
"Kenapa sepi begini?" gumam Anisa menatap kanan kiri jalan.
Anisa gegas masuk ke dalam mobil, mengingat kejadian kemarin yang mendapat bingkisan boneka berlumur darah. Ada rasa waspada karena hal buruk bisa menimpa. Apalagi, namanya sudah mulai dikenal publik, ada yang mengatakan merebut kekasih orang, ada yang mengatakan aji mumpung, ada yang mengatakan menikah karena harta, dan kata-kata lain oleh netizen di Instagr*m milik Anisa. Fans yang fanatik terhadap seseorang bisa saja menyerangnya membabi buta. Banyak publik figur yang mengalami kejadian itu. . Walaupun Anisa sadar diri dia bukanlah seorang publik figur tapi setidaknya mawas diri itu perlu. Bisa juga itu perbuatan orang luar yang tidak suka dengannya.
Anisa mengunci diri di dalam mobil. Tetap menyalakan mesin mobil agar AC dan audio visual yang tertempel di mobil dapat dinikmati.
Tiba-tiba tangan Anisa bergerak memutar lagu, terdengar sayup tapi mendebarkan hati. Lagu yang dulu dia dengarkan dan nyanyikan bersama sang ibu.
Shallallahu ala Muhammad
Shallallahu alaihi wasallam
Shallallahu ala Muhammad
Shallallahu alaihi wasallam.
Ada cairan bening yang tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya.
"Ya Allah...maafkan aku yang semakin jauh dari-Mu," lirih Anisa.
Tok
tok
tok.
Ketukan itu berulang beberapa kali baru Anisa menoleh ke samping kaca mobil yang diketok.
Anisa menatap ada lelaki tak asing tapi bukan lelaki yang dia minta untuk datang.
Anisa gegas menyeka pelupuk matanya kemudian tangannya membuka pintu mobil dan keluar berdiri di depan Panji.
"Kamu tidak apa-apa?" selidik Panji menatap mata Anisa yang terlihat merah.
Anisa menganggukkan kepala.
Panji meraih tubuh Anisa ke dalam pelukannya. Lama itu Panji lakukan bahkan pelukannya dia eratkan karena melihat Anisa sepertinya dalam keadaan takut.
"Kak, aku ngap, tidak bisa bernapas," keluh Anisa menepuk pelan dada Panji.
Panji melepas pelukannya, ditatap kembali wajah sang istri.
"Tidak apa-apa aku di sini," ucap Panji dengan nada khawatir dan menggenggam tangan Anisa dengan erat.
"Kakak kenapa sih!" protes Anisa melihat sikap Panji yang aneh.
Tangannya menempel di dahi Panji, "makanya kalau masih sakit tidak usah kesini," ujar Anisa merasa dahi Panji masih panas walau tidak sepanas tadi malam.
"Lagian, aku kan telepon Arlan, kenapa yang datang malah Kakak!" cicit Anisa.
"Aku suami kamu, bukan Arlan!" protes Panji.
__ADS_1
"Sudah tahu!"
"Sudah tahu apa?"
"Ya sudah tahu Kak Panji itu suami aku!" kesal Anisa memperjelas pernyataannya dan baru dia sadari kalau Panji hanya mengerjainya. Hal yang membuat Anisa semakin kesal dan sepertinya Panji berhasil, buktinya dia tersenyum menang.
"Terima kasih sudah mengakui kalau aku suami kamu!" ujar Panji sontak membuat Anisa mencibirkan bibirnya.
Panji memutar langkah memeriksa ban mobil yang kempes. Dilihatlah ada beberapa paku yang menembus lapisan ban itu. Tidak hanya satu tapi ada 3, belum lagi yang posisi di bawah kemungkinan masih ada satu atau dua.
'Pakunya masih baru semua,' batin Panji mengamati kepala paku tanpa karat.
'Kemungkinan besar tertus*knya tadi pagi waktu Anisa berangkat kerja, kalau dari kemarin itu mustahil karena tadi pagi pak Rohim mengecek mobil ini sebelum dipakai tali kalaupun sore ini tidak mungkin langsung kempes karena ban tubles ini bisa bertahan 2-3 hari,' monolog batin Panji menelisik kejadian itu.
"Ada apa Kak?" tanya Anisa.
"Tidak apa-apa, mobil kamu kena paku," jawab Panji tidak ingin langsung membahas lebih lanjut agar Anisa tidak merasa takut.
Tangannya kemudian merangkul Anisa agar masuk ke dalam mobil.
"Biar aku yang nyetir!" protes Anisa kakinya berbalik melangkah ke pintu kemudi.
Panji membiarkan itu karena kepalanya memang merasa sedikit sakit.
"Kamu sudah merasa tenang?" tanya Panji sambil memasang seat-belt.
"Dari awal aku juga tenang," jawab Anisa.
"Memang aku tidak takut Kak, cuma mawas diri barangkali ada orang yang nggak bener dan mencelakaiku karena tempat ini kan sepi," terang Anisa.
"Aku kira kamu ketakutan. Kamu mengunci mobil, memutar lagu dengan volume keras itu dapat disimpulkan kamu sedang takut."
Anisa mencibirkan bibirnya, "jangan shock tahu!" cekat Anisa.
"Oh...makanya tadi Kakak main peluk erat ya?" tebak Anisa.
Panji tersenyum menatap Anisa.
"Kalau peluk itu memang aku sudah sangat rindu dengan istriku," bisik Panji antara bohong dan benar.
'Bohong' karena nyatanya Panji memang sangat khawatir melihat mata Anisa memerah seperti selesai menangis ketakutan. 'Benar' karena kenyataannya Panji memang merasa rindu dengan sang istri.
Anisa kembali mencibirkan bibirnya mendengar bisikan Panji.
Anisa segera menancap pedal gas dan sengaja menancap dalam kemudian mendadak rem.
"Kamu bisa nyetir kan Nis?" Wajah Panji nampak merah dan tangannya segera meraih pegangan.
Anisa melirik dan mengembangkan senyum melihat mimik muka Panji.
"Oh ya Kak, aku sedikit curiga soal ban kempes karena aku merasa akhir-akhir ini ada yang mengintaiku dan kemarin aku dapat ancaman boneka berlumur darah," ucap Anisa di tengah perjalanan.
__ADS_1
"Kenapa baru bilang?" tanya Panji dan sangat terkejut dengan ucapan Anisa.
"Kemarin aku mau ngomong ke Kak Panji tapi lupa karena Kakak malah sakit," jawab Anisa.
"Jangan khawatir, nanti orangku yang akan bertindak," ujar Panji agar Anisa tenang dan diangguki pelan Anisa.
"Pintar juga nyetirnya," puji Panji mengalihkan pembicaraan.
"Jelaslah! Dulu sewaktu di Malaysia Vano yang ngajari aku nyetir."
"Menepi Nis!" titah Panji.
"Menepi?" Anisa memastikan titah Panji.
"Ya menepi!" sungut Panji.
Anisa menatap spion kiri, dari balik kaca itu tidak ada pengendara dari belakang, Anisa segera menepikan mobilnya.
"Kenapa Kak?" cemas Anisa menatap wajah Panji yang terlihat merah dan menahan akan muntah.
Panji segera keluar, Anisa menyusul.
Wuek wuek wuek.
Makan siang yang masuk perut Panji keluar semua.
Anisa memijat tengkuk Panji, kaki Anisa sedikit jinjit karena tangannya tidak dapat meraih tengkuk Panji.
"Tolong ambilkan tisu," pinta Panji.
Anisa segera mengambil tisu dan air mineral di dashboard.
"Minum dulu." Anisa menyodorkan air mineral.
Panji menerima itu, berkumur dan meminumnya hingga tandas.
Anisa melihat dua sudut bibir Panji yang basah, "biar aku lap," sergah Anisa tanpa sadar tangan kirinya menyandar bahu Panji untuk menyanggah kakinya yang jinjit dan tangan kanan Anisa bergerak mengelap sudut bibir itu.
Refleks Panji melingkarkan tangan di pinggang Anisa. Netra Anisa sontak beradu tatap dengan netra Panji. Ada debaran di dada yang menimbulkan gejolak jiwa, Panji mengunci netra Anisa. Menatap penuh netra yang terlihat bulat kecoklatan dengan lentik mata yang indah.
Entah dorongan dari mana Panji mendekatkan wajahnya, semakin dekat, dekat dan kini tanpa jarak bib*rnya menyentuh bib*r wanita yang ada di depannya. Anisa terdiam terpaku, hatinya menolak dengan perlakuan Panji. Namun, hati lain membalas perlakuan Panji, malah lebih, karena sekarang tangan Anisa melingkar di leher Panji dan kaki Anisa masih jinjit mengimbangi postur Panji. Sedikit memperdalam kegiatannya. Keduanya larut, tenggelam dalam nikmat rasa yang sulit diutarakan lewat kata.
Anisa tiba-tiba mendorong dada Panji, lari masuk ke dalam mobil.
malam menyapa 🤗 apakah aku menodai otak kalian?🙏😣maafkan tangan yang harus mengetik itu🤭.
Lanjut nggak nih?
lanjutkan dulu dong ke novel 'Janda Daster Bolong', jangan lupa masukkan rak favorit dulu kalau kalian belum sempat untuk membaca🙏 terima kasih semuanya. lope lope dech ❤️😘😘😘
like komen hadiah vote komen komen komen komen loh 🤭🥰
__ADS_1