Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 18


__ADS_3

Sontak hal itu membuat Anisa terkejut, baru pertama kali dia mendapat perlakuan seperti ini dari lelaki yang ada di depannya. Entah mengapa hatinya begitu sakit mendengar bentakan dari Panji hingga air bening tiba-tiba saja menumpuk di pelupuk matanya.


Soal bentak membentak sebenarnya Anisa sudah terbiasa sewaktu SMA. Dibentak senior Pramuka makanan tiap pertemuan, dibentak senior karate makanan yang lumrah, dibentak senior OSIS juga biasa, dibentak guru pas tidak serius belajar wajarlah, bahkan dilabrak sama penggemar ketua OSIS karena cemburu melihat kedekatan Anisa dengan si ketua OSIS yang tampannya paripurna bak selebritas China juga sudah biasa. Tapi kali ini...mengapa begitu sakit?


Anisa menundukan kepala, matanya mengejap mencoba menahan air mata yang terbendung di pelupuk mata agar tidak terjatuh.


"A-aku minta maaf," lirih Anisa kemudian melangkah keluar ruangan.


Panji terlihat mengempaskan napas dan mengusap rambutnya dengan kasar.


"Aku rasa Tuan terlalu kasar dengan dia, setahuku orang hamil emosinya gampang naik turun," ucap Arlan.


Panji langsung melangkah cepat keluar ruangan mengejar Anisa. Dilihatlah Anisa yang masih berjalan di luar kantor.


"Aku antar pulang," titah Panji dengan menggenggam tangan Anisa, menuntun untuk masuk ke mobil dan tanpa ada penolakan, Anisa menuruti titah Panji.


Anisa duduk di samping jok kemudi. Panji langsung menarik seat belt untuk dikenakan ke Anisa.


Anisa hanya terdiam menyaksikan semua perlakuan Panji.


"Aku...aku minta maaf tadi sudah membentak kamu,"


Mendengar ucapan maaf terlontar dari mulut Panji, Anisa langsung menangis kencang dan air mata yang sedari tadi dia tahan lolos begitu saja membanjiri pipinya.


"Hei, aku minta maaf kenapa kamu malah nangis kencang?" Bingung Panji dan refleks tangannya membungkam mulut Anisa agar tangisnya tidak terdengar keluar mobil.


"Auw...!" jerit Panji, wajahnya meringis karena tangannnya digigit Anisa.


Panji mendengus kesal mendapati tindakan gadis di sampingnya.


"Dasar bocah ingusan," umpat Panji dan segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota.


"Turunlah," titah Panji begitu mereka sampai di parkiran rumah.


Anisa terdiam hanya isakan tangis yang terdengar dari mulut Anisa. Panji menoleh ke arah Anisa.


"Kamu tidak kasihan sama mata kamu yang sudah bengkak itu? Sepanjang jalan selama 30 menit lebih 30 detik kamu menangis tanpa henti," keluh Panji dan wajahnya sangat frustasi melihat Anisa.


"Aku juga tidak tahu Kak, kenapa aku tidak bisa berhenti menangis, hik hik," ucap Anisa dan tangisnya malah menjadi kencang.


Panji mendekat ke arah Anisa bahkan sangat dekat sekali karena tangan Panji sedang melepas seat belt yang dikenakan Anisa. Saat itu pula tangis Anisa terhenti, tangannya tiba-tiba meraih kerah jas Panji sehingga tubuh Panji semakin mendekat ke Anisa.


Anisa memejamkan matanya, hidungnya menyesap aroma tubuh lelaki yang ada di hadapannya. Aroma tubuh yang membuat Anisa gila dengan kelakuannya sendiri.


Panji terlihat gugup, bagaimana tidak. Anisa sedang memejamkan mata menyesap aroma tubuhnya dan wajah bocah ingusan itu semakin mendekat ke wajahnya. Memang bukan yang pertama kali Anisa melakukan hal gila itu tapi kali ini, ritme jantungnya benar-benar tidak normal dibuat oleh wanita yang berhasil mengukung tubuhnya.

__ADS_1


Tangan Panji mendorong dahi Anisa hingga wajah gadis itu menjauh dari wajah Panji.


Anisa tersenyum nyengir dan ini juga bukan pertama kali melihat reaksi Anisa seperti itu.


"Sudah, tidak marah lagi?" tanya Panji sekaligus sindiran untuk gadis yang nyeringis menatapnya.


Anisa menggeleng. Namun, saat melihat tatapan tajam Panji Anisa langsung mengangguk cepat.


"Sudah tidak menangis lagi?"


Anisa pun mengangguk cepat.


"Bagus, bocah pintar," puji Panji dengan mengelus pucuk kepala Anisa yang dibalut hijab.


Anisa melongo dengan perlakuan Panji karena ini yang pertama kali tangan kekar itu mengelus pucuk kepalanya.


"Turunlah, jangan lupa nanti kirim foto kamu sedang makan siang," ucap Panji dan diiyakan oleh Anisa.


"Assalamualaikum," ucap Anisa.


"Waalaikum salam," jawab Panji dengan menatap gadis itu turun dari mobilnya dan Panji segera melajukan mobilnya pergi dari rumah mewah itu.


...****************...


Panji menatap wajah yang dia rindukan dalam satu minggu ini. Menatapnya dengan lekat tanpa kedip.


Tiwi merasa canggung dengan tatapan tajam dari lelaki yang berdiri mematung di depan meja kerjanya. Sungguh dia juga ingin mengucapkan 'aku juga merindukanmu' karena itu yang dia rasakan.


Tiwi diam, mulutnya kaku untuk menjawab ucapan Panji. Dia sejenak menatap wajah tampan bos sekaligus lelaki yang singgah di hatinya selama 2,5 tahun ini bahkan hingga detik ini walaupun dia tahu kini keadaannya tidak seperti yang dulu lagi.


Tangannya tetap bergerak di atas keyboard dan matanya dia fokuskan di layar laptop.


"Ini sudah masuk jam istirakhat, apa kamu akan pura-pura menyibukkan diri seperti ini?" tanya Panji karena berdirinya dia di depan meja kerja Tiwi untuk mengajak Tiwi makan siang bersama.


Tiwi tetap diam.


"Aku tidak segan-segan untuk memaksa mu," ucap Panji sekaligus bentuk ancaman ke Tiwi.


"Coba saja kalau berani," tantang Tiwi.


Panji melangkah ke tempat duduk Tiwi dan tangannya akan membopong tubuh Tiwi.


"Mas, apa yang kamu lakukan?!" terkejut Tiwi dan langsung beranjak dari duduknya.


"Bukankah ini kemauan mu?!"

__ADS_1


"Jangan mendekat!" sentak Tiwi.


"Ok! Aku jalan," pasrah Tiwi kemudian melangkah keluar kantor menuju mobil Panji yang terparkir di parkiran kantor.


Panji membukakan pintu mobil untuk Tiwi dan mengikutinya masuk ke mobil. Sedangkan Arlan yang sudah duduk di jok kemudi, langsung mengemudikan mobilnya.


Lima belas menit mereka sudah sampai di resto langganan mereka.


"Aku di meja lain saja Tuan," pamit Arlan merasa canggung berada di antara dua manusia yang sedang bertikai.


"Tetap di sini!" titah Tiwi.


Arlan yang sudah mengangkat pantatnya, menatap wajah Panji untuk mendapat persetujuan duduk di antara mereka. Panji mengangguk pelan, Arlan pun mendudukkan kembali pantatnya.


Arlan memandang dua manusia yang ada di hadapan dan sampingnya benar-benar seperti manusia yang tidak saling kenal. Bahkan hingga terakhir suapan mereka belum juga mengeluarkan sepatah katapun.


"Aku harus menjelaskan semuanya padamu agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita," ucap Panji membuka pembicaraan setelah makan siangnya dia habiskan dan dia juga melihat Tiwi telah menghabiskan makanan di piringnya.


Tiwi diam tidak menyahuti ucapan Panji.


"Anisa, dia adalah calon adik ipar ku..."


"Sekarang dia menjadi istri kamu," potong Tiwi dengan suara parau.


Panji mengempaskan napasnya pelan mencoba tidak terbawa emosi.


"Ya dia terpaksa menjadi istriku dan aku juga terpaksa menjadi suaminya karena dia telah mengandung,"


"Mengandung anak kalian, bukankah seperti itu?" lontar Tiwi dengan tatapan tajam dan mata yang sudah banjir dengan cairan bening.


"Mengandung anak Faisal," ucap Panji.


"Dan aku harus mempercayai ucapan kamu setelah kamu merahasiakan pernikahan kamu!" ucap Tiwi dengan suara parau dan meninggi bahkan dia tidak peduli pengunjung kanan kiri memperhatikannya.


"Setelah kamu ucapkan dengan lantang di hadapanku, oma dan istrimu kalau bayi dalam kandungannya adalah bayimu! Lalu, hari ini kamu tiba-tiba bilang itu bayi adik kamu!" seringai Tiwi.


"Lelucon macam apa lagi yang akan kamu buat!" Tiwi menatap tajam Panji.


"Aku ingin kita berakhir sampai di sini!" lirih Tiwi kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Malam menyapa kalian๐Ÿค—


like, komen, komen, komen, komen loh...


vote, hadiah juga mau๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ

__ADS_1


maaf up date ku tidak dapat dipastikan jam berapa untuk itu selalu pantengin ya ๐Ÿ™ tapi selalu kuusahakan tiap hari up.


Komen kalian selalu kutunggu karena barangkali untuk ide nulis kedepannya ๐Ÿ™๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜.


__ADS_2