Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 66


__ADS_3

Anisa tidur bergerak miring kanan kiri terus berganti. Mulutnya nyeringis menahan perut yang terasa mulas.


"Gara-gara bakso pedas ini," lirih Anisa, "tapi kan sambalnya cuma dikit," lanjut Anisa dengan mengelus perutnya.


Satu dua jam, bahkan lebih matanya tidak dapat juga dia pejamkan.


"Kenapa Nis?" tanya Panji dengan suara khas orang bangun tidur melihat Anisa tidur tidak tenang.


"Mules Kak," jawab Anisa masih dengan nyeringis.


"Kamu salah makan? atau mungkin mau melahirkan?" Panji terlihat agak panik.


"HPL nya masih 2 Minggu lagi Kak. Mungkin karena aku makan bakso agak pedas," keluh Anisa, tampak ada penyesalan di wajahnya.


"Aku panggilkan dokter Maya," gumam Panji tangannya meraba di atas nakas mencari ponsel.


"Tidak perlu Kak cuma mules dikit Kok,"


Panji yang sudah memegang ponsel dia taruh kembali ke atas nakas.


"Kak...," panggil Anisa.


"Hmmm," dengung Panji menanti apa yang akan diucapkan Anisa selanjutnya.


"Boleh elus perut Anisa," pinta Anisa lirih.


Tangan Panji dengan dengan ragu kemudian mengelus perut Anisa.


"Sebelah sini Kak," protes Anisa entah tanpa canggung menarik tangan Panji agar mengelus di bagian yang dia kehendaki.


Lama Panji mengelus-elus perut Anisa bahkan dia yang memang sudah sangat ngantuk mulai memelankan elusannya.


"Agak keras Kak," ujar Anisa.


"Hmmm," dengung Panji mengiyakan permintaan dari Anisa.


"Lebih keras lagi Kak," lagi Anisa protes dan dituruti Panji.


"Sebentar Kak, aku ke toilet dulu." Anisa segera turun dari ranjang.


Panji hanya mengangguk setengah sadar karena memang merasa kantuk yang teramat. Namun, tiba-tiba Panji terjaga. Kakinya segera dia turunkan dari ranjang menuju pintu toilet kamar.


"Nisa..., Anisa..., kamu dari tadi belum juga selesai?"


Tidak ada sahutan, Panji mengulang memanggil Anisa baru setelah itu Anisa menampakkan diri dengan wajah yang terlihat pucat, kelelahan, dan keringat keluar dari dari dahinya.


"Tidak jadi buang air besar," keluh Anisa.


"Kamu sembelit apa diare?"

__ADS_1


Anisa menggeleng kemudian wajahnya terlihat nyengir kembali.


"Kak! Aku mules lagi!" seru Anisa.


Panji langsung memapah ke tepi ranjang. Tanpa komando tangannya bergerak mengelus perut Anisa karena kalau tangannya bergerak mengelus perut, Anisa langsung diam hanya nyeringis menahan sakit.


"Sepertinya kamu mau melahirkan Nis," tebak Panji.


"Kak tambah sakit!" keluh Anisa kini tangannya mencengkeram tangan Panji dan kepala Anisa dia sandarkan di bahu Panji.


Panji biarkan gadis itu melakukan apa yang dia mau asal bisa mengurangi rasa sakitnya.


"Sebentar, aku ambil ponsel dulu," ujar Panji melihat Anisa merasa tenang.


Anisa menurut, melepaskan cengkraman tangannya dan kepala yang dia sandarkan di bahu Panji dia angkat.


"Assalamualaikum Bunda...," sapa Panji setelah ponselnya tersambung dengan nomor di sebrang sana dan Panji menceritakan apa yang menimpa Anisa.


"Kak...," panggil Anisa merasa perutnya kembali mulas.


Panji segera mendekat ke Anisa. Mengelus perutnya kembali.


"Kata Bunda, kamu sedang mengalami kontraksi, kita segera ke rumah sakit," ucap Panji.


"Kontraksi? Bahaya tidak Kak?" ada raut panik di wajah Anisa.


"Kontraksi itu tanda-tanda kalau kamu mau melahirkan. Si bayi mencari jalan untuk keluar," terang Panji.


"Kamu sudah siapkan perlengkapan melahirkan?"


Anisa menggeleng.


"Anisa, HPL kamu 2 Minggu lagi tapi kenapa tidak kamu persiapkan semuanya!" keluh Panji dan segera melangkah ke lemari pakaian yang berisi perlengkapan bayi yang dikirim bunda Rosmawati.


Saat itu sebenarnya Panji berencana mengajak Anisa untuk membeli perlengkapan bayi. Namun, rencana itu tidak jadi dia lontarkan ke Anisa karena bundanya memberi kabar kalau semua perlengkapan bayi sudah dia belikan.


Panji segera memasukkan barang yang perlu dibawa untuk persiapan melahirkan, untungnya dia selalu membaca artikel tentang kehamilan dan kiat menjadi suami siaga. Setelah semua masuk dia segera memapah Anisa keluar dari kamar.


Anisa duduk di jok samping kemudi.


"Kak...makin sakit," lirih Anisa dan tangannya meremas lengan Panji.


Panji mengurungkan untuk mengemudi.


"Mang Udin, panggil pak Faruk untuk nyetir mobil," titah Panji pada mang Udin yang berdiri akan mengiring kepergian mobil.


"Ya Tuan," jawab mang Udin dan segera pergi dari hadapan Panji.


Panji melangkah ke tempat duduk Anisa kemudian memapahnya untuk pindah ke belakang kemudi.

__ADS_1


"Cepet Kak," keluh Anisa setalah duduk di kursi penumpang.


"Ya, Pak Faruk segera ke sini, aku tidak mungkin nyetir, terlalu bahaya karena lagi-lagi kamu mencengkeram tangan ku," ucap Panji.


"Lihat aku Nis," pinta Panji dan Anisa langsung menatap ke Panji.


"Pokoknya diingat-ingat, setiap kontraksi jangan menjerit, energi yang harusnya kamu simpan untuk persiapan mengejan terbuang. Tapi, yang harus kamu lakukan tarik napas dan buang perlahan," terang Panji.


Anisa mengangguk.


"Kamu ikut kelas hamil cuma setengah-setengah jadinya ya ilmunya juga setengah," gerutu Panji.


Anisa hanya nyeringis antara menahan sakit dan menggerutu lelaki yang ada di sampingnya karena dalam keadaan seperti ini sempat-sempatnya mengejek dirinya.


"Cepetan Pak Faruk!" titah Panji begitu pak Faruk duduk di kursi kemudi.


Anisa menggigit bibir bawahnya, kali ini mulutnya dia bungkam agar tidak ada rintihan ataupun keluhan.


"Atur napas Nis, tarik kemudian buang perlahan," Panji terus mengulang kalimat itu setiap Anisa mengalami kontraksi dan Anisa menurut apa yang diintruksikan Panji.


Sesampai di ruang sakit Anisa segera diberi tindakan setelah itu langsung dibawa ke ruang persalinan. Panji tetap mendampingi Anisa, entah kenapa tidak ada rasa canggung mendampingi Anisa melahirkan. Setalah berjuang selama dua jam di ruang persalinan akhirnya terdengar suara tangis bayi.


"Alhamdulillah," lirih Anisa matanya tanpa terasa mengalirkan air mata. Tangan Panji mengelus pucuk kepala Anisa dan menyeka air mata itu.


"Kamu wanita hebat Nis!" lirih Panji di telinga Anisa, memberi selamat atas perjuangan yang ditempuh Anisa dalam melahirkan sang bayi.


"Bayinya laki-laki Pak, Bu, Alhamdulillah sehat," ucap dokter sambil menunjukkan wajah bayi kearah mereka.


"Kami lanjutkan perawat bayi dulu ya, setalah 30 menit nanti kami serahkan ke ibu lagi untuk inisiasi menyusu dini," ucap dokter itu.


"Maaf ya Bu, saya bersihkan dulu dan tetap jangan banyak gerak nanti kami akan menjahit bagian yang sobek," ujar salah satu tenaga medis pada Anisa.


Deg.


Kali ini Panji terlihat mulai canggung mendengar ucapan tenaga medis. Mau pergi tapi tangan Anisa masih menggenggam tangannya, tidak pergi takut Anisa kenapa-napa. Rasanya berbanding terbalik ketika mendampingi saat Anisa melahirkan.


"Dok! Sakit, sakit...," teriak Anisa.


Kali ini teriakan Anisa tidak dapat dia tahan berbeda sewaktu melahirkan, instruksi dari Panji yang selalu Panji komandokan setiap Anisa mengalami kontraksi berhasil Anisa jalankan tapi ini sungguh diluar kendali Anisa.


'Aku harus apa?' batin Panji, merasa bingung, canggung, dan satu lagi, merasakan tangannya sudah memar karena cengkraman yang sangat kuat dari Anisa.


"Dok...!" Anisa berteriak kembali.


"Tahan Bu, biar rapat kembali. Demi Ibu dan suami Ibu," canda dokter.


Spontan Anisa baru menyadari secara penuh kalau di sampingnya ada Panji, lelaki yang dimaksud dari ucapan dokter tadi. Anisa langsung melepas genggaman tangannya.


Panji juga tidak kalah diam mendengar ucapan dokter sampai menelan salivanya saja sulit.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 like, komen, hadiah, dan vote ya🙏🥰❤️


__ADS_2