Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 100


__ADS_3

Anisa membalikkan tubuh. Tepat di depannya ada lelaki yang dia cari.


"Heri," lirih Anisa.


Heri juga nampak terkejut Anisa ada di depannya.


"Aku... aku mau bicara dengan kamu," ucap Anisa.


Heri mengangguk, "kita bicara di depan kantor pasar itu," ujar Heri menunjuk tempat yang terdapat kursi memanjang.


Anisa mengangguk, mengekor langkah Heri.


"Kamu tambah cantik Nis," ucap Heri melihat Anisa duduk dengan balutan fashion yang pas dan dandanan yang minimalis.


Anisa diam tidak menyahutinya.


"Aku to the point, Apa maksud perkataan kamu, meminta maaf atas insiden kehamilanku dengan almarhum mas Faisal?"


Heri tersenyum menyeringai, sudah dapat dia tebak. Anisa pasti menemuinya karena hal itu.


"Aku kira, suami kamu sudah mengatakan semuanya, ternyata sudah sekian lama dia tidak juga mengatakan padamu," ucap Heri semakin membuat Anisa penasaran.


"Maksud kamu?"


"Apa yang dilakukan kamu dan Faisal, seratus persen bukan kesalahan kalian," ujar Heri menjeda kalimatnya membuat Anisa semakin membumbung tinggi rasa penasarannya.


Anisa menatap Heri penuh tanya.


"Aku membuat kalian hilang setengah kesadaran, hingga kalian melakukan hal yang seharusnya kalian tidak lakukan," lanjut Heri.


Anisa membekap mulutnya yang menganga. Dia sangat terkejut mendengar ucapan Heri. Namun yang tak kalah mengejutkan dan membuat jantungnya memacu begitu cepat, kenapa Panji tidak mengatakan hal itu?


"Aku merasa sangat bersalah, tapi rasanya perbuatanku itu membuat kamu bertemu dengan orang yang juga mencintaimu dengan tulus," ujar Heri dengan tampang bangga diri.


"Bos Panji sangat mencintaimu Nis," sambung Heri.


Anisa masih terdiam tidak menyahuti ucapan Heri. Amarahnya mengendap di ubun-ubun.


"Kapan, Kak Panji tahu semuanya?" tanya Nur dengan terbata.


Heri menatap ke langit bebas nampak otaknya memutar memori yang telah tertimbun lama, "Mungkin 2-3 bulan setelah kamu menikah dengan bos Panji, aku lumayan lupa tepatnya, pokoknya tidak lama setelah kamu menikah," jawab Heri.


Anisa mendengus kesal, "Ok, terima kasih infonya," ucap Anisa kemudian beranjak dari duduknya.


"Tunggu Nis."


Nisa menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuh.


"Aku tidak tahu pasti alasan bos Panji sampai belum memberitahu kamu tentang semua ini. Hanya pesanku, aku tidak begitu kenal dengan bos Panji. Bahkan selama 4 tahun ini baru bertemu dengannya kemarin. Namun, aku dapat menyimpulkan, dia begitu cinta kamu."


Anisa terdiam tanpa menyahut ucapan Heri.

__ADS_1


"Aku pergi," pamit Anisa tanpa terasa pipinya sudah teraliri air mata.


Lengan Anisa segera menyeka lelehan air di pipi. Berjalan cepat menuju pangkalan taksi yang ada di depan pasar kota.


'Kak...mengapa kamu simpan hal ini? Apa kamu menganggap tidak penting?' batin Anisa bertanya dan hanya air mata yang mampu menjawabnya, sekarang dia masuk ke dalam taksi.


Sementara itu, Panji yang sedang mengikuti rapat penting di kantor departemen store harus menahan duduk gelisah membaca pesan yang dikirim orang kepercayaannya.


'Aku tidak mungkin izin keluar karena ini rapat yang sangat penting, kelangsungan departemen store berhubungan dengan kelangsungan hidup karyawan juga,' batin Panji.


Dia nampak gusar lalu menyentuh ponselnya.


Kamu terus ikuti dia!


Pesan itu dikirim Panji ke orang kepercayaannya.


Panji menyempatkan untuk salat Zuhur terlebih dahulu. Setelah itu dia berjalan cepat menuju dimana mobilnya terparkir.


Dua puluh menit kemudian, Panji mendekat ke arah wanita yang duduk di kursi pinggiran danau buatan. Tangan wanita itu sesekali melempar pakan untuk ikan-ikan di danau itu.


Panji duduk di samping Anisa tanpa bersuara.


Anisa menoleh merasa ada seseorang yang datang.


"Kenapa tidak mengajakku?" tanya Panji, tangannya ikut mengambil pakan ikan yang ada di tangan Anisa.


Anisa terdiam memilih seolah-olah tidak menganggap kehadiran Panji, amarah hati Anisa sebenarnya sudah sangat memuncak tapi dia tahan.


Tangan Anisa berhenti bergerak, mulutnya seakan terkunci untuk membalas ucapan Panji. Sudah teramat sakit apa yang dia rasa hingga enggan berkata apa-apa.


"Aku akan lakukan apapun asal kamu memaafkanku," lirih Panji.


"Kakak merasa bersalah karena apa?" ketus Anisa, matanya tajam menatap Panji memancing Panji untuk membuka suara terlebih dahulu.


"Aku, tidak memberitahumu, Heri yang membuat kamu dan Faisal hilang setengah kesadaran dan akhirnya melakukan hal yang seharusnya tidak kalian lakukan," terang Panji.


Nampak pelupuk mata Anisa penuh dengan cairan bening, "kenapa Kak? Kenapa kamu tidak katakan padaku?! Kenapa?! Itu mungkin bukan berita yang penting buat Kakak tapi sangat penting buat aku Kak!" Air mata Anisa sudah meluncur bebas.


Panji mencoba menyeka air mata Anisa. Namun dengan cepat tangan Anisa menepis.


"Dulu aku menganggap semua masalah kamu tidak penting. Tapi semenjak pertemuan kita, setelah kita berpisah 4 tahun lamanya, aku benar-benar lupa untuk menyampaikan informasi itu, maaf Nis," jujur Panji mencoba menjelaskan.


"Kakak bilang lupa?! Lupa?! Alasan yang sangat tidak logis!"


"Maaf, aku kurang perhatian dengan kamu, banyak hal yang ada dalam pikiranku, hingga satu hal yang penting dalam hidup kamu lupa aku sampaikan, maaf," lirih Panji penuh dengan penyesalan.


"Kakak sebaiknya pulang!" titah Panji.


"Aku akan menunggumu di sini."


"Pulang!" teriak Anisa masih dengan derai air mata.

__ADS_1


Panji mengangkat pantatnya berjalan pergi dari samping Anisa.


Nur menangis tergugu. Rasanya sesak dalam dada.


"Dengan entengnya kamu bilang lupa Kak," gumam Anisa.


'Katanya kamu cinta tapi hal seperti ini mengapa tidak kamu sampaikan langsung padaku, katanya kamu cinta mengapa kusuruh pergi bukannya kekeh tetap di sampingku malah pergi! Apa ini yang kamu sebut cinta Kak?!' monolog batin Anisa.


Satu jam Anisa duduk meratapi semua yang terjadi padanya. Dia lalu bangkit dari duduknya, membalikkan tubuh dan kini tubuhnya terpaku, ada lelaki yang masih setia berdiri dibelakang, menunggunya.


"Kita pulang," ajak Panji mengiba.


Anisa terdiam hanya pasrah berjalan pelan. Panji merangkul bahu Anisa untuk masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalan Anisa tetap diam. Panji sesekali melirik ke arah Anisa tapi wanita itu tetap diam mematung.


"Kita makan dulu, pasti kamu belum makan," ajak Panji.


Anisa diam tanpa reaksi.


"Atau kita pesan makanan saja?"


Anisa masih diam.


Panji memarkirkan mobilnya di salah satu resto.


"Ayo turun," pinta Panji setelah membuka pintu mobil di samping kemudi.


"Kalau Kakak mau makan, silahkan! Aku tunggu di sini!" ketus Anisa.


Wajah Panji nampak pasrah. Dia menutup kembali pintu mobil kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.


...****************...


Dua hari ini Anisa mendiamkan Panji, dia hanya menjawab pertanyaan Panji seperlunya itu pun karena sangat terpaksa membuka mulut.


"Kamu tidak berangkat kerja Nis?" tanya Panji sudah jam 8 Anisa masih memakai baju rumahan.


"Siang ini aku akan pergi dengan Nevan," jawab Anisa.


"Pergi?" retoris Panji.


"Pergi kemana?" sambung Panji.


"Sesuai janji Kak Panji, akan menyerahkan Nevan kalau aku sudah sukses, ini waktu yang tepat!"


Panji menatap lemas mendengar ucapan Anisa.


"Anisa_"


"Aku minta Kakak tidak mempersulitku!" sahut Anisa memotong kalimat Panji.

__ADS_1


sore menyapa 🤗 like komen hadiah vote. Tidak terasa sudah sampai bab 100 aku terharu🥺


__ADS_2