Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 57


__ADS_3

"Jujur Anisa, aku senang melihat kamu tersenyum bahagia seperti ini dibanding melihat kamu menangis seperti semalam," gumam batin Panji. Mulutnya tersenyum.


"Kapan kamu bisa lepas pelukan ini," ledek Panji walaupun dirinya menikmati pelukan dari Anisa tapi tidak mau juga Anisa menyadari itu.


Anisa segera melepas pelukannya. "Maaf Kak," lirih Anisa.


"Berapa kali kamu mengucapkan maaf?" singgung Panji.


Anisa hanya mencibirkan bibirnya mendengar ucapan Panji.


"Sudah siang Kakak tidak ke kantor?" tanya Anisa mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa? Terganggu ada aku di sini?"


Anisa dengan cepat menggeleng.


drt


drt


drt


Satu panggilan masuk ke ponsel Panji. Dia segera menerima panggilan itu.


"Ok Ar. Kamu langsung ke lokasi saja. Bilang saja ke klien kamu menggantikan ku karena istriku yang sedang hamil tidak ingin ditinggal."


"Ya katakan itu." sambung Panji menegaskan ucapan sebelumnya."


Panji memutus sambungan itu.


"Siapa juga yang tidak mau ditinggal," gumam Anisa.


"Bayi di kandungan kamu yang minta!" seru Panji.


"Nglantur Kak Panji," tukas Anisa dengan mengelus perutnya.


"Memang kamu yang minta Dek? Paman suka bohong ya," ucap Anisa dengan mengelus perutnya dan berbicara pada calon bayi di perutnya.


Panji mendekat, refleks dia ikut mengelus perut Anisa.


"Ya Bunda, aku yang minta, soalnya Bunda semalam nangis jadinya seharian ini ditemani ayah," ucap Panji menirukan suara anak kecil setelah itu Panji tertawa sendiri dengan apa yang sudah dia lakukan.


Anisa membiarkan lelaki di depannya tertawa renyah. Seulas senyum mengembang dari dua sudut bibir Anisa.


"Mengapa aku begitu bahagia melihat tawa Kak Panji?" batin Anisa.


"Catat! Ayah! Bukan paman!" seru Panji menatap Anisa agar memanggilkan dirinya di depan sang calon bayi dengan sebutan 'Ayah'.


Anisa lagi tersenyum melihat kekonyolan laki-laki di sampingnya.


"Heh! dia bergerak Nis!" seru Panji merasa kaget bayi dalam perut Anisa bergerak aktif.


"Sepertinya dia sangat senang dengan Kak Panji," ujar Anisa.


"Itu pasti karena ayahnya lelaki yang tampan seperti aku," ujar Panji dengan membanggakan diri dan tangannya masih mengelus perut Anisa.


Anisa mencibirkan bibirnya mendengar lelaki itu membanggakan diri walaupun tidak dipungkiri lelaki itu memang nyaris sempurna ketampanannya.


"Lihat dia bergerak lagi!" pekik Panji menunjuk pada perut Anisa yang terlihat bergerak kembali.


drt


drt


drt


Panji menoleh ke ponselnya yang berbunyi kembali. Segera dia mengambil ponselnya dan menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Ada apalagi Arlan!"


"Pak Hardika minta saya yang datang?!" retoris Panji mendengar ucapan Arlan.


"Ya Tuan," jawab Arlan.


Sejenak Panji terdiam dia tidak mungkin menolak permintaan pak Hardika karena dia partner lama di bisnis anchor tenant milik almarhum oma Sartika.


"Hallo Tuan, dia juga minta pertemuan dimajukan jam 3 siang ini," sambung Arlan.


"Ya, kamu tangani pertemuan kamu dengan Pak Jackson, nanti aku yang akan menemui Pak Hardika."


"Ya Tuan, dia dalam perjalanan ke sini."


Panji mematikan sambungan teleponnya.


"Kakak kalau sibuk pergi saja."


"Aku kan sudah janji untuk menemani kamu periksa ke dokter kandungan."


"Besok juga bisa," ujar Anisa.


"Besok aku lebih sibuk."


"Sekarang saja terlihat sibuk terima laporan, besok lebih sibuk akan seperti apa capeknya?" gerutu Anisa.


Panji tersenyum mendengar ucapan Anisa. "Hari ini aku mengkhususkan waktu untuk kamu, walaupun tidak dapat sempurna untuk satu hari tapi setidaknya kamu tidak marah lagi denganku. Perlu kamu tahu Anisa, aku takut kalau lihat kamu marah," gumam batin Panji.


drt


drt


drt


"Ya, apa Mon?" tanya Panji begitu tersambung dengan penelepon.


"Kamu tidak bisa menanganinya! Kamu sudah lama menjadi asisten oma! Masalah seperti itu saja tidak bisa menangani!" Kesal Panji kemudian menutup sambungan teleponnya.


Panji membalas tatapan Anisa yang sedari tadi menatapnya tanpa kedip.


Anisa nyengir menyadari itu. "Sudah Kak Panji pergi saja. Nanti sore aku bisa periksa kehamilan sendiri kok."


"Pulangnya aku jemput," ucap Panji dengan


cepat.


"Aku bisa pulang sendiri," tolak Anisa tidak ingin mengganggu pekerjaan Panji.


Panji menggelengkan kepala kemudian melangkah mengganti pakaiannya. Setelah rapi dengan kemeja dan jas dia berjalan menuruni anak tangga. Anisa mengekor di belakangnya.


"Tidak usah antar ke parkiran," ucap Panji melihat Anisa mulai jalan kesusahan menuruni anak tangga.


"Kakak melarang ku untuk mengantar Kakak ke parkiran mobil!" ujar Anisa dengan kesal lalu menghentikan langkahnya dan entah tiba-tiba saja matanya berkaca.


Panji ikut menghentikan langkahnya dia naik 3 anak tangga mendekat ke arah Anisa.


"Bukan maksudku melarang tapi jalan kamu sudah mulai susah harus naik turun tangga."


"Terserah Kakak beralasan apa!" ketus Anisa.


Panji semakin mendekat ke arah Anisa dan tangannya dengan cepat mengangkat tubuh Anisa ala bridal style.


"Kak! Turunkan!" pinta Anisa meronta.


"Kalau kamu meronta terus nanti kita malah jatuh!" seru Panji hingga Anisa harus pasrah dengan perlakuan dari laki-laki yang terlihat tersenyum menang.


Panji menurunkan Anisa begitu sampai di parkiran mobil.

__ADS_1


"Apa kamar kita pindah saja di bawah?"


Anisa menggeleng.


"Aku sudah nyaman di kamar itu," jawab Anisa.


Panji tersenyum mendengar jawaban Anisa


"Aku berangkat," pamit Panji


"Hati-hati Kak." ucap Anisa setelah meraih tangan Panji dan mencium punggung tangan itu.


Panji mengangguk, "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Sore hari, Anisa terlihat cantik dengan dress yang dia kenakan. Namun, kecantikannya terlihat tak berarti bagi sahabat satunya ini yang lebih asik ngomel dari awal pertemuan mereka sampai pemeriksaan kandungan selesai pun dia tetap ngomel hingga telinga Anisa merasa panas mendengar semua omelan itu.


"Issst! Dasar laki tak berhati! Bulan kemarin asistennya yang disuruh nganter kamu! Sekarang membiarkan kamu pergi sendiri!" gerutu Tika.


"Kak Panji sibuk Tika," ujar Anisa.


"Tidak usah kamu bela dia!"


Anisa tersenyum melihat temannya kesal dengan sikap Panji.


"Nis, apa kamu tidak ada pikiran untuk berpisah dengan manusia robot itu!" kesal Tika.


Anisa diam.


"Secara Nis, kamu tahu sendiri, dia punya kekasih. Dia tidak peduli dengan kamu dan bayimu! Apa kamu bisa menjalani hidup seperti ini terus menerus?!" tanya Tika.


"Kamu masih muda Nis, carilah kebahagiaan yang pantas kamu dapat," sambung Tika.


"Kamu banyak menderita Nis!"


"Aku tidak terlalu memusingkan hubunganku dengan Kak Panji, aku jalani seperti air mengalir saja," jawab Anisa.


"Kamu bilang jalani seperti air mengalir! Dua bulan dia cuek, kamunya nangis tiap malam!" sindir Tika.


"Itu_itu...,"


"Itu karena kamu sudah cinta dia!" ujar Tika memotong ucap Anisa.


Anisa mendengus mendengar ucapan Tika.


"Mengapa kamu menyimpulkan seperti itu," gerutu Anisa.


"Karena sepertinya kamu tidak rela manusia robot itu aku beberkan kejelekannya!"


"Kadang dia juga baik," lirih Anisa.


"Males ngomong sama kamu! Bela terus dia! Awas kalau kaya kemarin, kamu ngeluh sambil nangis! Hari ini dibaikin dikit langsung leleh!"


"Isst! Cerewet banget kaya emak-emak!" protes Anisa.


"Itu jemputan kita sudah datang!" tunjuk Tika lalu mengembangkan senyum dan berdiri dari duduknya.


Anisa menoleh ke arah Tika menunjuk, dia sangat terkejut karena dia mengira yang datang adalah Panji tapi ternyata Vano.


"Aku kan sudah bilang ke kamu, kalau kita nanti dijemput Kak Panji!" kesal Anisa pada Tika karena main sepihak untuk memutuskan sesuatu.


"Sudah satu jam kita menunggunya! Kenyataan dia tidak datang juga! Dia juga tidak membalas chat kamu!" sanggah Tika.


"Yuk jalan," ajak Tika.


malam menyapa🤗like komen komen vote hadiah juga mau 😍🥰🙏

__ADS_1


terima kasih masih setia nunggu lanjutan dari cerita ini 🙏 lope lope buat kalian ❤️🥰


__ADS_2