Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 11


__ADS_3

"Tapi ada hal yang ingin kutanyakan padamu Mas," ucap Tiwi.


"Apa?" tanya Panji dengan mata tetap fokus ke jalan dan kedua tangan yang memegang kemudi.


"Siapa Anisa?"


"Oh...Anisa itu calon istrinya Faisal," jawab Panji dibuat setenang mungkin karena dia tahu hal ini pasti akan ditanyakan Tiwi dan dia harap tidak ada lagi pertanyaan yang diajukan Tiwi tentang Anisa.


"Oya sayang, maaf jenguk bapak kamu besok saja ya. Setelah kamu sampai di kantor nanti aku langsung ke SPBU 3." Panji mencoba mengalihkan pembicaraan.


Tiwi mengangguk karena itulah kesibukan sang kekasih. Dalam satu bulan harus mendatangi semua SPBU-nya untuk mengecek secara langsung.


"Nyetir sendiri?"


"Arlan sudah menunggu di SPBU 2, aku suruh dia ke sana untuk membantu pengecekan."


"Kamu yang hati-hati," ucap Tiwi kemudian melepas seat belt-nya.


Tiwi turun dari mobil karena mereka sudah sampai di kantor SPBU pusat. Tangannya melambai mengiringi kepergian mobil milik Panji.


huft


Panji mengempaskan napas perlahan, "Belum saatnya aku bicarakan semua padamu Tiwi tapi aku janji akan jujur padamu tentang semuanya," monolog batin Panji.


...****************...


Siang itu, Panji menyempatkan diri pulang sebelum melanjutkan perjalanan ke SPBU cabang lain. Tangannya mengetuk pelan pintu kamar. Namun tidak ada sahutan. Dia membuka pelan pintu kamar. Pandangannya terkunci menatap gadis yang entah takdir atau hanya kebetulan semata hingga gadis itu masuk ke dalam hidupnya.


Dia Anisa, sedang melafalkan ayat Al Qur'an dengan mukena yang masih dia kenakan karena baru saja menunaikan dua rakaat sunah Dhuha.


"Itu kah kamu yang sebenarnya Anisa?" batin Panji masih tanpa kedip dengan menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dia mendekat karena memang ada hal akan dia sampaikan ke Anisa.


"Kenapa pulang Kak?" tanya Anisa setelah menghentikan baca ayat suci Al Qur'an.


"Nanti sore aku tidak bisa ngantar kamu chek up ke dokter kandungan."


"Oh...ya sudah nanti aku sendiri."


"Apa cancel saja, besok chek up nya?"


"Tidak apa-apa Kak, tinggal Kakak beri alamat lengkap nanti taksi on line yang ngantar aku."


Panji terdiam. Tadi pagi diingatkan oleh Tiwi kalau nanti sore akan berkunjung ke rumahnya. Kemarin sudah membatalkan rencana itu jadi sore nanti tidak mungkin untuk dibatalkan lagi. Akhirnya dengan terpaksa tidak jadi menemani Anisa chek up ke dokter kandungan padahal tadi malam sudah mengiyakan untuk mengantarnya bahkan Panji yang merekomendasikan untuk chek up ke dokter Vivi, temannya dahulu.


"Ok tapi kamu hati-hati ya," ucap Panji walaupun ada ragu melepas Anisa pergi sendiri. Bukan karena apa-apa tapi Panji tidak mau ribet kalau terjadi sesuatu menimpa pada Anisa.


"Ya sudah aku pergi dulu, jangan lupa nanti makan siang."

__ADS_1


Anisa mengangguk, "Di jalan hati-hati Kak,"


Panji hanya mengangguk kemudian melangkah pergi dari kamar itu.


"Aku merasakan kejanggalan atas apa yang menimpamu Anisa. Apa perlu aku selidiki laki-laki yang bernama Heri?" monolog batin Panji.


"Ah...! Ngapain aku pikirkan! Aku tidak mau ikut campur lebih jauh urusanmu yang terpenting, aku jalani pernikahan ini tanpa ada masalah. Setelah kamu melahirkan baru aku akan bertindak jauh," keluh Panji yang tanpa terasa kakinya sudah sampai di parkir mobil.


"Apa ada yang tertinggal Tuan?" tanya Arlan melihat tuannya dengan wajah bingung.


"Tuan," ulang Arlan karena panggilannya tidak disahuti tuannya.


"Oh, apa Ar?" terkejut Panji.


"Lupakanlah, akhir-akhir ini tuan banyak masalah makanya jadi seperti ini," tohok Arlan kemudian masang seat belt-nya


Panji hanya mendengus mendengar pernyataan Arlan. Mobil pun melaju meninggalkan rumah mewah itu dan tanpa mereka tahu ada sepasang mata yang telah menatap tajam setiap gerak-gerik mereka dari balik jendela ruang tamu.


Waktu terus berputar, sang raksasa bola panas makin condong ke arah Barat, bayangan semakin menjauh dari titik ubun-ubun. Anisa sudah berdandan cantik dengan celana panjang dan atasan blouse berkerah lebar dengan rampel menutup dada dan kerudung segi empat yang dia ikat dua ujungnya ke belakang leher. Langkahnya terhenti karena barusan dia menerima panggilan masuk dari temannya.


"Ya Allah...ternyata kita bertetangga komplek. Nanti kalau kamu libur kuliah aku akan ke rumah mu," antusias Anisa.


"Ada beberapa teman SMA yang kuliah di sini loh Nis," lapor Tika.


"Siapa saja?"


"Emmm...termasuk penggemarmu," jawab Tika yang terlihat bersemangat memberi kabar itu.


"Issst, banyak yang mengidolakanmu tapi kamu terlalu cuek ke mereka. Salah satunya si manusia kutub,"


"Manusia kutub tapi selalu melelehkan hati gadis-gadis SMA kita," sambung Tika dengan suara gemas.


"Salah satunya kamu," celetuk Anisa.


"Kalau saja dia meliriknya ke aku pasti aku jawab 'yes' aku mau jadi kekasihmu,"


"Semoga diijabah Allah kamu dipersatukan dengan sang pujaan hati," ucap Anisa.


"Amin ya Allah," seru Tika sambil terkekeh.


"Kamu masih di kampus?" tanya Anisa mengalihkan pembicaraan.


"Ya, mungkin juga sampai malam, karena dosennya memundurkan jadwal masuk."


Anisa terdiam. "Senang sekali bisa kuliah,"


"Issst...suami kamu yang tajir melintir itu sudah pasti bisa menguliahkan kamu," sergah Tika.

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri kondisiku sekarang," ucap Anisa dengan suara yang melemah.


"Kamu yang sabar Nis, seberat apapun cobaan yang kamu tanggung pasti kamu kuat karena Allah lah yang menjamin semua itu, tidak akan menguji pada umat tanpa batas kemampuannya."


"Ya ustazah Tika,"


Tika terkekeh mendengar namanya diberi gelar ustazah, "Ustazahnya lagi ceramah di masjid," canda Tika.


"Jadi kangen dengan kalian my best friend," Anisa memasang muka sendu.


"Kita atur temuan yuk," ajak Anisa.


"Yuk...mau banget. Oya Nis, maaf ya aku harus masuk kelas. Dosennya itu sudah masuk.


"Ok! Belajar yang rajin anak baik,"


"Ya, anak baik juga belajar menjadi nyonya Panji yang baik ya," ledek Tika.


"Apaan sih Tik,"


Tika terkekeh, "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," panggilan itu terputus.


Anisa memasukkan ponselnya ke tas setelah membaca pesan yang masuk.


Saya di depan rumah Mbak.


Dia bergegas turun dari lantai dua menuju ke luar rumah dimana mobil taksi online-nya sudah ada di sana.


"Pak Arif?"


"Ya neng," jawab seorang paruh baya yang mengemudi taksi on-line.


Anisa segera masuk di kursi penumpang. Mobil pun berjalan memasuki jalanan. Jujur ini pertama kali Anisa pergi keluar sendiri. Walaupun sempat ragu namun segera dia tepis demi bertemu dengan dokter Vivi, dokter spesialis kandungan.


Tidak butuh waktu lama sekitar 30 menit sampailah Anisa di klinik 'Keluarga Sehat Ibu dan Anak'. Klinik yang lumayan besar menurut Anisa. Berbagai fasilitas tersedia di klinik tersebut. Mata Anisa masih mengedar ke penjuru tempat klinik. Kemudian dia berhenti di bagian pendaftaran.


Anisa menunjukkan KTP sebagi tanda pengenal ke pegawai yang memakai pakaian serba ungu.


"Nona Anisa Khumaira? Silahkan duduk di ruang tunggu." ucap pegawai tersebut sambil mempersilahkan Anisa untuk duduk.


Anisa menurut dan mendudukkan pantatnya di kursi tunggu.


"Klinik ibu dan anak? Apa yang dia sembunyikan? mengapa dia ke klinik ini?" monolog wanita yang rambutnya sudah memutih semua. Tatapannya hanya terhenti sampai di gerbang klinik.


malam menyapa kalian. semoga kalian sehat.

__ADS_1


yuk dukung author dengan like, komen, hadiah, vote juga mauuuuu.


komen, komen, komen, ๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ๐ŸŒนโค๏ธ


__ADS_2