Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 54


__ADS_3

"Aku ambilkan nasinya Kak," tawar Anisa.


"Tidak usah! Aku bisa sendiri!" jawab Panji dengan suara ketus dan mata amarah menatap tajam ke arah Anisa.


Anisa nampak terkejut mendengar jawaban dari Panji dan yang ada di ruang meja makan juga tak kalah terkejut.


"Ambilkan saja Nis," seru bunda Rosmawati.


Anisa menurut seruan bunda Rosmawati.


Panji menatap Anisa ketika Anisa menyodorkan piring yang telah terisi nasi. Anisa sejenak bersitatap dengan Panji tapi secepatnya pandangannya kini tertunduk.


Sarapan pagi yang berubah menjadi makan siang itu terasa berbeda. Mereka saling diam dengan pikiran masing-masing. Tidak ada obrolan karena suasana memang masih duka.


"Makan yang banyak Nisa," ucap bunda Rosmawati.


"Ya Bunda, jangan sampai calon bayi kamu kelaparan," lanjut bunda Rosmawati dengan menampilkan senyum.


"Dulu Ibu waktu hamil kamu, makannya jadi 2x lipat karena walaupun kamu perempuan tapi sangat aktif di dalam kandungan," sambung ibu Maesaroh.


Anisa tersenyum mendengar ucapan ibunya.


"Kamu ngidam apa Nis?" tanya bunda Rosmawati.


Anisa menggeleng.


"Tidak ngidam apapun?"


"Ya kadang Bun dan kadang harus merepotkan Kak Panji."


Bunda Rosmawati tertawa kecil. "Dia suami kamu, buat repot dia tidak apa-apa, asal nanti anak kalian tidak ngiler."


"Oya, di USG sudah terlihat jenis kelamin janinnya?"


"Belum Bunda,"


"Semoga anaknya perempuan."


"Laki-laki Mbak Ros," sela ibu Maesaroh yang menginginkan cucu laki-laki.


"Perempuan Mbak," sanggah bunda Rosmawati dengan tersenyum.


"Nak, kamu inginnya anak itu perempuan atau laki-laki?"


Panji terkejut mendengar lontaran tanya dari sang bunda hingga dia menelan susah makanan yang sudah dia kunyah.


"A_aku?"


"Ya, apa coba inginnya?"


"Terserah Bun, mau itu laki-laki atau perempuan sama saja," jawab Panji karena memang selama ini tidak terlintas sedikitpun dalam otaknya bayi yang di kandung Anisa akan lahir dengan jenis kelamin perempuan atau laki-laki.


"Benar apa kata Panji, anak itu titipan Allah. Tidak melihat itu perempuan atau laki-laki sama saja. Harus kita jaga dan bimbing supaya kelak dewasa jadi anak yang soleh atau solekha." sambung bapak Syamsuddin.

__ADS_1


"Sering elus bayinya Nak, biar anak itu dekat dengan kamu." ujar bunda Rosmawati.


Panji mengangguk pelan.


...****************...


Ini hari ke-7 Oma meninggal dunia. Malam ini adalah malam terakhir untuk selamatan 7 hari.


Setelah acara selamatan selesai Panji duduk dengan bunda Rosmawati dan bapak Syamsuddin. Sedangkan Anisa sudah masuk ke kamar bersama ibunya.


"Bun, Bapak, terima kasih sudah menemani Panji hingga acara selamatan 7 hari oma." ucap Panji.


"Itu sudah kewajiban kami sebagai anak beliau Panji," jawab bunda Rosmawati.


"Aku senang bunda dan bapak di sini," ujar Panji.


"Apa sebaiknya bunda dan bapak tinggal di sini saja?" tawar Panji.


"Hust! Ngawur kamu!" jawab bunda Rosmawati cepat dengan senyum menghias di wajahnya.


"Pertama, kamu di sini sudah ada istri kamu. Kedua, Bapak di rumah punya tanggungan untuk mengajar anak-anak ngaji. Ketiga, bunda tahu, rumah tangga itu lebih nyaman tinggal dengan keluarga inti. Bunda, tetap bunda kamu, tapi bunda juga punya keluarga sendiri. Walaupun tidak mengapa tinggal dengan kamu tapi pasti ada perbedaannya, sudah menikah serumah dengan kedua orang tua atau tanpa orang tua," terang bunda Rosmawati.


"Apa kamu sedang ada masalah dengan Anisa?" selidik bunda Rosmawati.


Panji menggeleng.


"Anisa anak yang baik Panji, jangan sampai kamu menyia-nyiakan dia, nanti kamu menyesal."


"Ya, Bun."


Panji tiba-tiba tersenyum mendengar tanya dari sang bunda.


Bunda Rosmawati juga ikut tersenyum melihat reaksi dari anaknya. Namun, ada rasa lega yang mendalam melihat senyum di wajah Panji.


"Dia gadis yang ceroboh Bun," jawab Panji karena yang terlintas dari otak otak Panji ya tentang kecerobohan Anisa yang terkadang membuat kedua sudut bibir Panji mengembang membentuk sebuah senyuman.


"Terus...?" penasaran bunda Rosmawati karena Panji setelah itu tidak melanjutkan ucapannya. "hanya itu?" sambungnya.


Panji mengangguk.


"Kamu tidak mau cerita soal Anisa yang rajin salat, rajin ngaji, atau tentang cerdasnya sesosok Anisa," cecar bunda Rosmawati.


"Kalau bunda sudah tahu itu ngapain juga bunda tanya," gumam Panji.


"Issst! Ini bocah!" gedek bunda Rosmawati dan tangannya bergerak gemas ingin menimpuk kepala Panji.


"Bunda, kamu suka mancing-mancing Panji," sela bapak Syamsuddin.


Bunda Rosmawati terlihat memanyun.


"Jangan manyun seperti itu, nanti cantiknya hilang," rayu bapak Syamsuddin.


Bunda Rosmawati langsung tersenyum mendengar gombalan dari suami.

__ADS_1


Panji terlihat tersenyum melihat interaksi mereka. Ada rasa iri melihat itu semua. Iri apakah tua nanti dia juga akan sebahagia bunda dan bapak Syamsuddin.


"Jangan ngegombal gitu Pak, malu dilihat Panji," ujar bunda Rosmawati.


"Terima kasih Bapak karena selalu mencoba membahagiakan bunda," ucap Panji pada bapak Syamsuddin.


"Itu sudah kewajiban bapak, membahagiakan bundamu juga kamu tapi sayang, sepertinya yang belum sama sekali tercapai itu membahagiakan kamu,"


Panji tersenyum mendengar jawaban dari bapak Syamsuddin.


"Kalau bunda bahagia aku juga bahagia Pak," jawab Panji.


"Bun, kemarin Panji belum sempat bicara ke bunda." ucap Panji akan membicarakan lain tema.


"Bicara apa Nak?"


"Waktu Panji ke rumah Bunda karena terburu-buru Panji hanya menyampaikan kalau oma ingin bertemu dengan Bunda. Panji tidak sempat jelaskan kalau oma Sartika ingin bertemu bunda karena ingin meminta maaf langsung ke bunda dan bapak Syamsuddin atas kesalahannya selama ini," terang Panji.


"Masya Allah...Benar seperti itu Panji?" terkejut bunda Rosmawati sampai matanya langsung berkaca-kaca.


Panji mengangguk.


"Itulah Panji, umur tidak ada yang tahu. Itu gambaran untuk kita semua untuk menyiapkan amal baik sebanyak mungkin menuju akhirat karena yang namanya kematian itu hal yang pasti," sahut bapak Syamsuddin.


Rasanya mengena sekali ucapan yang terlontar dari mulut bapak Syamsuddin. Benar-benar mengena di hati Panji yang selama ini jauh dari agama.


Panji mengangguk mendengar nasihat dari bapak Syamsuddin.


"Kamu gih ke atas, Anisa pasti sudah menunggu kamu," pinta bunda Rosmawati.


Panji mengangguk sekali lagi. "Aku ke atas Bun, Pak," pamit Panji.


Pamitan itu dijawab 'ya' oleh mereka berdua.


Panji membuka pintu kamar, dilihatlah ranjang tidur masih kosong.


"Mungkin dia tidur dengan ibunya." batin Panji.


Kaki Panji melangkah ke toilet kamar untuk bebersih. Setelah bersih dia mengganti pakaian tidur kemudian merebahkan diri di ranjang itu hingga suara desiran napas teratur terdengar dari Panji. Dia kini sudah tertidur pulas.


Anisa berjalan jinjit mendapati lampu yang sudah terlihat temaram. Dia yang sudah bebersih dan mengganti baju tidur langsung naik ke atas ranjang.


Tubuhnya dia rebahkan di kasur, posisinya menghadap ke arah laki-laki di hadapannya.


Anisa menatap intens laki-laki itu, tidak ada celah yang terlewati dari hasil memindai.


Tangan Anisa bahkan kini bergerak mengikuti lekuk wajah yang nyaris sempurna itu.


"Hidung mancung ini, kenapa tidak disumbangkan sedikit ke aku? Lalu garis mata ini sangat tegas. cekung mata kakak menambah kesan hidung Kakak yang mancung dan bibir kakak ini, mengapa warnanya lebih merah kak Panji dibanding aku?" gumam Anisa memuji ketampanan milik Panji.


"Semoga prasangka ku kalau kak Panji sedang marah denganku itu salah," ucap batin Anisa karena dalam satu minggu ini interaksinya dengan Panji terasa canggung bahkan terkesan bicara seperlunya. Anisa tidak tahu, Panji mau berbicara dengannya apa bentuk terpaksa karena ada ibu, bunda dan bapak Syamsuddin atau mungkin itu benar dari Panji sendiri.


Anisa menguap rasa kantuk kini menghampirinya dan kini dia ikut tertidur dengan posisi saling berhadapan dengan lelaki yang ada di depannya.

__ADS_1


malam menyapa πŸ€— like komen vote hadiah dongπŸ™πŸ˜πŸ₯°πŸ˜˜


__ADS_2