara ini lebih menakutkan dari lontaran yang sebelumnya.


Arlan mulai merinding melihat ada kemarahan di wajah tuannya.


Arlan menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu? Apa perlu aku congkel isi kepalamu, biar ku korek sendiri!" Suara Panji meninggi, tangannya menggebrak meja kerja.


"Astaghfirullah haladhim, ya Allah, Istighfar Tuan," sahut Arlan.


Panji mengempaskan napasnya kasar. Apa yang dikatakan Arlan ada benarnya. Dirinya harus kuat menahan amarah.


"Katakan yang sejujurnya. Jelaskan secara detail. Tidak mungkin Anisa tahu aku dan Nevan ada di panti tanpa ada orang yang memberitahunya," tanya Panji, setelah merasa dirinya tenang tidak emosi.


Arlan diam, menelan saliva dengan susah. "Aku yang memberitahunya," lirih Arlan.


"Sejak kapan kamu berkomunikasi dengan dia?"


"Satu tahun lalu, tepat saat Nevan ulang tahun ketiga, dia meminta foto Nevan dan sejak itulah kita saling berkomunikasi."


Panji langsung menajamkan tatapannya mendengar kalimat terakhir Arlan.


"Maksud aku, berkomunikasi hanya sebatas..., sebatas itu, non Anisa menanyakan tentang Nevan," ucap Arlan mengklarifikasi kata terakhir dalam kalimat yang dia lontarkan karena Arlan tahu makna tatapan tajam dari Panji.


"Kamu keluar lah!" titah Panji, tangannya digerakkan mengibas, isyarat agar Arlan cepat keluar.


"Maksud Tuan, aku dipecat?" tanya Arlan dengan lirih.


Panji yang sedang memijit dua pangkal alis langsung membulatkan tatapannya melempar berkas ke arah Arlan.


"Itu yang kamu inginkan?!"


Arlan nyengir, "Tidak Tuan, aku...aku, salah, aku ada benarnya juga tapi, aku_"


"Terserah kamu mau berkilah apa! Sudah yang penting keluar dari ruangan ini!" Panji semakin geram. Arlan tidak ingin membangunkan singa tidur akhirnya dia ambil jurus lari cepat dari ruangan.


Panji kini terdiam. Kepalanya dia sandarkan pada kursi. Sesekali kursi itu di gerakkan agar bergerak memutar.


'Anisa, kamu dimana sekarang?' batin Panji karena setelah satu hari kejadian itu Anisa tidak menghubungi Nevan kembali.


'Kamu datang hanya bertandang, atau kah akan mengambil Nevan?' batin Panji kembali bermonolog.


Panji menarik laci meja kerja, diambillah sebuah card game yang dulu pernah Anisa berikan sewaktu dirinya ulang tahun.


"Apa aku boleh serakah?" gumam Panji, tangannya meraup wajah dengan kasar lalu mengempaskan napasnya dengan kasar pula.


pagi menyapa 🤗 like, komen, komen, komen karena komen kalian salah satu bentuk dukungan pada novel ini, hadiah, dan vote ya...ingat hari Senin 🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2