Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 38


__ADS_3

"Kakak pasti sudah tidak sabar menginginkan aku pergi," gumam Anisa dan entah mengapa hatinya begitu sakit mendengar lontaran pertanyaan atau tepatnya lontaran perintah dari laki-laki yang ada di sampingnya.


"Itu pertanyaan bukan perintah! Dan pertanyaan itu harus kamu jawab bukan malah membalikkan pertanyaan!" seru Panji dengan tatapan mata yang tajam terarah ke Anisa.


Pelupuk mata Anisa sudah penuh dengan cairan bening. Panji dapat melihat itu dan mulut gadis itu terlihat bergetar ingin berucap mungkin keluh. Ingin rasanya tubuh gadis itu dia raih dan masuk dalam pelukannya tapi entah hal yang kuat pula mendorong agar dia tidak melakukan itu.


"Aku mau mandi," ujar Panji seraya berjalan ke toilet kamar.


Panji melangkah ke bathtub membuka keran, mengisinya hingga penuh, dan memberi sabun dengan aroma green tea. Setelah penuh, tubuhnya yang kini sudah polos dia tenggelamkan di bathtub.


Ada rasa nyaman ketika itu dia lakukan. Percakapan antara Anisa dan ibunya sungguh membuat Panji kalut. Hingga setibanya Anisa di kamar, dia langsung melontarkan pertanyaan semacam itu. Namun, apa yang dia tanyakan malah ditanyakan balik oleh Anisa.


Sementara, Anisa tanpa kedip menatap punggung Panji hingga dia masuk ke toilet kamar. Pandangan matanya tetap mengarah ke pintu toilet kamar dimana lelaki tampan itu masuk. Air mata yang sedari tadi terbendung berhasil lolos ke pipinya. Dua tangan Anisa segera menghapus aliran itu mengoyaknya hingga tak bersisa di ujung pipi.


"Kenapa aku sakit sekali Kak?" Harusnya aku senang dan tinggal mengiyakan pertanyaan Kakak, ada apa dengan otak dan hatiku ya Allah," keluh batin Anisa.


Mata Anisa dia pejamkan, mencoba menghilangkan rasa elu hati yang tiba-tiba sakit seperti terhunus pedang. Kedua kakinya dia angkat ke sofa dan tubuhnya dia rebahkan di sofa. Kedua tangannya melipat mendekap diri. Hingga lamat-lamat matanya terpejam penuh selaras dengan desiran napas teratur.


Panji belum beranjak dari bathtub. Sesekali tubuhnya dia benamkan penuh di bathtub kemudian di naikkan. Entah sudah sampai berapa menit atau berapa jam dia berendam di bathtub itu hingga ada suara gecitan pintu toilet kamar yang dibuka. Panji diam menatap gadis yang berhasil membuat pikirannya porak poranda. Dia melepas jilbab yang dia kenakan, tali yang mengikat rambutnya dia lepas hingga rambut panjang, hitam berkilau nampak tergerai. Pemandangan yang menurutnya begitu menakjubkan dan berhasil membuat Panji menorehkan senyum di wajah.


Setelah melepas jilbab, satu persatu kain yang melekat di tubuh Anisa dia lepas. Ingin rasanya Panji berteriak untuk memperingati Anisa jangan membuka semua itu di depan matanya tapi apalah daya. Mulutnya ternyata lebih memilih bungkam dan pura-pura tidak tahu. 'Siapa suruh tidak melihat-lihat kalau di bathtub itu masih ada aku!' Itu dalih yang lebih dominan di hatinya. Kamar mandi itu didesain satu bathtub dan shower untuk mandi dalam satu ruang dan jarak antara bathtub dan shower sekitar 3,5 meter.


Mata Panji menatap jelas tubuh polos yang ada di hadapannya. Namun, sekilas karena dia lebih memilih memejamkan matanya dari pada menikmati pemandangan di hadapannya tanpa sepengetahuan dan izin dari si empunya.


Namun beberapa menit dia mendengar ada suara dari gadis itu.


"Pedas sekali! Mana shower-nya macet!" gerutu dia dan langkah kakinya mendekat ke bathtub. Panji mendengar dengan jelas langkah kaki yang terburu-buru hingga.


"A...a...!" pekik Panji dengan menahan suaranya agar tidak keluar. menahan rasa sakit sekaligus mengeram ngilu namun seketika ada semacam rasa seperti sengatan listrik bertegangan kecil yang menjalar ke tubuhnya, mengejutkan dan meneg*ngkan.

__ADS_1


"Kenapa selang kerannya tidak bisa ditarik, dan ujung shower bathtub terasa aneh," gumam Anisa, matanya mulai sedikit dibuka untuk memastikan apa yang dia pegang.


"Auww!" jerit panjang Anisa karena tadi bukan ujung shower yang dia pegang tapi pisang kupas yang pernah menodai matanya.


Tanpa pikir panjang Anisa menarik handuk yang ada di dekat bathtub untuk menutupi tubuhnya yang polos dan lari kecil ke luar kamar mandi. Hingga teriakan peringatan dari dalam kamar mandi agar dia tidak lari tidak Anisa hiraukan.


Ada rasa malu dan kesal tercampur di diri Anisa.


"Apa dia melihat semua asetku!" gerutu Anisa sambil memonyongkan bibirnya.


"Issst! Dasar otak mesum! Kenapa tidak bilang kalau dia masih ada di bathtub! Setidaknya kalau dia bilang aku...,ah!" Anisa terlihat kesal dan terus menatap pintu toilet berharap penghuni toilet kamar segera keluar dan Anisa siap melempari dia dengan umpatan-umpatan untuknya.


Seperti ada koneksi yang terhubung, Panji keluar dari toilet kamar dengan handuk yang dia lilitkan di pinggang.


Panji berjalan tanpa menghiraukan gadis yang terlihat merah padam dengan napas yang memburu.


"Dasar gladiator anak! Setelah apa yang Kak Panji lakukan kenapa menampakkan wajah yang tidak punya rasa dosa!" umpat Anisa.


"Kakak!" kesal Anisa merasa tidak dihiraukan dan suaranya dia tinggikan.


Panji menutup pintu lemari kemudian menatap gadis yang dipenuhi kekesalan.


"Ada apa?" tanya Panji pura-pura tidak terjadi apa-apa dan berharap Anisa tidak membahas hal yang menurutnya memalukan. Hanya melihat tubuh gadis yang selalu dia katakan ingusan, peluru rudalnya bisa on. Apalagi setelah on di pegang Anisa dan diumpat kecil tidak seperti ujung shower.


"Dia meremehkan peluru rudalku! Tidak bisa membedakan apa, mana yang kecil dan besar!" gerutu Panji saat di kamar mandi.


"Mengapa Kakak tidak bilang kalau Kakak masih di bathtub!" tanya Anisa dengan amarah yang memuncak ke ubun-ubun.


"Kesalahan sendiri dilimpahkan ke orang lain, harusnya kamu koreksi diri! Kenapa main masuk kamar mandi padahal sebelumnya aku sudah bilang ke kamu mau mandi dulu. Eh main nyolong masuk."

__ADS_1


"Aku kira Kakak sudah keluar karena sudah 1 jam lebih Kakak di kamar mandi!"Seru Anisa.


"Nah itu, akuilah kesalahan sendiri."


"Issst! Malah menyalahkan ku! Di sini kan aku sebagai korban!"


"Korban aku! Pelaku kamu!"


"Kamu yang menariknya tanpa seizin ku," sambung Panji.


Anisa terlihat semakin kesal. "Percuma debat dengan Kakak! Ujungnya tidak mungkin kata maaf terucap dari mulut Kak Panji!" ejek Anisa.


"Salah siapa, yang disalahkan orang lain! Mengatakan otak mesum lah! Lalu, apa maksud kamu memakai handukku dan sengaja tidak segera membilas rambut kamu," sindir Panji menaikkan kedua alisnya memberi kode agar Anisa melihat tubuh Anisa yang hanya memakai handuk.


"Kak Panji!" teriak Anisa yang langsung berlari kecil ke toilet kamar. Dia baru menyadari sedari tadi hanya memakai handuk di hadapan Panji.


"Jangan lari Anisa!" seru Panji diiringi senyum, entah itu senyum kemenangan atau senyum karena merasa bahagia sejenak melupakan perdebatan sebelumnya.


Anisa melangkah ke bathtub mengambil selang shower dan segera memutar kerannya. Air mengucur membasahi ujung kepala hingga ujung kaki.


Bahu Anisa bergetar merindik mengingat kejadian sebelumnya di bathtub itu.


Anisa meraih sabun kemudian menggosokkan kedua tangannya keras-keras hingga busa sabun menutupi dua telapak tangannya.


"Jejak pisang kupas harus hilang dari telapak tanganku!" seru Anisa.


"Gara-gara tragedi ini! Harusnya aku melanjutkan pembicaraan serius dengan Kak Panji! Harusnya aku tidak bertegur sapa dengan dia! Biar dia merenungi kesalahannya! Dasar gladiator anak!" umpat Anisa.


"Ih! Pengen nonjok tuh muka!" sambung Anisa masih dengan umpatan yang belum sempat dia lontarkan pada orang yang harus mendengar umpatan itu.

__ADS_1


Malam menyapa🤗, like komen, komen loh...vote hadiah juga ya..🙏


__ADS_2