
Nevan sudah tertidur pulas, Anisa juga nampak pulas. Panji tersenyum melihat dua orang istimewa dalam hidupnya sudah terlelap tidur.
Tangan Panji menyelipkan rambut milik Anisa yang terlihat keluar dari kerudung. Netranya lekat menatap wajah cantik yang terlihat semakin cantik manakala tertidur pulas seperti itu.
'Aku akan sabar menunggu hati kamu terbuka,' batin Panji. Satu kecupan berhasil mendarat di dahi Anisa. Panji tersenyum kembali. Kakinya kini melangkah ke seberang ranjang mengambil ponsel dan membuka email yang masuk.
Mata Panji menatap jam dinding kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, besok pagi ada rapat penting dengan mitra kerja di departemen store jadi mau tidak mau Panji harus mempelajari materinya terlebih dahulu. Sekitar 30 menit Panji membaca lalu dia putuskan untuk menutup ponsel itu. Selimut yang ada di ujung kaki dia tarik hingga ke dada dengan melafalkan doa Panji mulai memejamkan matanya.
Pagi hari telah menyapa. Panji, Anisa, dan Nevan duduk di kursi makan untuk sarapan pagi.
Anisa menatap Panji yang sudah berpakaian rapi, menatap dengan lekat hingga nasi dan lauk yang ada di piringnya hanya Anisa bolak balik dengan sendok.
'Enak bener jadi dia! Nikahi aku tanpa modal besar!' gerutu batin Anisa.
'Ah...aku ada ide dan aku rasa ini sangat menguntungkan untuk pemasaran desain bajuku,' lanjut monolog batin Anisa.
"Kalau hanya di bolak-balik seperti itu, mana kenyang perut?" sindir Panji dan menaikkan alisnya sambil mengacungkan dagunya ke piring makan Anisa.
Anisa langsung salah tingkah, buru-buru dia menyendok makanan kemudian dimasukkan ke mulut.
Panji tersenyum.
Uhuk
uhuk
uhuk.
"Bunda jangan buru-buru," ujar Nevan.
Panji menyodorkan satu gelas air mineral. Anisa langsung menegak habis air itu. Mata Anisa menatap kesal ke arah Panji, dia merasa karena Panji akhirnya dirinya tersedak.
"Ada yang akan kamu katakan?"
"Aku ingin resepsi pernikahan," jawab Anisa cepat.
Panji diam dan menyendokkan makanan ke mulut.
"Pelit sekali! Pasti tidak mau! Kan harus keluar uang banyak!" gerutu Anisa.
"Aku tanggung menghabiskan makanan. Mau minta kapan resepsi pernikahannya?" tanya Panji.
Anisa langsung mengembangkan senyum, sekaligus Anisa akan mengerjai Panji untuk menghabiskan uang banyak dalam resepsi pernikahan itu.
"Aku minta yang mewah!"
Panji mengangguk.
__ADS_1
"Konsep out door," lanjut Anisa.
Panji lagi mengangguk.
"Kenapa hanya mengangguk?" kesal Anisa.
"Aku hanya menyetujui apa yang kamu minta, kalau sudah kamu konsep nanti aku kenalkan dengan seorang WO, kita bisa koordinasikan ini dengan mereka," terang Panji.
"Kakak tidak ada hal penting di kantorkan? Kita bahas langsung yuk," pinta Anisa dengan antusias.
Panji terdiam. Jam 09.00 nanti dia akan ada rapat penting dengan mitra kerja di departemen store. Panji menatap Anisa yang langsung memanyunkan bibirnya karena dirinya hanya diam tidak langsung menanggapi pinta Anisa.
"Ya aku tidak ada acara, mungkin nanti setelah Zuhur," sahut Panji.
Anisa langsung mengembangkan senyum.
"Ayo Kak," Tangan Anisa menarik lengan Panji untuk pindah duduk ke ruang tengah.
"Nevan nanti nusul Bunda ya," teriak Anisa karena sudah melangkah jauh.
Panji sekali lagi, tersenyum melihat antusias Anisa.
"Aku ingin konsepnya out door. Banyak bunga-bunga yang menghiasai dekorasi dan aku ingin resepsi ini dilakukan di malam hari, banyak lilin yang di taruh di kolam renang atau danau buatan. Satu hal lagi, baju yang nanti kita pakai, bunda, bapak, ibu, Nevan dan bridesmaid nya yang desain aku."
"Kenapa Kak Panji hanya ngangguk-nganggu?" protes Anisa atas tanggapan Panji.
"Kakak beri pendapat Kek!" kesal Anisa.
"Aku setuju dengan semua usul kamu," jawab Panji.
"Tuan, maaf ini sudah siang nanti_"
"Baca pesanku," cekat Panji pada Arlan yang tiba-tiba masuk ke ruang tengah karena tuannya yang sudah lama di tunggu parkiran mobil belum juga muncul.
Arlan menatap layar ponselnya dan mengusap layar itu. "Baik Tuan," ucap Arlan setelah membaca pesan di ponsel kemudian melangkah pergi.
"Kenapa tidak dibicarakan langsung dengan Arlan? Apa sangat rahasia?"
Panji mengangguk, "Kalau aku langsung bicarakan di sini bisa-bisa ada orang yang ngambek nggak ketulungan," seloroh Panji.
"Pasti nyindir aku," lirih Anisa.
"Sudah Kakak pergi saja!" ketus Anisa.
Panji terkekeh, "Apapun yang kamu minta, asal aku masih mampu untuk mewujudkan permintaan kamu, insyaallah aku turuti," terang Panji.
"Ini yang aku pegang dari Kakak, pada titik akhir nanti, aku akan meminta Nevan," ucap Anisa matanya sudah melirik ke Nevan yang sedang bermain agak jauh dari Anisa dan Panji dan dipastikan tidak mendengar ucapan Anisa.
__ADS_1
Tiba-tiba dada Panji merasa sesak. Setiap diingatkan Anisa soal Nevan yang akan dibawa pergi setiap itu pula Panji merasakan sakit teramat elu hatinya. Namun, semua sudah menjadi konsekuensi bagi Panji. Dirinya sudah berjanji dan harus mengikhlaskan apa yang bukan menjadi miliknya.
"Aku berangkat dulu," ujar Panji dengan nada lesu.
Anisa merasakan perbedaan mimik muka Panji yang berubah seketika.
"Hati-hati Kak," lirih Anisa.
"Assalamualaikum," sapa Panji dan tanpa aba-aba Panji mendaratkan ciuman ke kening Anisa.
Anisa membulatkan matanya, "Kakak!" pekik Anisa tapi kalimatnya tidak dilanjutkan karena Panji segera memanggil Nevan dan juga pamit padanya.
...****************...
"Kamu stres Nis! Dua minggu untuk persiapan pernikahan dan buat baju pernikahan!" omel Tika yang ikut jadi korban untuk membantunya memasang manik-manik baju.
Anisa hanya tersenyum menanggapi omelan Tika.
"Aku hanya urus baju, persiapan yang lain kan WO yang nyiapin," jawab Anisa.
"Tetap saja kita kena rempong karena jahitan kamu ini! Lagian kenapa sih, harus payah-payah pakai desain baju sendiri!"
"Ini strategi pemasaran Tik. Kamu tahu kan kak Panji itu dikabarkan dekat dengan salah satu aktris, biar tuh berita ini jadi viral dan otomatis baju yang nanti kita kenakan juga viral," terang Anisa.
"Astaghfirullah haladhim karena itu Nis?!" tanya Tika tak percaya dengan tindakan yang dilakukan sahabatnya.
"Kalau harus dengan sensasi bisa terkenal kenapa kita tidak memanfaatkan itu. Di KL desain ku sudah lumayan terkenal, di Indonesia harus merintis dari awal. Boleh lah rintisannya dari acara weddingku," ujar Anisa sambil terkekeh.
"Ide cemerlang, semoga kelak kalau sudah terkenal tidak lupa kakinya harus berpijak di mana, jangan pengennya melayang terus."
"Issst Tika! Sepertinya tidak menyukai ideku," gerutu Anisa.
Tika mencubit lengan, "Apa sih yang tidak buat sahabat satu ini," bujuk Tika agar Anisa tersenyum.
"Yuk semangat!" seru Tika.
"Terima kasih Tik," Anisa memeluk Tika.
"Nadia jadi datang?" tanya Tika.
Anisa mengangguk cepat.
"Vano juga datang?"
Anisa langsung menampakkan ekspresi kecewa ketika Tika menanyakan itu.
sore menyapa 🤗 like komen komen vote hadiah.
__ADS_1
Kira-kira Vano datang nggak ya? siapa yang kangen Vano?☝️