Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 74


__ADS_3

"Salim dulu dengan eyang Saroh," tuntun Panji agar Nevan salaman dengan eyangnya. Nevan menurut, mencium punggung tangan wanita yang sudah paruh baya itu.


"Cucu pintar," ucap Maesaroh, mengelus kepala Nevan kemudian mencium 2 pipinya.


"Nak Panji, cepat bawa pulang Anisa," pinta Maesaroh mengarahkan pandangan ke Panji.


Panji tersenyum, menganggukkan kepalanya, "Ya Bu," ujar Panji.


"Kasihan Nevan, dia tidak pernah bertemu dengan bundanya. Lagian dulu kenapa kamu izinkan Anisa pergi sekolah ke Malaysia Nak. Dia juga pergi tanpa pamit, hanya telepon itu pun setelah sampai di Malaysia," keluh Maesaroh.


"Apa begitu sibuknya Anisa Nak sampai tidak boleh kita temui?" tanya Maesaroh yang memang tidak punya pengalaman menyekolahkan anak hingga ke luar negeri. Dulu Maesaroh hanya lulusan SD tapi kesadaran akan pentingnya mencari ilmu agama dan ilmu umum sudah dia terapkan pada pendiriannya.


Lagi Panji mengangguk.


"Padahal ibu sudah sangat merindukannya," lirih Maesaroh.


"Insyaallah ibu akan segera bertemu dengan Anisa," ucap Panji menghibur sang ibu mertua atau tepatnya mantan mertua.


"Ya sudah kalian jalan sana, nanti kemalaman di jalan!" titah Maesaroh dan diiyakan Panji.


"Assalamualaikum Bu," uluk Panji kemudian masuk ke mobilnya.


"Waalaikum salam, hati-hati Nak."


Mobil Panji bergulir melaju menuju rumah bunda Rosmawati sebelum melanjutkan pergi ke Jakarta. Sudah menjadi rutinitas Panji berkunjung ke rumah bunda dan mertuanya. Nevan juga selalu diajak ikut berkunjung.


"Oma Ros...!" seru Nevan langsung memeluk wanita yang dipanggil oma itu, padahal satu jam lalu dia juga sudah bertemu dengan omanya tapi ulah bocah itu tidak ada yang bisa menebak.


"Ya Allah cucu Oma yang ganteng, yang pinter, yang semakin gede, selalu histeris kalau temu dengan oma," ucap Rosmawati sambil mencium gemas dua pipi Nevan.


"Opa Syam di dalam, sana masuk," pinta Rosmawati.


"Siap Oma!" antusias Nevan, langsung lari masuk ke dalam dan Arlan mengekor Nevan masuk ke dalam.


Panji mendudukkan pantatnya di kursi teras rumah.


"Bertemu ibu Maesaroh?"


Panji mengangguk.


Rosmawati mengelus lengan Panji melihat raut wajah yang terlihat berubah setelah pertanyaan tadi terlontar dari mulut Rosmawati.


"Cepat atau lambat ibu Maesaroh akan tahu rumah tangga kamu dan Anisa yang sebenarnya. Kalau kamu merahasiakan terlalu lama, itu juga tidak baik untuk kesehatan kamu, Bunda tahu kamu menanggung beban pikir untuk semua ini."


Panji hanya tersenyum.


"Raihlah bahagia mu Nak, temui Anisa, ajak dia rujuk," bujuk bunda Rosmawati dan bujukan ini sudah tidak terhitung berapa kali dilontarkan bunda Rosmawati.


Panji terdiam.


"Minta maaflah sama Anisa dan jelaskan kondisi yang sebenarnya pada Nisa. Bunda yakin Nisa akan memaafkan kamu."


"Aku sudah iklhas kan Nisa Bu," jawab Panji dengan nada melemah.

__ADS_1


"Walaupun kamu mencintainya?" cecar Rosmawati.


"Apa aku pernah mengatakan pada Bunda kalau aku mencintainya?"


"Tanpa kamu mengatakan secara langsung, seorang Bunda pasti tahu akan anaknya."


Panji tersenyum simpul.


"Aku merasa tidak pantas dengan Anisa."


"Dan kamu menceraikannya karena kamu berharap Anisa bisa bebas menemukan cinta sejatinya?" cecar Rosmawati.


"Bagaimana jika ternyata Anisa juga mencintaimu? Apa kamu tidak menambah kesalahan karena menambah penderitaan untuk Nisa?"


Panji terdiam.


"Sebelum benar-benar terlambat Nak, cepatlah susul Anisa." bujuk Rosmawati.


'Aku sudah menyakitinya, apa pantas aku mengharapkan cintanya? Aku sudah membuat Anisa terpisah dengan Nevan, apa aku pantas meminta maaf padanya? Hah! Terlalu banyak kesalahan yang ku perbuat,' batin Panji bermonolog.


"Aku salat asar dulu Bun," pamit Panji kemudian melangkah masuk.


Rosmawati mengangguk, matanya menatap punggung anak lelakinya. Dua setengah tahun terakhir ini banyak perubahan padanya. Namun yang paling membuat Rosmawati bahagia adalah perubahan ketaatan pada Sang Illahi. Dia melihat itu, karena sesekali Panji kalau berkunjung ke rumahnya dia akan menginap beberapa hari, selain salatnya yang semakin disempurnakan dengan salat-salat sunah juga Rosmawati mendengar Panji melantunkan ayat suci Al-Quran. Lantunan yang hampir tiap hari didengar Rosmawati sewaktu Panji kecil.


"Sudah salat Pak?" tanya Panji melihat bapak Syamsuddin bermain dengan Nevan.


"Ayah, lihat! Nevan bisa buat pesawat!" Nevan dengan antusias menunjukkan hasil karyanya membuat pesawat dari susunan lego.


"Wah, hebat sekali anak Ayah," puji Panji.


"Tadi Bapak sudah salat sama bunda. Kamu belum salat?" tanya balik bapak Syamsuddin.


"Ya belum," jawab Panji


"Arlan, kita jamaah," ajak Panji tertuju pada Arlan.


Arlan mengiyakan dengan mengekor langkah Panji.


...****************...


Suasana panti asuhan disulap dengan dekor tema Ipin Upin, banyak balon dan banner 2 bocah plontos itu. Warna biru dan kuning dominan terpilih sebagai warna yang menghiasi dekor.


Semua anak panti memakai baju baru pemberian Panji, diantara mereka ada Nevan yang terlihat sangat bahagia dan antusias mengajak teman-teman sebaya maupun lebih besar darinya untuk bermain lari-lari. Mahkota khas ulang tahun tersemat di kepala masing-masing anak.


Senyum mengembang dari bibir Panji melihat tingkah anaknya.


Tamu undangan satu persatu masuk ke ruang panti itu, guru dan teman PAUD Nevan ikut serta dalam daftar undangan tentunya teman PAUD datang bersama orang tua mereka.


Waktu sudah semakin siang, panitia acara mulai mengumpulkan anak-anak. Memulai acara ulang tahun Nevan. Semua anak lebur di situ, bersorak sorai bernyanyi dan bermain dengan 2 pembawa acara yang memakai kostum 2 bocah plontos, Ipin Upin.


Tiba waktunya potong kue, Nevan memberikan potongan pertama pada ayahnya.


"Ayah terima kasih sudah baik pada Nevan," ucap Nevan dengan polos disambut tepukan riuh dari teman-temannya.

__ADS_1


"Terima kasih juga, Nevan sudah menjadi anak yang baik," sahut Panji kemudian mencium 2 pipi Nevan.


"Kue berikutnya boleh diberikan ke Bunda," ujar salah satu pembawa acara.


Seketika suasana hening mendengar ucapan pembawa acara berkostum Ipin.


Si Upin yang tahu kalau anak yang berulang tahun itu tidak memiliki ibu, langsung menginjak kaki Ipin.


"Auw," pekik Ipin tahu maksud dari Upin.


"Bunda masih sibuk," ucap Nevan.


Seketika suasana menjadi beku. Namun kebekuan itu segera dicairkan pembawa acara dengan mengajak anak-anak menyaksikan atraksi sulap.


"Kasihan ya Nevan, tidak tahu kalau bunda nya sudah meninggal," bisik seorang.


"Mengapa ayahnya tidak mengatakan yang sebenarnya kalau bundanya sudah meninggal?" sahut satunya.


"Aku dengar sih Nevan bukan anak kandung lelaki tampan itu," sela ibu bertubuh sexy.


"Ah kamu selalu terdepan kalau menyangkut duda tampan," ledek wanita di sampingnya.


Mulut mereka baru terbungkam ketika ada seorang ustadz tampan yang datang ke acara ulang tahun.


"Itu kan...itu ustadz Mirza, astaga ganteng sekali aslinya," seru salah satu mereka.


"Nanti harus foto dengan ustadz Mirza?" ucap wanita bertubuh sexy.


"Akhirnya datang juga," seru Panji kemudian memeluk lelaki di depannya.


"Maaf aku terlambat karena pasukan ku tiba-tiba ada yang ngambek," ucap ustadz Mirza membalas pelukan Panji.


"Assalamualaikum Om Panji," sapa salah satu pasukan yang dimaksud ustadz Mirza. Dia mengepalkan tangan kemudian TOS ke arah kepalan tangan Panji.


"Wassalamu'alaikum salam jagoan Om," jawab Panji kemudian mengelus rambut bocah kecil itu.


"Om Panji! sapa satunya.


"Hai Uwais," balas Panji.


"Selamat ulang tahun Nevan," ucap 2 bocah yang terlihat seperti kembar karena besarnya hampir sama dan wajahnya yang memang sangat mirip. Mereka memberikan kado.


"Terima kasih Uwais, Mihshan," sahut Nevan.


"Biar Om yang menerima kado itu," sela Panji mengambil kado dari 2 bocah itu.


"Selamat ulang tahun jagoan Tante," ucap wanita berhijab yang terlihat cantik. Siapa lagi kalau bukan Femila, istri ustadz Mirza.


"Terima kasih Tante," sahut Nevan.


Acara demi acara berjalan dengan lancar. Acara penutup diakhiri dengan doa yang disampaikan ustadz Mirza.


Namum, dari awal acara hingga akhir acara, mereka tidak menyadari ada sesosok orang yang sesekali menyeka air matanya menatap lekat ke arah bocah yang sedang merayakan ulang tahun.

__ADS_1


pagi menyapa 🤗 harusnya aku up tadi malam, tapi sinyal di tempatku ya Allah bikin greget.


like, komen, ada yang masih menyisakan vote? lempar di sini ya😍, hadiah juga mau🥰.


__ADS_2