
"Tidak ada penolakan, segera beritahu Tika dan suruh dia pulang untuk berkemas-kemas. Satu minggu kita stay di KL!" titah Panji, "assalamualaikum," pamitnya lalu menutup sambungan itu.
"Kakak menghubungi siapa?" tanya Anisa dengan suara parau dan mata tanpa terbuka.
"Kenapa malah bangun?" ujar Panji tanpa menjawab pertanyaan dari Anisa justru membalikkan dengan sebuah tanya.
"Aku mendengar suara Kakak makanya aku terbangun," jawab Anisa.
"Maafkan aku," lirih Panji kembali memeluk tubuh Anisa.
"Besok jalan-jalan, ajak Nadira dan Vano," ucap Panji.
"Kita tidak langsung pulang Indonesia?"
Panji menggeleng, "Kita sekalian honeymoon sayang," ujar Panji.
Anisa tersenyum, "Curang! Kenapa honeymoon nya sekalian di Kuala Lumpur, katanya mau mengajak ke Raja Ampat," protes Anisa.
"Insyaallah juga ke sana sayang, nunggu waktu yang tepat," sahut Panji.
"Aku ingin ada adik Nevan di sini," sambung Panji sambil mengelus perut Anisa.
Anisa tersenyum.
"Aku juga Kak," balas Anisa ikut mengelus perutnya.
"Oya Nis, kelihatannya kamu belum datang bulan ya?"
"Oh... tamu bulananku biasa datang terlambat Kak, satu hingga dua minggu," jawab Anisa.
Panji mengangguk mengiyakan ucapan Anisa.
'Apa mungkin aku hamil? Saat malam pertama dengan Kak Panji mungkinkah itu masa suburku? Ah sudahlah, kalau sudah rezeki pasti datang juga amanah itu,' monolog batin Anisa lalu memejamkan kembali matanya.
Sementara itu di Indonesia.
Arlan langsung melaksanakan titah dari atasannya. Setelah menyampaikan yg titah itu pada Tika, Tika pun segera berkemas untuk pulang ke tempat kos.
"Loh, Mbak Tika mau kemana?" tanya Nesya yang baru masuk ke ruangannya karena sedari tadi mengkroscek barang yang ada di gudang.
"Aku mau terbang ke KL," ucap Tika dengan girang.
"Senang sekali, dengan siapa ke sana?"
senyum yang menghias di wajah Tika langsung berubah mendengar lontar tanya Nesya.
"Mas kamu!" sungut Tika.
Nesya melongo melebarkan mulutnya, "serius Mbak?" Nesya memastikan.
"Atas pinta pak Panji. Ini pasti permintaan dari istri Pak Panji agar aku menyusul ke Kuala Lumpur tapi apesnya, kenapa juga harus dengan mas kamu!" gerutu Tika.
"Yes! Yes!" seru Nesya, lompat kegirangan lalu memeluk tubuh Tika.
"Kenapa sih Nes?" bingung Tika.
"Ya jelas senenglah, akhirnya mas aku dan Mbak yu ku yang cantik jelita nan mempesona ini ada kesempatan untuk pergi berdua," terang Nesya.
"Issst ... dari Indonesia memang berdua tapi di sana kita banyak orang kok," sanggah Tika.
"Intinya kalian pergi berdua," ujar Nesya mengerlingkan matanya pada Tika.
"Terserah kamu, aku pulang dulu," pamit Tika.
__ADS_1
"Eh, bentar. Aku juga mau kemas-kemas dulu," cekat Nesya dan tangannya bergerak cepat membersihkan meja kerja.
"Sudah siapa?" tanya Arlan setelah masuk ke ruang kerja Anisa dan
"Sudah!" jawab Tika dan Nesya tapi suara yang paling mendominasi adalah suara Nesya.
"Kamu ngapain ikut-ikut jawab," protes Arlan.
"Aku akan ikut mengantar mas dan calon mbak ipar ke bandara," sahut Nesya.
"Tetap di sini!"
"Tidak!" tolak Nesya tetap ngeloyor jalan dan masuk ke mobil yang dipakai Arlan.
"Keras kepala!" gerutu Arlan.
Nesya menyahuti dengan mengangkat dua bahunya.
Terlihat Tika sudah melajukan motornya, Arlan pun mengekor langkah motor itu dengan mobilnya.
Tika memasukkan barang yang perlu dibawa. Nesya terlihat membantu Tika mempersiapkan semua.
"Kita pulang dulu Nes," ajak Arlan.
"Mas pulang saja sendiri, aku bantu packing Mbak Tika," jawab Nesya.
"Ya sudah, aku pulang, assalamualaikum" pamit Arlan.
"Waalaikum salam," jawab serentak Nesya dan Tika.
"Bawanya banyak sekali Mbak?"
"Nanti kita di Kuala Lumpur selama satu minggu."
Tika mengangguk.
"Semoga benih cinta kalian semakin terpupuk dan kalian saling menyadari kalau kalian saling cinta," ucap Nesya dan dibalas hanya dengan gelengan kepala oleh Tika.
Waktu terus berjalan hingga Magrib berkumandang. Tika dan Nesya segera menunaikan salat Magrib dan bersiap-siap pergi ke bandara.
Tidak lama setelah itu Arlan datang. Tika dan Nesya gegas masuk mobil setelah kopernya masuk ke bagasi.
"Kak, sesampai di Kuala Lumpur kalian menginap dimana?" tanya Nesya.
"Di hotel, kata Anisa sudah dipesankan hotel untuk kita," jawab Tika.
"Wah berarti kalian nanti satu kamar?" terkejut Nesya.
"Ya nggaklah Nes!" jawab Tika dan Arlan serentak, Nesya tersenyum menanggapi reaksi keduanya.
"Tuh kan masih saja meragukan cinta padahal kalian benar-benar cinta. buktinya bicara saja sering kompak seperti tadi," celetuk Nesya.
Mereka sampai di bandara, Arlan menurunkan kopernya dan milik Tika lalu segera gegas untuk check in.
"Foto dulu dong Mas," pinta Nesya setelah selesai check in.
Arlan dan Nesya menurut, foto bertiga dengan posisi Nesya di tengah dan kepala menempel pada kepala Nesya. Pose kedua Nesya geser hingga Arlan dan Tika berdampingan. Pose ketiga permintaan Nesya yang sebenarnya sempat ditolak Tika, yaitu foto hanya berdua dengan Arlan.
"Kalian mau foto apa sedang marahan sih! Kaki sekali berjauhan lagi!" gerutu Nesya lalu menarik Arlan agar mendekat dengan Tika.
Pose berdekatan tanpa bersentuhan itu pun diambil tapi posisi Arlan yang agak mundur dari Tika membuat foto itu terlihat mereka bersentuhan.
Nesya tersenyum setelah mendapat beberapa pose yang dia inginkan.
__ADS_1
'Siap menjalankan aksi,' batin Nesya menatap hasil jepretannya.
"Tidak ingin memeluk mas kamu?" tawar Arlan pada sang adik karena Nesya sepertinya cuek saja.
"Inginlah," sahut Nesya langsung memeluk Arlan.
"Jaga diri baik-baik, jangan pulang sampai larut," pesan Arlan.
Nesya melepas pelukannya dan mengangguk, mengiyakan titah Kakaknya.
"Mas Arlan, aku titip Mbak Tika. Jaga dia baik-baik," ujar Nesya.
"Aku bisa jaga diri, tidak usah kamu titipkan ke orang," celetuk Tika lalu ngeloyor pergi.
"Hei Mbak, tidak peluk dulu kek?!"
"Peluk on line saja!" seru Tika yang sudah melangkah jauh menuju gate keberangkatan.
Nesya hanya tersenyum, dan Arlan segera menyusul.
"Semoga kalian berjodoh," gumam Nesya.
...****************...
Tepat pukul 23.30 mereka sampai di hotel dan segera masuk ke kamar masing-masing.
Pagi-paginya Anisa mengajak Tika untuk untuk sarapan bersama di resto dalam hotel. Beberapa menu makanan tersaji dalam meja.
Anisa hanya mengambil roti canai untuk menu sarapan dan beberapa potong buah. Berbeda dengan Anisa, Nevan lebih memilih nasi lemak.
Mereka santap sarapan bersama sesekali terlibat obrolan. Setelah puas sarapan, mereka menikmati panorama hotel yang menakjubkan.
Menyediakan tracking joging dalam taman hotel yang tidak begitu luas namun mampu menampung ratusan orang. Setelah puas joging mereka duduk di pelataran sambil menikmati panas pagi yang menyegarkan kulit.
"Aku sudah kirim pesan ke Vano dan Nadira. Jadi siang nanti kita langsung jemput mereka untuk ke kebun binatang," ucap Anisa.
"Vano tidak apa-apa ikut ke kebun binatang?" tanya Tika.
"Aku lihat fisiknya sehat dan tadi pagi dia mengiyakan ajakan kita," sela Panji.
Tika terlihat mengangguk.
Anisa lalu memandang bergantian ke Arlan dan Tika.
"Kenapa Nis?" tanya Tika merasa dirinya dipandang oleh sahabatnya tersebut.
"Kalian sedang tidak marahan kan?" lontar Anisa.
"Maksudnya?"
"Maksudnya kamu dan Arlan?"
"Tidak sih," jawab Tika.
"Perkembangan hubungan kalian bagaimana?" tanya Anisa tanpa basa-basi.
"Hubungan apaan Nis !?" bingung Tika.
"Tidak ada yang istimewa dari hubungan kami Non," jawab Arlan.
"Dia bohong, aku tahu siapa Arlan. Kapan berkata bohong dan bagaiman ekspresi ketika dia berbohong," sahut Panji diiringi sebuah senyum.
pagi semua🤗 selamat menjalankan ibadah puasa. jangan lupa like komen hadiah vote rate komen komen komen loh 🙏🥰😍
__ADS_1