Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 13


__ADS_3

"Bapak tenang saja, sebentar lagi pasti keinginan bapak ini akan terkabul. Bukan seperti itu mas?" Tiwi mengalihkan pandangan ke arah Panji mengharap Panji menjawab tanya itu dengan jawaban 'Ya'.


"Ya," jawab Panji dibuat setenang mungkin walaupun kenyataannya dia sangat shock mendengar lontaran pertanyaan dari Tiwi.


"Alhamdulillah kalau seperti itu," lega bapak Rozak.


"Apa berarti oma Sartika sudah merestui kalian?" sambungnya.


"Bisa dibilang begitu Pak," jawab Tiwi walaupun dalam lubuk hati terdalam dia merasa ada yang aneh dengan sikap oma Sartika yang tiada hujan atau angin tiba-tiba saja menyetujui hubungannya dengan Panji.


Bapak Rozak menatap Panji mengisyaratkan agar Panji memberi penjelasan.


"Kemarin siang oma ngajak Tiwi main ke rumah," jujur Panji.


"Hanya itu?" bapak Rozak memastikan.


Panji mengangguk pelan, dia juga bingung harus berkata panjang lebar semacam apa karena dia sendiri tahu ada maksud terselubung dari sang oma mengajak Tiwi ke rumahnya.


"Setidaknya ada kemajuan, barangkali itu pertanda oma kamu merestui hubunganmu dengan Tiwi," ucap bapak Rozak menenangkan hati Tiwi dan tentunya hatinya.


Bapak Rozak bukan tipe orang yang suka memaksa kehendak orang, apalagi memaksa apa yang diinginkan anaknya. Asal dia bahagia, dia akan selalu mendukung. Begitu juga dengan hubungan jalinan asmara sang anak dengan Panji sekaligus bosnya di tempat kerja. Mungkin kebanyakan orang akan memaksa agar cepat menikah karena mereka sudah menjalin hubungan yang lama. Namun Tiwi yang enggan untuk diburu-buru nikah dan bapak Rozak memahami itu. Dia hanya pasrah dan selalu memberi nasehat pada anak dan calon menantunya agar berpacaran dengan sehat jangan sampai kebablasan yang akhirnya akan berbuah sebuah penyesalan.


"Buatkan kopi untuk kita Wi," pinta bapak Rozak.


"Bapak lupa, jangan minum yang manis-manis." Tiwi mengingatkan bapaknya.


"Punya bapak pakai gula diabet," sanggah bapak Rozak.


"Hmmm," dengung Tiwi mengiyakan permintaan bapaknya kemudian dia melangkah menuju dapur.


Tidak butuh waktu lama Tiwi keluar dengan membawa dua cangkir berisi kopi hitam.


"Jangan mentang-mentang ada gula diabet bapak jadi sering minum kopi ya," ucap Tiwi dengan menaruh kopi di atas meja.


"Putri bapak sukanya ngomel mulu. Nanti kalau jadi suaminya jangan heran Ji, bakal panas denger omelannya tiap hari," canda bapak Rozak yang diikuti tawa dari bapak Rozak. Tiwi nampak memanyunkan bibirnya mendengar candaan dari sang bapak sedangkan Panji hanya tersenyum kecil.


Ada kata yang digaris bawahi dari ucapan sang bapak, 'nanti kalau jadi suaminya'. Mengapa baru sekarang Panji menjadi gugup dan tak tenang dengan statusnya yang kini sudah menikah. Rasa was-was dan takut campur menjadi satu menghadapi Tiwi yang nantinya cepat atau lambat akan tahu kalau dirinya sudah menikah, bahkan menikahi calon adik iparnya.


Sedangkan kemarin, saat akan menikah dengan Anisa, dia tidak berpikir sejauh itu, tidak merasa takut yang teramat karena nantinya akan memberi penjelasan kepada Tiwi perihal yang sebenarnya. Tapi, apakah Tiwi akan menerima penjelasannya? 'Takut' itu yang kini menguasai otaknya, takut kalau Tiwi tidak menerima penjelasan darinya.


"Biar gantian Pak, kalau di kantor dia yang suka ngomel. Nanti kalau di rumah aku yang menguasai rumah. Satu omelan akan kubalas seribu omelan," kelakar Tiwi, bapak Rozak juga ikut terkekeh. Panji hanya sedikit menampilkan barisan gigi putihnya.


Panji menyesap kopinya, sedikit demi sedikit hingga tandas tak bersisa. Dia merapikan jas yang dia kenakan mengancing jas itu, "Maaf Pak, sudah hampir Magrib aku mau pamit," ucap Panji.


"Kenapa buru-buru Nak, tidak biasanya." ujar bapak Rozak.


"Bapak, Tadi siang mas panji chek SPBU di 2 tempat jadi pasti dia capek," bela Tiwi.


"Ya benar. Bapak hanya kangen karena lama tidak ngobrol dengan kamu. Ya sudah hati-hati di jalan."

__ADS_1


Ya Pak," pamit Panji kemudian mencium punggung tangan calon mertua.


...****************...


"Isstt gara-gara tadi ke toilet, jadinya tidak ketemu ustadz Mirza," gerutu Anisa dengan membuka pintu rumah.


Satu salam sudah dia ucapkan tapi tidak jua mendapatkan sahutan. Akhirnya dia masuk saja ke dalam.


"Kira-kira bulan depan bisa temu lagi dengan mbak Femila dan ustadz Mirza nggak ya?" gumam Anisa, kakinya kini akan menaiki anak tangga.


"Waw...hebat sekali, baru beberapa hari tinggal di sini sudah main keluar rumah seenaknya. ini sudah lepas magrib dari mana baru pulang?!" Tanya sekaligus intimidasi itu terlontar dari mulut oma Sartika.


"Oma ngageti aku," ucap Anisa dengan mengelus dadanya.


Oma tersenyum mencibir melihat reaksi Anisa.


"Dari kemarin sebenarnya Oma ingin bertegur sapa dengan kamu tapi baru kali ini bisa."


"Oma sering pergi keluar jadi tidak bisa tegur sapa dengan cucu menantu oma ini," ucap Anisa dengan santai.


Oma lagi tersenyum mencibir. "Rupanya kamu pintar mengolah emosi lawan bicara kamu," sindir oma Sartika.


"Terserah Oma lah, aku mau istirakhat." pasrah Anisa dan kakinya yang sudah dia turunkan dari anak tangga demi yang katanya 'bertegur sapa' dengan sang Oma, dia naikkan kembali ke anak tangga.


"Tidak usah terburu-buru Anisa. Ada hal yang ingin Oma tanyakan."


"Terlalu bertele-tele," gumam Anisa.


"Oma langsung to the point. Bagaimana pendapat kamu tentang kekasih Panji?"


deg


"Nenek tua ini rupanya memancingku agar tersulut emosi dan membuka mulut," batin Anisa.


"Dia cantik." jawab singkat Anisa.


"Kamu tidak cemburu?"


"Menurut Oma?" balik tanya Anisa.


Lagi, oma tersenyum mencibir.


"Kamu sedang berhati-hati dalam memilih jawaban. Itu kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Oma," tebak oma.


"Terserah apa yang Oma katakan. Aku ke atas dulu Oma," seru Anisa dengan melangkahkan kakinya kembali.


"Jangan lupa Anisa, hasil pemeriksaan di klinik biar Oma lihat," teriak oma karena Anisa sudah melangkah jauh.


Ayunan langkah kaki Anisa langsung memelan mendengar ucapan sang oma.

__ADS_1


"Apa oma tahu aku ke klinik Keluarga Sehat Ibu dan Anak?" batin Anisa.


Anisa masuk ke kamarnya. Dia mengambil baju ganti kemudian masuk ke toilet kamar. Walaupun tadi sore sudah mandi rasanya tubuh dia begitu lengket. Cuaca mendung tidak menghilangkan rasa gerah di tubuh, Anisa pun mandi.


Lima belas menit di kamar mandi dia keluar dengan baju tidur. Kemudian memakai mukena untuk menunaikan salat isya.


Dua salam mengakhiri dia menjalankan kewajiban. Sekelumit doa dia panjatkan. Selepas itu Anisa menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang, dua kakinya dia luruskan. Rasa penat kini menghinggapinya. Namun, karena satu penghuni kamar ada yang belum pulang, dia urungkan untuk memejamkan mata.


"Kenapa dia belum pulang," gumam Anisa dengan memandang langit-langit kamar.


"Siapa?"


"Kak Panji." Anisa merasa kaget sendiri dengan spontan dia menjawab ucap seseorang yang ternyata suaminya.


"Kebiasaan penghuni rumah ini, sukanya mengagetkanku," gerutu Anisa.


Panji tersenyum menanggapi reaksi Anisa.


"Tadi pulang jam berapa dari klinik?"


"Belum lama sampai rumah," jawab Anisa.


Panji membuka jasnya, menaruh di gantungan baju, melipat lengan baju panjangnya, kemudian melepas jam tangannya dan melangkah hendak menaruh di lemari nakas yang kebetulan di samping nakas itu ada Anisa yang sedang menyandar di tepi ranjang.


Anisa menyesap aroma wangi dari tubuh lelaki yang melangkah di depannya. Tanpa dia sadari tubuhnya bergerak mengikuti langkah lelaki itu dan berhenti di depan dada Panji karena Panji berhenti secara mendadak.


"Sudah puas mencium aromanya?"


Anisa mengangguk pelan dengan senyum nyengir karena kebodohannya.


"Maaf Kak," ucap Anisa kemudian.


Panji melepas kancing baju yang dia kenakan, setelah kancing itu terlepas dia melepas polos baju atasannya.


Anisa langsung menutup matanya.


"Issst dasar tidak ada akhlak! Kenapa pamer six pack body di depanku," gerutu Anisa yang ditanggapi sebuah senyuman dari Panji.


"Kamu tidak malu mengejar aroma tubuhku, giliran aku perlihatkan bentuk tubuhku malah kamu tutup matamu," sindir Panji.


"Nisa...Anisa...," goda Panji karena entah kenapa suka saja melihat Anisa dengan wajah cemberutnya.


"Jangan memancingku Kak," seru Anisa yang kini menenggelamkan wajahnya di dalam bantal.


Panji terkekeh melihat reaksi Anisa, rasanya ketegangan dan lelah yang baru dia rasakan hilang seketika.


"Nisa...Anisa...," panggil Panji masih dengan mode menggoda gadis yang masih betah menenggelamkan wajahnya di bantal. Dia sengaja terus memanggil Anisa hingga suaranya tidak terdengar oleh Anisa lagi karena Panji sudah masuk ke toilet kamar.


emmm...mulaikah ada benih cinta? bau-baunya gitu nggak?

__ADS_1


terus kepoin ceritanya.🙏🥰😍, jangan lupa like, komen, vote, hadiah.


__ADS_2