
"Ayo, tunggu apalagi! Buruan telepon dokter Maya!" desak Oma.
Panji mengusap layar ponselnya kemudian mencari kontak dokter Maya dan menghubungi nomor tersebut.
"Oma, mau dirawat intensif di rumah, segera kamu kesini," titah Panji pada dokter Maya via telepon.
"Ok! Aku segera ke sana," jawab dokter Maya.
Dua puluh menit akhirnya dokter Maya datang, dia langsung memeriksa tekanan darah Oma, dan mengecek kondisi kesehatannya hingga jarum infus itu mulai dia pasang ke tangan Oma.
Setelah dipasang, dokter Maya memasukkan peralatan yang telah dipakainya ke dalam tas.
"Tiga jam setelah ini nanti aku periksa. Untuk mengantisipasi barangkali habis infusnya sebelum aku datang, nanti bisa kamu ganti sendiri."
Panji mengangguk.
"Oma, tetap semangat sembuh ya," ucap dokter Maya mengarahkan pandangannya ke oam Sartika.
Oma membalas dengan mengacungkan jempol dan senyum kecil di wajahnya.
"Aku pulang dulu," pamit dokter Maya seraya keluar kamar. Panji mengekor di belakang dokter Maya mengantar nya hingga ke mobil yang dia parkir.
"Ada apa dengan Oma, tiba-tiba mau dirawat intensif?"
Panji hanya membalas dengan senyum singkat pertanyaan dari dokter Maya.
"Aku serius tanya, kenapa hanya disenyumin?" celetuk dokter Maya. "Sudahlah! Aku pergi dulu," pamit dokter Maya setelah masuk ke mobil dan duduk di jok kemudi.
Panji mengangguk dan melambaikan tangan ketika mobil itu melaju pergi.
Panji masuk kembali ke kamar Oma, langkahnya terhenti di ambang pintu ketika seorang gadis yang menjadi magnet bagi Oma untuk dirawat secara intensif terlihat menyelimuti Oma Sartika, setelah itu tangannya bergerak merapikan ranjang yang sedikit berantakan.
Anisa menoleh ke pintu karena merasa ada sosok yang berdiri di situ.
"Kak Panji," sapa Anisa.
Panji hanya membalas dengan senyum singkat bahkan senyum itu nyaris tak terlihat. Kemudian kakinya melangkah mendekat ke arah oma dan Anisa.
"Aku nggak tahu ternyata dokter Maya kesini," ujar Anisa.
"Dan...Oma mau diinfus?" lanjut Anisa menatap bingung karena dari kemarin Oma dibujuk agar mau dirawat di rumah sakit atau dirawat intensif tapi kekeh tidak mau. Sekarang, baru ditinggal Anisa salat magrib dan ngaji Al Qur'an, setelah masuk kamar oma Sartika dia sudah dalam keadaan tertidur dan tangannya sudah dipasang infus.
Panji mengangkat kedua bahunya menjawab kebingungan Anisa sebagai isyarat dia tidak tahu karena sangat tidak mungkin kan Panji menjawab kalau Oma Sartika mau diinfus karena semangat oma untuk menyatukan cintanya dengan Anisa.
"Biarkan oma istirakhat, kita makan dulu," ajak Panji.
Anisa mengiyakan ajakan Panji. dia mengekor langkah Panji menuju ruang makan.
Di dalam meja makan terlihat mereka berdua saling diam dengan pikiran masing-masing. Hanya dentingan sendok dan piring memecah kebisuan diantara mereka berdua. Lama mereka diam hingga satu kejadian yang akhirnya membuat mereka bersuara.
"Kakak dulu," tawar Anisa dan tangannya segera dia tarik dari genggaman Panji karena tadi ketika dia akan mengambil air mineral yang ada di teko tangan Panji juga bergerak akan mengambil air mineral jadilah tangan Anisa dan Panji saling tindih di gagang teko.
Panji menuang air itu ke gelasnya kemudian tangannya juga bergerak menuang air ke gelas milik Anisa.
"Terima kasih Kak," ucap Anisa.
__ADS_1
Jangan mengharap Panji membalas dengan kata 'ya' atau sebatas mengangguk apalagi senyum tapi wajah datar yang dia tampilkan sebagai jawaban terima kasih dari Anisa.
Waktu terus berjalan meninggalkan masa tadi dan mendatangkan masa sekarang, jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.00 Anisa sudah masuk ke kamar karena Oma menolak untuk di jaga Anisa maupun Panji.
"Sudah Panji kamu masuk ke kamar saja. Kasian Anisa sendirian. Lihat! Oma sudha sehat kembali!" seru Oma.
"Lagian Mbak Asih kan susah di sini, biar dia yang jaga Oma malam ini," lanjut Oma. Namun, Panji belum bergeming untuk mengangkat pantatnya keluar dari kamar oma Sartika.
"Oma tidurlah, nanti baru Panji keluar," ujar Panji.
"Oma dari tadi kan sudah tidur, jadi mata Oma ingin dibuka sebentar," sanggah oma.
"Sudah! Cepetan masuk ke kamar kamu! Ingat Anisa itu masih hamil, dia butuh perhatian lebih, butuh penjagaan ekstra tentunya itu dari kamu!" seru oma Sartika.
"Buruan!" titah oma dengan menatap lekat ke arah cucunya.
"Ya Oma," jawab Panji dengan pasrah hingga dia bergerak melangkahkan kaki meninggalkan kamar Oma Sartika menuju ke kamarnya.
Panji masuk ke kamar, sebelum kakinya melangkah ke toilet kamar untuk bebersih, dia sempatkan menoleh ke arah ranjang dimana gadis yang dia katakan ingusan sudah tertidur pulas. Panji kemudian menyunggingkan senyum dan kakinya masuk ke toilet kamar.
...****************...
Pagi menyapa.
Matahari sudah nampak bersinar terang. Hangat mentari nampak terasa di kulit. Pagi ini terlihat cuacanya cerah tidak seperti hari kemarin yang turun hujan bahkan hingga malam.
Anisa sudah rapi dengan pakaian yang dia kenakan. Panji menatap sejenak wajah gadis itu yang terlihat semakin cantik dengan celana, kaos tunik, dan kerudung pasmina yang dia kenakan.
"Aku mau chek up kandungan Kak," pamit Anisa.
"Besok saja, hari ini jaga oma!" titah Panji.
Anisa terlihat memanyun bibirnya.
"Sudah biarkan Anisa pergi dan kamu juga harus mengantarnya," sela oma Sartika membuat Anisa terkejut dengan apa yang diucapkan oma.
"Tumben sekali Oma menyuruh Panji mengantarku, apa karena dia sedang sakit maka otaknya jadi konslet?" monolog batin Anisa.
"Apa Oma lupa? Hari ini aku akan ke rumah bunda," jawab Panji.
Oma diam membenarkan ucapan Panji.
"Tidak apa-apa aku bisa pergi sendiri," lirih Anisa.
"Aku bilang tetap di sini untuk jaga Oma!" seru Panji menegaskan titahnya.
"Kalau hari ini Panji tidak bisa mengantar kamu, ya kamu besok saja perginya," saran Oma.
"Yang di depanku benar Oma kan? Kenapa aku merasa begitu asing dengan sosok yang ada di depanku? Apa ini jelmaan Oma Sartika? Atau... jangan-jangan? Issst! Tidak boleh suudzon. Kalau ini benar oma, alhamdulilah Oma sedikit perhatian ke aku," batin Anisa kemudian senyum sendiri.
"Kamu tersenyum berarti menyetujui saran oma."
"Tidak! Eh tunggu! Maaf Oma, aku tetap akan chek up. Nanti sore sampai 2 hari ke depan dokter akan pergi ke luar kota," ujar Anisa gelagap karena menyekat ucapan oma.
" Chek up setelah dokter pulang," ujar Panji
__ADS_1
"Tapi Kak, hari ini saja aku sudah telat chek up, harusnya 2 hari kemarin," protes Anisa.
"Sudah, sudah. Anisa pasti ingin segera tahu perkembangan calon bayinya. Biarkan dia pergi. Mbak Asih kan sudah nemeni Oma," ucap Oma menengahi Anisa dan Panji.
Panji terpaksa mengiyakan permintaan Oma. Dia mengantar Anisa ke Klinik terlebih dahulu kemudian baru pergi ke kampung halaman sang bunda.
Dua jam berlalu, Anisa baru keluar dari klinik itu. Dia meraba tas nya akan mengambil ponsel dan baru dia sadari ternyata ponselnya tertinggal di meja makan.
"Bagaimana pesan taksi online nya?" gumam Anisa.
"Kenapa Mbak?" tanya security klinik melihat Anisa yang terlihat bingung.
"Lupa bawa ponsel Pak, padahal aku mau pesen taksi online," ujar Anisa.
"Oh itu Mbak, saya bantu pesankan," tawar security dan langsung mengeluarkan ponselnya.
Selang 7 menit taksi on line yang dipesan datang.
"Terima kasih Pak," ucap Anisa pada security.
"Ya Mbak," jawab security itu.
Anisa segera masuk ke taksi dan taksi itu pun melaju membelah jalanan kota. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba mobil berhenti karena jalanan yang macet.
"Duh, masih lama ya Pak?" keluh Anisa karena sudah hampir 30 menit taksi itu tidak kunjung jalan lagi.
"Tadi saya dapat info dari teman, katanya ada pohon tumbang menimpa mobil makanya lama," jawab sopir.
"Apa tidak bisa lewat jalur lain?"
"Ini akses satu-satunya Neng."
Anisa membuka kaca jendela mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat keadaan luar.
"Kayaknya bakal lama nih Pak," keluh Anisa kembali duduk.
"Mungkin Neng," sahut si sopir.
"Alhamdulillah...sudah tanda-tanda jalan," ucap Anisa ketika mobil jalan walaupun jalannya merayap.
"Duh! Gila! capek bener! Periksa dan perjalanan pulang pergi 4 jam. Bener-bener melelahkan," gumam Anisa begitu keluar dari taksi itu.
"Terima kasih ya Pak," ucap Anisa setelah memberi uang.
"Ya Neng," jawab si sopir kemudian pergi.
"Non, cepat ke rumah sakit saja!" ucap mang Udin dengan wajah yang begitu panik menghentikan langkah Anisa.
"Rumah sakit?! Kenapa Mang? Siapa yang sakit?" cecar Anisa karena begitu shock mendengar seruan mang Udin.
maaf selalu up malam karena bisanya malam, nunggu si bocil bobok dulu🙏😣
malam menyapa 🤗.
like, komen, komen, komen, biar tambah semangat up boleh tidak celamitan minta hadiah🤭
__ADS_1