Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 21


__ADS_3

Flashback on


"Terus pantau! Aku tidak ingin satu minggu ini berujung sia-sia!" geram oma Sartika dengan orang yang ada dalam sambungan teleponnya.


"Sore ini pasti sudah kami dapatkan informasi itu nyonya," jawabnya.


"Aku tidak ingin hanya omongan saja! Kalau tidak bejus ngurus kerjaan ini, aku bisa cari orang yang lebih handal!" seru oma Sartika kemudian memutus sambungan teleponnya.


Matanya berapi-api dengan amarah yang makin memuncak di ubun-ubun.


"Kalau sampai aku tidak bisa bongkar rahasia ini jangan panggil aku Sartika!" gumam oma Sartika kemudian bangkit dari duduknya dan segera pergi dari tempat itu.


Ketika malam menyapa dan senja sore mulai tenggelam, oma Sartika mendapat pesan masuk. Setelah membaca pesan itu, tergambar senyum di wajah yang sudah memulai keriput karena termakan usia.


"Kunci AS nya sudah aku pegang Anisa, tinggal nunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan kamu dari sini. Berani-beraninya kamu mengatasnamakan anak Faisal untuk memanfaatkan cucuku! Aku ikuti permainan kamu untuk menyingkirkan Tiwi! Lain waktu tunggu giliran kamu!" batin oma Sartika.


Malam sudah menyapa, ketika oma Sartika baru masuk ke rumah dan akan melangkah ke kamar tiba-tiba mendengar suara langkah kaki cucu dan Anisa. Dia pun melenggang menghampiri keduanya.


flashback of


"Jangan hiraukan ucapan oma," ucap Panji dengan tetap berjalan mengiringi Anisa untuk ke kamar.


"Berarti oma sudah tahu bayi ini anak mas Faisal," gumam Anisa dengan duduk di tepi ranjang.


"Tidak usah kamu risaukan, sana salat dulu," titah Panji.


Anisa mengiyakan titah lelaki di hadapannya. Dia beranjak dari duduk dan seger masuk ke toilet kamar.


Panji merogoh ponselnya kemudian mengusap layar ponsel dan segera tersambung dengan nomor kontak yang dia hubungi.


"Arlan, siapkan orang untuk mematai kampung bunda, cari tahu orang yang bernama Heri, fotonya segera kukirim, dia mungkin orang yang telah membocorkan tentang kehamilan Anisa, dan cari fakta terkait tentangnya."


Tanpa mendengar jawaban dari Arlan, Panji langsung memutus sambungan telepon itu dan segera mengirim satu pesan untuk Arlan.


"Oma sudah tahu semua, oma pasti takkan ambil diam. Aku bahkan khawatir keselamatan Anisa, oma bisa saja berbuat nekat pada dia. Aku tahu cepat atau lambat oma akan tahu tentang ini, hanya tidak menyangka saja secepat ini dia tahu. Dia sengaja tidak mengatakan fakta ini secara jelas, karena dia memanfaatkan situasi agar aku dan Tiwi berpisah terlebih dahulu," batin Panji bermonolog rambutnya dia usap kasar karena terlalu berat beban yang dia tanggung.


Tangannya kemudian meraba ponselnya membuka galeri foto. Ada banyak fotonya dengan wanita yang semakin hari semakin dia rindukan. Canda, tawa, senyum, merajuk, cemberut, dan banyak hal yang dia rindukan.


Wanita yang dua minggu ini tetap mengisi meja kerjanya tapi selalu menampakkan wajah yang acuh dengannya. "Tiwi...apa kamu tahu, aku merindukan semua hal tentangmu," keluh Panji pandangannya menengadah menatap langit-langit kamar dan tubuhnya dia rebahkan di kasur.


Satu pesan dia kirim ke Tiwi, sebuah foto lawas ketika Tiwi memegang sebuket bunga pemberiannya, saat itu hari pertama Tiwi menerima Panji sebagai kekasih.


Panji tidak tahu, ada air mata yang mengalir ketika pesan itu di buka oleh Tiwi. Air mata yang tiba-tiba membanjiri pipi mulus wanita yang telah tersakiti karena merasa terkhianati.


"Kak, kenapa malah rebahan di kasur? Baju Kak Panji kan kotor," seru Anisa begitu keluar dari toilet kamar. Dia segera memakai mukenanya dan menggelar sajadah untuk menunaikan salat isya.


Panji bangkit mendengar suara sumbang gadis ingusan yang berdiri di samping ranjang.


...****************...


Pagi hari menyapa, angin muson Barat tetap bertiup melewati benua dan samudera hingga membawa titik-tiktik hujan di belahan bumi Indonesia. Suara angin pagi dan gerimis air hujan terdengar riuh menambah kesyahduan. Sisa-sisa hujan tadi malam terasa di pagi ini membekukan kulit hingga membuat sebagian orang malas beranjak dari rumah, salah satunya manusia ini.

__ADS_1


"Kenapa Kakak belum keluar untuk sarapan? tanya Anisa mendapati sesosok lelaki yang biasanya selalu semangat untuk berangkat kerja sekarang masih berdiam diri di kamar.


"Apa Kakak sakit?" cemas Anisa dan tangannya sudah menyentuh dahi laki-laki yang sedang duduk di sofa kamar sambil memainkan ponselnya.


"Tidak panas," gumam Anisa , Panji tetap diam tanpa reaksi.


"Issst Kakak, pagi-pagi sudah cueki aku," gerutu Anisa, pantatnya yang hampir dia dudukkan di sofa Anisa urungkan.


"Tetap duduk di sini," titah Panji dengan menepuk sofa untuk Anisa duduki.


Anisa menuruti titah itu.


tok


tok


tok


"Biar aku yang buka," cegah Panji ketika Anisa yang baru saja mendudukan pantatnya hendak berdiri.


Panji membuka pintu kamar dan mengambil nampan berisi sarapan pagi yang diantar mbok Asih.


"Kenapa sarapan di kamar Kak?" tanya Anisa begitu melihat Panji membawa nampan itu.


"Sudah kamu makan, pasti kamu sudah lapar," titah Panji tanpa menjawab pertanyaan dari Anisa. Tangannya bergerak mengolesi roti dengan selai nanas.


"Makan yang banyak," ucap Panji dengan menyodorkan roti yang sudah dia olesi selai.


"Kakak juga makan yang banyak biar nggak galau begitu," celetuk Anisa ditanggapi sebuah senyum dari Panji. Senyum yang begitu melelehkan siapapun yang melihatnya tak terkecuali Anisa walaupun rasa itu sebatas kekaguman.


"Kak, nanti siang aku mau ketemuan dengan teman SMA," ucap Anisa berharap Panji mengizinkannya.


"Dimana?"


"Kurang tahu, temenku nanti yang rekomendasikan tempat."


"Yang penting hati-hati," ucap Panji walaupun sebenarnya dia khawatir membiarkan Anisa pergi sendiri namun hal itu harus dia tepis agar Anisa tidak jenuh hanya di rumah saja.


"Terima kasih Kak." Girang Anisa mendengar jawaban Panji.


Panji mengambil ponselnya kemudian memencet ponselnya, "Aku sudah top up dompet digital kamu," ucap Panji sambil menunjuk ponsel Anisa.


Anisa mengecek saldo dompet digitalnya. "Kenapa isi lagi Kak? Kemarin saja masih sisa banyak dan top up yang sebelum-sebelumnya juga masih utuh belum aku pakai," ucap Anisa.


"Belanja lah sesuka kamu, kamu juga perlu pakaian santai untuk ibu hamil, kalau kurang nanti aku isi kembali," ujar Panji.


Anisa tersenyum, "kalau soal shopping menyoping aku suka Kak," ucap Anisa dengan girang.


"Cepat habiskan," titah Panji melihat Anisa belum menghabiskan rotinya.


"Gimana cepat habis, Kakak cuma makan satu aku dia disuruh makan 2 roti, belum lagi buahnya pir nya harus aku makan dan ini susu hambar juga harus ku minum," gerutu Anisa menyebut menu sarapan paginya.

__ADS_1


Walaupun dengan gerutu akhirnya semua menu itu masuk ke perut Anisa, Panji sengaja tidak beranjak dari sofa menunggu semua menu itu habis masuk perut gadis ingusan yang ada di sampingnya.


"Aku bawakan tas nya Kak," tawar Anisa begitu dia akan mengantar Panji berangkat kerja.


"Tidak usah," elak Panji yang langsung berjalan dengan menjinjing tas.


"Pagi Tuan," sapa Arlan dan segera membuka pintu mobil.


"Pagi Arlan," jawab Panji.


Anisa meraih tangan Panji kemudian mencium punggung tangan itu. "Hati-hati Kak," ucap Anisa kemudian.


Panji mengangguk, "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Anisa dengan mengembangkan senyum karena lelaki yang sudah masuk ke mobil mengucap salam terlebih dahulu.


...****************...


"Masya Allah...Tika...akhirnya kita bertemu," seru Anisa langsung memeluk sahabatnya. Hal yang tak kalah heboh juga Tika lakukan berteriak kegirangan karena berjumpa dengan sahabatnya.


"Kita langsung pesan makan yuk," ajak Anisa agar mereka masuk ke dalam.


"Lapar nih perut" sambung Anisa sambil menepuk pelan perutnya.


"Yuk...," antusias Tika dan berjalan merangkul pundak Anisa.


Sudah dapat dipastikan dua sahabat yang bertemu di tempat rantau dan dalam waktu yang lama mereka tidak jumpa banyak hal yang mereka obrolkan. Dari hal yang kecil sampai gosip artis tak luput dari pembicaraan mereka.


Tempat yang nyaman dan lebih privasi karena model saung yang mereka sajikan ke pengunjung membuat mereka larut dalam obrolan yang semakin seru.


"Kamu mah enak Nis, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi juga sudah jadi nyonya bos," ucap Tika.


"Issst...enakan kamu Tik, bisa melangkah menggapai cita-cita," seloroh Anisa.


"Kita salat dulu yuk sudah jam 1 siang nih," ajak Anisa.


"Yuk," jawab Tika dan mereka beranjak dari saung itu. Namun langkah itu terhenti ketika Tika melihat seseorang yang tak asing baginya, dia duduk di saung sebelah kanan berbatas 2 saung dari saungnya.


"Nis, bukannya itu suami kamu?" ucap Tika sambil menunjuk ke saung tersebut.


Anisa menatap ke saung yang ditunjuk Tika.


deg


Laki-laki yang sedang memegang tangan wanita yang duduk di sebelahnya benar dia adalah Panji, sang suami. Tiba-tiba dada Anisa sesak, detak jantung terpompa lebih cepat, dan elu hatinya sakit.


Anisa kemudian berjalan dan menampakkan senyum begitu dia melewati saung tersebut karena tempat Musala memang harus melewati saung itu. Senyum yang dibalas dengan tatapan terkejut dari sosok lelaki yang dia sebut sebagai suami.


malam menyapa 🤗jangan lupa like, komen, komen, komen loh...gag tahu kenapa walaupun kalian cuma komen lanjut, next aku kok suka bacanya apalagi komen yang membangun👍👍👍🙏


vote dan hadiah juga mau kok❤️🥰😍🌹.

__ADS_1


__ADS_2