Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 76


__ADS_3

"Apa aku boleh serakah?" gumam Panji, tangannya meraup wajah dengan kasar lalu mengempaskan napasnya dengan kasar pula.


Mata Panji beralih menatap tumpukkan berkas yang ada di meja. Dia meraih satu persatu map itu, membaca laporan bulanan dari berbagai SPBU yang dia kelola, sesekali menorehkan tinta di atas kertas itu.


Hingga tanpa dia sadari, azan Dhuhur berkumandang. Panji menutup berkas itu, melangkah ke nakas kemudian mengambil sarung dan peci menuju ke mushola SPBU.


Setelah mengambil air wudu. Panji berjalan ke musholla mendudukkan pantatnya di sof makmum. Dia membalas senyum mengangguk saat muazin itu selesai mengumandangkan azan dan dia memberi salam mengangguk.


Banyak yang dilalui Panji selama 4 tahun ini. Bahkan 3 tahun terakhir dilalui dengan perbaikan mendekatkan pada Sang Illahi. Ya, sebab perpisahan lah yang mendekatkan dirinya pada Sang Illahi. Perpisahan dua alam yang begitu menyentuh kalbunya.


Flashback on.


"Menikahlah denganku," ucap Panji.


Tiwi terdiam. Menatap laki-laki yang satu minggu ini telah absen menjenguknya di rumah sakit dan tiba-tiba datang meminta untuk menikahi dirinya.


"Anisa sudah menyetujui aku menikah lagi," lanjut Panji sambil menunjukkan 2 lembar kertas yang diambil dari tas miliknya.


Tiwi meraih kertas itu.


"Kamu melakukannya karena kasihan dengan kondisiku?" bibir Tiwi berucap dengan gemetar.


"Aku sudah janji padamu akan menikahi kamu. Mungkin inilah waktu yang tepat."


Tiwi tersenyum kecut mendengar jawaban Panji.


"Anisa sekarang dimana?"


Panji diam.


"Kamu tidak mengancam dia kan atau melakukan tindakan yang membuatnya menyetujui menandatangani surat ini?!" cecar Tiwi.


"Bagaimana aku mengancamnya, selama ini diantara kita tidak ada apa-apa. Kami hanya menjalankan peran masing-masing. Aku sebagai suami pengganti, menjaga dia selama hamil dan dia istri yang dikirim bunda untukku."


"Aku sudah menjalankan peranku dengan baik hingga Anisa melahirkan. Sesudah itu, ya sudah, kalau jalannya kita harus cerai aku ikuti alur itu."


"Kamu menceraikannya?!" Tiwi melontarkan tanya dengan nada tinggi karena sangat terkejut dengan ucapan Panji.


Panji mengangguk.


"Lalu untuk apa surat ini kalau kamu sudah menceraikannya?!" geram Tiwi.


"Dia ke Malaysia untuk melanjutkan study aku tidak bisa mengganggunya karena perkara perceraian."


Tiwi tersenyum kecut, "Atau Kamu... kamu sengaja Mas, agar dapat kembali ke Anisa setelah kematianku?" tebak Tiwi menganalisa dari kesehatan dia yang entah dapat sembuh atau tidak dan perceraian Panji yang hanya cerai secara agama.

__ADS_1


Panji menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sedikit pun tidak terbesit untuk melakukan hal itu.


"Aku sudah merelakan Anisa pergi. Satu hal lagi! Jangan bicarakan kematian! Kamu pasti sembuh dan kita akan hidup bahagia bersama," jawab Panji.


"Namun, perkara cerai secara resmi itu tidak semudah hakim mengetuk palu. Itu akan menyita banyak waktu." Panji menghela napas.


"Kalau suatu saat dia meminta surat cerai secara resmi karena sudah menemukan pendamping hidup, aku pasti akan segera mengurusnya," lanjut Panji.


"Susul dia Mas, lupakan janji kamu dulu yang akan menikahiku. Jangan khawatirkan penyakit


ku. Kamu yakinkan aku akan sembuh?!"


"Aku sudah membuat keputusan untuk memilih kamu!" ucap Panji dengan lugas. Namun, entah mengapa ada cairan bening yang tiba-tiba menyelimuti pelupuk mata. Ada rasa ngilu di hati ketika dirinya mengucapkan kalimat itu.


Tiwi menatap lekat ke arah Panji. "Kamu menyesal mengambil keputusan ini?!" tanya Tiwi melihat rona wajah Panji.


Panji menggeleng pelan kepalanya.


'Kamu menggelengkan kepala tapi wajah kamu menunjukkan apa yang ada dalam hati kamu mas. Kamu melakukan ini dengan terpaksa,' monolog batin Tiwi. Tanpa terasa matanya melelehkan air mata.


Mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.


Tiwi menghela napas, "Aku akan pertimbangkan ini," lirih Tiwi mengurai kebekuan diantara mereka dan menjawab seperti itu karena tidak ingin berdebat panjang dengan Panji.


"Tangan Mas kenapa?" tanya Tiwi saat matanya menatap punggung tangan Panji yang diberi plaster. Tiwi menarik tangan itu dilihat dengan jelas.


"Tidak apa-apa, hanya tergores kawat yang ada di pagar depan," jawab Panji, menarik tangannya dari genggaman Tiwi.


"Aku pulang dulu, kasihan Nevan belum bertemu aku," pamit Panji membalikkan tubuhnya kemudian melangkah pergi


"Tunggu! Nevan? Anaknya Anisa?" terkejut Tiwi mendengar ucapan Panji.


Panji menghentikan langkahnya.


"Jadi, Nevan tidak ikut Anisa?!" cecar Tiwi.


Panji membalikkan tubuhnya mendekat ke Tiwi.


"Nevan... Nevan ponakanku, dia tetap menjadi tanggung jawabku. Tidak mungkin Anisa membawa Nevan padahal dia sedang study. Takutnya Nevan jadi tidak terurus," jawab Panji.


"Mas, apa Mas tidak kasihan pada bayi itu? Dia masih sangat kecil, masih butuh kasih sayang ibunya! Masih butuh dekapan ibunya! Kenapa dipisahkan dengan Anisa!" geram Tiwi tidak mengerti dengan jalan pikir lelaki itu.


Panji terdiam. Bukan niatnya untuk menjauhkan Nevan dari Anisa tapi niatnya hanya ingin Anisa fokus ke study-nya, Nevan juga sudah tidak menyusu Anisa jadi Panji tidak terlalu khawatir akan itu. Panji juga berharap Anisa dapat menemukan pasangan baru yang membuatnya bahagia. Setelah itu, kalau Nevan akan Anisa ambil, dirinya pasti akan memberikannya.


"Sudahlah Mas, mending kamu pulang temui Nevan!" titah Tiwi, kepalanya tiba-tiba berat memikirkan hal nekat yang dilakukan Panji.

__ADS_1


Panji melangkah keluar dari kamar rawat inap. Arlan yang duduk di luar kamar itu langsung berjalan mengekor langkah Panji.


"Administrasinya sudah kamu urus?" tanya Panji tanpa menghentikan langkahnya.


"Sudah Tuan,"


"Tuan beneran sudah membaik?" Arlan memastikan.


"Aku tidak mungkin berbaring terus di ranjang besi itu!" ketus Panji.


"Hah! Tuan bos ganteng! Kok sudah pulang? Padahal Katrina bawa makan siang untuk Tuan bos ganteng!" seru wanita seumuran Anisa.


"Adik kamu mau apalagi Arlan!" geram Panji.


"Ih...Jangan judes dong Tuan bos ganteng, tadi Katrina kan sudah bilang mau nganter makan siang." Katrina terlihat mengerucutkan bibirnya.


"Arlan terima itu!" seru Panji kemudian masuk ke dalam mobil.


Arlan mengambil plastik yang disodorkan Katrina, "Eh! Kamu mau ngapain?!" cegah Arlan begitu adiknya mau masuk ke dalam mobil.


"Gila apa kamu! Mau kakakmu ini dipecat dan nggak punya kerjaan?!" gerutu Arlan lalu masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.


"Kak...!" teriak Katrina.


Arlan hanya tersenyum melihat kekesalan wajah adiknya yang terlihat di spion mobil. Tangannya dia julurkan keluar mobil kemudian melambai pada adiknya yang selalu membuat dia repot.


"Ingat pesan dokter Tuan, jangan bergadang dan selalu makan teratur," ucap Arlan di tengah perjalanan.


"Tuan juga harus meminum obat dari dokter secara teratur," lanjut Arlan.


"Satu hal lagi, jangan terlalu banyak pikiran," kali ini nada bicara Arlan melemah takut menyinggung perasaan tuannya yang masih sensitif.


"Tuan," panggil Arlan karena Panji tidak menyahuti ucapannya barang sekata saja.


"Apalagi?!" ketus Panji.


"Susul non Anisa sebelum Tuan menyesal," ucap Arlan dengan nada serius.


"Kamu fokus saja nyetir!" sahut Panji tanpa menjawab maksud ucapan Arlan.


"Pura-pura tegar! Ikhlas! Nyatanya karena ditinggal non Anisa masuk rumah sakit hingga 1 minggu!" gumam Arlan tapi masih jelas terdengar di telinga Panji.


malam menyapa 🤗 yang sudah nunggu up yuk siapa☝️? kangen dengan siapa nih? sama authornya? 🤭


jangan lupa tinggalkan komen, like, vote hadiah juga 😍❤️🥰

__ADS_1


__ADS_2