Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 15


__ADS_3

Mobil terus melaju membelah jalan kota. Melewati kebisingan kendaraan-kendaraan lain yang ikut meramaikan jalanan. Anisa tetap memandang keluar jendela. Perjalanan pulang yang begitu melelahkan. Namun, baginya inilah pertama kali dia melihat kota metropolitan menjelang senja tenggelam di peraduan. Nampak semburat merah jingga di langit Barat, terlihat eksotis nan menawan. hingga warna nan eksotis itu tenggelam berganti gelapnya malam. Suara sayup azan magrib samar terdengar bersahutan.


Orang Jawa menyebut waktu tersebut dengan sebutan 'sandikala'. Sandi (pertemuan dua ruas) dan kala (waktu). Dengan demikian, yang dimaksud sandikala adalah pertemuan antara siang dan malam, suasana yang mengaburkan pandangan mata. Orang Jawa meyakini ada mitos, jangan keluar rumah atau beraktifitas di waktu sandikala. Konon katanya di jam-jam tersebut, para Butha Kala (sesosok besar yang menakutkan dalam wujud raksasa ) sedang berkeliaran, sehingga jika kita keluar rumah atau beraktifitas di saat sandikala, maka akan terjadi hal-hal buruk, seperti kecelakaan.


Itu yang selalu ibu Maesaroh ajarkan ke Anisa. Tiba-tiba saja rindu itu datang kala senja terbenam oleh malam.


"Kak, kalau ada masjid berhenti dulu," pinta Anisa.


"Hmmm," dengung Panji.


"Di depan ada masjid, berhenti di situ Tuan?" tanya Arlan.


"Ya."


"Tidak."


Jawab Anisa dan Panji bersamaan.


"Di resto langganan kita Ar," titah Panji.


"Aku mau salat dulu Kak, bukan mau makan," protes Anisa.


"Di resto ada Musala." ujar Panji.


Anisa diam mengiyakan titah lelaki yang ada di sampingnya.


...****************...


Panji, oma Sartika, dan Anisa duduk satu meja makan siang. Anisa nampak tegang menatap diamnya mahluk yang ada di depan dan sampingnya.


"Seperti inilah mereka. Walaupun dalam satu meja tanpa tegur sapa. Kenapa mereka berdua begitu menakutkan? Perang dingin yang tiada henti dan lebih parahnya lagi, aku yang hadir diantara mereka selalu dianggap angin lalu yang tak pernah ada," gumam batin Anisa sambil menyendokkan makanan ke mulut, sesekali matanya menatap ke arah oma dan sesekali menatap ke arah Panji.


"Nambah lagi sayang," tawar Panji pada Anisa.


Anisa menggeleng cepat, karena terlalu larut dalam lamunan dan tanpa sadar makanan yang ada di piring telah habis.


"Makan yang banyak, cicit oma harus sehat. Dia harus diberi asupan makanan yang lebih."


deg


"Aku tidak salah dengar? Apa yang barusan oma ucapkan? Cicit? Be oma sudah tahu tentang kehamilanku?" monolog batin Anisa. Ekspresi terkejut juga nampak di wajahnya. Sedangkan Panji, berusaha bersikap tenang. Dia tetap menggambil makanan untuk Anisa.


"Padahal ini surprise untuk Oma, tapi Oma malah sudah tahu duluan. Apa Anisa yang memberi tahu Oma?" tanya Panji sekaligus sebuah intimidasi.


"Kamu orang yang begitu pintar mengolah emosi Ji. Oma tahu, kamu sangat terkejut tapi kamu bisa mengontrol rasa terkejut itu," cibir Oma dengan melayangkan senyum kepalsuan.


Panji mengempaskan napasnya kasar.


"Apa tidak ada hal yang ingin kamu jelaskan ke Oma?"


"Apa yang perlu dijelaskan pada Oma?" retoris Panji dengan memasukkan makanan ke mulutnya.


Oma tersenyum mencibir dengan mendenguskan napasnya kasar. "Tadi pagi Oma mendapat pesan masuk, Oma buka ternyata sebuah foto USG atas nama nyonya Anisa, usia kehamilannya 10 minggu. Itu yang perlu kamu jelaskan." telisik Oma.


"Bukan mendapat pesan masuk tapi Oma sendiri yang mengirim pesan itu melalui ponsel Anisa," terang Panji yang tidak sengaja melihat Anisa menyerahkan ponsel ke oma ketika dia sedang mengambil air mineral di kulkas.


"Jadi, tadi pagi Oma mau pinjam ponsel aku, sebenarnya mau...,"


"Kebetulan galeri ponsel kamu ada foto yang menarik jadi langsung ku kirim ke ponselku," potong oma Sartika.

__ADS_1


Anisa menunduk, menggerutui kebodohannya.


"Bocah itu sudah hamil sebelum kamu menikahinya?" tanya sekaligus intimidasi dari oma Sartika.


Panji terdiam.


"Padahal dia adalah calon istrinya adik kamu yang sudah meninggal?" sambung oma.


"Itu yang perlu kamu jelaskan Panji!" tekan oma.


Panji masih terdiam, bersikap setenang mungkin. Padahal wanita yang di sampingnya sudah gusar dengan cercaan yang oma lontarkan. Sedangkan oma Sartika, wajahnya nampak tersenyum menang karena bisa mengungkap semua yang terselebung penuh tanya dan segera mengakhiri yang perlu diakhiri.


"Dia anakku, kita melakukan hubungan itu tanpa sepengetahuan Faisal."


Anisa membulatkan mata dengan tangan yang langsung membungkam mulutnya agar tidak terlihat keterkejutannya.


Oma tersenyum mencibir, "Bagus sekali alasan yang kamu buat Ji."


Oma mengempaskan napasnya kasar.


"Silahkan lanjutkan makan, Oma duluan. Oya, jangan lupa, kebohongan tidak bisa hanya ditutupi dengan satu kebohongan tapi tutup dengan kebohongan lagi, lagi, dan lagi," ancam oma dan kakinya melanjutkan langkah menuju kamarnya.


Anisa tertunduk di tepi ranjang. Panji nampak melihat layar ponselnya. Setelah makan siang mereka memilih masuk ke kamar.


"Kenapa Kak Panji terlihat seperti tidak ada masalah apapun? Dia tetap tenang dengan ponsel yang dia pegang," batin Anisa bermonolog setelah melirik Panji yang sedang duduk di sofa kamar.


"Ada hal yang ingin kamu sampaikan Nis?"


"Apa Kak Panji tidak sadar apa yang Kakak sampaikan ke oma?"


Panji diam tidak menyahuti ucapan Anisa.


"Kak...,"


"Hmmm," dengung Panji.


"Jangan khawatir, ini urusanku. Untuk sekarang yang terpenting kamu tidak diapa-apain sama oma," jawab Panji.


"Aku tidak mau menanggung resiko. Kalau oma sampai tahu itu anak Faisal, kamu bisa diterkam oma hidup-hidup," batin Panji.


Anisa memasang wajah pasrah. Tubuh yang terasa lelah dia rebahkan di kasur. Tidak butuh waktu lama, dia sudah memejamkan mata secara sempurna dengan desiran napas yang teratur.


"Dasar kebo, baru saja bicara sekarang sudah ngorok," umpat Panji serambi menyelimuti tubuh Anisa.


Waktu berjalan seakan begitu cepat. Baru tadi siang semua dilalui dengan penuh ketegangan sekarang sang malam sudah menyapa. Anisa dan Panji sedang menata makan malam yang sedari tadi Anisa masak.


"Kak, mengapa minyak wangi yang kemarin Kakak kasih wanginya beda sama punya Kakak?"


Panji hanya menanggapi dengan senyum.


"Sama persisi dengan almarhum Faisal, kalau ada aku dengan aroma wangi parfum NR pasti sukanya mendengus-dengus di dekatku, giliran aku kasih parfumnya katanya wanginya beda."


"Isst...ditanya malah senyum saja," gerutu Anisa sambil menaruh nasi di piring.


"Wanginya berbeda karena tercampur dengan keringatku," celetuk Panji.


"Kakak bohong, kalau tercampur keringat mana bisa tambah wangi? Yang ada jadi apek ya iya."


Panji hanya mengangkat kedua bahunya sebagai isyarat terserah Anisa.

__ADS_1


"Hanya ini yang terhidang?" tanya Panji ketika makanan yang tersaji di meja, hanya tumis kangkung, tempe goreng tanpa tepung, sambal, dan ikan asin.


"Ini lauk favorit ibu, aku ingin menyajikan di meja makan dan dimakan bersama Kak Panji," terang Anisa.


"Apa orang hamil itu selalu minta yang aneh-aneh?" heran Panji.


Anisa hanya tersenyum menyahutinya.


Baru mereka makan beberapa suap, mereka sangat dikejutkan dengan kedatangan dua sosok wanita, oma Sartika dan Tiwi.


Sebelumnya Tiwi sempat menyaksikan interaksi antara Panji dan Anisa. Dia sangat terkejut karena interaksi itu tidak selayaknya interaksi seorang kakak dengan mantan adik ipar dan dia juga mengatakan tentang hamil.


"Jelaskan maksud semua ini Mas?" geram Tiwi hingga bergetar ketika melontarkan tanya.


"Ti-tiwi? Kapan kamu datang?"


"Kamu tidak perlu tahu kapan aku datang! Aku hanya minta penjelasan dari kamu! Apa hubunganmu dengan dia!" Tiwi menunjuk Anisa dengan tatapan tajam.


"Aku bisa jelasin nanti Wi," ucap Panji mendekat kearah Tiwi mencoba meredam amarahnya.


"Jangan mendekat! Aku hanya minta penjelasan!" Suara Tiwi makin meninggi dengan memundurkan tubuhnya menjauh dari Panji.


"Siapa gadis ini yang sebenarnya! Apa hubungan mas dengannya! Dan dia...benar dia hamil! Hamil dengan siapa!" cecar Tiwi dan air matanya sudah mengalir bebas di pipinya.


Anisa terdiam tidak tahu harus berkata apa, Oma Sartika tersenyum menang menyaksikan adegan demi adegan yang dinantikan sejak lama.


"Tenang Wi, aku jelaskan semuanya nanti," bujuk Panji.


"Jadi benar. Dia hamil dan anak yang ada dalam kandungannya itu anakmu Mas?" suara Tiwi melemah karena menahan elu hati yang sakit teramat."


"Aku antar kamu pulang," ajak Panji dengan meraih tangan Tiwi.


"Jangan pegang-pegang aku Mas!" bentak Tiwi dan melepas genggaman Panji.


"Sebenarnya Oma tidak ingin menyaksikan ini semua. Oma merasa ini tak adil saja untuk kalian. Kalian harus terbuka satu dengan yang lain. Sukur-sukur Tiwi mau jadi istri kedua dan menerima anak Panji dan Anisa," terang oma dengan linangan air mata kepalsuan.


Tiwi makin sakit mendengar ucapan oma, halus tapi lebih menyakitkan dari makian ataupun hinaan yang selama ini dia layangkan pada dirinya.


Panji mengepalkan tangannya seandainya yang berbicara itu seorang lelaki dan bukan orang yang lebih tua pasti tinjuan sudah mendarat di wajah oma.


"Benar kalian sudah menikah?!" tanya Tiwi dengan gemuruh amarah yang menyesakkan dada.


Panji terdiam.


"Benar Mas!?" suara Tiwi meninggi.


"Ya, tapi aku bisa jelaskan semua Wi."


"Stop! Jangan mendekat," titah Tiwi dengan mata berapi-api.


"Itu Anak Mas!?"


Panji terdiam.


"Benar itu anak Mas dan wanita ini!?" suara Tiwi kembali meninggi.


Panji terdiam, matanya menatap Anisa, Oma Sartika, dan terakhir menatap kekasih yang kini hancur remuk hatinya karena dirinya.


"Ya, dia anakku," jawab Panji.

__ADS_1


Like, komen, komen, komen, komen.


Hadiah juga mau, yang masih sisa vote sini sumbangin😍🥰🙏❤️


__ADS_2