
"Cukup Oma, tolong hentikan semua ini. Tidak ada atas nama baik, tidak ada kata terpaksa, aku menjalani semua karena kerelaan. Jangan salahkan semuanya ke bunda, berdamailah dengan keadaan. Aku yakin hati oma akan tenang tidak penuh dendam." ucap Panji dan matanya kemudian menatap lekat ke Anisa.
"Aku harus berdamai semacam apa Panji, kamu tidak tahu perasaan Oma," ucap oma Sartika dengan nada suara yang mulai rendah.
"Oma sampai sekarang belum bisa terima kenyataan kalau anak Oma satu-satunya telah meninggal dunia demi menolong wanita semacam dia. Apa Oma salah ketika Oma meminta kamu sebagai ganti almarhum ayah kamu? Oma selama ini kesepian karena wanita itu hadir di rumah ini!"
"Semua sudah digariskan sama Tuhan Oma, rela tidak rela kita harus relakan apa yang telah menimpa pada kita. Ayah waktu itu hanya ingin menyelamatkan nyawa orang yang dia cintai," sanggah Panji yang tahu akan kejadian sebenarnya kecelakaan yang menimpa ayah Gilang dari bunda Rosmawati.
Waktu itu Panji berusia 3 tahun. Panji, Rosmawati, dan Ayahnya Gilang Darmawan sedang jalan-jalan menikmati waktu libur kerja. Setelah menikmati wahana permainan yang disajikan di salah satu mall besar, Rosmawati dan Panji menyeberang jalan. Panji kecil digandeng Rosmawati karena tidak mau digendong sedangkan ayah Panji memilih jalan terlebih dahulu karena membawa belanjaan banyak. Ada mobil yang akan lewat dengan kecepatan tinggi, dia hampir menabrak Rosmawati dan Panji, di sebarang jalan ayah Gilang yang akan menjemput istri dan anaknya melihat itu. Ayah Gilang langsung lari cepat mendorong tubuh istri dan anaknya, sedangkan tubuh ayah Gilang yang tidak dapat menepi bersama, akhirnya terpelanting jauh dan kepalanya terbentur mengenai beton saluran air. Seketika ayah Gilang meninggal dunia di tempat dengan bersimbah darah.
"Apa itu artinya Oma juga menyalahkanku? Karena saat itu ayah Gilang juga menyelematkan aku tidak hanya menyelamatkan bunda?"
Oma Sartika menggeleng cepat. "Tidak Panji, dalam hal ini kamu tidak salah apapun. Semua kesalahan ada padanya!" seru oma.
"Oma, tolong tenangkan diri," ucap Panji dengan menuntun Oma masuk ke dalam kamar.
Tubuh tua itu menurut karena meras tubuhnya tiba-tiba lemas. Dia melangkah ke kamar dan mulai dibaringkan di ranjang tidur.
Panji mengambil satu gelas air mineral, " minumlah Oma," pinta Panji dengan memapah Oma untuk bersandar di kepala ranjang.
Satu dua teguk air masuk ke perut oma Sartika. "Tenangkan diri Oma, istirakhatlah nanti Panji ke sini lagi." Panji membantu Oma Sartika membaringkan tubuhnya ke kasur.
Tangan Panji diraih oleh oma Sartika hingga langkah Panji harus terhenti. "Kamu tidak akan meninggalkan Oma kan? tanya Oma.
"Oma, Oma jangan pernah khawatir, selama Oma tidak melakukan tindakan yang melebihi batas Panji berjanji akan selalu di sisi Oma. Akan menemani masa tua Oma."
"Benar itu?" tanya Oma Sartika menatap ragu.
Panji mengangguk. "Tidurlah Oma," Panji memutuskan untuk duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya dia biarkan tetap dalam menggenggam tangan Oma Sartika dan tangan kirinya menepuk halus lengan Oma yang masih berisi.
Lamat-lamat mata oma Sartika terpejam. Panji melepas pelan genggaman tangannya. Setelah lepas dia melangkah keluar dari kamar itu menuju ruang tamu.
Semua yang ada di ruang tamu terlihat diam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
"Semuanya sudah makan siang?" tanya Panji mengurai ketegangan yang tampak dari wajah mereka.
"Sudah Nak, tadi sebelum ke rumah ini kami sudah makan siang," jawab ibu Maesaroh.
"Maaf ya Bu, atas ketidaknyamanan Ibu," ucap Panji.
__ADS_1
Ibu Maesaroh tersenyum, "Tidak apa-apa Nak, wajarlah pasti setiap rumah tangga itu punya masalah sendiri-sendiri."
"Kita pulang saja Nak Panji, biar Oma tenang." ujar bapak Syamsuddin.
"Jangan Bapak, aku mohon. Kalian tetap di sini. Menginap lah barang satu hari, syukur-syukur kalau beberapa hari. Kamar dan perlengkapan lain sudah aku siapkan," mohon Panji.
Rosmawati menatap anaknya, dari via telepon dia memang berjanji akan menginap di rumah itu. Walaupun dia tahu resiko yang nantinya akan ditanggung ketika bertemu dengan mertuanya dan benar saja apa yang sudah di prediksi Rosmawati benar adanya.
"Ya, kami akan menginap di sini," jawab Rosmawati.
Rona bahagia langsung terpancar dari wajah Panji.
"Ayo Bunda, Bapak, dan Ibu Maesaroh aku tunjukkan kamar kalian," antusias Panji, kakinya mulai melangkah dan menaiki tangga menuju lantai atas.
"Masuklah, ini kamar Bapak dan Ibu," Panji membuka pintu kamar. "Istirakhat lah," sambung Panji dan segera melangkah lagi menuju kamar sebelahnya.
"Ini kamar Ibu," ucap Panji.
Anisa ikut masuk ke dalam kamar. Panji masih berdiri di ambang pintu.
"Aku menemani ibu dulu Kak," ujar Anisa.
Panji mengangguk kemudian menutup pintu kamar itu.
"Yang sabar Ndok," ucap Maesaroh.
Anisa tersenyum menoleh ke arah ibunya. Tubuhnya tiba-tiba memeluk tubuh wanita di sampingnya. Ada rasa rindu yang begitu berat pada sosok ibunya. Sudah dua bulan dia berpisah dengan ibunya dan ini merupakan perpisahan yang paling lama selama menjalani hidup dengan ibu Maesaroh.
"Aku rindu Ibu," ucap Anisa.
"Ibu juga rindu kamu Nis," jawab ibu Maesaroh.
"Aku senang sekali dapat surprise kedatangan ibu ke sini," ujar Anisa kemudian melepas pelukannya.
Ibu Maesaroh hanya tersenyum.
"Nisa, apa selama ini kamu sangat menderita?" tanya Maesaroh karena sebenarnya hal ini yang ingin dia pertanyakan langsung ke Anisa.
"Oma itu pasti membuat kamu menderita," sambung Maesaroh.
__ADS_1
Anisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Dia sudah tua Bu, kata Ibu semakin tua usia orang pikiran orang itu akan kembali seperti anak kecil? Jadi, aku anggap dia anak kecil yang sering merengek minta perhatian lebih dari orang tuanya," terang Anisa.
"Ibu tanya serius Ndok."
"Ya Allah ibu, aku juga jawab serius. Memangnya ada tampang bercanda di wajah Anisa?"
Maesaroh tersenyum, mengelus pipi anaknya dengan lembut.
"Apa sebaiknya kamu ikut pulang Ibu?"
"Maksud Ibu?"
"Pulang dan memulai hidup baru dengan Ibu." lirih Maesaroh.
"Ibu punya tabungan, kita bisa cari tempat baru untuk memulai hidup baru. Ibu benar-benar miris melihat kejadian tadi," terang Maesaroh.
Anisa diam. "Aku, aku ke kamarku dulu Bu, barangkali ibu mau istirakhat dulu," ucap Anisa tanpa menjawab pernyataan yang diutarakan ibunya. Dia langsung melangkah pergi meninggalkan ibu Maesaroh yang terlihat bingung dengan sikap Anisa.
Panji segera mendudukkan pantatnya di sofa kamar. Terlihat Anisa masuk ke kamar. Wajahnya terlihat muram dan kosong. Kaki Anisa kemudian melangkah ke toilet kamar tidak lama dia keluar dengan wajah yang masih terlihat basah. Bahkan jilbab yang dia pakai terlihat sedikit basa karena percikan air yang dia basuhkan ke wajah.
"Anisa."
Suara panggilan itu membuat Anisa menoleh menatap ke sumber suara.
Panji menepuk sofa sampingnya, isyarat agar Anisa duduk di sampingnya. Anisa melangkah, menurut mendudukkan diri di samping Panji.
"Maafkan ucapan oma mengenai kamu," ucap Panji.
Anisa hanya tersenyum kecil.
"Apa setelah semua ini kamu akan langsung ambil jalan untuk pergi dari sini?"
deg
"Pertanyaan macam apa yang dia lontarkan?" batin Anisa.
"Kakak pasti sudah tidak sabar menginginkan aku pergi," gumam Anisa dan entah mengapa hatinya begitu sakit mendengar lontaran pertanyaan atau tepatnya lontaran perintah dari laki-laki yang ada di sampingnya.
Malam Menyapa 🤗 like komen, komen, ya...vote dan hadiah juga.
__ADS_1
Maaf bab 36 kemarin ada kesalahan teknis, bagi readers yang membaca awal up, tolong baca kembali,🙏
Nisa terdiam.